Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya dinding ego demi menyelamatkan diri
Jantung Hana serasa mau melompat keluar saat salah satu pria di balik pintu itu mulai memutar gagang pintu. Suara gesekan logamnya terdengar nyaring di tengah kesunyian desa yang mati lampu. Hana meremas dadanya, napasnya tersengal dalam ketakutan yang mencekam.
"Stop, hentikan Jek..." bisik suara pria lainnya, menarik tangan temannya dari gagang pintu. "Sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat. Kau mau kita dianggap sebagai maling? Kau tahu sendiri kan orang kampung seperti apa kalau sudah menangkap maling? Kita bisa mati dikeroyok! Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan dan lapor kepada Tuan Cakra bahwa kita sudah menemukan alamat rumah Nyonya!"
Mendengar nama Tuan Cakra disebut, Hana spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya melemas hingga ia terduduk di lantai yang dingin. Dunia seolah berputar. Cakra, mantan suaminya yang selama enam tahun ini ia hindari dengan segala cara, akhirnya berhasil melacaknya. Persembunyian yang ia bangun dengan susah payah kini hancur seketika.
Setelah deru langkah kaki kedua pria itu menjauh dan hilang ditelan kegelapan, Hana bergegas bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan sebatang lilin. Cahaya kuning yang temaram itu menari-nari di dinding, merefleksikan kepanikan di wajahnya.
Tanpa membuang waktu, ia menghubungi Rahma dan meminta bantuan Bude Minah. Tak lama, kedua wanita itu sampai di rumah Hana dengan napas terengah-engah, sementara El, putra Hana, masih tertidur pulas di kamar, tidak menyadari badai yang sedang mengintai ibunya.
"Han, apa yang kau katakan itu benar? Mantan suamimu berhasil menemukan keberadaanmu?" tanya Bude Minah dengan wajah pucat, seolah tak percaya pada kabar buruk itu.
"Iya, Bude... aku harus bagaimana?" jawab Hana dengan suara parau dan tubuh yang masih gemetar hebat. "Aku tidak mau Mas Cakra menemukanku. Sia-sia saja aku bersembunyi selama ini darinya! Dia akan mengambil El dariku, Bude!"
Rahma memegang bahu Hana, mencoba menyalurkan ketenangan. "Han, dengarkan aku. Situasinya sudah genting. Kenapa kau tidak coba meminta bantuan Mas Tama dan juga Papahmu?"
Hana tersentak, menatap Rahma dengan tatapan ragu.
"Ayolah, Hana! Hanya mereka berdua yang saat ini punya kekuatan untuk melindungimu dari Tuan Cakra. Cakra bukan orang sembarangan, kau butuh perlindungan yang setara," lanjut Rahma meyakinkan.
Hana terdiam. Di kepalanya berkecamuk pertarungan batin yang hebat. Baru beberapa jam yang lalu ia mengusir ayahnya dengan penuh amarah, namun kini, takdir seolah mengejeknya. Ia berada di titik paling rendah di mana ia harus memilih, yakni mempertahankan harga diri atau keselamatan masa depannya bersama El.
Ia menatap lilin yang mulai meleleh. Bayangan ketegasan Tama dan raut penyesalan Pak Sutoyo terlintas di benaknya. Rahma benar, ia tidak bisa menghadapi Cakra sendirian.
"Demi El..." bisik Hana pelan pada dirinya sendiri.
Akhirnya, Hana menyerah. Ia memutuskan untuk membuang jauh-jauh egonya. Ia menyadari bahwa menceritakan penderitaan yang ia alami selama enam tahun ini kepada Tama dan Pak Sutoyo adalah satu-satunya jalan keluar. Dengan jari yang masih sedikit gemetar, ia mengambil kembali kartu nama yang ditinggalkan Tama di meja tadi siang.
"Aku akan menghubungi mereka, Rahma. Aku terpaksa... aku butuh perlindungan mereka," ucap Hana dengan nada pasrah namun penuh tekad.
.
.
Di balkon hotel yang sepi, Tama duduk termenung menatap pekatnya malam. Asap rokok mengepul dari sela jemarinya, terbawa angin malam yang dingin. Pikirannya tidak bisa lepas dari wajah Hana, wajah yang penuh luka namun menyimpan ketegaran yang luar biasa.
