NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perawat dadakan

Keesokan paginya Lara terbangun dengan perasaan yang berbeda.

Tubuhnya terasa lebih ringan dibandingkan kemarin. Kepala yang semalam berdenyut kini hanya menyisakan rasa nyeri samar, seperti bekas lelah yang belum sepenuhnya hilang. Lara mengerjap pelan, masih setengah sadar, lalu refleks mengerutkan dahi saat merasakan sesuatu yang dingin dan lembap di jidatnya.

Sebuah handuk kecil.

Lara mengangkat tangan, menyentuhnya, lalu melepas handuk itu perlahan. Ia menatap benda itu dengan bingung, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia memakainya..

Tidak ada ingatan apa pun tentang semalam—selain tubuhnya yang sangat lelah dan keinginan untuk tidur.

Lara duduk di tepi kasur. Pandangannya menyapu kamar… dan di situlah kejanggalan berikutnya muncul.

Kamarnya sudah rapi bahkan terlalu rapi.

Selimut terlipat dengan rapi di ujung kasur, pakaian yang kemarin ia lempar sembarangan tidak lagi berserakan di lantai, tasnya sudah tergantung di tempatnya, bahkan bungkus cemilan yang semalam ia biarkan begitu saja sudah menghilang.

Lara menelan ludah.

“Sejak kapan…?” gumamnya pelan.

Otaknya berusaha menyusun kepingan ingatan, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar menyambung. Ia tidak ingat kapan beres-beres. Ia juga yakin, dalam kondisi kemarin, mustahil ia masih punya tenaga atau niat untuk merapikan kamar.

Satu kemungkinan muncul di benaknya.

Dan itu membuatnya merinding.

“Jangan-jangan…” Lara refleks memeluk tubuhnya sendiri. “Aku sleep walking lagi?”

Bayangan dirinya mondar-mandir tanpa sadar di tengah malam membuat Lara bergidik ngeri. Ia mengusap kedua lengannya sendiri, mencoba mengusir rasa tidak nyaman itu.

Lara menggeleng pelan, menertawakan pikirannya sendiri. “Kebanyakan mikir,” gumamnya.

Lara akhirnya keluar kamar karena tenggorokannya terasa sangat kering. Setiap langkahnya masih pelan, tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Namun baru beberapa langkah dari ambang pintu kamar, indra penciumannya menangkap sesuatu yang familiar.

Aroma kopi. Dan… bau masakan.

Lara berhenti.

Alisnya mengerut pelan saat matanya menangkap meja makan yang sudah tertata rapi. Ada secangkir kopi yang masih mengepul tipis, sepiring sarapan sederhana, dan suasana apartemen yang terasa—hidup.

Jantung Lara berdegup tidak karuan.

“Ini… ilusi, ya?” gumamnya lirih.

Ia berdiri terpaku, setengah percaya, setengah tidak. Tidak mungkin, kan? Paman Arka sengaja pulang ke Jakarta hanya untuk membuatkan ia sarapan?

Merinding halus menjalar di tengkuknya.

“Jangan-jangan sakitku makin parah…” bisiknya, mencoba menalar dengan logika seadanya.

Namun sebelum pikirannya semakin liar, suara langkah terdengar dari arah kamar seberang.

Lara menoleh. Dan di sanalah Arka muncul.

Pamannya itu keluar dari kamar dengan outfit yang sudah rapi, rambut tertata, tampilan khas pria dewasa yang siap menghadapi dunia. Begitu melihat Lara berdiri mematung di ruang tengah, Arka tersenyum—senyum yang lembut, hangat, dan terlalu nyata untuk sekadar halusinasi.

“Lara,” sapanya tenang.

“Sudah bangun, ya?”

Detik itu juga Lara seperti tersentak kembali ke kesadarannya.

Matanya membulat, napasnya tercekat sesaat.

“P—paman…?” suaranya terdengar sedikit gemetar. “Paman… sudah pulang?”

Lara menatap Arka seolah sedang memastikan sosok di depannya benar-benar nyata. Padahal ia ingat jelas, Arka pernah bilang akan kembali tiga hari lagi.

Dan kenyataan itu—bahwa Arka berdiri di depannya sekarang—membuat jantung Lara berdetak lebih kencang dari seharusnya.

Arka melangkah mendekat, sorot matanya meneliti wajah Lara dengan saksama.

“Kepalamu bagaimana?” tanyanya pelan. “Masih pusing?”

Lara berkedip, refleks menggeleng kecil.

“Udah mendingan, kok…” lalu ia terdiam sejenak, raut bingung kembali muncul. “Tapi… memangnya aku kenapa?”

Arka menarik napas tipis sebelum menjawab, nadanya dibuat setenang mungkin.

“Semalam kamu demam tinggi."

Ucapan itu membuat Lara spontan mengangkat tangan dan menyentuh jidatnya. Dia teringat dengan handuk kecil yang masih ada bekas lembapnya, ingatan semalam perlahan menyusun kepingan yang sempat kosong.

Kompresan.

Rasa dingin samar di jidat.

Dan kehangatan yang menenangkan.

Lara menatap Arka lagi, kali ini lebih lama.

