NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan pertama

“Kau sudah mau pulang El?” Tanya Mia, sahabat Elaine.

“Kita bahkan belum berpesta?” Ujar lainnya.

Saat ini adalah malam pergantian tahun baru. Elaine tidak suka keramaian. Dan dirinya saat ini juga sedang disibukkan dengan segudang tugas kuliahnya, meski perkuliah saat itu sedang libur panjang.

“Aku lelah.” Ujar Elaine dengan melemparkan senyum paksanya.

“Kau bersama Sam? Apa perlu aku menemani mu untuk…”

“Tidak. Tidak. Kau lanjutkan saja dengan yang lain. Aku mengendarai mobil tadi kesini.” Sela El pada Mia.

Tidak ingin terlalu lama diclub tersebut, Elaine bergegas bangkit dan keluar dari club malam tersebut. Udara pergantian tahun baru terasa dingin menerpa wajahnya.

Orang-orang keluar dari rumah mereka hanya untuk merayakan tahun baru. Membuat sepanjang jalan raya kota itu ramai akan hiruk pikuk kendaraan dan terompet.

Elaine mengendarai mobilnya menerjang kemacetan ditengah kota, sambil beberapa kali mencoba cari rute lain dari aplikasi maps nya. Tak lama layar dashboard mobilnya ada sebuah panggilan masuk. Samiel Asher, mantan kekasihnya. Saat ia mengetahui El berada dikota Malcorra, sepanjang hari itu ia tidak berhenti menghubunginya. Bahkan Mia sahabatnya tidak lepas dari panggilan masuk Sam.

“Ya Sam…” Jawab El pada akhirnya.

“Akhirnya kau menjawab panggilan ku.”

El tidak menjawab, baginya juga tidak ada yang perlu dibahas. Mereka berpisah bukan karena pihak ketiga. Komunikasi mereka yang jarang terjadi menjadi pemicu, ditambah Sam lebih banyak menghabiskan waktunya tenggelam dalam pekerjaan dibidang hukum.

“Bisa kita bertemu?” Pinta Sam pada akhirnya.

“Sam, aku sedang mengemudi. Maaf…”

“El tunggu tunggu… Aku akan ketempat mu…”

El tidak ingin mendengar lanjutannya dan mengakhiri panggilan tersebut hingga terjadi hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Hal yang akan membawanya dalam belenggu kehidupan yang sulit.

CRAAASSHH

El menabrak sebuah mobil sport yang tiba-tiba berhenti mendadak didepannya. Ia tidak dapat menghindar begitu saja. Saat itu pandangannya juga teralihkan dari layar dashboard.

Penyesalan pertama baginya malam itu ia melewati jalan sunyi hanya untuk menghindari kemacetan dijalan.

TOK TOK TOK

“Maaf… apa kau baik-baik saja.” El mencoba menggedor kaca pintu yang bahkan ia tidak dapat melihat kedalamnya.

CKRRK

El terperanjat saat pintu mobil itu terbuka pelan, seorang pria terhuyung keluar membuatnya semakin shock. Pria yang penuh darah di pakaiannya, jelas El mengira itu akibat tabrakan.

“Kau tidak apa?” Panik El mencoba membantu pria itu bangun. Pria itu mencengkram erat lengan El seakan meminta bantuannya.

Elaine melihat didalam mobil itu semua terlihat bersih, tidak ada bekas pecah atau kerusakan didalamnya. Kembali El memperhatikan pria tersebut. Merasa pria itu kehilangan banyak darah segera El membopongnya kedalam mobilnya sendiri.

“Tuan apa yang terjadi pada mu?” El berusaha membuat pria itu terus sadar dengan mengajukan pertanyaan.

“Aku akan membawa mu kerumah sakit.”

Tangan besar penuh darah itu mencengkram tangan El yang kecil dan hangat, “Tidak. Jangan kerumah sakit.” Lirihnya menahan sakit sambil memegang pundaknya yang terus menerus mengeluarkan darah.

“Tapi kau…”

“Kau dokter bukan…” Lirihnya kembali.

“Y… ya… tapi...” Bingung El, pria itu melihat nametag El yang tergeletak diatas dashboard. Mahasiswi kedokteran.

“Maaf…” Ujar El kemudian membuka pakaian pria itu untuk memastikan lukanya, “Kau butuh luka jahitan…” Darah mengucur dengan deras dari dada bidang itu.

“Tidak di rumah sakit.” Suara saat itu terdengar tegas dan dingin.

Tangan pria itu terasa dingin, khawatir pria itu mati didalam mobilnya yang justru akan mempersulitnya nanti. El terpaksa membawanya ke hotel.

Ya, dia sedang berlibur dikota Malcorra. Dan saat ini di kota besar itu, ia menginap disebuah hotel. Ia bingung harus kemana lagi tujuannya untuk membawa pria itu, selain tempatnya bermalam.

Dengan menggunakan jas dokternya untuk menutupi darah dipakaian pria itu, El segera memapah pria itu menuju kamarnya. Untungnya saat itu hotel pun sedang sepi, para tamu sedang merayakan detik-detik pergantian tahun di cafe resto atau club disekitar hotel tersebut.

...****************...

Didalam kamar, El meletakkan pria itu dibawah kasur. Dengan gesit ia membuka pakaian dan membasuh darah ditubuh pria itu.

Pria itu tidak banyak berkomentar, tenaganya juga sudah habis. Ia hanya memperhatikan El mengeluarkan perlengkapan operasi kecilnya dari kantong belanja yang tadi ia beli di apotek.

“Mungkin ini akan terasa sakit, aku hanya sedikit memiliki obat bius. Tahanlah.” Pinta El.

