NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Mulai Terbuka

Awalnya, dia tampak begitu baik dan perhatian. Namun, semua bayangan indah itu seolah runtuh hanya dalam waktu satu minggu setelah kami menikah. Puncaknya terjadi saat acara resepsi di kediaman suamiku.

Malam itu, aku merasa bosan dan jenuh di dalam kamar. Niat hatiku ingin keluar untuk menemui suamiku, mengajaknya masuk untuk beristirahat karena hari sudah sangat larut. Namun, begitu melongok ke luar, aku dikejutkan oleh pemandangan yang sama sekali tak pernah kusukai—bahkan sangat kubenci.

"Katanya lulusan pesantren dan tahu cara menghormati istri? Tapi apa ini?" umpatku pedih dalam hati.

Aku melihat suamiku, Ahmad, sedang tertawa terbahak-bahak bersama segerombolan teman-temannya. Di hadapan mereka, tersaji minuman haram yang sangat tidak pantas. Lingkaran pertemanan dan aktivitas mereka malam itu benar-benar jauh dari gambaran keluarga kecil impianku.

"Ya Allah... inikah yang katanya anak baik dan sopan? Astaga, ini mah namanya lulusan orang teler, bukan lulusan santri!" bisikku dengan suara bergetar.

Keyakinanku selama ini adalah seorang lulusan pesantren pastilah sosok yang santun dan taat pada agama. Namun, pemandangan di depanku bicara lain. Rasanya aku ingin berteriak. Kenapa aku bisa begitu saja percaya pada omongan orang? Kenapa aku sebodoh ini memercayakan hidupku padanya?

"Mamak... Yani ingin pulang!" rengekku pelan di balik jendela, menatap pemandangan memuakkan itu dengan air mata yang mulai menggenang.

Aku segera berbalik dan kembali ke dalam kamar. Hatiku sudah terlalu muak untuk melihat orang yang seolah tak memiliki akhlak itu. Ditambah lagi, rasa lelah fisik mulai menyerang. Sendi-sendi kakiku terasa pegal luar biasa karena seharian penuh berdiri mengenakan high heels tanpa ada waktu istirahat sedikit pun. Namun, rasa sakit di kakiku tak sebanding dengan rasa sesak dan kecewa yang kini memenuhi dadaku.

Luka yang Bertumpuk

Rasa muakku malam ini semakin berlipat ganda jika mengingat kejadian menyebalkan tadi siang. Di tengah acara resepsi, tiba-tiba muncul seorang tamu perempuan dengan penampilan yang sangat mencolok; tubuhnya proposional dengan rambut panjang tergerai yang tampak berkilau.

"Siapa dia?" bisikku pada suamiku, menuntut jawaban. Namun, Ahmad tidak menjawab. Ia justru hanya menarik tanganku dan memintaku tetap berdiri di sampingnya untuk menemani.

Rasa penasaranku segera terjawab saat aku mulai menyimak percakapan mereka. Dadaku terasa sesak seketika—ternyata mereka pernah menjalin hubungan asmara. Gila saja! Aku dipaksa berdiri di sana hanya untuk menemani suamiku menyambut mantannya?

"Malas sekali rasanya! Lebih baik aku bergabung dengan Bapak dan Ibu mertua di depan sana, menyambut tamu lain yang lebih jelas," batinku geram.

Aku pun mencoba beranjak pergi, berharap Ahmad akan menyadarinya dan mengikutiku. Namun, kenyataannya jauh dari harapan. Ia justru tetap di sana, asyik mengobrol, bahkan tertawa lepas dengan mantannya itu seolah keberadaanku tidak ada artinya.

"Njiir... gila! Masak aku ditinggal sendiri begini? Malah asyik ketawa-ketiwi lagi. Bete banget!" Hatiku terus meracau penuh emosi.

Ingin sekali aku berteriak atau memanggilnya untuk berdebat, tapi aku terlalu lelah. Ingin juga rasanya aku menarik rambut perempuan itu—habisnya dia genit sekali pada laki-laki yang baru saja sah menjadi suami orang! Namun, aku berusaha menahan diri dan mengabaikan mereka, meski rasa panas di hati sulit sekali dipadamkan. Suamiku benar-benar tidak peka, ia sama sekali tidak memikirkan perasaanku yang terluka di hari pernikahan kami sendiri.

Lanjut..

Luka di hatiku ternyata belum seberapa. Hal mengejutkan yang baru saja kuketahui benar-benar menghancurkan sisa-sisa kepercayaanku padanya. Ternyata, bukan hanya minuman haram saja yang menjadi pelariannya. Di balik sosok yang katanya lulusan pesantren itu, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan: ia kecanduan judi online .

Malam semakin larut dan tubuhku sudah sangat lelah. Sebenarnya, aku ingin sekali menutup mata dan berhenti memikirkan kenyataan pahit ini. Awalnya, kubiarkan saja suamiku masih asyik di luar bersama kawan-kawannya. Namun, semakin lama aku menunggu di kamar sendirian, rasa jenuh dan gelisah itu justru berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap.

