NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Rapat Darurat Para Tetua

Aroma dupa gaharu berusia ribuan tahun mengambang berat di udara Aula Puncak Langit, tempat paling sakral di seluruh Sekte Awan Mengalir. Ruangan raksasa yang ditopang oleh pilar-pilar batu giok putih itu biasanya hanya dibuka jika sekte menghadapi ancaman pemusnahan dari sekte iblis atau jika ada fenomena alam yang menandakan lahirnya artefak dewa.

Namun hari ini, enam belas kursi berukir naga di ruangan itu terisi penuh oleh para Tetua Puncak. Di kursi utama yang posisinya sedikit lebih tinggi, duduklah Pemimpin Sekte Linghu, seorang pria paruh baya dengan rambut sehitam tinta dan mata yang memancarkan ketenangan lautan dalam. Kultivasinya telah mencapai puncak Alam Inti Emas, membuat setiap tarikan napasnya selaras dengan detak jantung gunung itu sendiri.

Suasana di dalam aula sangat tegang. Udara terasa kental, ditekan oleh benturan enam belas aura tingkat tinggi yang secara tidak sadar bocor dari tubuh para Tetua yang sedang gelisah.

Di tengah ruangan, Tetua Inspeksi 'Mata Elang' baru saja selesai memberikan laporannya. Dia masih berdiri menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah Pemimpin Sekte.

"Jadi..." Pemimpin Sekte Linghu memecah keheningan, suaranya bergema dalam dan berwibawa, memantul dari lantai giok yang dingin. "Biar aku luruskan. Ada seorang pemuda di Dapur Luar, mengenakan jubah pelayan yang dilumuri noda minyak, duduk mengorek tanah dengan ranting, dan kau meyakini bahwa dia adalah seorang Master Tersembunyi yang mempraktikkan Dao Kekosongan tahap akhir?"

"Benar, Pemimpin Sekte," jawab Tetua Inspeksi dengan nada penuh keyakinan. "Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Goresan rantingnya di atas tanah meniru Formasi Pengunci Naga Bumi. Dan noda minyak di jubahnya... itu bukan sembarang noda. Itu adalah metode penyamaran Qi tingkat dewa untuk menekan auranya agar tidak menghancurkan mental murid-murid rendahan di sekitarnya. Yang paling penting, Su Qingxue dari Puncak Teratai Salju telah mengonfirmasi bahwa pemuda inilah yang memandu pedangnya menembus Alam Alami."

Keenam belas Tetua serentak menarik napas tajam. Nama Su Qingxue adalah jaminan mutu. Jika jenius paling angkuh di sekte itu sampai menundukkan kepala, maka pemuda di dapur itu pastilah monster tua yang sedang bereinkarnasi atau bermain-main di dunia fana.

"Dan sekarang," lanjut Pemimpin Sekte Linghu, memijat pangkal hidungnya yang mancung. "Master Tersembunyi ini setuju untuk tampil di panggung utama Babak Unggulan, dengan satu syarat: dia meminta disediakan sebuah... kursi?"

Tetua Inspeksi mengangguk dalam. "Benar. Beliau berkata bahwa berdiri terlalu lama membuat kakinya pegal. Kata-kata ini sangat mendalam, Pemimpin Sekte! 'Berdiri terlalu lama' mengacu pada kesombongan faksi lurus yang selalu ingin berdiri di puncak dunia. 'Kaki yang pegal' melambangkan kelelahan jiwa. Beliau ingin menunjukkan bahwa sejati dari kekuatan adalah duduk diam dan membiarkan dunia yang bergerak mengelilinginya!"

Gumam kekaguman meledak di antara para Tetua. Beberapa dari mereka mengelus janggut dengan penuh pencerahan, mata mereka berbinar-binar.

"Luar biasa! Pemahaman Dao yang sangat mengerikan!" seru Tetua Puncak Pedang, seorang pria dengan aura setajam silet. Dia menggebrak meja kayunya hingga retak. "Pemimpin Sekte! Kita tidak boleh mempermalukan sekte di hadapan senior ini! Kursi yang akan didudukinya di tengah arena tidak boleh kursi sembarangan!"

"Aku setuju!" sahut Tetua Puncak Alkimia, seorang wanita tua dengan jubah bermotif api. "Kita harus menggunakan Kayu Phoenix Merah! Kayu itu hangat dan memancarkan energi Yang murni, sangat cocok untuk menyegarkan kembali 'jiwa yang lelah' seperti yang beliau sebutkan."

