NovelToon NovelToon
'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.

Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,

"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."

Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.

Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,

Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Segelas sampanye

"Udah cukup, jangan minum lagi." tegur Elang menatap Nila yang begitu lahap menenggak minuman anggur di tangannya.

"Ah!! Berikan lagi kepadaku," pinta Nila mengernyit, menyodorkan gelas kaca ke arah sembarang.

Tampaknya dia sudah mulai mabuk hingga tak kuasa menahan tubuhnya untuk duduk tegap. 

"Nggak! Kamu udah ga kuat jangan memaksa," cibir Elang mengambil paksa gelas tadi, 

Nila pun merengek berusaha meraih kembali, "Ahh! Kembalikan gelasku," namun Elang sigap mengalungkan lengannya, menarik pelan tubuh Nila hingga bersandar pada sofa.

"Padahal gampang mabuk, tapi sok-sok an minum sampanye." ujar Elang bergumam sendiri, 

"Kata siapa aku mabuk?! Aku dulu dijuluki sebagai penggila minuman sama teman-temanku." menoleh dengan tatapan tajam,

"Berikan lagi! Dulu waktu kuliah setiap hari aku selalu membeli bir yang dijual supermarket, jadi semua ini ga ada apa-apanya untukku." 

"Itu kan ga ada alkoholnya," batin Elang tak habis pikir.

Entah siapa teman yang Nila maksud, tetap saja itu hanyalah omong kosong. Minuman yang dia sombongkan cuma air bersoda dengan label beralkohol tentu jauh berbeda dengan sampanye yang telah Elang sediakan.

Seteguk saja sudah memabukkan, menyesal rasanya telah menuruti permintaan Nila. Alhasil Elang justru kerepotan menghadapi sikapnya,

Saat normal saja sudah mampu membuat Elang muak, apalagi dalam keadaan mabuk? Bukankah Nila akan semakin menggila. 

"Kenapa kamu diam saja?" celetuk Nila, menyipitkan mata.

Dengan tubuh sempoyongan dia beranjak bangun di atas sofa, berganti arah mengikuti kepalanya yang terasa berputar cepat. Kembali duduk menghadap Elang dalam posisi meringkuk,

"Eh? Kenapa kamu ada 3?" berulang kali mengedipkan mata,

"Jadi kamu punya kembaran." gumam Nila berceloteh, pipinya memerah.

"Sudah ku bilang kamu mabuk." 

"Hhh!" Nila mendengus, dagunya bertumpu pada kedua kaki sambil menggeleng kepala. "Tidak mungkin!" 

"Argh, kepalaku pusing!" rengeknya sedetik kemudian.

"Mataku buram---aku pinjam kacamata mu dulu." 

Elang terdiam pasrah saat kacamatanya diambil, lagipula Nila tidak akan bisa diajak kompromi dalam keadaan ini.

Sambil menggigit bibir bawah, Nila menggantungkan benda tadi ke sela telinga. "Ah! Gelap, kenapa semuanya menjadi gelap."

"Tolong aku!" berteriak panik,

"Ck," Elang berdecak mulai habis kesabaran.

"Elang, tolong aku." panggilnya menggerayangi cepat dari wajah hingga tubuh pria di depannya.

"Hhh," Elang menghela nafas panjang, tanpa basa basi merangkul Nila yang masih meringkuk lalu diangkat seperti menggotong sebuah kardus.

Berjalan masuk ke dalam kamar, menempatkan Nila ke atas ranjang sebelum melepas kacamatanya. 

"Wah, udah terang." seru Nila tersenyum,

Tubuhnya ambruk, kedua matanya terpejam karena rasa pusing yang semakin meningkat. Ini waktu yang tepat, selagi ada kesempatan Elang menarik selimut menutupi Nila dengan sedikit membebat,

Menyelipkan ujung kain agar gadis itu kesulitan bergerak. "Udah tidur, jangan ngerepotin." 

Elang beranjak pergi, merasa lega telah berhasil menyingkirkan kebisingan tadi. Tapi bohong, selang beberapa detik Elang mendengar suara erangan Nila yang kembali bangun. 

Elang menoleh sudah mendapati Nila terduduk, bersiap membuka bajunya. "Hei! Ngapain kamu? Cepat tidur." berlari menghampiri,

"Panas sekali! Tolong aku," Nila merengek kesulitan melepas kancing, tapi Elang justru menahan dan memasukkan lagi beberapa kancing baju yang berhasil dibuka.

"Hhhhh, aku ga mau." ujar Nila memberontak, mencakar acak berusaha menghentikan gerak jemari Elang.

"Jangan bodoh! Tunggu aku akan mengatur ACnya."

"Jangan pergi." sontaknya memeluk tubuh pria yang hendak menjauh.

