NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Guncangan halus di tempat tidur Julian membangunkannya dari tidur yang dangkal dan penuh kegelisahan. Indra Aethern-nya yang tajam segera menangkap perubahan ritme kondisi di sampingnya. Julian membuka mata perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah bahu Kenzie yang bergetar hebat.

Kenzie duduk membelakanginya di tepi ranjang, tangannya meremas secarik kertas yang tampak lecek. Isak tangis yang tertahan, suara paling menyayat hati yang pernah Julian dengar memenuhi kamar yang sunyi itu.

"Kenzie..." bisik Julian parau.

Kenzie tersentak, mencoba menyeka air matanya dengan gerakan cepat yang kikuk, namun isakannya justru semakin pecah. Julian bangkit, mengabaikan rasa lemas di tubuhnya akibat pengurasan energi dua malam lalu. Ia mendekat, melingkarkan lengannya di bahu Kenzie dan menarik gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang.

"Dia pergi, Julian... Elena pergi karena aku." tangis Kenzie pecah di pundak Julian. Surat dari Elena masih tergenggam erat di jemarinya yang pucat. "Darahku tidak cukup kuat untuk menahannya lebih lama. Aku gagal."

Julian memejamkan mata, membenamkan wajahnya di rambut Kenzie yang harum mawar. "Dengarkan aku, Kenzie. Lihat aku." Julian memutar tubuh Kenzie agar menghadapnya, memegang kedua pipi gadis itu dengan lembut. "Elena pergi dengan damai. Selama dua puluh tahun aku melihatnya berjuang melawan rasa sakit yang menggerogoti tubuh manusianya dan malam itu dia tidur tanpa merintih. Itu karena kau. Kau memberinya kematian yang indah, bukan kegagalan."

"Tapi dia memintaku menjagamu." Kenzie sesenggukan, menunjukkan surat itu dengan tangan gemetar. "Dia tahu, Julian. Dia tahu tentang kita, tentang apa yang kau berikan padaku semalam."

Julian terdiam sejenak, menatap tulisan tangan istrinya. Ia menghela napas panjang, sebuah senyum pahit terukir di bibirnya. "Elena selalu lebih bijak dari yang kukira. Dia tidak ingin aku terjebak dalam masa lalu, Kenzie. Dia ingin aku hidup. Dan baginya, hidupku adalah kau."

Julian mendekap Kenzie lebih erat, membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh dukanya di sana. Keheningan malam itu terasa lebih hangat, seolah-olah jiwa Elena yang telah pergi memberikan restu terakhirnya melalui embusan angin yang masuk dari celah jendela.

Setelah beberapa saat, tangis Kenzie mulai mereda menjadi sedu-sedan kecil. Julian melepaskan pelukannya sedikit, namun tangannya tetap berada di pinggang Kenzie, seolah takut jika ia melepasnya, gadis itu akan menghilang.

Mata biru Julian kemudian turun, menatap lengan Kenzie yang kini sudah mulus sempurna tanpa bekas luka. Julian teringat pemandangan mengerikan saat Kenzie pertama kali datang ke rumah ini, hoodie yang robek, darah yang mengalir deras dan aroma karat besi yang busuk.

"Kenzie." suara Julian berubah menjadi serius dan berat. "Katakan padaku sekarang. Apa yang terjadi padamu malam itu? Mengapa kau datang ke sini dalam kondisi lengan robek dan hampir kehilangan seluruh energimu?"

Kenzie menghela napas, mencoba menstabilkan suaranya. "Hallen menjemputku. Kami pergi ke festival musim gugur di kota, awalnya semua tampak normal."

Wajah Julian mengeras mendengar nama Hallen. "Lalu?"

"Sebuah kecelakaan terjadi. Seseorang tidak sengaja mendorong Hallen dengan sangat keras saat kami berada di dekat pagar pembatas sungai. Hallen hampir jatuh dan tertusuk besi pagar yang tajam. Aku refleks menariknya, tapi lenganku tersangkut. Besi itu rasanya aneh, Julian. Rasanya seperti menyedot kekuatanku."

Rahang Julian mengatup rapat. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Tidak sengaja? Tidak ada kecelakaan yang melibatkan The Constant tanpa rencana, Kenzie. Itu adalah besi dengan sihir. Stefanny pasti sudah merencanakan semuanya."

Namun, ada sesuatu yang lebih mengganggu Julian. "Dan, apa yang dilakukan Hallen sebelum kecelakaan itu terjadi? Mengapa kau berada begitu dekat dengannya hingga harus menyelamatkannya?"

Kenzie ragu sejenak, namun ia tahu tidak ada gunanya berbohong pada pria yang baru saja memberikan separuh jiwanya padanya. "Dia... mencoba menciumku, Julian. Dan tepat saat itu, dorongan itu terjadi."