Aku sudah tidak kuat lagi menahan ini semua. Dadaku sesak, dan darahku rasanya mendidih setiap kali membayangkan apa yang dia lakukan di luar sana. Ingin sekali aku segera keluar, menghampirinya, dan memaki suamiku tepat di depan wajahnya saat itu juga.

Kesabaranku akhirnya mencapai batasnya. Aku memutuskan untuk keluar dan menghampirinya. Sambil bersedekap dada, aku berdiri mematung di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan tajam. Awalnya suamiku belum menyadari kehadiranku, namun beberapa menit kemudian ia mendongak. Bukannya merasa bersalah, ia malah menyenggir lebar ke arahku. Tak lama setelah itu, ia pun berpamitan kepada kawan-kawannya untuk menyudahi perkumpulan malam itu.

Begitu memasuki kamar, suamiku langsung mengajakku melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri. Kami baru benar-benar bisa beristirahat saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Jujur saja, saat itu aku sudah merasa masa bodoh; aku tidak peduli lagi dia mau minum atau melakukan apa pun di luar sana.

Jika bukan karena merasa dipaksa oleh keadaan, aku pun sebenarnya enggan melayaninya. Namun, di sisi lain, aku dihantui rasa takut akan berdosa jika menolak ajakan suamiku sendiri. Perasaanku benar-benar mati rasa malam itu.

Setelah semuanya selesai, aku segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Rasanya aku ingin membasuh semua beban yang menghimpit hatiku seharian ini. Begitu kembali ke tempat tidur dan membaringkan tubuh, rasa lelah yang luar biasa membuat mataku terasa sangat berat. Tanpa butuh waktu lama, aku pun larut dalam tidur yang amat dalam, melupakan sejenak kenyataan pahit yang baru saja kumulai.

******

Pagi yang Riuh dan Tuntutan Ipar

 

Keesokan harinya, tepat pukul enam pagi saat kami masih terlelap, istirahat kami terganggu oleh ketukan pintu yang sangat nyaring dan memekakkan telinga.

Tok! Tok! Tok!

Mataku masih merah dan terasa perih akibat kurang tidur. Sambil bergumam dengan mata yang masih sayup, aku mengeluh dalam hati, "Ya Allah... ada apa sih pagi-pagi begini sudah berisik? Suara gedoran pintunya kasar sekali, sudah seperti orang yang sedang menggerebek perselingkuhan saja!"

"Yang, bangun... bukain pintunya. Siapa sih itu ketok-ketok? Aku masih ngantuk banget," gerutuku sambil menggoyang-goyangkan lengan suamiku. Namun, Ahmad sama sekali tidak bereaksi. Akhirnya, dengan sisa tenaga, aku pun terpaksa bangkit dan membuka pintu sendiri.

Begitu pintu terbuka, sosok kakak ipar sudah berdiri di sana dengan wajah yang tidak ramah.

"Bangun! Jadi pengantin itu harusnya bangun pagi, nyapu! Pamali kalau matahari sudah terbit belum bangun," cecarnya tanpa basa-basi. "Sana nyapu teras depan! Itu banyak piring kotor yang harus dikembalikan. Bantu-bantu yang lain kek, kasihan mereka sudah pada capek!"

Setelah memberikan "ceramah" panjang pagi itu, ia pun berlalu begitu saja.

"Iya, Mbak..." jawabku lirih. Aku pun menguncir rambut dengan asal, lalu mengambil sapu lidi yang sudah disiapkan oleh kakak iparku itu.

"Aish... memangnya dia pikir aku tidak capek? Aku habis melayani adiknya yang super itu sampai pagi!" batinku meracau penuh kekesalan.

Jujur saja, kondisiku saat itu sangat lemas dan mengantuk luar biasa. Aku menyapu teras sebisanya, tanpa gairah sedikit pun. Rasanya kakiku sudah tidak sanggup lagi menopang tubuh untuk berdiri. Baru sehari menjadi bagian dari keluarga ini, aku sudah dihujani berbagai tuntutan ini dan itu tanpa peduli betapa lelahnya aku.

Ingin rasanya aku pulang ke rumahku sendiri. Di sana jauh lebih tenang dan damai, masih banyak orang yang peduli dan mau saling membantu. Hidup serumah dengan lima saudara suami ternyata jauh lebih berat dari yang kubayangkan. Benar kata orang, terkadang campur tangan saudara ipar bisa menjadi ujian terberat dalam rumah tangga.

Memang tidak semua saudara itu buruk, tapi kakak iparku yang pertama ini benar-benar kolot. Sikapnya dingin dan terkesan masa bodoh dengan perasaan orang lain, entah itu kepada adik ipar maupun kakak iparnya sendiri.

"Ya Allah... mending aku ngekos saja daripada harus tinggal satu atap dengan saudara-saudaranya," keluhku dalam hati. Rasa kesal, kecewa, dan sedih bercampur aduk menjadi satu.

Sambil menahan kantuk, aku mulai menyapu halaman bekas acara resepsi kemarin. Aku juga harus memilah gelas dan piring mana yang milik RT dan mana yang milik pribadi agar bisa segera dikembalikan. Namun, tugas belum berakhir. Setelah halaman bersih, aku langsung dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya: setumpuk cucian milik suamiku.

