Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 | KEMUNCULAN MIMPI BURUK
Ada yang mati.
Bau anyir menyeruak pekat dari darah yang menggenang di sekitar tubuh gempal yang tergolek pucat, bibirnya membiru. Laki-laki bersimbah darah itu telentang dengan cara yang janggal, seperti tidur dalam posisi tidak nyaman, kepalanya sedikit mendongak dengan mulut menganga, matanya yang separuh terbuka terlihat kosong dan mati.
Summer hanya dua langkah dari laki-laki itu, baru bangun dari tidur yang terasa sangat melelahkan sehingga kepalanya berdenyut pusing. Kedua matanya langsung membeliak saat menemukan mayat itu, jantungnya terasa berhenti berdetak selama beberapa saat, rongga dadanya seperti dijejali batu besar. Teriakan yang sudah tiba di ujung lidah ia sumpal dengan bekapan tangan yang gemetaran. Ia beringsut mundur hingga punggungnya menabrak tumpukan kardus.
Butuh tiga detik bagi Summer untuk menyadari tangan dan pakaiannya juga bersimbah darah, sudah separuh kering. Dengan gugup ia berusaha menyeka tangannya ke gaun birunya, gerakannya terlalu kasar dan terburu-buru. Ketakutan semakin menggumpal dan bertalu-talu, ada kalanya napasnya memburu hebat, lalu terhenti sama sekali di detik berikutnya.
Di tengah kekalutannya, pintu mendadak terpentang dengan bunyi derit ngilu. Summer terperanjat, seluruh gerakannya terhenti berikut napasnya yang tertahan. Dua sosok terlihat di ambang pintu, keterkejutan pekat menghiasi wajah mereka begitu menemukan pemandangan di dalam ruangan. Di belakang mereka ada kerumunan kecil yang berusaha mengintip melalui bahu kedua orang itu.
“Ga-Gabriel?” Suara yang nyaris serupa bisikan itu datang dari seorang perempuan yang mengenakan gaun berenda jingga, rambut hitam panjangnya tergerai dengan menawan. Betapa pun pias melingkupi wajahnya, kecantikannya yang mencolok sama sekali tidak menyusut.
Allura Sanders. Dan di pundak perempuan itu tersampir jas hitam untuk menutupi separuh tubuhnya. Jas milik Denver … Summer mengenalinya.
“Gabriel!” Pekikan Allura yang menyeruak histeris diikuti oleh tubuhnya yang seperti terlempar ketika terhuyung berlari ke arah Gabriel yang teronggok kaku. Gedebuk lutut membentur lantai terdengar menyakitkan seiring Allura yang menghambur memeluk Gabriel, jas Denver di pundaknya terjatuh begitu saja. “Bertahanlah—kumohon bertahanlah. Gabriel? Kau dengar aku?!”
Tangisan dan seruan bergetar Allura mengundang semakin banyak orang untuk berkerumun di pintu, teriakan ngeri dan syok bersahut-sahutan, beberapa langsung membalikkan badan dan meluah sejadi-jadinya.
“Panggilkan ambulans!” Dengan beruraian air mata, Allura menoleh ke kerumunan. Sekujur tubuhnya gemetaran. “Cepat!”
Kisruh memberangus akal sehat semua orang untuk sesaat. Ketika keadaan mulai kondusif, keberadaan Summer yang ganjil di pojok ruangan lekas merebut atensi. Pekikan dan kepanikan melindap menjadi senyap dalam hitungan detik. Mata-mata melebar tak percaya dengan apa yang mereka temukan. Lalu, hanya dalam jentikan jari tak kasat mata, jeritan yang beradu dengan seruan tertahan menjeluak tidak terkendali. Semua orang memandang ngeri Summer yang pucat pasi.
“Apa yang sudah kau lakukan, Summer?” Denver berjalan dengan langkah gentar ke arah Summer. Kengerian membayang di wajahnya.
“Denver, aku … aku—” Summer luar biasa kalut sampai-sampai tenggorokannya terasa mampat. Ia berusaha menyembunyikan tangannya yang bersimbah darah ke belakang punggung. “Aku tidak tahu apa yang terjadi.” Suara Summer bergetar dan memelas, kilat redup permohonan memancar dari mata cokelat keemasannya.