Pria itu tidak menjawab. Terlihat ia mencoba menahan rasa sakit dari jahitan luka tersebut. El sempat terdiam saat menatap tatto didada kiri pria tersebut, sebuah kanji kuno yang ia tak mengerti makna nya.

“Siapa nama mu…” Tanya pria itu mencoba mengalihkan rasa sakit yang didera.

“Elaine… panggil saja aku El.” Ujar El yang dirinya masih fokus dengan menjahit luka dipundak pria itu, “Kalau namamu?”

“Xan… Lyxander.” Jawabnya singkat, degup jantungnya seakan-akan berdetak keras saat mata wanita itu menatapnya dengan hangat. Terlebih tangan kecil nya menggerayap didada bidangnya.

El kembali terdiam, pria itu sedari tadi juga hanya menatap El yang sibuk mengurus lukanya. Bahkan beberapa kali ponsel El berdering, tak sedikitpun ia menatap layar ponsel itu. Baginya nyawa pria itu sedang dipertaruhkan.

“Tidak diangkat?” Tanya Xan menatap layar ponsel El, terlihat sosok El berpelukan dengan seorang pria. Samiel belum mengubah photo profil mereka.

“Dia siapa? Kekasihmu atau kakak mu?” Tanya Xan kembali saat tidak menerima jawaban apapun dari El.

“Bukan siapa-siapa.” Sahut El datar, “Bisa kau matikan ponsel ku tolong. Tangan ku sudah steril.” Ujar El yang masih fokus pada luka ditubuh Xan.

Xan melakukan perintah wanita itu. Saat itu pukul 23.59.

Dan suasana kembali hening, hanya terdengar suara terompet dan petasan kembang api. Menandakan tahun sudah berganti.

“Katakan sesuatu?” Pinta pria itu, suaranya terdengar berat dan dingin, “Aku butuh pengalihan.” Tanpa disadari pria itu menyukai suara kecil dan lembut El.

“Apa begitu sakit?” Tanya El sedikit cemas namun berusaha tenang.

“Kau seorang mahasiswi? masih kuliah?” Tanya Xan.

“Ya… Jika memungkinkan tahun depan kuliah ku akan selesai.” Tatap El kembali.

Xan memperhatikan jahitan dan beberapa luka ditubuhnya, “Tidak terlalu buruk.” Ujarnya menahan rasa sakit, memuji kinerja El yang ditengah minimnya obat dan peralatan wanita ini mampu mengobati luka Lyxan.

“Tatto mu… kalau ku boleh tahu apa ada maknanya?”

Lyxan tertunduk dalam senyuman miringnya. Wanita itu sungguh polos.

“Lebih baik kau tidak mengetahuinya.” Jawabnya.

El kembali terdiam. Kedua bola mata mereka saling bertemu, sangat dekat. Membuat gugup wanita itu. Tak ingin fokusnya pecah, El melanjutkan kembali pengobatannya.

“Apa ada nomor yang bisa aku hubungi tuan Xan?” Tanya El kemudian, “Mungkin keluarga mu?”

“Xan.”

Ada rasa hangat saat El menyebut nama kecil Lyxan.

“Kenapa membawa ku ke hotel?” Tanya Lyxan mengalihkan pembicaraan.

“Kau tidak mau dibawa kerumah sakit. Aku juga tidak tahu harus membawa mu kemana, aku sedang liburan saat ini.” Jawab El yang kini membalut luka jahitnya dengan perban, “Jadi kau bisa menghubungi teman atau keluarga atau siapapun itu untuk menjemput mu di…”

“Dari mana asal mu?” Tanya Lyxan kembali.

“Tuan Xan.” Ujar El lembut yang kini melepas sarung tangannya yang penuh darah, “Aku dari tadi menanyakan, apa ada yang bisa kau hubungi?”

“Panggil nama ku saja El.” Ujar Lyxan dan kini berpindah duduk diatas kasur, “Saat ini aku tidak dapat menghubungi siapapun. Besok pagi aku akan pergi jadi…”

“Besok?” El tak percaya mendengarnya, tidak mungkin ia harus menginap satu kamar dengan pria asing, “Kau meninggalkan mobil mu di jalanan sepi tadi dan sekarang kau ingin tidur ditempat ku?!”

“Kau menabrak ku bukan tadi, setidaknya kau harus bertanggung jawab.”

“Ya… aku akan lakukan, maka dari itu hubungi keluarga mu.” El menyerahkan handphonenya dihadapan Lyxan.

Lyxan meraih handphone tersebut dengan segera, “Kau tidak menanyakan alasan luka ku ini?”

Pria itu menghubungi nomor ponselnya sendiri dan menyimpan nomor El di kontak buku telponnya.

El menghela nafas, pria ini ternyata sedari tadi memegang ponsel dan tidak ada keinginan untuk menghubungi siapapun. El segera merampas handphonenya sendiri.

“Kau ingin aku mengantar mu kembali ke mobil mu? Aku bisa…”

BIP BIP BIP

Lyxan tengah melakukan sebuah panggilan keluar dengan ponselnya, mengabaikan El yang memintanya keluar dari kamar itu.

“Ambil mobil ku. Besok jemput aku di hotel Amber.” Sahut singkat Lyxan setelah seseorang menjawab panggilan teleponnya.

El menatapnya tak percaya. Bukankah ia bisa meminta orang tersebut untuk menjemputnya malam ini juga. Tak ingin ambil pusing, El kembali menyalakan ponselnya. Memastikan tidak ada hal penting dari panggilan tadi.

“Aku akan menemui seseorang. Jangan sentuh barang-barang ku.” Pinta El yang sesaat telah menerima sebuah pesan masuk dari Sam.

Xan tidak menjawab. Ia melepas sepatunya dan pergi menuju kamar mandi.

(Lyxander Valeraine)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!