NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Malam Hujan Darah

Mayat Pengawas Liu merosot perlahan dari dinding batu, meninggalkan jejak darah merah kental yang menyerupai lukisan abstrak kematian. Matanya yang melotot seolah masih tidak percaya bahwa hidupnya berakhir di tangan seorang budak yang selama ini ia injak-injak

Keheningan di Aula Utama Tambang Nomor Sembilan begitu mencekam hingga suara napas ratusan orang terdengar seperti badai angin.

Wang, si antek kurus yang tadi berteriak memfitnah Ye Chen, kini gemetar hebat. Celananya basah. Bau pesing menyebar, bercampur dengan aroma amis darah. Ia mencoba mundur, merangkak menjauh seperti kepiting yang ketakutan, matanya terus tertuju pada sosok Ye Chen yang berdiri tegak di tengah ruangan.

Ye Chen tidak menoleh ke arah kerumunan budak yang menatapnya dengan campuran rasa takut dan kekaguman. Tatapannya tertuju pada mayat Liu. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya tenang, mengabaikan genangan darah yang membasahi kaki telanjangnya.

“Tuan… Tuan Muda Ye…” suara Wang tercekat di tenggorokan. "Saya...saya dipaksa! Sumpah demi langit,

Sret!

Ye Chen tidak berhenti berjalan. Tangannya hanya bergerak sedikit, sebuah gerakan menyentak yang santai. Pedang besi berkarat yang tadi ia pegang melayang di udara, berputar sekali, lalu menancap tepat di tenggorokan Wang.

Kata-kata Wang terputus oleh suara gurgling basah. Ia mencengkeram lehernya, darah menyembur dari sela-sela jarinya, lalu tubuhnya kejang-kejang dan ambruk. Mati.

Ye Chen bahkan tidak melihatnya. Ia sudah sampai di depan mayat Liu. Dengan gerakan praktis, ia merogoh jubah sutra mayat itu. Tidak ada rasa jijik di wajahnya. Tiga tahun menjadi budak telah mematikan rasa jijiknya terhadap kotoran dan kematian.

"Dapat," gumam Ye Chen.

Di pinggang Liu, terikat sebuah kantong kecil berwarna abu-abu kusam. Ukurannya hanya sebesar telapak tangan, tetapi permukaannya dihiasi rune (huruf kuno) samar yang berkedip pelan.

Kantong Penyimpanan Ruang (Spatial Bag).

Benda ini adalah harta karun bagi kultivator tingkat rendah. Di dalamnya terdapat ruang dimensi terpisah yang bisa menampung barang-barang setara isi sebuah lemari besar. Seorang pengawas luar sekte biasanya tidak mampu membelinya. Liu pasti mendapatkan ini dari hasil korupsi dan memeras para budak selama bertahun-tahun.

Ye Chen menyuntikkan sedikit Qi ke dalam kantong itu. Segel mental Liu yang lemah hancur seketika karena pemiliknya sudah mati.

Ye Chen mengintip isinya dengan kesadaran spiritualnya.

"Lumayan," batinnya.

Ada sekitar dua ratus Batu Roh Tingkat Rendah, beberapa botol pil penyembuh yang lebih baik dari yang ia makan tadi, tumpukan emas (mata uang duniawi), dan sebuah buku teknik bela diri bersampul biru tua.

Ye Chen mengikatkan kantong itu di pinggangnya yang kurus. Baru saat itulah ia berbalik menghadap ratusan budak yang masih mematung.

Mereka menatap Ye Chen seperti melihat hantu. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang dulu pernah mengenal Ye Chen sebagai Tuan Muda yang ramah. Namun sosok di depan mereka sekarang adalah orang asing yang dingin dan mematikan.

"Dengar," suara Ye Chen tidak keras, tapi diperkuat dengan Qi Tingkat 7 sehingga bergema ke seluruh sudut gua.

