NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Amukan Sang Singa dan Sumpah Darah

​Kegelapan total yang menyelimuti aula utama mansion Valerius terasa seperti kain kafan yang jatuh mendadak. Musik orkestra yang tadinya mengalun manis berganti menjadi simfoni teriakan histeris dan dentingan gelas kristal yang pecah. Aroma champagne mahal kini tertutup oleh bau mesiu yang tajam dan menyengat.

​Aruna merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya berputar dalam kegelapan yang kacau. Namun, di tengah badai kepanikan itu, ada satu titik yang tetap kokoh: cengkeraman tangan Dante Valerius pada pinggangnya. Tangan itu tidak lagi terasa posesif, melainkan protektif dengan cara yang sangat primitif.

​"Jangan lepaskan tanganku, Aruna. Tetap merunduk!" Dante menggeram di dekat telinganya. Suaranya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun; justru terdengar seperti nada haus darah yang terkendali.

​DOR! DOR! DOR!

​Kilatan cahaya dari moncong senjata api menerangi ruangan setiap beberapa detik, memberikan gambaran mengerikan seperti strobe light di klub malam yang jahat. Aruna melihat bayangan orang-orang berjatuhan. Para elit yang tadi tertawa angkuh kini merangkak di lantai seperti tikus yang ketakutan.

​Dante menarik Aruna ke balik pilar marmer besar. Gerakannya begitu cepat dan efisien, seolah dia sudah melatih skenario ini ribuan kali dalam benaknya. Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, Dante mencabut pistol semi-otomatis dari balik tuxedo-nya.

​"Marco! Posisi!" teriak Dante ke arah kegelapan.

​"Sayap barat aman, Tuan! Mereka masuk melalui jendela balkon lantai dua!" suara Marco terdengar dari kejauhan, diikuti oleh suara rentetan tembakan balasan.

​Tiba-tiba, seorang penyerang mengenakan topeng hitam muncul dari balik tirai beludru, hanya beberapa meter dari tempat Aruna bersandar. Pria itu mengarahkan senapan mesinnya ke arah mereka. Aruna mematung, tenggorokannya tercekat, kematian terasa begitu dekat.

​Namun, Dante lebih cepat. Tanpa ragu, tanpa berkedip, dia melepaskan dua tembakan tepat di tengah dahi penyerang itu. Tubuh pria bertopeng itu terhempas ke belakang, darahnya memercik ke tirai merah yang kini tampak lebih gelap.

​Aruna terisak, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ini bukan film. Ini adalah realitas berdarah dari dunia yang ia masuki. Ia melihat Dante—pria yang baru saja mencium keningnya dengan lembut—kini menatap mayat di depannya dengan ekspresi datar yang sangat mengerikan.

​"Dante... kita harus pergi dari sini," bisik Aruna dalam isak tangisnya.

​Dante berbalik menatapnya. Di tengah keremangan, mata Dante berkilat seperti mata serigala. Ia mengusap pipi Aruna yang terkena percikan darah penyerang tadi dengan ibu jarinya. "Kau aman denganku, Aruna. Tidak ada yang akan menyentuhmu."

​Tembakan semakin gencar. Musuh tampaknya tidak hanya mengincar nyawa Dante, tapi sengaja menciptakan kekacauan massal. Dante menyadari bahwa pilar marmer ini tidak akan bertahan lama sebagai perlindungan.

​"Dengarkan aku," Dante mencengkeram bahu Aruna, memaksa gadis itu fokus padanya. "Aku akan membawamu ke ruang rahasia di balik perpustakaan. Apapun yang kau dengar, jangan keluar sampai aku yang menjemputmu. Mengerti?"

​Aruna hanya bisa mengangguk pasrah. Dante menariknya keluar dari balik pilar, berlari menyusuri koridor yang dipenuhi asap. Mereka harus melewati aula yang kini dipenuhi mayat dan genangan darah. Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, tidak ingin melihat wajah-wajah yang tadi ia ajak bicara kini sudah tidak bernyawa.

​Saat mereka hampir mencapai tangga menuju perpustakaan, tiga penyerang lagi muncul dari arah dapur. Mereka tampaknya menyadari bahwa Dante sedang membawa "harta karun" berharganya.

​"Valerius! Serahkan wanita itu dan kau mungkin bisa mati dengan cepat!" teriak salah satu dari mereka.

​Dante tertawa. Itu adalah tawa yang paling menakutkan yang pernah Aruna dengar—dingin dan penuh ejekan. "Kau ingin menyentuhnya? Kau bahkan tidak cukup layak untuk mengirup udara yang sama dengannya."

