NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Manusia, Aku Telah Kembali ...

Beberapa murid yang mengintip dari luar gubuk tertawa kecil. Mereka tahu apa artinya dikirim ke "bagian dalam" tanpa kemampuan kultivasi. Itu bukan berburu, melainkan eksekusi terselubung.

Ye Chenxu menatap Ye Feng. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ketenangan yang sedalam jurang.

Tatapan itu membuat Ye Feng merasa sedikit tidak nyaman, seolah-olah ia sedang menatap seekor naga yang sedang tidur.

“Aku akan pergi,” kata Ye Chenxu dengan suara datar.

Senyum Ye Feng semakin lebar, merasa ia baru saja memenangkan permainan dominasi.

“Bagus. Setidaknya sampah sepertimu masih punya sedikit nilai bagi klan ini sebelum kau akhirnya binasa.”

Setelah mereka pergi dengan tawa mengejek yang menggema di lorong, gubuk itu kembali sunyi. Hanya suara desis angin yang masuk dari pintu yang rusak.

Ibu Ye memandang anaknya dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bergetar ingin melarang, namun ia tahu posisi mereka di klan ini tidak lebih dari debu.

“Chenxu ... mereka ingin membunuhmu,” bisiknya pedih.

Ye Chenxu mendekat dan meletakkan tangannya di bahu ibunya. “Ibu, jangan khawatir. Mereka berpikir sedang mengirimku ke liang kubur. Padahal, mereka hanya membukakan jalan bagiku untuk melampaui mereka semua. Aku berjanji, aku akan kembali.”

***

Malam semakin larut, dan kota kecil itu mulai tertidur di bawah selimut kegelapan.

Di dalam gubuk sempit itu, Ye Chenxu duduk bersila di atas lantai kayu yang keras. Ia menutup matanya, membiarkan pikirannya tenang sejenak sebelum memulai meditasi.

Sutra Kehampaan Awal mulai berputar perlahan di dalam jiwanya, menarik energi dari sekitarnya untuk menstabilkan aliran di dua meridian yang baru terbuka.

Pada tahap awal Pengolah Tubuh ini, ia baru mampu memanfaatkan kurang dari sepuluh persen dari potensi sejati teknik kehampaan.

Namun, bahkan kekuatan sekecil ini sudah memberinya refleks yang tajam, kelincahan yang melampaui batas manusia, dan ketajaman insting yang memungkinkannya membaca niat membunuh lawan.

Ia meraba kantong kain di pinggangnya. Di sana terdapat dua butir permata siluman tingkat rendah dan satu butir tingkat menengah awal yang ia dapatkan dari aisa-sisa hasil perburuannya sebelum keluar dari hutan tadi sore.

Jika memurnikannya sekarang dengan risiko tinggi, ia bisa membuka satu meridian lagi sebelum fajar menyingsing. Namun, sebagai mantan dewa yang pernah mendaki hingga puncak tertinggi, ia tahu kapan harus menahan diri.

“Kesabaran adalah yang utama …” gumamnya lirih pada kegelapan. “Tubuh ini masih terlalu rapuh untuk dipaksa berulang kali. Memaksakan terobosan malam ini hanya akan merusak fondasi jangka panjang. Dewa Kehampaan tidak pernah tergesa-gesa.”

Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit gubuk yang berlubang, memperlihatkan satu bintang yang bersinar terang di luar sana.

Ekspedisi besok, di mata Ye Feng dan tetua klan, itu adalah sebuah hukuman mati, sebuah cara efisien untuk membuang beban klan.

Namun bagi Ye Chenxu, itu adalah kesempatan emas yang dikirimkan oleh takdir.

Di bawah perlindungan rombongan, ia bisa masuk lebih jauh ke dalam pegunungan, menemukan sumber daya yang lebih langka, dan mungkin mencari cara untuk menguji kekuatannya yang baru pada manusia yang merasa diri mereka kuat.

Di sudut bibirnya, sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat namun sarat dengan kedinginan—terukir.

“Dunia manusia …” bisiknya pelan, seolah berbicara pada seluruh semesta yang pernah mengkhianatinya.

“Aku telah kembali. Dan kali ini, akulah yang akan menulis hukumnya.”

***

Fajar baru saja menyentuh garis langit, menyisakan semburat ungu yang kontras dengan kelabu pagi, ketika rombongan Klan Ye berkumpul di gerbang timur Kota Awan Biru.