Nila menggosokkan wajah pada baju Elang, semakin erat memeluk. Tak sengaja menyentuh telapak tangan yang terasa dingin,

Nila mendongak dengan tatapan polos, "Kulitmu dingin,"

Mulai mencari sela untuk menyelipkan jarinya masuk ke dalam baju, meraba punggung Elang tanpa rasa bersalah. 

"Stop!" amuk Elang melepas rangkulan Nila, menolak sentuhan yang mulai menggerayanginya.

Dia merebahkan tubuh Nila secara paksa lalu sekali lagi membungkusnya ke dalam selimut, namun kali ini lebih kuat.

"Udah cukup, aku capek mengurusimu. Ayo tidur!" sontaknya kewalahan, beranjak pergi meraih remote yang mengatur suhu ruang. Menyetel hingga 16 derajat celcius,

"Sekarang kamu tidak akan kepanasan."

 

Pagi tiba, 

Terasa hawa dingin yang menusuk kulit. Perlahan mengembalikan kesadaran Nila, kedua matanya mulai terbuka menatap langit kamar dengan lampu yang masih menyala.

"Aw kepalaku!" ucap Nila mengerang kesakitan, spontan menekan bagian tubuhnya yang terasa nyeri.

Terbangun duduk bersandar pada ranjang, "Kenapa aku pusing sekali. Apa yang kulakukan semalam?" berusaha mengingat,

Kejadian semalam mulai muncul dalam ingatan bercampur aduk dengan efek alkohol yang masih tersisa.

Nila menunduk mendapati tubuhnya telanjang hanya berbalut dalaman. "Hah?!"

"Apa aku sebrutal itu?" pikirnya menarik selimut untuk menutupi tubuh, 

"Aku harap Elang ga risih dengan sikapku semalam.."

"Kamu sudah bangun?" celetuk suara pria melangkah masuk, 

Gadis itu menoleh mendapati Elang berjalan dengan mangkok di tangan kanannya. Tangan yang lain menuntun tongkat hingga sampai ke samping ranjang.

"Aku tadi pesan bubur buat sarapan. Jangan lupa di makan," meletakkan ke atas rak.

Nila menatap seksama kondisi Elang yang tampak mengenaskan. Bibirnya pucat, rambut tak tertata bahkan baju semalam yang masih dipakai, tidak seperti biasanya.

"Apa semalam kita benar-benar melakukannya?" gumam Nila berpikiran kotor, sedikit ragu untuk bertanya.

"Nggak, kamu mabuk terus mengoceh sendiri sampe ketiduran."

"Benarkah? Tapi aku ingat semalam kamu menggendongku dan kita melakukannya?" sahut Nila merasa malu menyuarakan ingatan tentang kejadian semalam. 

"Mana mungkin aku menggendongmu dalam keadaan seperti ini? Kamu jalan sendiri ke kamar." dalih Elang berdusta,  

Nila tidak tahu kalau Elang bersusah payah mengawasinya hingga nyaris tak tidur semalaman. Elang ingin memastikan Nila tak berbuat aneh,  

Dan benar saja gadis itu muntah di tengah tidurnya, membuat Elang kerepotan. Terpaksa mengganti semua sarung bantal juga sprei,

Elang juga melepas pakaian Nila yang terkena noda, itulah kenapa Nila terbangun dalam keadaan telanjang.

"Aneh, kenapa yang aku ingat beda sama yang kamu omongin?" ungkap Nila kebingungan,

"Jadi kita tidak melakukan itu?" membulatkan mata,

"Tidak. Aku bukan pria yang memanfaatkan wanita mabuk," 

"Kenapa? Padahal aku juga tidak keberatan.." kritik Nila bergumam lirih, bukannya senang dia justru kecewa.

"Terus kenapa aku ga pakai baju? Jangan-jangan---semalam kamu udah kepancing tapi takut kan," tuduhnya menatap penuh curiga.

"Kamu sendiri yang melepas bajumu." sahut Elang berwajah datar, tak menunjukkan ketertarikan sedikitpun.

"Aaa---jadi semua yang ku ingat cuma mimpiku saja." cibir Nila dalam hati, tak menyangka dia punya harapan seliar itu. 

Berusaha mengalihkan pandangan karena malu, tak sengaja melihat jam dinding di seberang sana.

"Sial! Sudah jam berapa ini. Aku harus siap-siap berangkat kerja," tersentak bangkit dari ranjang, membawa selimut tebal untuk tetap menutupi tubuhnya.

"Sarapan dulu. Ini kan hari pertama, Herman pasti memaklumi..." memandang Nila berlari panik keluar kamar,

"Justru karena hari pertama, aku ga boleh telat!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!