​Dante mendorong Aruna ke balik sebuah meja mahoni besar yang terguling. "Tutup telingamu, Aruna."

​Apa yang terjadi selanjutnya adalah pembantaian yang sangat metodis. Dante bergerak di antara tembakan seperti bayangan. Dia tidak hanya menembak; dia menggunakan pisau kecil yang ia sembunyikan di pergelangan tangannya untuk menggorok leher salah satu penyerang yang mencoba mendekati Aruna. Gerakannya elegan namun brutal, sebuah tarian kematian yang telah diasah selama bertahun-tahun di dunia bawah tanah.

​Dalam waktu kurang dari satu menit, ketiga pria itu terkapar. Dante berdiri di tengah-tengah mereka, napasnya stabil, wajahnya bersih dari emosi. Ia menyimpan kembali pisaunya yang berlumuran darah dan mengulurkan tangannya pada Aruna.

​"Ayo. Waktu kita tidak banyak."

​Mereka sampai di perpustakaan. Dante menekan sebuah buku di rak paling pojok, dan sebuah pintu rahasia terbuka di balik rak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan kecil namun mewah, lengkap dengan monitor pengawas dan persediaan makanan.

​"Masuk," perintah Dante.

​Aruna melangkah masuk, namun ia berbalik dan memegang lengan Dante. "Kau... kau akan kembali, bukan?"

​Dante terdiam sejenak. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan—ada perpaduan antara obsesi, proteksi, dan sesuatu yang menyerupai kasih sayang yang terdistorsi. Ia membungkuk, mencium bibir Aruna dengan singkat namun sangat dalam, sebuah ciuman yang terasa seperti janji sekaligus ancaman.

​"Aku belum selesai denganmu, mawar kecilku. Tidak ada yang boleh membunuhmu, kecuali aku sendiri. Tunggu di sini."

​Pintu rahasia tertutup, meninggalkan Aruna dalam keheningan yang menyesakkan. Di layar monitor, ia bisa melihat apa yang terjadi di luar. Ia melihat Dante bergabung dengan Marco dan tim keamanannya. Mereka bergerak seperti mesin pembunuh, membersihkan sisa-sisa penyerang dengan kekejaman yang tak terbayangkan.

​Aruna melihat Dante menangkap salah satu penyerang yang masih hidup. Dante tidak langsung membunuhnya. Ia mematahkan jari-jari pria itu satu per satu di depan kamera, bertanya tentang siapa yang mengirim mereka. Pria itu berteriak kesakitan, namun Dante hanya tersenyum dingin.

​"Katakan pada tuanmu," suara Dante terdengar melalui audio monitor, "bahwa dia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia mencoba menyentuh apa yang menjadi milik Dante Valerius. Dan untuk itu, seluruh keluarganya akan membayar dengan darah."

​Aruna mematikan monitor itu. Ia tidak sanggup menonton lebih lama lagi. Ia merosot ke lantai, menangis dalam kegelapan ruangan itu.

​Ia menyadari sebuah kenyataan pahit malam ini. Dante Valerius memang seorang monster. Dia adalah iblis yang membantai tanpa ragu. Namun, iblis itulah satu-satunya hal yang berdiri di antara dirinya dan kematian. Iblis itulah yang menjaganya tetap bernapas di tengah dunia yang ingin menghancurkannya.

​Dan yang paling menakutkan dari semuanya adalah: di tengah kengerian ini, Aruna mulai merasa bahwa dia lebih takut kehilangan pelindung berdarahnya daripada takut pada musuh-musuh di luar sana.

​Beberapa jam kemudian, pintu rahasia terbuka. Dante berdiri di sana. Kemeja putihnya kini hampir sepenuhnya berwarna merah karena darah orang lain. Wajahnya kelelahan, namun matanya tetap tajam.

​"Semua sudah berakhir," ucap Dante pelan.

​Ia mendekati Aruna yang masih terduduk di lantai, menggendongnya dengan lembut seolah Aruna adalah barang pecah belah yang paling berharga. Aruna tidak melawan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Dante, mencium aroma mesiu dan darah yang kini menjadi aroma keselamatannya.

​"Kau aman, Aruna. Selalu aman bersamaku," bisik Dante saat ia membawa Aruna menuju kamar mereka, melewati koridor yang kini sedang dibersihkan dari mayat-mayat.

​Malam itu, di bawah rembulan yang menyaksikan pembantaian, Aruna menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar ibu susu. Ia telah menjadi bagian dari perang suci Dante Valerius. Dan di dunia ini, sekali kau masuk ke dalam dekapan sang singa, kau tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!