Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.
tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
restu Ibu
Setelah pertemuan di kedai kopi itu, Satria—pria yang selama ini hanya hadir di dalam doa-doa Alana—akhirnya memantapkan hati. Ia tak ingin lagi kehilangan waktu. Hari Minggu itu, dengan kemeja rapi dan sekotak buah tangan, Satria berdiri di depan rumah kayu yang asri milik keluarga Alana.
Ibu Alana duduk di kursi rotan ruang tamu, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam, seolah sedang membaca ketulusan di hati pria di hadapannya.
"Bu," Satria memulai dengan suara yang sedikit bergetar, namun tetap tegas. "Mungkin saya sudah terlalu lama pergi. Tapi selama sepuluh tahun itu, tidak ada satu hari pun saya tidak membawa nama Alana dalam langkah saya."
Ibu Alana terdiam sejenak, menyesap teh hangatnya. Alana sendiri hanya bisa meremas jemarinya di balik pintu dapur, mendengarkan dengan jantung berdebaran.
"Menikahi anak saya bukan hanya soal mencintai kelebihannya, Satria," ucap Ibu lembut namun dalam. "Tapi juga soal siapa yang akan memegang tangannya saat badai datang lagi.
Apakah kamu orangnya?"
Satria menatap langsung ke mata Ibu Alana, tanpa ragu sedikit pun. "Saya tidak menjanjikan langit yang selalu cerah, Bu. Tapi saya berjanji, apa pun cuacanya, Alana tidak akan pernah menghadapinya sendirian lagi. Saya memohon restu Ibu untuk menjaga dan memuliakan Alana sebagai istri saya."
Senyum tipis akhirnya terukir di bibir Ibu. Beliau mengangguk perlahan, sebuah tanda bahwa pintu yang selama ini tertutup kini telah terbuka lebar. Di balik pintu dapur, setetes air mata bahagia jatuh di pipi Alana. Perjalanan panjang mereka akhirnya menemukan pelabuhan yang sesungguhnya.
******
Setelah restu dari Ibu dikantongi, malam itu terasa berbeda. Namun, Satria tahu bahwa restu bukan sekadar izin, melainkan sebuah amanah besar.
Beberapa hari kemudian, Satria mengajak Alana berjalan-jalan ke taman kota tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu saat remaja. Di sana, di bawah lampu taman yang temaram, Satria mengajak Alana duduk di sebuah bangku tua.
"Al," panggil Satria pelan. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku kemejanya. "Ibumu sudah membuka pintu, sekarang aku ingin tahu... apakah pemilik hatinya juga bersedia membukanya selamanya untukku?"
Alana tertegun. Di dalam kotak itu melingkar sebuah cincin perak sederhana dengan per
mata kecil di tengahnya. "Satria, aku..."
"Aku tahu kita kehilangan banyak waktu," potong Satria lembut. "Tapi aku ingin menghabiskan sisa waktu yang aku punya untuk menebus setiap detik yang hilang itu."
Alana menatap mata Satria yang penuh keyakinan. Ia teringat bagaimana pria ini berani menghadapi tatapan tajam ibunya demi dirinya. Rasa ragu yang sempat tersisa benar-benar sirna.
"Iya, Satria. Aku mau," jawab Alana pelan namun mantap.
Satria menyematkan cincin itu di jari manis Alana. Tidak ada kembang api atau pesta pora, hanya suara jangkrik dan angin malam yang menjadi saksi. Bagi mereka, kesederhanaan ini justru terasa sangat mewah setelah penantian panjang selama sepuluh tahun.
Malam itu, mereka mulai menyusun rencana. Bukan lagi tentang "aku" atau "kamu", tapi tentang "kita". Tentang rumah kecil yang ingin mereka bangun, warna cat dinding yang mereka sukai, hingga daftar tamu yang akan mereka undang di hari bahagia nanti.