"Apa yang kau pikirkan, Tama? Hana itu adikmu. Kau harus selalu bisa melindunginya," gumamnya pada diri sendiri sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Saat membacanya, mata Tama membelalak, jantungnya berpacu lebih cepat. Namun, sedetik kemudian, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.
"Akhirnya kau menyerah juga, Hana," bisiknya. Namun, senyum itu memudar saat ia membaca ulang kalimat demi kalimat. "Tapi kenapa pesan ini seolah menunjukkan kau sedang dalam masalah besar?"
Tanpa membuang waktu, Tama menyambar kunci mobilnya. Ia segera meninggalkan hotel, membelah jalanan desa yang sepi menuju rumah Hana.
Sementara itu, di rumah sederhana di Desa Bangorejo, suasana begitu mencekam. Hana bergerak cepat, memasukkan pakaian ke dalam tas dengan tangan yang masih sedikit gemetar. El, yang baru saja dibangunkan dari tidur lelapnya, mengucek matanya dengan bingung. Ia melihat tumpukan baju dan wajah ibunya yang pucat pasi.
"Bunda, kita mau ke mana malam-malam begini? Apakah tidak bisa besok saja perginya? Apakah kita mau pindah, Bun?" tanya El dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah tidak ada waktu lagi, El! Pokoknya kamu tidak usah banyak tanya, nurut saja sama Bunda. Ngerti kamu!" sahut Hana dengan nada bicara yang lebih tinggi dari biasanya karena panik.
El langsung terdiam, nyalinya menciut melihat kemarahan ibunya. Hatinya merasa sedih luar biasa. Ia tidak ingin meninggalkan desa ini, tempat ia bermain dan tumbuh besar. Namun, di tengah kesedihannya, sebuah ingatan melintas di benak bocah itu, ingatan tentang sosok pria di layar monitor warnet tempo hari.
'Apakah mungkin Ayah telah berhasil menemukan keberadaan aku dan Bunda? batin El. Kalaupun iya, aku sangat berharap bisa bertemu dengan Ayah.'
Tak lama kemudian, sorot lampu mobil sport hitam membelah kegelapan halaman rumah Hana. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu. Tama turun dengan terburu-buru. Di depan rumah, Bude Minah dan Rahma sudah menunggu dengan wajah cemas.
Hana mendekat, memeluk Bude Minah dengan sangat erat. Isak tangis pecah di antara mereka.
"Hati-hati ya, Nduk. Semoga di mana pun kamu berada, kamu dan El selalu bahagia. Bude pasti akan sangat merindukan kalian!" bisik Bude Minah sambil mengusap air matanya.
Rahma pun tak kuasa membendung tangis. Sepupu sekaligus sahabat setianya itu kini harus pergi dalam keadaan darurat. Ia merasa separuh jiwanya ikut pergi bersama Hana.
Tama masuk ke dalam rumah, menatap Hana yang tampak sudah siap dengan tas di tangannya. Pandangannya beralih ke El, lalu kembali ke Hana. "Apakah kamu benar-benar sudah siap, Hana?"
Hana menghela napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang liar. "Bismillah... siap Mas. Ayo secepatnya kita pergi dari sini sebelum mereka kembali!"
El, yang mengenali pria gagah di hadapannya, segera berlari menghampiri Tama. "Jadi El sama Bunda ikut sama Om Tama?"
Tama berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan El, lalu mengacak rambut bocah itu dengan sayang. "Iya El, mulai sekarang El sama Bunda akan tinggal bersama Om dan juga Kakek. Apakah kau senang?"
Mendengar kata "Kakek" dan "tinggal bersama", kesedihan El sirna seketika. Matanya berbinar bahagia, membayangkan sebuah keluarga besar yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
"Senang banget, Om!" seru El riang.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Saat mobil sport hitam itu mulai bergerak meninggalkan halaman rumah yang penuh kenangan tersebut, Hana menatap keluar jendela, melihat sosok Bude Minah dan Rahma yang melambai di kejauhan hingga menghilang di tikungan jalan.
Bersambung...