Seharusnya tidak begini. Seharusnya malam ini Summer menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Denver di pesta ulang tahun Bella Amory, memperbaiki hubungan mereka yang renggang belakangan ini. Summer merasakan tubuhnya panas oleh tangisan yang mengancam menyeruak keluar.
Denver mengatupkan matanya rapat-rapat, bibirnya terlipat tegang. Air mukanya muram ketika ia sedikit membuang wajah, bergumam setingkat lebih tinggi dari embusan angin, “Aku sudah gagal melindungimu.”
“Tidak, Denver—” Begitu beranjak berdiri, Summer tertegun saat melihat kerumunan berseru ngeri sembari mundur serempak dengan tatapan gentar seolah sedang melihat monster yang akan menghabisi nyawa mereka sebentar lagi.
“Pa-panggil polisi!” seorang pemuda berambut licin berseru serak, ia mencengkeram lengan temannya kuat-kuat.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Gabriel, Summer?”
Nada mendesak, penuh penekanan, dan sarat akan amarah yang dalam itu datang dari Allura yang masih memeluk Gabriel. Sorot permusuhan ia lesatkan tanpa ampun pada Summer.
“Demi Tuhan, aku tidak melakukan apa pun padanya. Saat aku bangun, dia sudah begitu—”
“Bahkan saat tertangkap basah seperti ini, kau masih mau mengelak?” Allura menaikkan suaranya.
“Omong kosong apa yang kau bicarakan? Jangan asal menuduh! Bukan aku yang membunuhnya—aku tidak mungkin melakukannya!” Summer menjerit frustrasi seraya meremas gaunnya, menimbulkan kerutan melingkar yang langsung buyar saat sebuah tangan menarik lengan atasnya cukup kasar hingga tubuhnya berayun cepat.
“Tenangkan dirimu!” tandas Denver, wajahnya mengeras.
Akhirnya air mata Summer luruh saat ia bertatapan dengan laki-laki yang tiga tahun belakangan menjalin hubungan dengannya itu. Bibirnya yang gemetar menggumamkan kata-kata seperti tengah melafalkan doa keselamatan. “Aku tidak melakukannya, Denver. Tolong percaya padaku ….”
Denver melonggarkan cekalannya, ekspresinya melembut. Ia mengangguk pelan, sudut bibirnya tertarik ke atas. Namun, alih-alih senyum menenangkan, yang Summer dapati adalah seringaian samar pemuda itu.
“Ya. Aku percaya padamu.”
...****...
“Kurang ajar. Dasar anak tidak berguna!”
Seruan kasar dan berat seorang pria paruh baya yang dibarengi dengan gebrakan di meja tidak berhasil membuat Summer mengubah posisinya. Sejak memasuki ruangan yang tidak terlalu luas itu, ia hanya menatap meja dengan sorot tanpa kehidupan. Summer seperti sedang mendeklarasikan bahwa dirinya tidak lagi peduli dengan apa pun.
“Hari ini kau membuktikan jika wanita sampah akan menghasilkan keturunan sampah juga!”
“Tenanglah, Julian. Summer akan semakin tertekan kalau kau seperti ini.”
Begitu suara yang kentara dibuat-buat prihatin itu mendayu lembut, barulah Summer memutar mata sembari mendengus pelan. Wanita itulah yang menjadi salah satu variabel penting yang membuat hidup Summer semakin terasa seperti neraka.
“Tiga tahun—sialan! Sejak awal kau hanya membuat masalah-masalah tidak berguna, bertingkah sesukamu tanpa tahu konsekuensinya. Lihat sekarang, namaku tercoreng oleh tindakan gegabahmu. Reputasi yang kubangun seumur hidup, kau injak-injak dalam semalam.” Julian, papa Summer, menendang kaki meja, menyugar kasar rambutnya sembari mendengus keras-keras.
Jemari Summer di bawah meja mengepal. Banyak cara telah ia kerahkan untuk menyangkal tuduhan terhadap pembunuhan Gabriel, namun semua bukti di tempat kejadian perkara mengindikasikan ia pembunuhnya. Sidik jarinya bertebaran di pisau lipat sebagai alat pembunuhan dan gudang penyimpanan, DNA dari kulitnya ditemukan di kuku Gabriel yang menandakan sempat terjadi pertengkaran fisik di antara mereka.
