NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Keheningan yang menyergap setelah jarum pemutar piringan hitam diangkat dari piringannya selalu terasa lebih berat daripada kesunyian biasanya. Mahesa menatap piringan hitam yang perlahan berhenti berputar itu, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengangkatnya dan memasukkannya kembali ke dalam sampul kertasnya yang sudah agak menguning di bagian tepinya. Bunyi gesekan kertas itu terdengar nyaring di dalam kedai L'Art du Café yang kini tak lagi memiliki latar musik, menyisakan hanya suara dengung rendah dari mesin pendingin susu di bawah konter.

Mahesa menarik napas panjang, merasakan sisa-sisa aroma kopi yang pekat mulai bercampur dengan aroma pembersih lantai yang tadi sempat ia semprotkan di beberapa sudut. Ia melirik ke arah meja pojok, tempat Felysha baru saja merapikan buku sketsanya. Ada sebuah perasaan ganjil yang menyelinap di sela-sela dadanya—perasaan yang muncul setiap kali ia menyadari bahwa waktu "bersembunyi" di balik bahasa Indonesia telah usai untuk hari ini.

Ia berjalan kembali ke balik konter, tangannya meraih simpul tali celemek cokelat tua di punggungnya. Dengan sekali tarik, simpul itu lepas. Mahesa meloloskan celemek itu dari lehernya, melipatnya dengan tiga gerakan presisi yang sudah ia lakukan ratusan kali, lalu meletakkannya di rak bawah di samping tumpukan kain lap bersih. Tanpa kain tebal itu, Mahesa merasa tubuhnya mendadak lebih ringan, namun sekaligus lebih telanjang. Kemeja putihnya yang sedikit kusut di bagian siku kini terlihat jelas, menunjukkan sisa-sisa kerja kerasnya sepanjang hari.

Felysha berdiri dari kursinya, bunyi derit kaki kursi kayu di atas lantai ek tua itu terdengar seperti sebuah pengumuman bahwa pertemuan mereka telah mencapai titik jeda. Ia menyampirkan tas selempangnya, lalu merapikan letak syal wol birunya yang sedikit miring. Mahesa memperhatikan bagaimana jemari Felysha yang ramping itu bergerak gemetar halus, entah karena suhu udara yang mulai turun atau karena sisa-sisa kecanggungan yang masih menggantung di antara mereka.

"Sudah benar-benar tutup?" tanya Felysha lirih. Suaranya terdengar jernih, memantul di antara dinding-dinding kayu kedai yang kini tampak lebih gelap karena lampu utama sudah dimatikan.

Mahesa mengangguk, ia meraih kunci kedai yang tergantung di dekat mesin kasir. "Shift saya selesai. Pemiliknya akan datang sebentar lagi untuk memastikan semuanya aman, tapi saya biasanya sudah boleh pulang setelah mesin espresso dibersihkan."

Ia melangkah menuju pintu depan, memberikan isyarat agar Felysha berjalan lebih dulu. Saat Felysha melewatinya, Mahesa kembali mencium aroma parfum mawar yang lembut—aroma yang kini ia asosiasikan dengan keberanian gadis itu untuk masuk ke gang sempit ini. Ia mengikuti Felysha keluar, lalu menarik pintu kayu biru itu hingga tertutup rapat. Bunyi klik kunci yang diputar dua kali terdengar sangat final, seolah Mahesa baru saja mengunci semua rahasia Jakarta mereka di dalam sana.

Udara dingin Paris langsung menyergap wajah mereka begitu mereka berdiri di trotoar. Mahesa menarik ritsleting jaket denimnya hingga ke pangkal leher, sementara Felysha sedikit menundukkan kepalanya, membiarkan syalnya menutupi sebagian wajahnya yang mulai memucat terkena angin malam. Langit di atas mereka sudah benar-benar berubah menjadi warna midnight blue yang pekat, dengan gumpalan awan tipis yang bergerak cepat menutupi sebagian bulan yang menggantung malu-malu.

"Kamu... biasanya pulang lewat mana?" Felysha memecah keheningan saat mereka mulai melangkah menjauhi kedai.

Mahesa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Ia merasakan logam kunci apartemennya di saku kanan, dan lipatan kertas sketsa pemberian Felysha di saku kiri. "Saya tinggal di daerah Rue des Martyrs. Tidak terlalu jauh dari sini kalau jalan kaki, tapi arahnya berlawanan dengan arah mobil jemputan kamu."

Langkah kaki mereka terdengar ritmis di atas batu jalanan yang sedikit lembap. Mahesa sengaja melambatkan langkahnya agar Felysha tidak perlu bersusah payah mengimbangi langkah panjangnya. Ia memperhatikan bagaimana uap napas Felysha keluar secara teratur, membentuk kabut putih kecil yang segera menghilang ditelan kegelapan.

"Andre pasti sudah menunggu di ujung jalan," Felysha berujar pelan, matanya menatap ke depan, ke arah lampu-lampu jalan besar yang mulai terlihat di kejauhan. "Kadang aku merasa kalau aku terlalu lama menghilang, dia akan mulai menelepon Julian. Dan itu artinya... interogasi panjang di telepon."

Mahesa menoleh sedikit, memperhatikan profil samping wajah Felysha yang terkena bias cahaya dari jendela apartemen di lantai atas yang mereka lewati. "Julian... dia seserius itu kalau soal jadwal kamu?"

Felysha tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Bukan cuma soal jadwal, Mahesa. Soal napas yang aku ambil pun rasanya dia mau tahu ukurannya berapa." Ia berhenti sejenak di dekat sebuah lampu jalan besi yang bentuknya melengkung indah. "Tapi di sini, bersama kamu, bicara pakai bahasa Indonesia... rasanya aku baru saja mencuri napas tambahan. Terima kasih ya, sudah mau jadi 'orang Indonesia' buat aku sore ini."

