Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
Kota Kuoh di malam hari adalah lautan cahaya neon yang memantul di atas aspal basah sisa gerimis sore tadi. Keramaian manusia yang berlalu-lalang, suara bising kendaraan, dan musik yang berdentum dari toko-toko elektronik menciptakan simfoni kehidupan modern yang sangat kontras dengan kesunyian Inazuma atau kemegahan Underworld.
Riser Phenex berjalan santai di trotoar utama, mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuh dengan kancing atas terbuka, memberikan kesan pria bangsawan yang sedang menikmati waktu luang. Di sampingnya, Kamizato Ayaka berjalan dengan langkah yang masih agak kaku namun anggun. Dia mengenakan gaun biru sederhana selutut dan sweter putih tipis yang dipilihkan oleh Shizuka. Rambut peraknya dikuncir ekor kuda, membuatnya tampak seperti siswi pindahan yang cantik dari luar negeri.
Di jari manis Ayaka, sebuah cincin perak berpendar redup.
[ Status Cincin: Aktif. ]
[ Fungsi: Penyegelan Aura Iblis dan Roh. ]
[ Efek: Pengguna terdeteksi sebagai manusia biasa dengan fluktuasi energi Sacred Gear yang tidak stabil. ]
"Jangan terlalu tegang, Ayaka," bisik Riser sambil melirik wanita di sampingnya. "Anggap saja ini bagian dari pelatihan adaptasimu. Manusia-manusia di sekitar kita tidak akan menyadari siapa kau sebenarnya selama kau tidak mengeluarkan esmu."
Ayaka menggenggam tas kecilnya dengan erat. "Tempat ini... sangat bising, Tuan Riser. Dan cahaya-cahaya itu, apakah mereka menggunakan energi petir yang dijinakkan? Baunya sangat berbeda dengan udara di perkebunan klan Kamizato."
"Itu disebut listrik. Dan ya, ini adalah puncak dari kecerdikan manusia tanpa sihir," jawab Riser. Dia berhenti di depan sebuah kedai kecil yang menjual crepes. "Kau lapar? Cobalah sesuatu yang manis. Itu akan membantumu rileks."
Ayaka menatap deretan menu dengan gambar-gambar yang penuh warna. Dia tampak bingung sekaligus penasaran. "Jika itu saran Anda, saya akan mencobanya."
Saat mereka menunggu pesanan, Riser tetap waspada. Indra sensoriknya, yang telah diperkuat oleh sistem, mulai menangkap sinyal-sinyal kecil di sekeliling mereka. Di balik kerumunan manusia yang tak menyadari apa pun, ada beberapa pasang mata yang mengawasi dari kejauhan—dari atap gedung, dari balik gang gelap, dan dari balik pohon-pohon di taman kota.
[ Deteksi Musuh: Aktif. ]
* Subjek: Malaikat Jatuh (Kelas Menengah).
* Jumlah: 3 Unit.
* Jarak: 150 meter.
* Status: Mengintai.
Mereka benar-benar memakan umpannya, Yui, batin Riser.
[ Komentar Yui: Tentu saja. Seorang gadis cantik dengan aura energi asing yang 'terasa' lemah di wilayah kekuasaan mereka? Mereka pikir ini adalah mangsa mudah untuk bahan eksperimen atau sekadar interogasi kasar. ]
Riser menerima dua buah crepe cokelat stroberi dan menyerahkan salah satunya kepada Ayaka. Ayaka menerimanya dengan ragu, lalu menggigit kecil bagian atasnya. Matanya seketika berbinar. "Ini... sangat manis. Teksturnya sangat lembut, hampir seperti kue beras namun lebih ringan."
"Simpan kekagumanmu untuk nanti, Ayaka," ucap Riser, suaranya berubah menjadi sangat rendah dan dingin. "Ikuti aku ke arah gang di depan. Jangan menoleh ke belakang, dan jangan lepaskan cincin itu sampai aku memberi perintah."
Ayaka segera menelan makanannya, wajahnya kembali serius. Dia bisa merasakan perubahan atmosfer di sekitar Riser—sebuah aura dominasi yang meskipun ditekan, tetap terasa mencekam bagi mereka yang berada di dekatnya.
Mereka berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit oleh gedung-gedung tinggi. Cahaya lampu jalan di sini mulai berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding batu bata. Suara bising kota perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang tidak alami.
Srak.
Langkah kaki terdengar dari arah belakang mereka. Riser berhenti tepat di tengah gang yang buntu. Dia berbalik perlahan, menatap tiga sosok yang turun dari langit dengan sayap hitam legam yang mengepak pelan. Mereka mengenakan pakaian kulit gelap dengan wajah yang dihiasi senyum meremehkan.
"Nah, nah... apa yang kita punya di sini?" salah satu Malaikat Jatuh, seorang pria dengan rambut jabrik, melangkah maju. "Seorang pria iblis sombong yang sedang berkencan dengan 'barang berharga' yang kami cari."
Ayaka secara naluriah meletakkan tangannya di pinggang, mencari gagang pedangnya yang tersembunyi oleh sihir kamuflase.
"Riser Phenex, bukan?" Malaikat Jatuh lainnya tertawa. "Kudengar kau memenangkan Rating Game dengan cara yang curang. Tapi di depan tombak cahaya kami, api Phoenix-mu tidak lebih dari sekadar korek api yang basah."
Riser tidak terlihat terganggu sama sekali. Dia justru tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat ketiga Malaikat Jatuh itu merasa merinding tanpa alasan.
"Kalian terlalu banyak bicara untuk ukuran makhluk yang akan segera menjadi debu," ucap Riser. Dia menepuk bahu Ayaka. "Ayaka, lepaskan cincinmu. Biarkan mereka melihat apa yang sebenarnya mereka buru."
Ayaka menarik cincin perak itu dari jarinya.
BOOM!
Seketika, aura dingin yang masif meledak dari tubuh Ayaka, membekukan genangan air di gang tersebut dalam hitungan detik. Udara hangat kota Kuoh berubah menjadi musim dingin yang mematikan. Es merambat naik ke dinding gedung, mengunci setiap celah pelarian.
[ Sinkronisasi Jiwa: 80%. ]
[ Status Pertempuran: Dimulai. ]
[ Catatan Yui: Jangan bunuh semuanya. Kita butuh satu untuk bicara tentang rencana Kokabiel. ]
"Sekarang," Riser melangkah maju, tangannya mulai diselimuti api biru yang berderak. "Mari kita lihat siapa yang sebenarnya adalah mangsa di sini."