Summer yang waktu itu dalam pengaruh alkohol dan obat tidur, menjadi asumsi kuat pihak penyidik jika terjadi distorsi ingatan sehingga Summer tidak ingat dengan jelas kejadian malam itu. Tambahkan mengenai saksi yang bukan hanya satu atau dua orang, menyaksikan langsung bagaimana Summer berlumuran darah tak jauh dari mayat Gabriel. Singkatnya, kepolisian menyimpulkan jika ini adalah kasus pembunuhan sebagai bentuk pembelaan diri karena adanya percobaan pemerkosaan.
Yang menjadi masalah besar, bukan hanya ada satu tusukan di tubuh Gabriel, melainkan empat. Tusukan pertama sudah fatal merenggut nyawanya, namun si pembunuh tetap melakukan tiga tusukan lain dengan perkiraan jarak lima sampai sepuluh menit. Hal inilah yang digunakan jaksa penuntut umum untuk meyakinkan persidangan jika ini tidak lagi murni sebagai kasus pembunuhan untuk melindungi diri, melainkan ada faktor emosional lain—kelalaian atas provokasi berat. Jaksa menuntut lima tahun penjara. Namun, setelah banding, ditambah setumpuk uang dari Julian untuk hakim, tiga tahun penjara adalah putusan final.
“Maafkan papamu, Summer. Kau tahu, kan, dia tidak serius? Aduh, padahal seharusnya kau sedang butuh dukungan sebanyak mungkin. Aku tidak bisa membayangkan ketakutan yang kau rasakan sekarang.” Wanita itu menyeka sudut matanya.
Lauren. Namanya Lauren Dane, yang dua tahun belakangan ini mengubah namanya menjadi Lauren Almaja setelah menikah dengan Julian. Secara ikatan di mata sosial, ia adalah ibu tiri Summer. Namun, sampai kapan pun Summer tidak akan sudi menyebutnya “ibu”.
“Berada di sini hanya membuat darahku naik.” Derit kursi yang terdorong terdengar bersamaan dengan Julian yang beranjak berdiri. Ia melemparkan sorot muak pada Summer, mendesis. “Mulai sekarang, urus dirimu sendiri. Aku tidak akan peduli lagi meskipun kau sekarat dan membusuk di sini.”
Tanpa sedikit pun menoleh ke arah Summer lagi, Julian keluar ruangan dengan langkah lebar-lebar dan wajah merah padam. Diam-diam Summer menggigit pipi dalamnya. Setiap tarikan napas terasa menyengat karena ia bertahan mati-matian agar tidak menangis. Seolah tiga tahun vonis penjara tidak cukup menyiksa, Julian mencabik habis harga diri Summer yang tersisa, mengganjar hukuman mati atas apa yang tidak pernah ia lakukan.
Lengang sejenak tercipta di ruang kunjungan itu setelah pintu dibanting tertutup, Summer merasa dinding-dinding bercat mengelupas itu berderak mendekat, mengimpitnya dengan menyakitkan.
“Astaga, menyedihkan sekali.” Lauren memindai singkat penampilan Summer yang kini sudah mengenakan baju tahanan. Seringaian terbit di wajahnya yang meskipun sudah mendapat perawatan terbaik, tetap masih terlihat beberapa gurat samar penuaan. “Selamat bersenang-senang bersama sampah yang lain, ya, Summer. Sementara kau membusuk di sini, aku akan menghambur-hamburkan uang papamu.”
Ujung ucapan itu diikuti dengan tawa renyah, sebelum dengan gerakan pelan Lauren beranjak dari duduknya, lantas berlalu begitu saja.
Dalam keheningan yang terasa sedang menyayat kulitnya, Summer mengeratkan kepalan tangannya. Ia tidak peduli ketika kuku-kukunya menembus kulit, membuat darah keluar. Summer sedang mengabarkan betapa ia membenci keluarga sialannya, mengutuk segala hal yang menjadi bagian dari keluarga itu, pun muak dengan “Almaja” yang tersemat sebagai nama belakangnya. Keluarga yang dipandang terhormat ini nyatanya tidak lebih dari sekadar sampul indah untuk sebuah cerita tragedi yang memuakkan.
Dalam senyap di sana, Summer menatap kursi seberang yang kosong, menggumamkan perkataan seolah ada seseorang yang duduk di sana.
“Aku masih memberimu waktu, Denver. Datanglah padaku, berlututlah dan memohon pengampunanku. Maka aku akan memaafkanmu.”
...****...