NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG DI LERENG LAWU

Hujan mulai turun membasahi bumi Lawu, mengubah debu perkebunan menjadi lumpur yang licin. Namun, suasana di halaman rumah Alya jauh lebih dingin daripada tetesan air langit. Empat pria yang selama lima tahun ini saling tikung di lantai bursa dan meja politik Jakarta, kini berdiri mematung di depan sebuah gubuk kayu.

Zhang Liang masih berlutut. Jas mahalnya yang seharga ratusan juta kini ternoda tanah merah. Matanya tidak lepas dari Bintang—putranya yang memiliki sorot mata yang sama persis dengannya, namun penuh dengan permusuhan.

"Mas Liang, bangun," suara Alya terdengar datar. "Jangan berakting di depan anak-anakku. Sujudmu tidak akan menghapus lima tahun ketidakhadiranmu."

Liang berdiri perlahan, kakinya terasa kaku. "Alya, aku tidak berakting. Aku mencari kalian... setiap hari."

"Bohong!" potong Han Zhihao yang sejak tadi berdiri di bawah bayangan pohon pinus. Ia melangkah maju, menatap Liang dengan sinis. "Kau mencarinya dengan logika bisnis, Liang. Kau mencari 'aset'. Sementara aku... aku menjaga mereka dari jauh agar mereka tidak tersentuh oleh tangan kotor keluargamu."

Alya menoleh tajam ke arah Zhihao. "Jadi benar? Kau tahu kami di sini selama ini, Zhi?"

Zhihao terdiam, matanya yang biasanya dingin kini memancarkan kegelisahan. "Aku hanya ingin kau bebas, Alya. Jika aku memberitahu mereka, kau akan ditarik kembali ke sangkar itu."

"Kau sama saja, Zhi!" teriak Luo Cheng sambil meremas kerah jaketnya. "Kau memperlakukannya seperti eksperimen laboratorium! Kau membiarkan dia berjuang sendirian di sini sementara kau menonton lewat satelitmu?!"

"Cukup!" Alya mengangkat tangannya. "Kalian semua, pergi dari sini. Sekarang."

Tepat saat Alya hendak membawa anak-anaknya masuk dan mengunci pintu, suara desingan aneh terdengar dari arah hutan pinus di belakang rumah.

Syuuuut—Prak!

Sebuah anak panah bius menghantam dinding kayu, hanya beberapa inci dari kepala Wei Jun.

"TIARAP!" teriak Luo Cheng. Refleksnya sebagai pria yang sering berada di zona konflik tambang segera bekerja. Ia menerjang Alya dan anak-anak, mendorong mereka masuk ke dalam rumah.

Tembakan berikutnya menyusul, kali ini suara letusan senjata api yang dilengkapi peredam suara. Kaca jendela rumah Alya pecah berantakan.

"Siapa mereka?!" teriak Liang, berlindung di balik Range Rover-nya.

"Sisa-sisa loyalis ibumu, Liang!" Wei Jun berteriak sambil mengeluarkan ponselnya. "Aku mendapat laporan bahwa Madam Liu Xian berhasil mengirim pesan keluar dari paviliun sebelum kau memutus total aksesnya. Dia menyewa tentara bayaran untuk menghabisi 'aib' keluarga Zhang!"

Suasana menjadi kacau. Dari kegelapan hutan, muncul enam orang pria berpakaian taktis hitam dengan penutup wajah. Mereka bukan perampok amatir; gerakan mereka terkoordinasi dan mereka mengincar satu target: Bintang dan Cahaya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Empat Naga Timur harus bekerja sama bukan untuk uang, tapi untuk nyawa.

Luo Cheng adalah yang pertama bergerak. Ia tidak membawa senjata api, namun ia menggunakan apa pun yang ada di sekitarnya. Ia menyambar parang milik Alya yang tergeletak di teras. Dengan gerakan brutal dan efektif, ia menghalangi dua penyerang yang mencoba merangsek masuk melalui pintu belakang.

"Jangan ada yang berani menyentuh pintu ini kalau masih mau punya kepala!" raung Luo Cheng.

Di sisi lain, Han Zhihao membuka tas ransel taktis yang selalu dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah perangkat jammer sinyal dan drone kecil. "Aku memutus komunikasi mereka! Mereka tidak bisa memanggil bantuan tambahan!" Drone milik Zhihao terbang, menyemprotkan gas air mata ke arah para penyerang yang bersembunyi di semak-semak.

Wei Jun, sang diplomat yang biasanya menghindari kekerasan fisik, mengeluarkan senjata api legal dari balik pinggangnya. Ia melepaskan tembakan peringatan ke arah kaki salah satu penyerang. "Mundur, atau keluarga kalian tidak akan pernah ditemukan di dasar laut!"

Zhang Liang berada di garis paling depan. Ia tidak peduli jika dirinya tertembak. Ia berdiri di depan pintu utama, menjadi perisai hidup bagi Alya dan si kembar. Salah satu penyerang mencoba menerjangnya dengan pisau, namun Liang menangkap pergelangan tangan pria itu dan mematahkannya dengan satu gerakan kasar. Amarah yang ia pendam selama lima tahun meledak malam ini.

