Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Lima
Tia mencoba menghubungi Bram, tapi nomornya tidak pernah aktif lagi. Bram tiba-tiba saja menghilang. Biasanya Bram selalu menghubunginya paling tidak dua kali seminggu. Tapi ini sudah hampir dua bulan Bram menghilang tanpa kabar.
"Om Bram kemana sih, lagi dibutuhin aja gak pernah ada. Enak aja setelah puas terus sekarang malah ngilang." ucap Tia menggerutu sambil terus mencoba menghubungi nomor Bram.
Semenjak kejadian ditoko pakaian itu, Bram tidak pernah lagi bisa dihubungi. Tia tidak tahu tentang perceraian Bram dengan istrinya.
Padahal saat ini ia sedang butuh uang untuk pergi liburan bersama teman-teman sekolahnya, merayakan kelulusan.
"Bodoh! kenapa aku gak kepikiran buat datengin cafenya aja. Dia kan punya cafe besar. Dia pasti ada disana. Enak aja main ngilang-ngilang setelah puas ambil kep***wanan orang. Kalau perlu aku labrak kamu Om, biar aja istri mu itu tahu kalau kamu sering tidur dengan perempuan lain." geram Tia.
Pasalnya ia rela menyerahkan kep***wanannya karna tergiur oleh Bram yang menjajikannya uang banyak dan akan memenuhi semua kebutuhannya. Bram juga berjanji akan bertanggung jawab kalau sampai dirinya hamil.
Tapi untung saja Tia memakai KB, sehingga ia tidak sampai hamil.
Tia segera bersiap-siap. Ketika keluar dari kamar, ia mendapati ibunya yang sedang mengomeli kakak iparnya itu. Pemandangan yang sudah sangat biasa bagi penghuni rumah tersebut. Sehari saja melihat bu Ratna anteng, mungkin akan terasa aneh.
"Dasar menantu gak becus! Masak aja gak pernah bener. Ini nih kalau dari kecil selalu dimanja, saat sudah menikah jadi gak bisa apa-apa." tukas bu Ratna berkacak pinggang setelah mencicipi masakan menantunya yang menurutnya tidak ada enak-enaknya itu.
"Ya udah, kalau gitu ibu aja yang masak! Terus itu suruh Tia juga dong buat beres-beres rumah, jangan aku terus yang disuruh-suruh. Nanti kalau dia menikah biar gak diomelin terus sama mertuanya kalau nanti gak bisa apa-apa!" ujar Fela membalikkan ucapan mertuanya itu.
Sendirinya juga selalu memanjakan anak perempuannya, bahkan untuk nyuci celana dalamnya saja Fela yang cucikan. Malah sekarang menyalahkan ibunya yang tidak tahu apa-apa.
"Enak aja, gak mau lah aku capek-capek beres rumah. Itu semua sudah jadi tugas mbak dirumah ini. Jangan malah melempar pekerjaan mbak ke aku dong!" sahut Tia cepat-cepat, takut ibunya terpengaruh.
Mana mau ia mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi nanti kalau ibunya itu tidak puas dengan hasil kerjanya, pasti ia akan kena semprot.
"Itu sudah jadi tugas kamu sebagai menantu dirumah ini, jadi jangan ngebantah kalau tidak mau ibu suruh Aris cari istri baru lagi." ancam bu Ratna sambil melotot.
Fela tersenyum sinis, mereka pikir dirinya takut? Tentu tidak! Malah ia akan senang karna bisa bebas dari keluarga toxic ini. Sudah lah punya suami tidak sesuai harapannya, eh sekarang malah dapat mertua titisan Fir'aun pula. Gara-gara menikah dengan Aris juga ia jadi harus kehilangan pekerjaannya. Dan ia dicemooh para sepupunya akibat video viralnya itu.
Fela diam-diam merencanakan untuk bisa lepas dari suaminya itu, ia muak berada dikeluarga ini.
"Silahkan saja ibu suruh mas Aris menikah lagi. Aku gak yakin ada yang mau sama mas Aris yang hanya seorang tukang ojek online." ujar Fela sinis.
"Apa kamu bilang? Kamu menghina Aris yang sekarang hanya tukang ojek, gitu? Dasar istri gak bersyukur! Meskipun Aris hanya tukang ojek, tapi masih bisa kasih kamu makan." sarkas bu Ratna sambil menunjuk-nunjuk muka Fela.
"Aku gak ngehina pekerjaan mas Aris ya bu."
ujar Fela memutar bola matanya.
"Halah, bohong kamu mbak. Jelas-jelas tadi mbak ngehina mas Aris yang sekarang cuma tukang ojek. Ini juga karna menikah sama mbak, makanya mas Aris jadi sial, dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Dulu saat masih sama mbak Shafira mas Aris malah naik jabatan tidak lama dari mereka menikah. Eh sekarang baru menikah seminggu sama mbak udah dipecat aja." ujar Tia meluapkan kekesalannya.
Gara-gara kakaknya tidak bekerja diperusahaan lagi, jatah bulanannya pun tidak ada. Hanya mengandalkan uang dari ibunya yang hanya memberi uang jajan sepuluh ribu saja perhari.
Plak...
Fela yang geram menampar mulut adik iparnya yang kurang ajar itu. Tidak terima dikatakan pembawa sial, apalagi sampai dibanding-bandingkan dengan Shafira.
"Heh kurang ajar kamu ya, berani-beraninya kamu menampar anak ku." pekik bu Ratna melotot.
