NovelToon NovelToon
Sistem Pemburu Iblis

Sistem Pemburu Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Kacarealitas

Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.

Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.

Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.

Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.

Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Dunia Baru Reyhan

"Selamat datang semuanya di Arena pertarungan kualifikasi peserta!" Ucap pembawa acara dengan alat terbang berupa sayap teknologi.

Shu Yuan tersenyum tipis. "Kau dengan itu? Ini adalah Arena kualifikasi, penentu pangkatmu di Akademi di tentukan disini" Shu Yuan menepuk bahu Reyhan dan berbisik.

"Jangan bangga dengan angka 15.000 karena itu hanya tes fisik, bukan caramu mengendalikan energi" cibir Shu Yuan.

Reyhan menyipitkan matanya lalu membalas cibiran. "Mari kita lihat siapa yang kuat"

Shu Yuan tersentak lalu tertawa. "Aku suka itu, silahkan duduk bersama pacarmu. Aku akan mendaftarkan mu"

Reyhan mengangguk mengerti lalu berjalan duduk, namun Asuna berjalan dengan pipi agak memerah karena di panggil pagarnya Reyhan.

Begitu Reyhan dan Asuna mendapatkan tempat duduk, mereka terkejut karena mendengar suara ledakan dari dalam Arena.

"Badai petir!" Seseorang pengguna petir seperti Reyhan terlihat memakai jurus badai petir yang luar biasa bahaya.

Seseorang pengguna angin yang berupa lawannya tidak bisa apa-apa selain menyerah.

Pengguna petir itu mendengus sinis lalu pergi dengan sombong. Reyhan menatapnya dengan tak senang.

"Sepetinya disini semuanya sombong-sombong" ucap Reyhan.

Seorang pria gendut duduk di belakang kursi Reyhan yang mendengar ucapan Reyhan langsung duduk di sebelah nya.

"Kawan kau benar, semua yang ada di Arena kualifikasi ini sebenarnya semua sangat sombong dengan darah yang mereka miliki"

Reyhan melirik nya heran. "Siapa kau?"

"Ah namaku Kawarazumi Shota" tersenyum. "Kamu? Dan ini pacarmu?" Menunjuk Asuna. "Wah kau beruntung kawan"

Asuna merona lagi, Reyhan mengerutkan keningnya. "Enak saja, dia bukan pacarku. Aku Reyhan dan dia Asuna"

Asuna mengangguk. "A-aku adalah pelayannya"

Kawarazumi lebih tercengang. "Begitukah? Kawan pelayan dan tuan itu harus tidur sekamar. Itu peraturan disini, tapi kalau kamu berniat bergabung ke Exorcist maka beda lagi"

Reyhan tersentak baru tahu ada aturan seperti itu, namun Asuna tampak menatap langit seperti berharap itu benar.

"Kalau begitu selama apa ujian ini berlangsung?"

Kawarazumi tersenyum. "3 bulan"

"Ohh 3 bulan" angguk Reyhan lalu dia tersentak. "3 bulan?! Apa kau bercanda? Ujian apa selama itu?"

Shu Yuan yang baru tiba berdiri di belakang mereka menatap pertarungan di Arena.

"Karena kami butuh potensi berbakat dari orang-orang muda, karena iblis setiap hari yang keluar semakin kuat dan kami kekurangan bakat" jelas Shu Yuan.

Reyhan mengangguk mengerti. "Kapan waktuku bertarung?"

Shu Yuan mendengus. "4 pertarungan lagi"

Reyhan mengangguk tak sabar, Kawarazumi berbisik dengan penasaran. "Kawan, apa dia wakil komandan?"

Reyhan mengangguk. "Ya"

Kawarazumi terkejut lalu berdiri. "S-silahkan duduk di tempat saya" tersenyum canggung lalu buru-buru pergi.

Shu Yuan menghela nafas lalu duduk di sebelah Reyhan. "Baru masuk sudah dapat teman baru"

Reyhan tersenyum. "Bukan hal besar, ngomong-ngomong kenapa ujian berlangsung selama 3 bulan?" Jujur Reyhan sangat tidak suka itu.