“Jadi… yang ngerawat aku semalam…” ucapnya lirih, seolah takut jawabannya menghilang. “…paman?”

Arka mengangguk ringan, seolah itu bukan hal besar.

“Ya,begitulah”

Senyum Lara pun perlahan mengembang. Bukan senyum lebar penuh tawa, melainkan senyum kecil yang hangat—jujur. Ada perasaan asing yang merambat pelan di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia namai, tapi terasa nyaman. Dan… bahagia.

Lara menunduk sebentar, menyembunyikan ekspresinya, lalu kembali menatap Arka.

“Terima kasih, paman.”

Dua kata sederhana itu justru membuat Arka terdiam sejenak.

Karena tanpa ia sadari, senyum kecil Lara pagi itu terasa jauh lebih berarti dari apa pun yang ia tinggalkan demi pulang lebih cepat.

Arka melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Lara yang kini duduk diam di kursi makan sambil memegang gelas air hangat. Meski wajahnya sudah tidak sepucat seperti semalam, Arka tahu betul tubuh Lara belum sepenuhnya pulih.

“Kamu hari ini jangan ke kampus dulu,” katanya akhirnya, nadanya tenang tapi tidak memberi ruang bantahan.

Lara mendongak.

“Eh? Tapi—”

“Bukan larangan,” Arka memotong halus. “Tapi kondisi kamu masih belum pulih.”

Ucapan itu membuat Lara terdiam. Ada sesuatu dalam nada Arka—bukan memerintah, tapi khawatir. Terlalu khawatir, bahkan.

Arka melanjutkan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku harus ke kantor. Tapi kalau kamu ikut, kamu bisa istirahat di sana. dan kalau kamu butuh apa pun… aku ada.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan,

“Lebih aman begitu.”

Lara menatap Arka beberapa detik. Biasanya, ia akan sungkan. Biasanya, ia akan merasa merepotkan.

“Ikut paman nggak apa-apa?” tanyanya ragu.

Arka langsung mengangguk, terlalu cepat untuk ukuran orang yang biasanya penuh pertimbangan.

“Tentu.”

Lara pun tersenyum kecil.

“Ya udah… aku ikut.”

Dan tanpa mereka sadari, keputusan sederhana itu adalah bentuk lain dari kedekatan baru yang sedang tumbuh:

Arka yang tak lagi ingin meninggalkan Lara sendirian, dan Lara yang perlahan belajar bahwa bersandar pada Arka… ternyata membuat hidupnya terasa hangat.

Seperti yang sudah bisa ditebak, kemunculan Arka dan Lara bersama di pagi hari langsung menjadi bahan gosip hangat di hampir seluruh lantai perusahaan.

Bukan hanya karena Lara kembali muncul dengan santainya menembus area direktur, tapi juga karena isu yang beredar sejak pagi—bahwa Arka Pratama tiba-tiba membatalkan agenda luar kota dan bertolak pulang ke Jakarta tanpa pemberitahuan panjang.

“Katanya karena ada urusan penting.”

“Urusan penting apa sampai direktur sendiri yang pulang mendadak?”

“Jangan-jangan…”

Bisik-bisik itu berujung pada satu sosok.

Entah dari mana informasi itu bocor, tapi begitulah dunia orang-orang yang hidup di bawah sorotan. Satu gerakan kecil bisa ditarik menjadi seribu asumsi. Satu keputusan pribadi bisa berubah menjadi konsumsi publik.

Namun Arka—seperti biasa—tidak menggubris apa pun. Tatapannya tetap lurus, langkahnya mantap, dan ekspresinya dingin seperti tak ada apa-apa. Ia sudah terlalu lama hidup dengan rumor untuk merasa terganggu.

Begitu pula Lara. Baginya, selama hidupnya terasa tenang… selama hatinya terasa hangat…pendapat orang lain hanyalah suara latar yang tak perlu didengar.

Sesuai instruksi Arka, Lara langsung beristirahat di ruangannya. Sofa empuk itu kembali menjadi tempatnya merebahkan tubuh, kali ini dengan selimut tipis yang entah sejak kapan sudah tersedia di sana.

Namun yang tidak Lara sangka adalah… pamannya ternyata se-overprotektif ini.

Di sela-sela kesibukannya—entah itu rapat, tanda tangan dokumen, panggilan telepon—Arka selalu menyempatkan diri menanyakan keadaan Lara.

“Obatnya diminum jam berapa?”

“Kamu mau makan sesuatu? Sup? Bubur?”

“Jangan lupa minum air.”

Nada suaranya datar, tapi tindakannya… terlalu perhatian untuk sekadar kewajiban seorang wali.

Bahkan sesekali, Arka bangkit dari kursinya hanya untuk memastikan Lara benar-benar tidur dengan nyaman.

Seolah-olah ia sedang cosplay jadi perawat dadakan, lengkap dengan alarm internal untuk jadwal obat.

Lara memperhatikan semua itu dari balik kelopak mata yang setengah terpejam.

Dan tanpa ia sadari, dadanya menghangat pelan. Ada rasa bahagia yang sederhana.

Bukan karena dirawat. Tapi karena akhirnya… ia merasa dipilih untuk diperhatikan.

Oleh orang yang sejak lama ia sayangi.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!