NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Upaya yang Cacat

Pagi itu, dapur kediaman Adiguna yang biasanya selalu rapi dan bersih kini tampak seperti medan pertempuran. Tepung terigu berceceran di atas meja granit hitam, kulit telur berserakan di dekat wastafel, dan aroma hangus yang samar mulai memenuhi udara. Di tengah kekacauan itu, Nika berdiri dengan rambut yang diikat asal-asalan dan dahi yang berkeringat. Di tangannya terdapat sebuah spatula, dan di hadapannya, sebuah teflon menunjukkan pemandangan menyedihkan: sepotong omelet yang hancur, sebagian sisinya terlalu cokelat sementara bagian tengahnya masih tampak cair.

Nika mendesah frustrasi, matanya terasa perih bukan hanya karena asap tipis dari kompor, tapi juga karena rasa tidak berdaya yang menghimpitnya. Selama ini, ia hanya tahu cara duduk dan menikmati apa pun yang tersaji di meja. Ia tidak pernah peduli berapa lama Devan harus berdiri di dapur ini setiap pagi, atau bagaimana pria itu dengan telaten memastikan setiap hidangan memiliki rasa yang sempurna. Sekarang, hanya untuk membuat satu porsi sarapan sederhana, Nika merasa seolah sedang mencoba memecahkan kode rumit yang mustahil. Namun, ia tidak menyerah. Ia membuang omelet gagal itu ke tempat sampah—yang merupakan kegagalan keempatnya pagi ini—dan mulai memecahkan telur baru.

"Ayo, Nika. Mas Devan bisa melakukannya setiap hari, kenapa kamu tidak?" bisiknya menyemangati diri sendiri, meski suaranya terdengar bergetar. Ia mencoba mengingat-ingat gerakan tangan Devan saat mengocok telur, cara suaminya mengatur api agar tidak terlalu besar, dan bagaimana jemari pria itu dengan lincah mengiris daun bawang. Penyesalan memang guru yang kejam; ia membuat Nika menyadari setiap detail kebaikan Devan justru di saat semua itu tak lagi ia dapatkan secara cuma-cuma.

Setelah perjuangan selama hampir dua jam, Nika akhirnya berhasil mengemas sebuah kotak bekal. Isinya jauh dari kata sempurna—nasi goreng yang warnanya sedikit terlalu pucat dan omelet yang bentuknya tidak simetris. Namun, bagi Nika, kotak itu adalah simbol pertama dari keruntuhan egonya. Ia segera mandi, merias wajahnya setipis mungkin untuk menutupi mata sembabnya, dan mengenakan terusan berwarna soft pink yang pernah Devan puji dalam sebuah acara formal beberapa bulan lalu. Ia berharap, memori tentang pujian itu masih tersisa sedikit di hati pria itu.

Perjalanan menuju kantor pusat Devan terasa jauh lebih lama dari biasanya. Setiap lampu merah yang ia temui terasa seperti rintangan yang disengaja oleh semesta. Tangannya yang menggenggam kemudi terasa dingin. Ia membayangkan berbagai skenario: Bagaimana jika Devan menolak menemuinya? Bagaimana jika Devan mengusirnya di depan para staf? Atau yang paling menakutkan, bagaimana jika Devan hanya menatapnya dengan tatapan kosong tanpa emosi sedikit pun?

Gedung perkantoran Adiguna Group berdiri dengan angkuh di tengah pusat bisnis kota. Nika melangkah masuk ke lobi yang megah dengan jantung yang berdegup kencang. Beberapa karyawan yang mengenali dirinya sebagai istri sang CEO tampak terkejut. Mereka memberikan hormat dengan sopan, namun Nika bisa merasakan bisik-bisik di belakang punggungnya. Selama ini, ia dikenal sebagai istri yang dingin, yang jarang menginjakkan kaki di kantor suaminya kecuali untuk meminta tanda tangan pada dokumen keuangan atau sekadar mampir sebelum pergi berbelanja.

"Selamat pagi, Bu Nika. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Siska, sekretaris senior Devan, saat Nika sampai di lantai teratas. Siska tampak berusaha menyembunyikan keterkejutannya, namun matanya yang jeli langsung tertuju pada kotak bekal yang didekap Nika di dadanya.

"Selamat pagi, Siska. Mas Devan... ada di dalam?" tanya Nika, suaranya sedikit parau.

"Bapak sedang ada rapat internal di ruang dewan, Bu. Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi baru selesai. Anda ingin menunggu di ruangannya?"

Nika mengangguk cepat. "Iya, aku tunggu di dalam saja."

