Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Jejak yang Tertinggal
Kepergian Arlan ke kantor meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar mewah itu. Amara masih terduduk lemas di lantai walk-in closet, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang terkuras habis. Ia merapikan seragamnya yang kusut dengan tangan gemetar, mengancingkan satu per satu kancingnya sambil merutuki dirinya sendiri yang seolah tidak berdaya di bawah §êñ†µhåñ Arlan.
Siang harinya, Amara membawa Kenzo ke ruang tengah. Bayi itu nampak tenang dan ceria setelah mendapatkan asupan asinya yang berlimpah tadi pagi. Amara sedang berlutut di atas karpet bulu, dengan telaten mengganti popok Kenzo. Namun, karena gerakannya yang terlalu banyak membungkuk, kerah seragamnya sedikit bergeser ke samping.
Mbak Lasmi yang kebetulan lewat membawa nampan berisi camilan, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang janggal di kulit leher Amara yang putih bersih.
"Loh, Mara... itu lehermu kenapa?" tanya Mbak Lasmi sambil meletakkan nampan di atas meja dan mendekat dengan raut wajah cemas.
Jantung Amara seolah berhenti berdetak. Ia segera menarik kerah bajunya ke atas, mencoba menutupi tanda kemerahan yang sebenarnya adalah bekas hisapan panas dari bibir Arlan tadi pagi. "E-eh, ini Mbak... tidak apa-apa," jawab Amara terbata-bata.
Mbak Lasmi tidak langsung percaya. Ia membungkuk, mencoba melihat lebih dekat. "Merah sekali itu, agak sedikit bengkak. Apa kamu alergi sesuatu? Atau jangan-jangan ada kutu di kamar barumu?"
Amara menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal. "I-ini... sepertinya Mara digigit serangga, Mbak. Tadi malam saat saya di taman atau mungkin saat tidur. Rasanya memang agak sedikit perih."
Mbak Lasmi menghela napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aduh, Mara. Makanya kamu harus lebih hati-hati. Di mansion ini taman belakangnya memang sedikit rimbun, banyak serangga malam yang gigitannya bisa membekas lama. Apalagi kulitmu itu putih bersih, jadi kelihatan sekali merah-merahnya."
"Iya, Mbak. Nanti Mara kasih minyak kayu putih saja," ucap Amara sambil kembali fokus pada Kenzo, berusaha menghindari kontak mata dengan Mbak Lasmi.
"Ya sudah, nanti Mbak minta Siti menyemprot obat nyamuk di kamarmu. Hati-hati ya, Mara. Kamu itu sekarang kesayangan Tuan Muda Kenzo, jangan sampai sakit gara-gara serangga nakal. Kalau lukanya tambah parah, bisa-bisa Tuan Arlan marah besar pada kami semua," pesan Mbak Lasmi sebelum melangkah pergi menuju dapur.
Amara mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang setelah Mbak Lasmi menjauh. Ia menyentuh bekas merah di lehernya itu dengan ujung jari, merasakan sisa denyut gairah yang masih tertinggal. Serangga yang menggigitnya bukan berasal dari taman, melainkan "serangga" pemangsa yang kini sedang duduk di kursi kebesarannya di kantor, menunggu waktu pulang untuk kembali menyesap kehidupannya.
Amara menatap Kenzo yang tersenyum padanya, seolah bayi itu adalah satu-satunya saksi bisu atas apa yang terjadi di balik pintu kamar ayahnya. Ia tahu, kebohongan ini tidak akan bisa bertahan selamanya, namun ia tidak punya pilihan selain terus terjebak dalam permainan panas sang tuan.
***
Di pusat distrik bisnis Ibu Kota, di lantai paling atas gedung pencakar langit Aditama Group, suasana di dalam ruang rapat utama terasa begitu mencekam. AC sentral yang dingin seolah tidak mampu meredam hawa panas dari perdebatan para direktur divisi.
Arlan Aditama duduk di kursi kebesarannya yang berada di ujung meja panjang. Ia bersandar dengan angkuh, kedua tangannya saling bertaut di depan dagu. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah tumpukan dokumen di tengah meja, sementara di sekelilingnya, suara adu argumen tentang laporan laba kuartal ketiga terus berdengung.
Namun, di balik wajah kaku dan dingin itu, pikiran Arlan sedang berkelana jauh ke tempat lain.
Setiap kali ia mengedipkan mata, bayangan visual di walk-in closet tadi pagi kembali muncul dengan detail yang sangat jernih. Ia teringat bagaimana kµlï† putih Amara meremang saat ia §êñ†µh, bagaimana aroma susu yang manis dan hangat memenuhi indra penciumannya, dan yang paling mengganggu fokusnya: rasa kenyal dan berat dari þåɏµÐårå besar Amara yang pas di telapak tangannya.
Sial, aku haus lagi, batin Arlan.
Lidah Arlan secara refleks menyapu bibirnya sendiri, seolah masih bisa merasakan sisa rasa ASI Amara yang tertinggal di sana. Bayangan saat ia menyatukan kedua þµ†ïñg bengkak gadis itu dan mêñghï§åþñɏå bersamaan membuat fokusnya benar-benar hancur. Kerongkongannya terasa kering, dan ada desakan aneh di bawah sana yang membuatnya tidak nyaman duduk di kursi kulitnya.
Tiba-tiba, Arlan menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir imajinasi liar yang tidak pada tempatnya itu. Bisa-bisanya aku memikirkan gadis desa itu di tengah rapat penting ini? Dia hanya seorang pengasuh! batinnya memarahi diri sendiri.
Namun, reaksi spontan Arlan itu membawa dampak luar biasa di ruang rapat.
Seketika, suara adu argumen terhenti total. Keheningan yang mematikan jatuh di ruangan itu. Direktur Pemasaran yang tadi sedang bicara dengan nada tinggi mendadak pucat pasi, mulutnya mengatup rapat. Para peserta rapat lainnya menegang di kursi masing-masing, saling lirik dengan penuh ketakutan.
Mereka mengira gelengan kepala sang Tuan Besar adalah tanda ketidakpuasan yang amat sangat terhadap argumen mereka. Mereka takut satu kesalahan bicara akan membuat karier mereka berakhir hari itu juga.
"T-Tuan Arlan..." suara Direktur Keuangan bergetar memecah keheningan. "Apa... apa ada bagian dari laporan kami yang salah? Kami bisa segera memperbaikinya."
Arlan tersentak dari lamunannya. Ia menyadari seluruh mata di ruangan itu menatapnya dengan raut wajah seolah-olah sedang menunggu vonis mati. Ia berdeham berat, mencoba mengembalikan wibawanya meski bayangan dada Amara masih menari-nari di pelupuk matanya.
"Rapat hari ini selesai. Tinggalkan dokumennya, aku akan membacanya nanti," ucap Arlan singkat sambil berdiri dan menyambar jasnya yang tersampir di kursi.
Tanpa menunggu balasan dari bawahannya yang masih mematung bingung, Arlan melangkah lebar keluar dari ruang rapat. Ia mengabaikan sekretarisnya yang mencoba mengejar dengan jadwal pertemuan selanjutnya.
"Batalkan semua jadwal sore ini. Aku pulang," perintah Arlan dingin.
Di dalam lift pribadi menuju rubanah, Arlan terus melonggarkan dasinya. Ia tidak peduli jika bawahannya menganggapnya aneh. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu: ia harus sampai di rumah secepat mungkin, mengunci pintu kamar, dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Amara yang penuh dengan "obat" bagi dahaganya yang kian menggila.