"Ya ampun! Kenapa cuciannya bisa sebanyak ini? Sampai satu ember bak besar!" gumamku lemas saat menatap tumpukan baju kotor di dalam kamar mandi.

Hari sudah semakin siang, tapi pekerjaanku seolah tak ada habisnya. Rasanya tubuhku ingin ambruk, namun aku tahu tak ada pilihan lain selain menyelesaikannya sendirian di rumah yang mulai terasa seperti penjara bagiku.

Lama ku tatap cucian sampai-sampai kebawa lamunan, ku pantengin cucian sehingga terbang dan mencuci sendiri. Lalu akupin tersadar gimana bisa aku sulap, aku aja orang biasa masak punya ilmu sihir segala.

'Duh kalau melamun gituan kapan bisa bergerak tu baju?." Umpatku kesal.

Dengan telaten aku mengambil air untuk rendam bajunya, lalu setelahnya aku cuci bersih bilas. Dan aku angkat jemur diluar depan teras rumah.

Selesai mencuci baju yang lumayan berat, setelah baju sudah beres tiba-tiba ada sayurab lewat. Akupun masuk mengambil uang dan belanja yang mau aku makan sendiri.

Sebenarnya mamak mertuaku masak, tapi dilidahku nggam begitu cocok kadang masak tanpa rasa, terus asin, dan sayurnya tidak ada yang lain selain sayur bening terus.

Belanja beres aku pun masak. Selesai masak kini aku masuk kamar buat berbaring., Akan tetapi. Baru saja aku hendak berbaring kini terdengar lagi ketukan pintu.

Cukup lama aku menatap tumpukan cucian itu. Saking lelahnya, pikiranku mulai melayang jauh ke alam khayal.

Aku menatapnya begitu dalam, membayangkan baju-baju itu tiba-tiba terbang dan mencuci dirinya sendiri secara otomatis. Namun, sedetik kemudian aku tersadar.

"Mana mungkin bisa disulap? Aku kan manusia biasa, bukan penyihir yang punya kekuatan sakti," umpatku kesal pada diri sendiri. "Duh, kalau cuma dipelototi sambil melamun, kapan baju-baju ini bisa bersih?"

Akhirnya, dengan sisa tenaga, aku mulai mengambil air untuk merendam baju-baju itu. Satu per satu aku kucek dengan telaten, dibilas sampai bersih, lalu kuangkat untuk dijemur di depan teras rumah.

Rasanya badanku remuk setelah menyelesaikan cucian seberat itu. Namun, tepat saat jemuran terakhir sudah rapi, terdengar suara pedagang sayur lewat di depan rumah.

Aku bergegas masuk mengambil dompet dan berbelanja bahan makanan untuk kumasak sendiri.

Sejujurnya, Mamak mertuaku memang memasak setiap hari. Tapi entah kenapa, masakannya jarang yang cocok di lidahku. Kadang rasanya hambar, terkadang sangat asin, dan menu sayurnya hampir selalu sayur bening yang membosankan.

Akhirnya aku memutuskan untuk memasak menu yang sesuai dengan selera makanku sendiri agar bisa sedikit menikmati hidup.

Begitu urusan dapur beres, aku segera masuk ke kamar. Rasanya inilah saat yang paling kutunggu-tunggu; merebahkan punggung di atas kasur yang empuk. Namun, baru saja tubuhku hendak menyentuh kasur, suara itu terdengar lagi.

Kesabaran yang Terus Diuji

Tok! Tok! Tok!!!!!

Gedoran pintu itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras.

"Iya, Mbak!" sahutku malas. Aku sudah bisa menebak siapa pelakunya. Begitu pintu terbuka, benar saja, kakak iparku sudah berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa.

"Itu tolong... isikan galon dulu," ucapnya singkat sambil menyodorkan sebuah galon kosong dan lembaran uang.

"Ya Allah!!!!" jeritku dalam hati. "Memangnya tidak ada waktu tenang sedikit pun untukku di sini?" Lajutku

Rasanya ingin sekali aku berteriak. Aku baru saja ingin memejamkan mata setelah berkutat dengan cucian dan dapur, tapi sekarang aku malah disuruh menjadi tukang angkut galon. Sementara itu, aku melirik suamiku yang masih terlelap dengan sangat pulas.

Melihatnya tidur seperti itu, rasa kesalku semakin memuncak. Ingin rasanya aku membekap hidung dan mulutnya sekalian agar dia berhenti mendengkur.

Tidurnya sudah seperti orang mati—bahkan kalau ada gempa pun mungkin dia tidak akan bangun—tapi sayangnya, dia tidak bangun-bangun juga untuk membantuku menghadapi kakaknya.

Aku merasa seperti bekerja sendirian di rumah ini, sementara suamiku sama sekali tidak bisa diandalkan.

Dengan langkah berat dan hati yang dongkol setengah mati, aku pun terpaksa membawa galon kosong itu keluar untuk menuruti perintah kakak ipar yang sama sekali tidak tahu diri itu.

Bersambung....

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!