Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Sore itu, udara di luar terasa cukup dingin, namun di dalam mobil SUV hitam milik Edgar, suasananya begitu hangat. Leonor duduk di kursi penumpang sambil sesekali mengelus perutnya yang kini menjadi pusat semesta bagi keluarga Martinez.
Di saku tasnya, sebuah pesan singkat dari Aurora terus terbayang: "Leo, aku merindukanmu. Aku tidak tahan lagi. Kita harus bertemu, sebentar saja. Aku ingin melihatmu dan pria yang membuatmu kabur dari rumah itu."
Edgar, yang biasanya sangat posesif dan protektif, awalnya keberatan. Namun, melihat binar kerinduan di mata istrinya, ia luluh. Hanya saja, Edgar Martinez tetaplah Edgar. Ia tidak akan membiarkan identitasnya terbongkar begitu saja, terutama di wilayah yang dekat dengan jangkauan mata-mata David Gonzales.
"Pakai ini, Sayang," ucap Edgar sambil memakaikan topi baseball hitam ke kepala Leonor, lalu ia sendiri mengenakan masker hitam dan topi yang ditarik rendah hingga menutupi dahi.
"Kau terlihat seperti buronan, Edgar," goda Leonor sambil merapikan masker suaminya.
"Aku lebih baik terlihat seperti buronan daripada kehilanganmu dan bayi kita karena ulah ayahmu," jawab Edgar serius, namun matanya berkilat penuh cinta.
Mereka memilih sebuah kafe elit dengan bilik-bilik privat yang tersembunyi di sudut kota. Edgar mengantar Leonor masuk dengan tangan yang terus merangkul pinggang istrinya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi yang paling waspada.
Di sebuah sudut yang remang, Aurora sudah menunggu. Ia mengenakan kacamata hitam besar, mencoba tampil tidak mencolok. Begitu melihat siluet Leonor, Aurora langsung berdiri dan berlari kecil memeluk kakaknya.
"Leo! Oh Tuhan, kau terlihat sangat... sangat berbeda! Kau jauh lebih cantik!" seru Aurora dengan suara tertahan.
Mata Aurora kemudian beralih pada sosok pria jangkung di samping Leonor. Edgar tetap diam, hanya mengangguk kecil tanpa membuka masker atau topinya. Ia duduk di samping Leonor, tangannya secara posesif melingkar di bahu istrinya, sesekali mengusap lengan Leonor dengan ibu jarinya.
Aurora menatap Edgar dengan penuh selidik. "Wah, wah... jadi ini pria misterius itu? Kenapa kau memakai penyamaran seperti ini? Apa kau seorang aktor terkenal yang takut dikejar paparazi?" Aurora tertawa kecil, mengira tebakannya benar. "Pantas saja kakaku jatuh cinta, postur tubuhmu saja sudah menunjukkan kalau kau pria kelas atas."
Edgar hanya tersenyum di balik masker, tidak membantah maupun mengiyakan. Baginya, biarlah Aurora mengira ia adalah seorang bintang film daripada tahu bahwa ia adalah musuh ayahnya di dunia bisnis.
Setelah memesan minuman, suasana menjadi lebih emosional. Aurora menggenggam tangan Leonor. "Leo, kau tinggal di mana? Ayah benar-benar sudah gila. Dia mengatakan hal-hal buruk tentangmu, tapi aku tahu kau bukan wanita seperti itu."
Leonor menarik napas panjang, melirik Edgar yang memberikan anggukan kecil sebagai tanda izin.
"Ra... aku punya sesuatu yang harus kukatakan padamu," ucap Leonor lembut. "Aku sudah menikah."
Mata Aurora membelalak. "Menikah?! Tanpa memberitahuku?"
"Dan..." Leonor membimbing tangan Aurora untuk menyentuh perutnya yang meski tertutup jaket tebal, mulai terasa sedikit mengeras. "Aku sedang hamil, Ra. Sudah masuk empat belas minggu."
Keheningan melanda meja itu selama beberapa detik. Aurora mematung, tangannya masih menempel di perut kakaknya. Perlahan, air mata mulai mengalir di pipi gadis yang biasanya selalu ceria itu. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya yang selama ini menderita di bawah tekanan David Gonzales, kini telah menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Kau... kau akan menjadi seorang ibu?" bisik Aurora dengan suara bergetar. ia meneteskan air mata haru. "Oh, Leonor... aku sangat bahagia untukmu. Benar-benar bahagia sampai dadaku terasa sesak."
Aurora menatap Edgar dengan pandangan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih... terima kasih sudah menjaganya. Terima kasih sudah memberikan keluarga yang tidak pernah dia dapatkan di rumah kami."
Aurora menyeka air matanya dengan tisu, mencoba kembali tersenyum meski matanya sembab. "Dengar, Leo. Aku tidak akan memberitahu Ayah. Aku bersumpah. Biarlah dia mengira kau menghilang ke ujung dunia. Aku tidak ingin dia merusak kebahagiaanmu ini."
Leonor merasa lega luar biasa. Beban yang selama ini ia panggul seolah terangkat sebagian. "Terima kasih, Ra. Kau satu-satunya alasanku masih peduli pada keluarga Gonzales."
"Sama-sama," sahut Aurora. "Dan kau, Tuan Aktor Misterius," ia menunjuk Edgar, "jaga kakakku baik-baik. Kalau kau menyakitinya, aku sendiri yang akan membocorkan lokasimu pada paparazi!"
Edgar terkekeh pelan di balik maskernya, suaranya yang berat akhirnya terdengar. "Aku tidak akan pernah menyakitinya. Dia adalah hidupku sekarang."
Pertemuan itu tidak bisa berlangsung lama. Mereka harus segera berpisah sebelum ada orang suruhan David yang mengenali mobil atau sosok mereka. Aurora berdiri, memeluk Leonor sekali lagi dengan sangat erat, seolah-olah ia tidak ingin melepaskannya.
"Cepatlah sehat, keponakanku," bisik Aurora pada perut Leonor. "Tumbuhlah dengan kuat, jangan jadi anak penurut seperti bibimu ini. Jadilah pemberontak seperti ibumu."
Setelah memberikan satu pelukan terakhir, Aurora berjalan keluar lebih dulu dengan kepala tertunduk, menghilang di balik kerumunan orang di luar kafe.
Edgar dan Leonor kembali ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Edgar melepaskan masker dan topinya, menghela napas panjang. Ia melihat Leonor yang masih menatap ke arah pintu kafe dengan mata yang basah.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Edgar lembut.
"Iya," jawab Leonor sambil tersenyum tulus. "Aku merasa... jauh lebih ringan sekarang. Terima kasih sudah membawaku menemuinya."
Edgar mencium kening Leonor, lalu tangannya kembali ke posisi favoritnya: mengelus perut Leonor. "Satu persatu duri dalam hidupmu akan kita cabut, Leo. Sekarang, mari kita pulang. Mommy pasti sudah menyiapkan makan malam yang berlebihan lagi untuk cucu kesayangannya ini."
Mobil melaju membelah kemacetan kota, membawa sepasang suami istri itu kembali ke istana mereka yang aman. Di balik kaca jendela yang gelap, Leonor tahu bahwa meskipun ia telah kehilangan satu keluarga, ia telah mendapatkan sebuah dunia baru yang jauh lebih indah dan penuh kasih sayang.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 😍