Sedangkan Tia masih terdiam, walaupun tidak sakit, karna tamparan dimulutnya tidak lah keras. Tapi rasanya jelas tidak enak, karna menyentuh bibirnya, lipstiknya pun juga jadi terhapus.
"Mbak!" pekik Tia yang sudah siap membalas menampar, tapi seketika terdiam mendengar ucapan kakak iparnya itu.
"Apa hah? Gak terima, mau balas? Ayo!" tantang Fela memajukan wajahnya dan berbisik.
"Kamu pikir aku gak tahu kelakuan kamu diluar sana, aku tahu ya kamu sering jalan sama om-om. Bahkan aku punya fotonya saat kalian jalan saling rangkul-rangkulan. Kamu jangan macam-macam sama aku, kalau gak mau foto-foto kamu kesebar." bisik Fela menyeringai.
Bu Ratna heran melihat anaknya yang tidak jadi membalas.
"Kenapa kamu diam aja ditampar Tia, kamu balas dong! Jangan diem aja." geram bu Ratna yang malah mendukung anaknya membalas tamparan Fela.
Tia diam saja sedangkan Fela tersenyum puas melihat adik iparnya yang kurang ajar ini tidak berkutik. Ia jadi memiliki senjata untuk melawan.
"Tia!" geram bu Ratna menggeplak lengan anaknya.
"Sshh.. Apa sih bu." desis Tia mengusap lengannya sambil melihat kakak iparnya pergi setelah membuatnya kalah telak.
"Kamu diancam apa sama Fela? Kamu jangan diam aja dong, jangan dengerin ucapannya." ujar bu Ratna gemas.
"Gak ada bu. Udah, Tia mau keluar dulu. Minta uang buat ojek bu." Tia malah menadahkan tangannya.
Bu Ratna mendengus.
"Kamu sekarang udah gak sekolah ya, jadi jatah jajan kamu juga udah gak ada." ketus bu Ratna.
"Tia mau cari kerjaan sama teman bu, nanti kalau Tia udah kerja juga pasti Tia kasih ibu juga." ujar Tia berbohong.
"Nih, jangan dihabisin!" bu Ratna mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari saku dasternya.
Tia mendengus melihat ibunya yang pelit itu.
"Selembar lagi bu, nanti Tia ganti kalau udah dapet kerja."
"Kita harus hemat-hemat Tia, kamu tahu kan mas mu sekarang cuma tukang ojek, penghasilannya juga gak tentu. Belum lagi bapak kamu yang ganjen itu nikah lagi. Upahnya yang dari sawah dikasih ke istri barunya itu. Ibu cuma kebagian gaji pensiunnya aja. Kalau mau kamu minta sama bapakmu sana." ketus bu Ratna melengos pergi.
"Iss.. Pelit!" Tia pergi dengan wajah merenggut. Sebenarnya tadi ia ingin meminjam motor milik kakak iparnya, tapi karna ia sempat adu mulut dengan Fela, ia jadi gengsi meminjam motor.
Setelah mengantar penumpangnya, Aris melajukan motornya kearah rumah Shafira. Ia sudah tidak sabar dan ingin tahu kehidupan mantan istrinya yang sekarang.
Penampilan Shafira yang semakin cantik terngiang-ngiang dikepalanya. Ia seakan menyesal melepaskan Shafira demi menikahi Fela. Sedangkan sekarang Fela terlihat kucel dimatanya, tidak seperti dulu saat masih bekerja dikantor.
Tak lama, Aris tiba didepan rumah peninggalan orang tua Shafira. Keningnga berkerut melihat rumah mewah didepannya, pasalnya ia ingat betul bagaimana rupa rumah orang tua Shafira yang menurutnya seperti gubuk reot itu. Tapi sekarang yang ia lihat adalah sebuah rumah mewah, jauh lebih mewah dan besar daripada rumah ibunya. Gerbangnya juga terlihat mewah.
"Loh, ini beneran rumahnya kan?" tanya Aris terheran-heran.
Aris berhenti diseberang jalan depan rumah Shafira. Menoleh kiri kanan, memastikan rumah yang ada didepannya ini benar rumah mantan istrinya.
"Apa diam-diam Shafira jual rumah orang tuanya ya, makanya dia bisa beli mobil." gumam Aris ragu dengan rumah mewah didepannya ini.
Ia berpikir mungkin Shafira menjual tanahnya, makanya Shafira bisa punya mobil. Karna meski rumahnya jelek, tapi tanah kosongnya masih luas. Dan berada dipinggir jalan. Sudah tentu harganya juga mahal.
"Terus sekarang Shafira tinggal dimana? Gara-gara ngantar penumpang jadi gak bisa kan ngikutin Shafira. Mana nomor ku juga diblokir lagi, bener-bener si Shafira." kesal Aris yang gagal bertemu dengan Shafira.
Ia yakin kalau rumah mewah ini bukan rumah Shafira.
"Lagian mana mungkin Shafira bisa membangun rumah mewah sedangkan selama ini Shafira tidak terlihat bekerja." gumam Aris.
Setelah setengah jam terdiam sambil memperhatikan sekitar, Aris memilih pulang karna sebentar lagi masuk waktu maghrib.
Sedangkan di ujung jalan, tidak jauh dari tempatnya. Shafira yang sudah hafal warna motor dan plat motor Aris memlih tidak langsung masuk kerumahnya. Ia menunggu sekitar lima menit sampai Aris pergi dari depan rumahnya baru ia masuk.
Aris tidak akan mengenalinya walau Aris lewat disebelahnya karna Shafira yang memakai helm.
"Ngapain pake kesini segala sih, masih aja mau ganggu orang." umpat Shafira.