NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Terkubur

Rahasia yang Terkubur

Udara malam masih terasa dingin ketika mereka meninggalkan gudang itu.

Beberapa mobil tim keamanan sudah berjajar di luar kawasan industri.

Lampu-lampu mobil menerangi jalan yang sepi.

Arsen sedang berbicara dengan beberapa anggota tim keamanan, memastikan situasi benar-benar aman sebelum mereka pergi.

Namun Rania berdiri sedikit menjauh.

Pikirannya masih tertahan pada satu kalimat yang baru saja dikatakan Adrian.

Nama keluargamu… juga ada di dalam kontrak itu.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Adrian berjalan mendekat perlahan.

Luka di pelipisnya sudah dibersihkan oleh salah satu petugas medis dari tim keamanan.

Namun wajahnya masih terlihat lelah.

“Kita harus pergi dari sini,” kata Adrian pelan.

Rania menatapnya.

Namun matanya terlihat penuh pertanyaan.

“Apa maksudmu tadi?”

Adrian menghela napas pelan.

“Aku tidak ingin membicarakannya di sini.”

Namun Rania tidak bergerak.

“Katakan sekarang.”

Nada suaranya tenang.

Namun cukup tegas untuk membuat Adrian mengerti bahwa ia tidak akan menghindari percakapan ini.

Beberapa detik mereka berdiri dalam diam.

Akhirnya Adrian berkata,

“Sepuluh tahun lalu, ketika perusahaan Darmawan jatuh…”

Ia berhenti sejenak.

“…bukan hanya perusahaan keluargaku yang mengambil proyek itu.”

Rania merasakan dadanya sedikit menegang.

“Perusahaan keluargaku juga terlibat?”

Adrian mengangguk pelan.

“Ya.”

Rania menatapnya.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

Adrian menjawab dengan jujur,

“Karena itu bukan sesuatu yang pernah dibicarakan secara terbuka.”

Ia melanjutkan,

“Proyek itu sangat besar. Pemerintah memberikan kontrak kepada dua perusahaan utama.”

Rania langsung mengerti arah pembicaraan ini.

“Satu perusahaan milik keluargamu.”

Adrian mengangguk.

“Dan yang satu lagi milik keluargamu.”

Beberapa detik Rania tidak berbicara.

Angin malam berhembus pelan melewati kawasan industri itu.

Seolah dunia ikut menunggu jawabannya.

“Ayahku tidak pernah menyebutkan ini.”

Adrian tidak terlihat terkejut.

“Karena setelah proyek itu selesai…”

Ia berhenti sejenak.

“…perusahaan keluargamu menjual sebagian besar sahamnya.”

Rania mengerutkan kening.

“Ayahku keluar dari proyek itu?”

“Ya.”

Adrian mengangguk.

“Dan perusahaan keluargaku mengambil alih semuanya.”

Rania berpikir cepat.

Jika itu benar, maka sejarah proyek itu jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Ia menatap Adrian lagi.

“Jadi Darmawan membenci dua keluarga sekaligus.”

Adrian menjawab pelan,

“Mungkin.”

Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Arsen akhirnya berjalan mendekat.

“Kita harus pergi sekarang.”

Ia melihat Adrian yang sudah berdiri lebih tegak.

“Mobil sudah siap.”

Rania mengangguk kecil.

Mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama.

Perjalanan kembali ke kota terasa jauh lebih sunyi.

Lampu-lampu jalan melintas satu per satu di jendela mobil.

Arsen akhirnya berkata,

“Pasar Asia masih bergerak.”

Ia melihat layar ponselnya.

“Penjualan saham masih berlangsung.”

Rania menjawab tenang,

“Biarkan saja.”

Arsen menatapnya.

“Jika ini terus berlanjut, harga saham kita bisa turun lebih jauh sebelum pagi.”

Rania berkata pelan,

“Itu memang rencananya.”

Adrian menoleh.

“Kau sengaja membiarkannya turun?”

Rania mengangguk.

“Kadang kita harus membiarkan musuh merasa menang… sebelum menjatuhkannya.”

Arsen mulai mengerti.

“Kau ingin membuat mereka menjual lebih banyak.”

Rania tersenyum tipis.

“Semakin banyak mereka menjual, semakin banyak yang bisa kita beli kembali.”