Di dalam rumah yang gelap, Alya memeluk Bintang dan Cahaya di bawah meja kayu jati yang kokoh. Ibu Ratna gemetar di sudut ruangan sambil merapal doa.

"Ibu, siapa orang-orang jahat itu?" bisik Cahaya, suaranya bergetar karena takut.

Alya menatap putrinya, lalu menatap Bintang yang justru memegang sebuah kayu pemukul kasti dengan tangan mungilnya, siap melawan. Di saat itu, Alya sadar bahwa ia tidak bisa terus melarihkan diri. Dunia naga telah menemukannya, dan satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menghadapinya.

Alya berdiri. Ia mengambil senter besar dan sebotol minyak tanah dari dapur.

"Alya, kau mau ke mana?!" bisik Saraswati yang juga bersembunyi di sana.

"Mereka mengincar anak-anakku. Aku tidak akan membiarkan mereka menjadi alasan pria-pria di luar sana merasa jadi pahlawan," jawab Alya dengan mata berkilat.

Alya keluar melalui pintu samping yang jarang diketahui orang. Ia tahu medan perkebunan ini lebih baik daripada siapa pun. Di tengah hujan dan kegelapan, ia menyelinap ke arah belakang posisi para penyerang.

Saat salah satu penyerang bersiap melempar granat asap ke dalam rumah, Alya muncul dari balik kegelapan dan menyiramkan minyak tanah ke arah pria itu, lalu menyalakan pemantik api.

Wushhh!

Api berkobar di tengah hujan. Penyerang itu berteriak karena panas yang tiba-tiba, membuat posisinya ketahuan sepenuhnya oleh Luo Cheng dan Liang.

Dengan bantuan intelijen Zhihao dan kekuatan fisik Liang serta Luo Cheng, keenam penyerang itu berhasil dilumpuhkan dalam waktu kurang dari lima belas menit. Mereka terikat di halaman, sementara helikopter bantuan milik Wei Jun mendarat dengan membawa pasukan keamanan tambahan.

Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas yang terengah-engah dan rintik hujan yang mulai mereda.

Liang berjalan mendekati Alya yang berdiri di teras dengan baju yang basah kuyup dan tangan yang berlumuran minyak. Ia ingin memeluknya, namun ia berhenti saat melihat tatapan Alya.

"Terima kasih," ucap Alya pendek. "Kalian bisa pergi sekarang. Bawa orang-orang ini bersama kalian."

"Alya, kau tidak mengerti," Wei Jun maju, merapikan rambutnya yang berantakan. "Ini baru permulaan. Jika ibumu, Liang, bisa mengirim orang sejauh ini, berarti lokasi ini sudah tidak aman lagi. Besok, seluruh musuh bisnis Zhang akan tahu bahwa ada kelemahan besar di gunung ini."

"Aku setuju dengan Wei Jun, kali ini saja," ucap Zhihao sambil melipat drone-nya. "Alya, kau harus ikut kami kembali ke Jakarta. Bukan ke rumah Zhang, bukan ke apartemenku. Kita akan menempatkanmu di sebuah safe house yang netral sampai masalah hukum Madam Liu Xian selesai secara total."

Alya menatap kedua anaknya yang kini berdiri di ambang pintu, menatap Liang dengan rasa ingin tahu yang mulai mengalahkan rasa takut. Bintang melangkah maju, menatap sepatu Liang yang berlumpur.

"Om... Om tadi yang pukul orang jahat itu ya?" tanya Bintang.

Liang berjongkok, mencoba menahan air matanya. "Iya, Nak. Om... Om akan pastikan tidak ada lagi orang jahat yang datang."

Bintang menatap Alya, seolah meminta izin. Alya menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan takdir. Menghilang selama lima tahun adalah sebuah kemenangan, namun membesarkan anak-anaknya dalam pelarian abadi adalah sebuah kekalahan.

"Satu syarat," suara Alya terdengar tegas. "Kita tidak ke Jakarta. Kita ke vila milik Mbak Saraswati di Bali. Dan kalian berempat... tidak boleh ada di satu atap yang sama dengan kami. Kalian hanya boleh berkunjung dengan izin saya."

Keempat naga itu saling pandang. Mereka adalah penguasa di bidang masing-masing, namun malam ini, di depan seorang wanita dari desa terpencil, mereka hanyalah pengikut yang harus patuh.

"Sepakat," jawab Liang mewakili yang lain.

Malam itu, Alya mulai mengepak barang-barangnya. Ia menatap rumah kayu yang telah memberinya kedamaian selama lima tahun. Ia tahu, babak baru telah dimulai. Ia bukan lagi tawanan, bukan lagi pelarian. Ia adalah seorang ibu yang sedang memimpin empat naga untuk melindungi masa depan anak-anaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!