Shu Yuan memainkan jarinya. "Karena ada banyak proses yang harus kau lewati sebagai Exorcist generasi baru. Kau pasti berteman dengan Zahra bukan? Dia adalah salahbsatu dari Exorcist muda, termasuk Flower"

Reyhan berpikir dengan keras. "Lalu Exorcist yang lainnya membantu kami melawan Gate?"

Shu Yuan menyeringai. "Mereka generasi lama, kami menunggu generasi muda siap bertarung. Kami sudah menyembunyikan banya bakat, karena itulah kami melakukan ujian 3 bulan untuk kalian"

"Maaf menyela" Asuna menyela. "Katakan pada kami apa saja ujiannya sampai 3 bulan"

Shu Yuan menarik nafas. "Arena memerlukan waktu untuk beradaptasi, lalu kalian akan di uji bertahan hidup di kota mati di Chengdu"

Reyhan mengerutkan keningnya. "Kota mati? Apa karena Gate?"

Shu Yuan mengangguk, dia meringis karena kesal. "Invasi Gate level 20 membuat Chengdu menjadi kota iblis dan mati"

"Jadi Gate level 20 tidak pernah berhasil di tutup sampai sekarang?" Reyhan tak percaya itu.

Rahang Shu Yuan mengeras. "Sudah 10 tahun, tapi tidak ada Exorcist yang berhasil menutupnya. Jadi pemerintah setuju membuatnya jadi tempat bertahan hidup Exorcist muda untuk ujian selama 1 bulan"

Reyhan mendesis. "Apa kau sudah memprediksi berapa kematian jika waktunya 1 bulan?"

Shu Yuan mengusap dahinya. "Ujian pertama saat Zahra termasuk di ujian itu. Yang tidak kembali 30% dan 40% hilang"

Reyhan dan Asuna terdiam, jika benar maka ujian bertahan hidup di Chengdu bukanlah ujian yang mudah.

"Ujian terakhir adalah kalian harus memilih organsiasi Exorcist di belahan dunia ini. Dinamakan ujian karena kalian harus mengikuti ujian terakhir milik Organsiasi"

"Aku paham" Reyhan berdiri. "Karena sudah tahu maka aku hanya ada tujuan satu saja. Yaitu menjadi kuat"

Shu Yuan berkedip beberapa kali karena terkejut kalau Reyhan masih mau mengikuti ujian.

"Kalau begitu berusaha lah untuk selamat, Reyhan"

"Peserta selanjutnya adalah Reyhan!" Ucap pembawa acara.

Reyhan menatap ke Arena dengan tarikan nafas lalu berjalan masuk.

"Lawan Reyhan adalah, Patrick Wanggai!"

Reyhan mengambil pedang petirnya, tapi Reyhan mendengar suara bisikan dan pembicaraan orang saat dia mengeluarkan pedang.

Beberapa saat kemudian, pria tinggi berotot dan besar berkulit coklat asal Amerika Serikat datang di Arena.

Patrick melihat Reyhan mengeluarkan pedang dengan terkejut. "Bagaimana bisa kamu memakai pedang?"

Reyhan menaikan alisnya sebelah. "Apa kalian tidak bisa memakainya?"

Patrick menggeleng tapi gerakannya berubah seperti pegulat ahli. "Karena kami tidak bisa menguasai senjata, karena senjata Exorcist haruslah senjata roh!"

Reyhan mendengar nya dengan baik. "Begitu ya jadi tidak semua orang memiliki senjata" mungkin itu menjelaskan kenapa banyak Exorcist yang tidak pakai senjata.

"Okey, pertarungan di mulai!" Ucap wasit.

Dom!, Patrick bergerak secepat ledakan dan mengerahkan tinjunya.

Namun Reyhan dapat melihar serangan itu, jadi Reyhan mundur dan melindungi wajahnya dengan pedang dari tinju Patrick.