Memasuki ruang kerja Devan saat pria itu tidak ada di sana memberikan sensasi yang berbeda bagi Nika. Ruangan ini sangat mencerminkan kepribadian Devan: efisien, maskulin, namun memiliki kehangatan dari aksen kayu oak dan deretan buku-buku tebal di rak. Nika duduk di sofa tamu, meletakkan kotak bekalnya di meja kopi. Ia melihat tumpukan dokumen di meja kerja Devan, dan matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang diletakkan di sudut meja—foto mereka berdua saat hari pernikahan. Berbeda dengan draf cerai yang ia temukan kemarin, di sini Devan masih menyimpan simbol ikatan mereka yang rapuh.

Waktu tiga puluh menit terasa seperti selamanya. Ketika pintu ruangan akhirnya terbuka, Nika langsung berdiri. Devan masuk sambil membaca sebuah laporan, diikuti oleh dua orang manajer yang sedang menjelaskan sesuatu dengan antusias. Devan tidak menyadari keberadaan Nika sampai ia mendongak untuk mengambil bolpoin di mejanya.

Langkah kaki Devan terhenti seketika. Ekspresi wajahnya yang serius berubah menjadi kaku. Ia memberikan isyarat kepada kedua manajernya untuk meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup rapat, keheningan yang menyesakkan kembali menyelimuti mereka berdua.

"Ada apa, Nika? Kenapa kamu ke sini?" tanya Devan. Suaranya datar, tanpa nada kebencian, namun juga tanpa kehangatan yang biasanya selalu ada. Ia tidak mendekat, tetap berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menciptakan jarak fisik yang seolah menegaskan jarak di antara hati mereka.

Nika menelan ludah, tangannya meremas ujung blusnya. "Aku... aku membawakanmu sarapan, Mas. Kamu bilang pagi ini tidak sempat sarapan di rumah."

Devan melirik kotak bekal di meja tamu sejenak, lalu kembali menatap Nika dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku sudah makan di kantin kantor sebelum rapat tadi. Siska yang membelikannya."

Kalimat itu terasa seperti tamparan pelan bagi Nika. "Oh... begitu ya. Tapi, ini aku buatkan sendiri, Mas. Aku... aku mencoba belajar memasak omelet seperti yang sering kamu buatkan untukku."

Salah satu sudut bibir Devan terangkat, membentuk senyum pahit yang tidak sampai ke mata. "Belajar memasak? Untuk apa, Nika? Bukankah kamu bilang aku tidak perlu berperan sebagai suami idaman di depanmu? Kamu tidak perlu melakukan hal yang tidak kamu sukai hanya karena merasa bersalah soal draf perceraian itu."

"Ini bukan cuma soal draf itu, Mas," sela Nika cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku sadar aku salah. Aku sudah menyia-nyiakanmu selama ini. Aku... aku ingin mencoba memperbaikinya. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk menunjukkan kalau aku bisa berubah."

Devan menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar sangat lelah. Ia berjalan mendekat ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota, membelakangi Nika. "Nika, hati manusia itu bukan saklar lampu yang bisa kamu matikan dan nyalakan sesukamu. Selama enam bulan, aku mencoba membuka pintu, tapi kamu selalu menguncinya dari dalam. Sekarang, saat aku memutuskan untuk pergi dan tidak lagi mengetuk... kamu baru membukanya?"

"Aku tahu aku terlambat, Mas. Aku tahu aku bodoh," Nika mendekat, meski jarak mereka masih terpaut beberapa meter. "Tapi apa salah jika aku ingin mencoba lagi? Aku tidak minta kamu langsung memaafkanku. Aku cuma minta... jangan tutup pintunya sama sekali. Biarkan aku ada di sekitarmu."

Devan berbalik, menatap istrinya dengan pandangan yang dalam. Ada keraguan di sana, namun juga ada luka yang masih sangat basah. "Kotak itu... bawa pulang saja. Atau berikan pada satpam di bawah. Aku punya banyak pekerjaan hari ini. Sebaiknya kamu kembali ke butik."

"Tapi, Mas—"

"Tolong, Nika," potong Devan lembut namun tegas. "Jangan buat ini jadi lebih sulit bagi kita berdua. Pulanglah."

Nika terpaku. Penolakan Devan tidak kasar, tidak ada teriakan atau makian. Justru kesopanan pria itu yang terasa paling menyakitkan. Devan memperlakukannya seperti orang asing yang sedang bertamu, bukan seperti istri. Dengan tangan gemetar, Nika mengambil kotak bekalnya. Ia tahu, perjuangan ini tidak akan selesai dalam satu hari. Ini baru babak awal dari penebusan dosanya.

Sambil melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk, Nika berbisik dalam hati, "Aku tidak akan menyerah, Mas. Jika dulu kamu bisa menungguku selama enam bulan dalam kedinginan, maka aku akan menunggumu sampai es di hatimu mencair, meski itu butuh waktu selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!