Mahesa merasakan sebuah denyutan di tenggorokannya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia juga merasa berterima kasih, namun kata-kata itu seolah tertahan oleh bayangan dompet cokelat milik Felysha yang pernah ia pegang di gang gelap. Ia merasa seperti seorang penipu yang baru saja menerima pelukan tulus dari orang yang ia khianati.

"Hanya obrolan kopi, Fely," jawab Mahesa rendah. "Jangan terlalu dipikirkan."

Mereka terus berjalan, melewati sebuah toko bunga yang sudah tutup namun masih menyisakan aroma lily yang kuat di udara sekitarnya. Mahesa menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter dari Felysha, memastikan ia tidak terlalu dekat namun tetap berada dalam jangkauan jika gadis itu tiba-tiba tersandung di atas jalanan yang tidak rata.

"Kamu tahu, Mahesa?" Felysha tiba-tiba berhenti lagi, kali ini ia menunjuk ke arah sebuah gedung tua dengan balkon besi tempa yang sangat rumit desainnya. "Sebagai mahasiswa fashion, aku sering melihat Paris sebagai hamparan kain. Gedung ini... dia seperti renda hitam di atas gaun malam yang mewah. Cantik, tapi kalau dilihat terlalu dekat, banyak bagian yang tajam dan dingin."

Mahesa mengikuti arah telunjuk Felysha. Ia memandangi gedung itu dengan kacamata arsiteknya. "Gedung itu gaya Haussmann klasik. Balkan-balkon itu fungsinya bukan cuma estetika, tapi juga penanda status sosial di masa lalu. Semakin rendah lantainya, semakin mewah balkonnya." Mahesa kemudian menatap Felysha. "Kamu benar, Paris memang hamparan kain yang indah. Tapi kain itu kadang terlalu berat buat dipakai sendirian."

Felysha menatap Mahesa lama, seolah sedang mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. "Kamu beneran punya cara pandang yang beda ya. Aku nggak pernah kepikiran soal fungsi status sosialnya."

Mereka sampai di persimpangan jalan besar tempat lampu-lampu kendaraan mulai menderu kencang. Cahaya dari lampu depan mobil-mobil yang melintas menciptakan siluet panjang di aspal. Mahesa bisa melihat sedan hitam mewah itu terparkir sekitar lima puluh meter dari mereka. Mesinnya tampak masih menyala, terlihat dari kepulan asap putih yang keluar dari knalpotnya.

"Sepertinya Andre sudah gelisah," ucap Mahesa, ia berhenti tepat di batas bayangan gedung terakhir. Ia tidak ingin melangkah lebih jauh ke area yang lebih terang, ke area di mana supir Julian bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Felysha menoleh ke arah mobil itu, lalu kembali menatap Mahesa. Ada sebuah gurat enggan di wajahnya, seolah ia masih ingin memperpanjang waktu di atas trotoar ini. Ia meraba pergelangan tangannya, memutar-mutar gelang kecil yang dipakainya.

"Mahesa, besok... apa kamu akan di kedai lagi?" tanya Felysha. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi bus yang melintas cepat di belakang mereka.

Mahesa memasukkan tangannya lebih dalam ke saku jaket. Ia merasakan sketsa di sakunya bergeser, menyentuh telapak tangannya. "Besok saya ada shift pagi sampai sore. Tapi Monsieur Girard bilang dia butuh bantuan untuk menata stok kopi baru di gudang sampai malam."

"Kalau begitu... mungkin aku akan mampir lagi. Kalau tugas draping-ku tidak terlalu menggila," Felysha tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih nyata. "Selamat istirahat, Mahesa. Jangan lupa makan nasi uduk bayangan di mimpimu nanti."

Mahesa tidak bisa menahan senyum tipisnya. "Selamat istirahat, Fely. Hati-hati di mobil."

Ia berdiri diam di sana, memperhatikan Felysha yang mulai berjalan menjauh. Langkah gadis itu terlihat lebih ringan daripada saat ia pertama kali masuk ke kedai tadi. Mahesa melihat Andre keluar dari mobil, membukakan pintu belakang dengan gerakan kaku, dan membungkuk hormat saat Felysha masuk ke dalam. Pintu tertutup dengan bunyi debuman yang solid, memutus semua koneksi yang tadi sempat terjalin di bawah langit Paris.

Begitu mobil itu melaju dan menghilang di balik tikungan, Mahesa baru berani melangkah keluar dari bayangan. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin yang tajam memenuhi paru-parunya. Ia mengeluarkan sketsa pemberian Felysha dari sakunya, menatapnya di bawah lampu jalan yang kekuningan.

Di atas kertas itu, ia melihat dirinya sendiri—bukan sebagai barista yang lelah, bukan sebagai kaki tangan Pierre, tapi sebagai seorang pria yang tampak memiliki harapan di matanya. Felysha telah menggambarnya dengan cara yang tidak pernah ia lihat sendiri di depan cermin.

Mahesa melipat kembali kertas itu dengan sangat hati-hati, menyimpannya di saku yang paling dekat dengan dadanya. Ia memutar tubuhnya, berjalan menuju arah yang berlawanan, menuju apartemen kumuhnya di Rue des Martyrs. Setiap langkahnya kini terasa lebih bermakna, meski ia tahu bahwa di rumah nanti, Pierre pasti akan menunggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan kembali menariknya ke dasar kenyataan yang kelam. Namun untuk saat ini, di bawah sisa-sisa warna midnight blue yang mulai menggelap, Mahesa membiarkan dirinya merasa menjadi Mahesa yang dulu—seorang mahasiswa yang hanya ingin menggambar masa depan di kota cahaya ini.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!