"Bodoh! Kayu Phoenix terlalu mencolok dan sombong!" bantah Tetua Puncak Formasi, wajahnya memerah karena emosi. "Beliau mempraktikkan Dao Kekosongan! Kesederhanaan adalah kuncinya! Kita harus menggunakan Batu Es Seribu Tahun yang dipahat tanpa sudut tajam, melambangkan keabadian yang dingin dan sunyi!"

"Batu Es akan membekukan aliran darahnya saat duduk, dasar tua bangka tak berguna!"

"Apa kau bilang?! Mau kuuji formasi penyegelku pada mulutmu?!"

Dalam hitungan detik, rapat tingkat tinggi itu berubah menjadi pasar malam yang ricuh. Para ahli bela diri terkuat di benua itu saling menunjuk, berteriak hingga urat leher mereka menonjol, dan nyaris mencabut senjata pusaka mereka... hanya untuk berdebat tentang jenis material yang pas untuk sebuah kursi.

Pemimpin Sekte Linghu mengangkat tangannya. Sebuah gelombang Qi tak kasat mata menyapu ruangan, membungkam semua orang seketika.

"Cukup," ucap Linghu dengan tenang namun mutlak. Dia menatap ke arah luar jendela aula, memandang awan yang berarak di langit biru. "Beliau menyukai kehangatan tungku dapur dan kesederhanaan tanah. Gunakan Kayu Cendana Penenang Jiwa berusia delapan ratus tahun dari perbendaharaan rahasia sekte. Jangan diukir dengan naga atau harimau. Biarkan permukaannya halus dan alami. Bentuk sandarannya agar mengikuti lekuk tulang belakang yang sempurna. Tambahkan bantalan dari sutra ulat es yang diisi dengan kapas awan spiritual."

Para Tetua terdiam. Mulut mereka sedikit terbuka. Menggunakan harta karun tingkat sekte hanya untuk membuat sebuah kursi polos? Ini adalah kemewahan yang disembunyikan dalam bentuk kemiskinan ekstrem!

"Keputusan yang sangat bijaksana, Pemimpin Sekte," Tetua Inspeksi membungkuk hormat. "Ini akan menunjukkan bahwa kita memahami filosofi kesederhanaannya. Saya akan memerintahkan Aula Senjata untuk memahatnya malam ini juga."

Sementara para petinggi sekte membakar otak dan harta mereka demi sebuah kursi kayu cendana yang ergonomis, sang 'Master Tersembunyi' yang menjadi subjek perdebatan itu baru saja menemukan kebahagiaan sejati di sudut Dapur Luar.

Tirai sutra biru muda yang robek telah ditambal dengan rapi oleh Zhao Er, menciptakan kembali paviliun mini yang privat untuk Lin Fan.

Di tengah ruang kecil itu, Lin Fan berdiri menatap hadiah terbarunya dari sistem dengan mata setengah terpejam, mencoba menilai apakah benda di depannya ini layak untuk menopang beban kemalasannya.

"Kursi Goyang Energi Qi," gumam Lin Fan, suaranya parau karena baru saja bangun dari tidur siang pertamanya (dari rencana tiga kali tidur siang hari itu).

Benda yang dipanggil dari ruang penyimpanan sistem itu tidak terlihat seperti artefak dewa. Ia tampak seperti kursi goyang tradisional yang terbuat dari jalinan rotan berwarna cokelat tua kemerahan. Bentuknya melengkung indah, dengan sandaran kepala yang empuk, sandaran lengan yang lebar, dan dua bilah kayu melengkung di bagian bawah yang menyentuh lantai batu.

Namun, tidak seperti kursi biasa, rotan pada kursi ini tampak hidup. Permukaannya berdenyut dengan pendaran cahaya hijau keemasan yang sangat, sangat redup. Aroma daun teh segar yang menenangkan menguar dari jalinan rotannya.

Lin Fan menahan napas, memutar tubuhnya, dan dengan gerakan yang sangat lambat agar tidak mengejutkan otot-ototnya sendiri, dia menjatuhkan punggungnya ke atas kursi tersebut.

Kreett...

Bunyi derit pelan kayu yang melengkung terdengar. Begitu berat tubuh Lin Fan sepenuhnya disandarkan, kursi rotan itu secara ajaib menyesuaikan bentuknya. Jalinan rotannya bergeser secara mikroskopis, memeluk lekuk tulang belakang Lin Fan dari tulang ekor hingga ke leher dengan presisi yang hanya bisa diciptakan oleh surga.