Hening seketika. Suasana di kamar itu mendadak menjadi pekat. Julian melepaskan pegangannya pada pinggang Kenzie dan berdiri, berjalan menuju jendela dengan langkah yang kaku. Ia mengepalkan tangannya di ambang jendela kayu hingga terdengar bunyi retakan.

"Dia mencoba menciummu." desis Julian, suaranya mengandung kecemburuan yang murni dan berbahaya. "Anak ingusan itu berani menyentuhmu setelah aku secara resmi menjauhimu demi sebuah taruhan konyol?"

"Julian, itu tidak penting sekarang—"

"Itu penting bagiku!" Julian berbalik dengan cepat. Langkahnya lebar, kembali mendekati Kenzie yang masih duduk di ranjang. "Kau hampir mati demi melindungi seseorang yang hanya menginginkan bibirmu, sementara aku di sini sekarat karena merindukan keberadaanmu!"

Julian berdiri di depan Kenzie, menatapnya dengan intensitas yang membuat udara seolah menghilang. Kenangan tentang ciuman mereka di atap sekolah, saat Julian melumat bibir Kenzie dengan penuh keputusasaan kembali menyeruak, memenuhi pikiran keduanya. Penyatuan energi yang mereka lakukan semalam membuat emosi Julian mengalir deras ke dalam diri Kenzie dan sebaliknya.

Kenzie bisa merasakan kemarahan Julian, tapi di balik itu, ada rasa haus yang tak terpuaskan.

"Kau bisa merasakan energi biru ini di nadimu, bukan?" bisik Julian, suaranya merendah, serak dan menggoda. Ia berlutut di depan Kenzie, menatap mata jernih gadis itu. "Kau adalah bagian dariku sekarang, Kenzie. Tidak akan ada manusia, tidak akan ada Hallen, yang bisa menghapus tanda yang sudah kutanamkan di jiwamu."

Kenzie tidak bisa memalingkan wajah. Ia merasa terjebak dalam pesona Julian yang gelap namun tulus. Kenzie ingat betapa goyahnya ia di atap sekolah dan sekarang, di tengah kedukaan atas Elena, rasa bersalah itu justru bercampur dengan gairah yang terlarang.

Julian perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara mereka terkikis. Kenzie bisa mencium aroma hutan setelah hujan yang sangat pekat dari tubuh Julian, aroma Aethern yang kini menjadi candunya.

"Jangan lari lagi." gumam Julian tepat di depan bibir Kenzie.

Kenzie memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam. Tepat saat bibir Julian mendarat di bibirnya, sentuhan lembut yang baru saja akan berubah menjadi lumatan penuh rindu, sebuah suara dentuman keras menghancurkan keintiman mereka.

BRAKKKK!

Pintu depan rumah di lantai bawah dibuka dengan paksa hingga menghantam dinding. Suara langkah kaki yang berat dan terburu-buru menggema di aula depan, diikuti oleh suara Clara yang terpekik kaget.

"AYAH! DI MANA KAU?!"

Sebuah suara bariton pria dewasa yang berat, sarat dengan kemarahan dan duka yang meledak-ledak, berteriak dari lantai bawah.

Julian dan Kenzie tersentak, menjauhkan wajah mereka dalam sekejap. Wajah Julian yang tadinya penuh gairah kini berubah menjadi pucat pasi. Ia mengenali suara itu. Suara yang seharusnya tidak ia dengar malam ini.

"Robert..." bisik Julian dengan nada ngeri.

Robert, anak pertama Julian dan Elena. Anak laki-laki yang tidak mewarisi kekuatan fisik Aethern ayahnya namun memiliki temperamen yang meledak-ledak. Robert yang selama ini dikirim Julian untuk mengurus bisnis keluarga di Amsterdam agar ia jauh dari konflik supranatural di London.

"Ayah! Aku tahu kau di atas! Jangan sembunyi setelah kau membiarkan Ibu mati!" teriak Robert lagi. Suara langkah kakinya kini menaiki tangga dengan cepat, setiap langkahnya seolah mengguncang fondasi rumah.

Julian menatap Kenzie dengan panik. "Kenzie, kau harus bersembunyi. Robert tidak tahu siapa kau sebenarnya dan dalam kondisi seperti ini, dia pasti akan menghancurkan apa pun yang dia lihat."

Namun terlambat. Pintu kamar tamu itu terbuka lebar dengan satu tendangan kuat. Seorang pria berusia sekitar kepala tiga, dengan bahu lebar dan wajah yang sangat mirip dengan Julian versi manusia berdiri di sana. Matanya merah karena tangis dan auranya terasa sangat kacau, penuh dengan emosi yang tidak stabil.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!