Adrian menatapnya beberapa detik.

“Permainan yang berbahaya.”

Rania menjawab singkat,

“Dunia bisnis memang seperti itu.”

Mobil mereka akhirnya memasuki pusat kota.

Gedung-gedung tinggi kembali terlihat.

Lampu-lampu kota berkilau di malam yang gelap.

Namun pikiran Rania masih tertahan pada sesuatu yang lain.

Ia menoleh ke arah Adrian.

“Ada satu hal lagi.”

Adrian menatapnya.

“Apa?”

Rania berkata pelan,

“Jika ayahku benar-benar terlibat dalam proyek itu…”

Ia berhenti sebentar.

“…maka Darmawan tidak hanya ingin menghancurkan perusahaanmu.”

Adrian langsung mengerti arah pikirannya.

“Dia juga ingin menghancurkan keluargamu.”

Rania mengangguk.

Namun ada satu hal yang masih mengganggunya.

“Yang aneh adalah…”

Ia menatap keluar jendela.

“…kenapa dia baru bergerak sekarang?”

Arsen juga memikirkan hal yang sama.

“Jika dendamnya sudah ada sepuluh tahun…”

“…kenapa ia menunggu sampai sekarang?”

Mobil itu akhirnya berhenti di depan gedung Hartono Group.

Namun sebelum Rania turun Adrian berkata sesuatu.

“Ada kemungkinan lain.”

Rania menoleh.

“Apa?”

Adrian menatapnya dengan serius.

“Mungkin ini bukan hanya tentang masa lalu.”

Rania mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

Adrian menjawab pelan,

“Mungkin ada sesuatu yang baru saja terjadi.”

Ia berhenti sebentar.

“Sesuatu yang membuat Darmawan memutuskan untuk menyerang sekarang.”

Rania memikirkan kalimat itu.

Dan tiba-tiba satu kemungkinan muncul di pikirannya.

Ia langsung menatap Arsen.

“Proyek energi.”

Arsen terlihat terkejut.

“Kau pikir dia tahu?”

Rania mengangguk perlahan.

“Jika dia tahu proyek itu akan membuat Hartono Group jauh lebih kuat…”

Ia menyelesaikan kalimatnya,

“…maka sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk menghancurkan kita.”

Beberapa detik mereka terdiam.

Akhirnya Rania membuka pintu mobil.

“Aku harus kembali bekerja.”

Adrian menghela napas kecil.

“Kau baru saja melalui malam yang gila.”

Rania menjawab tenang,

“Perang belum selesai.”

Ia keluar dari mobil.

Arsen ikut turun.

Namun sebelum pintu mobil tertutup—

Adrian berkata pelan dari dalam mobil,

“Rania.”

Wanita itu berhenti dan menoleh.

Tatapan mereka bertemu lagi.

Adrian berkata dengan suara serius,

“Jika Darmawan benar-benar menyerang keluargamu juga…”

Ia berhenti sejenak.

“…maka ini bukan lagi hanya tentang bisnis.”

Rania menatapnya beberapa detik.

Lalu menjawab dengan suara yang tenang tetapi dingin.

“Aku tahu.”

Ia menambahkan,

“Dan justru karena itu… aku tidak akan kalah.”

Lampu-lampu gedung Hartono Group menyala terang ketika Rania berjalan masuk ke dalam.

Sementara jauh di tempat lain. Di sebuah kantor mewah di lantai paling atas gedung lain, Pak Darmawan berdiri di depan jendela besar.

Ia melihat layar komputer di mejanya.

Grafik saham Hartono Group bergerak turun.

Perlahan.

Namun pasti.

Ia tersenyum kecil.

Namun seorang pria berdiri di belakangnya.

“Pak… ada sesuatu yang perlu Anda lihat.”

Darmawan menoleh.

“Apa?”

Pria itu menunjukkan layar tablet.

Berita bisnis baru saja muncul.

Judulnya besar.

“Hartono Group Akan Mengumumkan Proyek Energi Terbesar Tahun Ini.”

Senyum Darmawan perlahan memudar.

Ia menatap layar itu beberapa detik.

Lalu berkata dengan suara dingin,

“Kalau begitu…”

Ia menutup laptopnya.

“…kita percepat saja perang ini.”

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!