Mata Lin Fan terbelalak. "Oh... astaga."

Itu baru permulaan. Pasif 'Aura Bantalan Awan' milik Lin Fan menyatu dengan energi kursi tersebut. Kursi itu tiba-tiba mulai berayun ke belakang dan ke depan dengan sendirinya, digerakkan bukan oleh dorongan kaki, melainkan oleh tarikan dan hembusan energi Qi murni di udara sekitarnya.

Syuuu... Syuuu...

Ayunan itu memiliki ritme yang melampaui ketepatan detak jantung manusia, menghasilkan bunyi deritan halus yang mengalun bak ninabobo. Tidak hanya itu, pada titik-titik tertentu di sandaran punggungnya, rotan itu sedikit menonjol dan memutar, memberikan pijatan ritmis yang secara otomatis mengurai ketegangan di setiap simpul otot Lin Fan. Pemijatan itu tidak menggunakan tenaga kasar, melainkan menyalurkan energi hangat yang meresap langsung ke dalam sumsum tulangnya.

"Ini... ini ilegal," erang Lin Fan bahagia, kelopak matanya langsung jatuh menutupi matanya. Dia meletakkan kedua tangannya di atas sandaran lengan yang lebar, membiarkan tubuhnya sepenuhnya menyerah pada gravitasi. "Jika ada yang mencoba mengambil kursi ini dariku, aku akan benar-benar menghancurkan benua ini."

Lin Fan mendesah panjang, dan dalam hitungan detik, dia kembali terlelap. Dengkuran halusnya segera terdengar, berpadu harmonis dengan bunyi derit rotan.

Namun, Lin Fan melupakan satu detail penting. Kursi goyang itu digerakkan oleh energi Qi di sekitarnya. Setiap kali kursi itu berayun ke belakang, ia menyedot Qi dari udara dapur. Setiap kali ia berayun ke depan, ia melepaskan Qi yang telah disaring dan dimurnikan menjadi gelombang energi yang lembut.

Proses ini menciptakan fenomena "Pernapasan Alam" yang sangat langka.

Di luar tirai sutra biru, Dapur Luar sedang dalam fase persiapan makan malam. Kepala Koki Wang Ta sedang berkonsentrasi memotong jamur spiritual, sementara Zhao Er sedang memanaskan tungku api.

Tiba-tiba, Wang Ta menghentikan gerakan pisaunya. Telinganya yang tebal berkedut. Dia bisa merasakan riak aneh di udara. Sebuah gelombang hangat menyapu punggungnya setiap tiga detik sekali, seirama dengan suara deritan kayu dari balik tirai Lin Fan.

Wang Ta menutup matanya, membiarkan gelombang Qi murni itu menerpa tubuh gempalnya. Matanya seketika membelalak lebar, memancarkan keterkejutan yang luar biasa. Pisau dagingnya terjatuh ke atas talenan dengan bunyi dentang pelan.

"Ini... ritme ini..." bibir Wang Ta bergetar. Dia menoleh ke arah Zhao Er yang berdiri di dekat tungku.

Zhao Er juga telah menghentikan pekerjaannya. Pemuda kurus itu berdiri mematung, menatap kosong ke arah tirai sutra. Air mata mengalir deras dari matanya, membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga. Tangannya memegang dada, merasakan aliran energi di meridiannya yang mandek selama bertahun-tahun kini mulai bergerak perlahan, dipandu oleh gelombang Qi dari kursi goyang Lin Fan.

"Kepala Koki," bisik Zhao Er terisak pelan, hidungnya merah. "Apakah Anda merasakannya? Tuan Lin... beliau sedang berbaik hati lagi. Beliau memancarkan gelombang bimbingan meditasi melalui suara derit kursi dan dengkurannya!"

Wang Ta menyeka keringat dingin di dahinya. Di dunia kultivasi, ada legenda tentang teknik pernapasan purba yang disebut "Napas Paus Langit"—sebuah teknik di mana sang praktisi bernapas selaras dengan pasang surut alam semesta, memungkinkan mereka yang berada di sekitarnya untuk ikut menyerap pencerahan.

Wang Ta menjatuhkan dirinya ke lantai, duduk bersila tepat di genangan air kaldu yang tumpah, sama sekali tidak memedulikan jubahnya yang kotor.