******
Hari pernikahan tinggal menghitung minggu, namun ujian sesungguhnya justru baru dimulai. Satria dan Alana menyadari bahwa menyatukan dua kepala yang sudah lama berjalan sendiri-sendiri tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Sore itu, di tengah tumpukan vendor katering dan contoh undangan, perdebatan kecil pecah. Satria ingin konsep pernikahan yang sangat sederhana, hanya keluarga inti di halaman belakang rumah. Sementara Alana, didorong oleh keinginan Ibunya, merasa perlu mengundang kerabat jauh sebagai bentuk penghormatan.
"Ini bukan cuma soal pesta, Satria. Ini soal menghargai Ibu yang sudah menantiku bahagia selama sepuluh tahun," ujar Alana dengan nada sedikit meninggi.
Satria menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya. "Aku hanya ingin kita memulai hidup baru tanpa beban finansial yang besar, Al. Aku ingin uangnya kita tabung untuk rumah kita nanti."
Suasana mendadak dingin. Keduanya terdiam, saling membelakangi. Namun, di tengah ketegangan itu, pintu kamar terbuka. Ibu Alana masuk membawa dua gelas teh manis hangat. Beliau tidak bicara banyak, hanya meletakkan gelas-gelas itu dan mengusap bahu Satria serta Alana bergantian.
"Membangun rumah tangga itu seperti menyeduh teh," ucap Ibu tenang. "Harus pas panas airnya, pas takaran gulanya. Kalau cuma satu yang menang, rasanya akan hambar atau terlalu pahit."
Satria menatap Alana, rasa bersalah muncul di matanya. Ia meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat. "Maafkan aku, Al. Aku terlalu kaku. Kita cari jalan tengahnya, ya? Kita buat acara yang hangat tapi tetap menghargai keinginan Ibu."
Alana tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Aku juga minta maaf, Han. Aku lupa kalau kita ini sekarang satu tim."
Konflik itu justru menjadi perekat. Mereka akhirnya sepakat mengadakan perayaan di taman kecil dengan konsep intimate wedding, sederhana namun tetap elegan. Di setiap lembar undangan yang mereka bungkus malam itu, ada tawa yang terselip—sebuah pengingat bahwa badai sekecil apa pun hanya akan membuat akar cinta mereka tertanam lebih dalam.
Pesan ibu , adalah hal paling baik buat anak perempuannya , karna ia lebih duluan mengalami sebelum Alana , dan satria mungkin orang yang tepat untuk Alana , walaupun pernikahan sederhana asal Alana bahagia daripada pernikahan besar , mewah , kalau Alana tidak bahagia percuma saja.
ibu Alana juga pasti sedih , anak semata wayangnya akan di persunting oleh lelaki baik menurut anaknya , satria.
" Alana,? Ibu mau bertanya nak " kata ibu Alana.
" iya Bu , ada apa ,?" tanya Alana .
" Apakah kamu yakin dengan satria Nak ,?
ibu hanya khawatir, karna rumah tangga itu punya banyak rintangan dari manapun saja , apakh kamu sanggup jika suatu saat badai itu datang dalam rumah tangga kalian ,? " ibu Alana berkata tenang.
" iya Bu , insyaallah pilihan Alana tidak membuat kecewa dikemudian hari , dan apapun rintangannya Alana akan hadapi dengan tenang Bu , Doakan jika menikah dan berumah tangga Alana , sakina mawadah warohmah" lirih Alana.
" tentu Nak , ibu akan selalu berdoa untuk Alana , rumah tangga Alana , dan jika nanti kalian bertengkar jangan sampe orang manapun tahu tentang rumah tangga kalian yang sedang tidak baik-baik saja, termasuk ibu , selesai dengan kepala dingin , jangan mengikuti ego masing-masing Nak , ingat kamu seorang istri. " pesan ibu Alana.
" iya ibu , Alana akan ingat pesan ibu , aku akan belajar jadi istri terbaik buat Mas satria , tapi jika mas satria, susah di bilangi, tak ulek nanti jadi sambal balado hahaha " canda Alana.