Pintu gerbang kayu yang besar itu berderit saat dibuka, seolah memberi peringatan akan bahaya yang menanti di balik tembok kota.

Kabut tipis masih menggantung rendah di permukaan jalan, membuat siluet para kultivator yang berdiri di sana tampak seperti barisan bayangan kelam yang bergerak perlahan dalam kesunyian.

Udara pagi terasa berat, bau besi dari senjata yang baru diasah, aroma darah kering pada zirah kulit yang belum sempat dibersihkan sempurna, serta bau menyengat dari obat luka murahan bercampur menjadi satu.

Suasana mencekam itu menghadirkan debaran jantung yang tak menentu, bahkan sebelum kaki mereka menginjakkan kaki di tanah Pegunungan Hitam.

Di antara mereka, Ye Chenxu berjalan di barisan paling belakang. Ia mengenakan pakaian kain kasar yang longgar, sengaja untuk menutupi otot-ototnya yang kini lebih padat dan berisi.

Tidak ada yang memperhatikannya, dan jika ada yang melirik, itu hanyalah tatapan yang penuh dengan kejijikan atau ketidakpedulian.

Bagi rombongan ini, kehadirannya hanyalah sebuah beban, sebuah syarat yang harus dipenuhi untuk memuaskan ego para tetua.

Rombongan kali ini dipimpin oleh Ye Feng. Dengan jubah biru langit yang bersih dan pedang perak di pinggangnya, ia berdiri dengan angkuh.

Ye Feng telah mencapai Pengolah Tubuh tahap ketiga dengan tiga meridian utama yang terbuka.

Di sisinya, ada dua murid inti lainnya yang berada di tahap kedua, serta enam murid luar yang baru saja membuka meridian pertama mereka.

Lalu ada Ye Chenxu. Di atas kertas, ia adalah Pengolah Tubuh tahap awal dengan dua meridian. Secara teori, dia adalah yang terlemah, sebuah "umpan" yang bisa dikorbankan kapan saja.

Namun, di balik penampilannya yang lesu, Sutra Kehampaan Awal di dalam dirinya berdenyut dengan ritme yang stabil dan dingin.

Energi itu mengalir dengan presisi, menstabilkan detak jantungnya dan mempertajam kesadarannya hingga ke tingkat yang tidak bisa dibayangkan oleh mereka yang berada di depannya.

Sejak meninggalkan gerbang kota, Ye Chenxu telah melakukan observasi dengan mata dingin seorang dewa.

Ia menyadari bahwa gerakan rombongan sangat tidak teratur, langkah kaki mereka saling tumpang tindih, menandakan kurangnya disiplin.

Formasi mereka terlalu longgar, celah di antara murid luar terlalu besar untuk saling melindungi.

Tidak ada sistem pengawasan belakang, mereka terlalu percaya diri karena berada di pinggiran gunung.

'Ini bukan tim pemburu,' batin Ye Chenxu sambil menatap punggung Ye Feng yang sombong. 'Ini hanyalah segerombolan pembawa daging yang tidak sadar bahwa mereka sedang berjalan menuju mulut harimau.'

Begitu mereka melewati batas hutan, hawa dingin yang lembap langsung menyergap kulit.

Pepohonan purba yang menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling bertautan menutup cahaya matahari, membuat dunia di dalam sana seolah tenggelam dalam senja abadi yang abadi.

Tanah di bawah kaki mereka empuk oleh tumpukan daun busuk, meredam suara langkah kaki, menciptakan kesunyian yang justru membuat bulu kuduk berdiri.

Ye Chenxu bisa merasakan perubahan atmosfer itu dengan seketika. Indra Kehampaan-nya mulai aktif secara otomatis.

Dia merasakan aura siluman yang samar-samar menyebar di berbagai arah—beberapa jauh, beberapa sangat dekat.

Getaran energi alam di sini sangat kacau, sisa-sisa pertempuran ribuan tahun lalu yang masih meninggalkan jejak di udara.

Selain daripada itu, dia juga mampu menangkap hal-hal yang dilewatkan oleh Ye Feng dan yang lainnya, seperti gesekan halus kaki serangga di balik semak, denyut kehidupan yang bergerak lambat di bawah tanah, dan yang paling penting—aliran niat membunuh yang samar dari arah kegelapan hutan.

1
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
Mommy Dza
Ye Chen Xu berhitung mundur
satu....

tunggu pembalasanku 🤭
Nanik S
Ibunya masih didalam penjara
Nanik S
Shiip
Nanik S
Semakin baik aku matu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!