Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui jendela besar kamar VVIP Rumah Sakit Kerajaan. Ruangan itu dipenuhi dengan karangan bunga dan aroma antiseptik yang tidak lagi terasa mengerikan. Di tengah ruangan, Ethan terbaring di tempat tidur otomatis. Wajahnya masih pucat, dan ada berbagai selang yang terhubung ke tubuhnya, namun matanya sudah terbuka, menatap langit-langit dengan tatapan sayu yang perlahan mulai kembali jenaka.
Pintu kamar terbuka dengan sangat pelan. Kaisar masuk terlebih dahulu, mendorong kursi roda Freya dengan sangat hati-hati. Freya tampak jauh lebih baik meski ada perban di pergelangan tangan dan plester kecil di sudut bibirnya. Ia mengenakan gaun rumah sakit yang dilapisi cardigan hangat pemberian Permaisuri.
Begitu mata Freya menangkap sosok Ethan, dadanya terasa sesak. Rasa bersalah yang ia tahan sejak semalam tumpah seketika.
"Ethan..." suara Freya bergetar.
Ethan menolehkan kepalanya perlahan. Sebuah senyum lemah tersungging di bibirnya yang kering. "Wuih... bidadari gue... selamat ya, masih hidup ternyata."
Kaisar memarkirkan kursi roda Freya tepat di samping tempat tidur Ethan. Begitu jarak mereka dekat, Freya langsung meraih tangan Ethan yang tidak terpasang infus. Tangan itu terasa dingin, jauh dari hangatnya genggaman Ethan yang biasanya penuh energi.
"Ethan... maafin gue... gue—" Freya terisak, air matanya jatuh membasahi sprei putih rumah sakit. "Gue bodoh banget. Harusnya gue nggak maksa lo pergi. Harusnya gue nurut sama Kai. Gara-gara gue, lo hampir..."
Freya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isakannya makin keras, bahunya berguncang hebat. Ia terus menunduk, tidak berani menatap luka di perut Ethan yang tertutup selimut.
Ethan meringis sedikit saat mencoba menggerakkan tangannya untuk menepuk punggung tangan Freya. "Duh, Kak... berhenti nangis. Lo kalau nangis jelek banget, tahu nggak? Luntur tuh skincare mahal dari istana."
Freya mendongak, tertawa kecil di tengah tangisnya sambil menghapus air mata dengan kasar. "Lo tuh ya! Masih sempet-sempetnya ngeledek gue!"
"Abisnya lo dramatis banget," sahut Ethan, suaranya pelan dan serak. "Gue nggak nyesel, Kak. Gue emang pengen jadi pahlawan sekali-kali. Masa Kak Kaisar terus yang dapet panggung? Sekarang terbukti kan, gue lebih jago jagain lo daripada dia... ya, walau akhirnya gue yang tepar."
Kaisar yang berdiri di belakang kursi roda Freya menghela napas panjang, namun ada gurat kelegaan yang luar biasa di wajahnya. Ia meletakkan tangannya di bahu Freya untuk menenangkannya, lalu menatap adiknya dengan tatapan dalam.
"Terima kasih, Ethan. Terima kasih sudah menjaganya sampai akhir," ujar Kaisar dengan nada yang sangat tulus.
Ethan menatap kakaknya, lalu beralih ke Freya. "Jangan minta maaf lagi, Kak Freya. Kalau lo terus ngerasa salah, luka gue malah makin lama sembuhnya karena dengerin lo nangis mulu. Mending lo janjiin gue sesuatu."
"Apa? Apa pun bakal gue kasih, Than," jawab Freya cepat.
"Janji lo harus beneran jadi kakak ipar gue. Jangan kabur lagi. Gue udah numpahin darah buat pertunangan kalian, jangan sampe sia-sia," goda Ethan sambil mengedipkan satu matanya.
Freya tersenyum lebar, kali ini benar-benar tulus. Ia menggenggam tangan Ethan lebih erat. "Gue janji. Gue nggak akan ke mana-mana. Gue bakal tetep di sini buat dengerin ledekan lo setiap hari."
Suasana menjadi lebih hangat. Kaisar menarik kursi dan duduk di sisi lain tempat tidur Ethan. Untuk pertama kalinya, ketiga orang ini merasa seperti sebuah keluarga yang utuh, tanpa sekat protokol kerajaan yang kaku.
"Kai," panggil Ethan. "Kholid gimana?"
Wajah Kaisar seketika mengeras, namun ia segera melembutkan ekspresinya agar tidak menakuti Freya. "Dia sudah dalam pengawasan ketat. Buyut sudah tahu semuanya. Dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di istana ini. Proses hukumnya akan berjalan tanpa ampun."
Ethan mengangguk pelan. "Bagus. Jangan kasih kendor. Dia hampir bikin Kak Freya jadi lukisan abstrak permanen."
"Dan buat lo..." Freya menunjuk Ethan dengan jari telunjuknya. "Buruan sembuh. Gue udah punya rencana buat lukisan besar. Modelnya lo, sebagai ksatria berbaju besi yang lagi... lagi tidur!"
Ethan tertawa, meski kemudian ia meringis karena perutnya sakit saat tertawa. "Aduh! Jangan bikin gue ketawa, sakit banget!"
Kaisar berdiri, membungkuk sedikit untuk memperbaiki letak bantal Ethan. "Istirahatlah lagi. Kami tidak akan pergi jauh. Freya juga perlu diperiksa lagi oleh dokter."
Sebelum mereka keluar, Freya mencium dahi Ethan dengan kasih sayang seorang kakak. "Sembuh ya, Than. Nanti gue bawain nasi padang diem-diem kalau dokter nggak liat."
"Nah! Itu baru calon kakak ipar idaman!" seru Ethan lemah namun penuh semangat.
Kaisar mendorong kursi roda Freya keluar menuju taman rumah sakit yang asri. Langit hari ini sangat biru, seolah merayakan keselamatan mereka. Kaisar berhenti di bawah pohon rindang dan berdiri di depan Freya.
Ia berlutut, menyamakan tingginya dengan Freya yang duduk di kursi roda. Kaisar meraih kedua tangan Freya, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Freya tertahan.
"Freya," panggil Kaisar. "Hari ini bukan lagi tentang 30 hari. Bukan lagi tentang perintah Buyut atau skandal publik."
Kaisar merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Saat dibuka, sebuah cincin dengan berlian yang lebih indah dari sebelumnya berkilauan tertimpa cahaya matahari.
"Aku mencintaimu. Bukan sebagai Pangeran Mahkota yang butuh permaisuri, tapi sebagai laki-laki yang butuh warna dalam hidupnya. Maukah kamu benar-benar menjadi milikku, selamanya?"
Freya menatap cincin itu, lalu menatap wajah Kaisar yang kini tampak begitu pasrah menanti jawabannya. Gadis rebel itu tersenyum, air mata haru kembali menggenang, tapi kali ini karena bahagia.
"Asal kamu janji... nggak akan pernah jadi robot kaku lagi," bisik Freya.
Kaisar tersenyum lebar—senyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan. "Aku janji. Aku akan jadi manusia paling bahagia di sampingmu."
Kaisar menyematkan cincin itu di jari manis Freya. Di hari ke-31 ini, mereka bukan lagi dua orang yang dipaksa bersama, melainkan dua jiwa yang telah melewati badai dan memilih untuk tidak pernah melepaskan satu sama lain.