"Tinjuku berat kawan, tapi aku bisa memperlambatmu!"

Patrick tertawa keras lalu memukul lebih tepat dan menendang kaki Reyhan ke samping dengan cepat sampai Reyhan terjatuh.

Reyhan terkejut lalu dia menekan tangannya ke lantai dan tubuhnya berasa di udara.

"Tebasan petir!"

Ziutss!

Patrick menyatukan tangannya dan tubuhnya di lindungi energi emas berupa barrier atau perisai.

Reyhan terkejut lalu mendarat. "Sepertinya akan jadi sulit" Reyhan bergerak menyerang.

"Kecepetan petir!"

Reyhan berlari memutari Patrick seperti mencari celah, Patrick menarik nafas.

"Kena kau! Tinju emas!" Patrick meninju ke belakang dan energi tinju yang begitu besar mengarah tepat ke Reyhan.

Reyhan terkejut lalu berhenti berlari sampai serangan itu mengenai perisai Arena.

Reyhan bernafas cepat karena kemampuan melihat Patrick benar-benar luas biasa.

"Kecepatan petir!" Reyhan bergerak ke depan.

"Sia-sia saja!" Patrick mengerahkan tinju emasnya lagi.

Reyhan terkejut dan mundur ke samping, nafasnya terengah-engah karena memakai banyak tenaga.

Asuna yang memperhatikan serangan Patrick dengan seksama mulai berspekulasi. "Serangannya kuat, berat, dan cepat"

Shu Yuan mengangguk. "Tepat sekali, gerakan Reyhan memang cepat tapi serangannya kurang kuat untuk mengalahkan Patrick"

Asuna menyeringai. "Itu menurut anda, karena tuan saya belum mengerahkan semua tekniknya"

"Hm?" Shu Yuan menatap Asuna sejenak tapi tiba-tiba dia mendengar suara guntur yang keras.

Seluruh Arena sampai terkejut dan berdiri, Arena bercahaya dengan petir Reyhan yang dia keluarkan.

Reyhan memegang petir dengan tangannya. "Pengakuan petir!" Reyhan menyambarnya ke tanah.

Patrick terkejut dan buru-buru memasang perisai lagi, namun serangan petir Reyhan terlalu kuat sampai perisai Patrick hancur.

"Ahh!!" Patrick tersengat petir serta berteriak kesakitan.

Reyhan melihat Patrick sudah kalah, ia menarik kembali petir itu. "Huh aku terpaksa memakai pengakuan petir" gumamnya. "Orang-orang disini sangat hebat"

Wasit terperangah sampai lupa kondisi Patrick yang tergeletak di Arena. "M-medis!"

"P-pemenangnya adalah Reyhan!"

Prok! Prok!

Kemenangan Reyhan menarik tepuk tangan para Exorcist lainnya, Reyhan melihat mereka semua dengan wajah percaya diri.

Akan tetapi salah satu orang yang memakai petir sama seperti Reyhan memandangnya dengan tatapan benci.

"Berani sekali dia ingin merebut perhatian semua orang dariku, aku tidak akan mengampuninya" ucapnya sebelum berbalik pergi.

Begitu Reyhan kembali Asuna berdiri dan mengecek kondisi Reyhan. "Apa kamu baik-baik saja?"

Reyhan mengangguk. "Ya, ternyata yang disini sangat kuat semua" Reyhan menghela nafas. "Aku sampai harus memakai jurus terkuatku"

Shu Yuan mencibir. "Kalau itu jurus terkuatmu maka kau akan dalam bahaya, kalau kau tidak berlatih memakai banyak jurus lainnya maka lawanmu punya persiapan diri"

....

"Peserta selanjutnya adalah Asuna!" Ucap wasit.

Asuna berdiri. "Tuan, saya akan pergi sekarang"

Reyhan mengangguk kemudian menatap langkah Asuna yang semakin jauh. "Aku percaya jika Asuna akan menang"

Shu Yuan mengusap hidungnya. "Mari kita lihat saja"

Asuna berdiri di sudut Arena menunggu lawannya datang. Begitu lawan Asuna tiba, ternyata lawan Asuna adalah gadis seperti nya.