"Jangan buang waktu, dasar bodoh!" desis Wang Ta kepada murid-murid pelayan di sekitarnya yang mulai kebingungan. "Tuan Lin sedang mengajarkan kita Teknik Pernapasan Purba! Duduk bersila! Sinkronkan tarikan napas kalian dengan suara deritan kursi yang mundur, dan hembuskan napas kalian saat kursi itu berayun maju! Jangan berani-berani mengacaukan ritmenya!"

Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, sebuah pemandangan absurd yang hanya bisa terjadi di Sekte Awan Mengalir kembali tercipta.

Ratusan koki bertubuh kekar, masih mengenakan celemek berlumuran darah dan lemak, duduk bersila di antara wajan-wajan panas dan keranjang sayur. Mereka memejamkan mata dengan khusyuk. Dada mereka naik dan turun serempak, sepenuhnya dikendalikan oleh ritme dengkuran dan ayunan kursi goyang dari seorang pemuda yang sedang tidur siang di sudut ruangan.

Gelombang Qi di dapur itu semakin menebal, berputar-putar menciptakan kabut tipis berwarna hijau keemasan yang menyehatkan paru-paru dan menjernihkan pikiran. Rasa lelah seharian mengupas bawang dan memotong daging lenyap seketika dari tubuh para pelayan tersebut.

Di balik tirai, Lin Fan yang masih terlelap merasa ada sesuatu yang aneh.

[Ding! Peringatan: Host secara tidak sengaja menginisiasi sesi Kultivasi Massal menggunakan pasif Kursi Goyang Energi Qi.]

[Misi Rahasia 'Pemimpin Sekte Pemalas' mencapai progres 15%.]

[Menerima Pengalaman Kultivasi Pasif: +10 per detik selama Host tertidur dan murid-murid ikut bernapas.]

Alis Lin Fan sedikit berkerut dalam tidurnya. Aliran energi tambahan yang masuk ke Dantian-nya terasa sedikit menggelitik bagian perutnya, seperti ada seseorang yang menyentuhnya dengan bulu ayam. Dia mendengus kesal dalam tidurnya, sedikit menggeser posisinya, dan menggaruk perutnya yang tertutup jubah kotor.

"Hmm... putaran pijatannya agak terlalu keras di pinggang kiri..." gumam Lin Fan samar, nyaris tak terdengar.

Namun, di luar tirai, gesekan posisi Lin Fan menyebabkan kursi goyang itu sedikit mengubah ritmenya. Ayunannya menjadi sedikit lebih lambat, namun lebih dalam.

Wang Ta, yang sedang mengikuti ritme itu, tiba-tiba merasakan aliran Qi di tubuhnya menabrak penghalang (bottleneck) yang telah membelenggunya selama lima tahun di Tingkat 4 Pemurnian Tubuh.

KRRAKK!

Sebuah suara retakan tak kasat mata terdengar dari dalam tubuh Wang Ta. Aura di sekeliling pria gempal itu meledak kecil, menghempaskan keranjang jamur di dekatnya. Wajahnya memerah layaknya udang rebus, lalu kembali ke warna normal dengan lapisan keringat hitam yang berbau busuk merembes dari pori-porinya—proses pembersihan sumsum tulang.

Pemurnian Tubuh Tingkat 5!

Wang Ta membuka matanya. Air mata jantan mengalir deras. Dia menatap tirai sutra biru itu, lalu bersujud menempelkan dahinya ke lantai batu hingga menimbulkan bunyi benturan keras.

"Terima kasih atas anugerah pencerahannya, Tuan Lin!" ratap Wang Ta dengan suara tertahan agar tidak merusak ritme dengkuran Lin Fan. "Hamba yang hina ini bersumpah akan memasak iga babi asam manis terlezat di dunia untuk makan malam Anda nanti!"

Diikuti oleh Wang Ta, beberapa pelayan dapur lainnya yang bakatnya lebih baik juga mulai merasakan terobosan-terobosan kecil. Dapur Luar yang kumuh itu kini secara resmi telah berubah menjadi tanah suci kultivasi yang paling efektif di seluruh sekte, dan semuanya digerakkan oleh kemalasan seorang pria yang merasa punggungnya sedikit gatal.

Sementara itu, di kedalaman mimpinya, Lin Fan tersenyum tipis. Iga babi asam manis terdengar seperti ide yang sangat bagus untuk makan malam.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!