NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Mesin perahu nelayan itu menderu payah, suaranya seperti batuk orang tua yang dipaksa berlari. Yoga memegang kemudi dengan mata yang terus waspada menatap radar kecil di depannya. Di belakang mereka, lampu-lampu helikopter masih menyisir permukaan laut, namun jaraknya mulai menjauh. Singapura tertinggal di belakang sebagai siluet gedung-gedung tinggi yang semakin samar, sementara di depan, kegelapan Selat Malaka menunggu untuk menelan mereka.

Almira masih menyandarkan kepalanya di bahu Risky. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena angin laut yang menusuk tulang, tapi karena sisa-sisa trauma dari rekaman video tadi. Bayangan ibunya yang berani menghadapi maut masih menghantui pikirannya.

"Al, kau harus makan sedikit," ucap Risky pelan. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti kering. "Kita belum tahu berapa lama lagi kita akan berada di atas air sebelum kapal penyelamat dari teman Panji datang."

Almira menggeleng. "Aku tidak bisa menelan apa-apa, Risky. Kepalaku terus memutar wajah Ayahmu di video itu. Kenapa dia tidak bicara saja pada Ayahku dulu? Kenapa dia harus membiarkan Ibu mati?"

Risky terdiam. Ia menatap tangannya yang kaku karena dingin. "Ayahku adalah pria yang mencintai kekuasaan lebih dari apa pun, Al. Tapi di detik-detik terakhirnya, saat dia tahu dia akan mati, dia sadar bahwa kekuasaan tidak bisa membawanya tidur dengan tenang. Dia menyimpan semua itu bukan untuk melindungimu, tapi untuk menebus dosanya sendiri. Dia pengecut, Al. Dan aku... aku takut aku mewarisi sifat itu."

Almira menegakkan duduknya, menatap Risky tepat di matanya. "Kau bukan pengecut. Pengecut tidak akan melompat dari jendela lantai tiga bersamaku. Pengecut tidak akan berdiri di depan moncong senjata Sekjen untuk melindungiku. Hentikan menyalahkan dirimu atas darah yang tidak bisa kau pilih."

Tiba-tiba, Yoga berteriak dari depan. "Ada masalah! Lihat jam dua!"

Risky dan Almira berdiri, berpegangan pada pinggiran perahu yang licin. Dari arah kegelapan, sebuah kapal patroli cepat tanpa lampu navigasi muncul. Kapal itu tidak memiliki logo kepolisian resmi, namun ukurannya cukup besar untuk menggilas perahu nelayan mereka.

"Itu bukan polisi," bisik Yoga, wajahnya pucat. "Itu kapal tentara bayaran. Mereka dikirim untuk memastikan kita tidak pernah sampai ke perairan internasional."

"Yoga, matikan mesin!" perintah Risky.

"Apa? Kalau dimatikan kita jadi sasaran empuk!"

"Lakukan saja! Mereka melacak suara mesin dan panas!"

Yoga memutar tuas, dan seketika kesunyian yang mencekam menyelimuti mereka. Perahu itu kini hanya terombang-ambing oleh ombak. Mereka semua merunduk di lantai perahu yang becek oleh air laut. Pak Baskoro mendekap Debo, sementara Risky menarik Almira ke dalam pelukannya, menutupi tubuh gadis itu dengan jaketnya sendiri.

Kapal patroli itu lewat hanya beberapa puluh meter dari posisi mereka. Suara mesinnya yang berat membuat perahu nelayan mereka bergoyang hebat. Sinar lampu sorot dari kapal itu menyapu permukaan air, lewat hanya beberapa inci dari ujung perahu mereka. Almira menahan napas, tangannya mencengkeram erat kemeja Risky. Ia bisa merasakan detak jantung Risky yang berpacu kencang, sebuah pengingat bahwa di balik ketenangannya, pria ini juga sedang bertaruh nyawa.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, suara mesin kapal patroli itu menjauh.

"Hampir saja," bisik Debo dengan suara bergetar.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari arah belakang, suara helikopter kembali terdengar, dan kali ini lebih dari satu. Sepertinya mereka melakukan pengepungan dari dua arah.

"Mereka tidak akan membiarkan video itu jadi akhir cerita," ucap Pak Baskoro dengan nada getir. "Wirayuda mungkin sudah jatuh, tapi orang-orang yang namanya muncul di video itu adalah menteri, pengusaha, dan jenderal yang masih aktif. Mereka punya segalanya untuk membungkam kita selamanya."

Risky berdiri, menatap ke arah koordinat yang seharusnya menjadi titik jemput mereka. "Kita tidak bisa menunggu kapal Panji. Kita harus mengubah arah."

"Ke mana?" tanya Yoga.

"Pulau Batam. Tapi bukan lewat pelabuhan resmi," Risky menunjuk ke arah gugusan pulau-pulau kecil yang tampak seperti bayangan hitam di kejauhan. "Ada kampung nelayan tua di sana tempat kakekku dulu tinggal. Tidak ada di peta digital terbaru. Kita bisa bersembunyi di sana sambil mengatur langkah berikutnya."

"Tapi bahan bakar kita tipis, Risky," Yoga memperingatkan.

"Gunakan layar kalau perlu! Kita harus hilang dari radar sekarang juga!"

Saat Yoga kembali menyalakan mesin dengan suara yang paling pelan, Almira menggenggam tangan Risky. "Risky, kalau kita tidak berhasil sampai ke sana..."

Risky memotong kalimat Almira dengan sebuah kecupan singkat namun dalam di keningnya. "Kita akan sampai. Aku belum sempat membawamu ke tempat yang kujanjikan, ingat? Tempat di mana tidak ada lagi yang perlu kita cari selain satu sama lain."

Almira tersenyum tipis di tengah kegelapan. Jawaban yang mereka cari memang telah ditemukan, tapi perjuangan untuk menjaga agar jawaban itu tidak mati bersama mereka baru saja dimulai. Di atas perahu yang rapuh itu, di tengah kepungan musuh yang tak terlihat, mereka berlayar menuju ketidakpastian, dipandu oleh satu-satunya hal yang tidak bisa dihancurkan oleh konspirasi: harapan.

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!