Gadis itu mencibir melihat penampilan Asuna. "Apa-apaan penampilan mu itu? Apa kau sama sekali tidak paham dengan Arena?"

Asuna menatap pakaiannya dengan bingung, dia sudah memakai kemeja putih dan celana hitam panjang.

"Aku tidak mengerti maksudmu"

Gaids itu menghela nafas memegang kepalanya. "Dasar bodoh"

Asuna mengernyit karena sedikit kesal di panggil bodoh. "Maaf nona, saya tidak tahu kenapa anda mempermasalah pakaian saya, tapi saya tidak bodoh"

Wasit berdiri di tengah mereka. "Berhenti bicara dan bersiaplah bertarung!"

Keduanya mengangguk, lalu saat wasit mengumumkan pertarungan di mulai.

Asuna bergerak secepat ledakan membuat gadis itu lebih dulu terkejut.

"Dimana?!" Ia melihat dengan panik tapi seperti tidak ada gerakan di sekitarnya.

"Belakang?" Ia menepis serangan kaki Asuna dengan pergelangan tangan. Tapi gadis itu mundur dengan mengibas tangan.

"Auh sakit sekali, serangannya kuat sekali" lirihnya.

Namun Asuna tidak berhenti, dia bergerak cepat ke depan dan meninju perut gadis itu ke atas.

Dom!, tinju itu begitu keras sampai menciptakan suara ledakan. Bukan cuma itu saja, tulang punggung gadis itu seperti retak.

"Uhg!" Gadis itu jatuh ke bawah dengan merasakan sakit yang luar biasa.

Asuna berdiri dengan datar. "Lain kali jaga bicaramu karena aku bukan tipe orang yang mudah di singgung" Asuna berbalik pergi.

Begitu kembali Reyhan menyambutnya dengan tepuk tangan. "Selamat Asuna, kau berhasil"

Asuna tersenyum malu. "Terima kasih tuan"

Shu Yuan berdehem. "Kalau begitu silahkan kalian ikuti aku, aku akan tunjukan kamar kalian berdua"

Keduanya mengangguk lalu berjalan mengikuti Shu Yuan. Di perjalanan, mereka baru tahu jika tempat untuk asrama adalah bawah air.

Jadi perlu turun ke lift di dasar laut, tapi tetap saja sangatlah luas. Ada lapangan latihan, lapangan bermain, bahkan Cafe dan mall untuk keseharian.

"Sebenarnya kalian bisa tetap bergabung tanpa menang di Arena. Tapi karena kalian sudah menang maka aku akan berikan hadiah untuk kalian" ucap Shu Yuan.

Namun Reyhan tampak seperti sedikit tak senang karena ternyata Arena itu lebih mirip seperti pertandingan bukan ujian.

"Sebagai permintaan maafku aku akan berikan kalian asrama untuk Senior yang memiliki 2 kamar, satu dapur, satu kamar mandi, dan ruang tamu serta tempat latihan sendiri di bawah tanah" ucap Shu Yuan dan berhenti berjalan di depan pintu asrama yang besar.

Reyhan dan Asuna takjub karena asrama ini berukuran lebih besar dari pada asrama lainnya.

"Baiklah, tugasku sudah selesai jadi kalian bisa istirahat di dalam. Besok akan datang penjaga untuk membawa kalian latihan"

Reuyan mengangguk mengerti. "Sampai jumpa nanti wakil komandan" Reyhan masuk di susul Asuna sebelum pintu di tutup.

"Yah" Shu Yuan mengangkat bahunya. "Aku kira aku bakal di ajak masuk ke dalam" tertawa pelan.

"Wakil komandan jangan berkata seperti itu, ada pekerjaan lain yang harus segera anda urus" kata prajurit di belakangnya.

Shu Yuan menghela nafas lalu berjalan menuju kantor pusat DGA.

....

1
Anime aikō-kā
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!