"Pengawas Liu sudah mati. Wang sudah mati. Dalam waktu kurang dari satu jam, patroli sekte akan menyadari hal ini. Kalian punya dua pilihan."

Ye Chen menunjuk ke arah pintu keluar gua yang gelap.

"Lari sekarang ke Hutan Binatang Buas. Mungkin kalian akan dimakan monster, atau mungkin kalian akan selamat dan menemukan kebebasan."

Lalu ia menunjuk ke arah tumpukan alat tambang.

"Atau tetap di sini, menunggu Tuan Muda Han datang besok pagi, dan dibantai sebagai peringatan karena pemberontakan ini."

Seorang pria tua dengan satu mata buta memberanikan diri bertanya, suaranya gemetar. "Tuan... Tuan Penyelamat, apakah Anda akan memimpin kami?"

Ye Chen menatap pria tua itu datar. "Aku bukan penyelamat kalian. Aku hanya pembawa kematian bagi mereka yang menghalangiku. Nyawa kalian adalah milik kalian sendiri. Perjuangkan atau buang, itu urusan kalian."

Tanpa menunggu jawaban, Ye Chen berbalik dan melesat menuju pintu keluar gua. Tubuhnya lenyap ditelan kegelapan lorong, meninggalkan ratusan budak yang saling pandang dengan kepanikan yang mulai meledak.

Detik berikutnya, kekacauan pecah.

"Lari! Ayo lari!"

"Ambil makanannya dulu!"

"Hancurkan rantainya!"

Ye Chen tidak peduli. Kekacauan itu adalah bagian dari rencananya. Ratusan budak yang berlarian ke segala arah akan membingungkan para pengejar dari Sekte Pedang Darah, memberinya waktu berharga untuk menghilang.

Udara malam yang dingin menampar wajah Ye Chen begitu ia keluar dari mulut gua tambang. Hujan deras sedang turun, menyamarkan bau darah di tubuhnya. Langit gelap gulita tanpa bintang, hanya diterangi oleh kilatan petir sesekali.

Lembah Kabut Hitam dikelilingi oleh tebing curam dan hutan lebat. Satu-satunya jalan keluar yang aman dijaga ketat oleh pos penjagaan utama. Ye Chen tahu dia tidak bisa lewat sana.

Dia memilih jalur yang ditakuti semua orang: melompati pagar pembatas sisi utara dan masuk langsung ke Hutan Kematian.

Namun, baru sepuluh langkah ia berlari menjauh dari mulut gua, sebuah suara mendesing tajam terdengar di tengah deru hujan.

Wuussh!

Sebuah anak panah melesat, menancap di tanah berlumpur tepat di mana kaki Ye Chen akan mendarat sedetik kemudian. Jika reaksinya lambat sedikit saja, kakinya akan tertembus.

"Berhenti di sana, budak rendahan!"

Tiga sosok melompat turun dari atas pos pengawas kayu di dekat gerbang. Mereka mengenakan jubah murid luar Sekte Pedang Darah, lengkap dengan lambang pedang merah di dada.

Pemimpin mereka, seorang pemuda berwajah panjang dengan bekas luka di pipi, menyeringai sambil memutar-mutar pedang panjangnya. Tingkat kultivasinya berada di Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 6. Dua rekannya berada di Tingkat 5.

"Aku mencium bau darah," kata si Wajah Luka. "Dan lihat, mayat Pengawas Liu tidak ada di posnya. Apa yang kau lakukan, Tikus Kecil? Kau membunuhnya saat dia tidur?"

Ye Chen berdiri diam di tengah hujan. Air membasahi rambut hitam panjangnya yang kusut, menutupi sebagian wajahnya.

"Minggir," kata Ye Chen pelan.

Ketiga murid itu tertawa terbahak-bahak.

"Dia menyuruh kita minggir! Hahaha! Dia pikir dia siapa? Hei, tangkap dia hidup-hidup. Tuan Muda Han suka menyiksa budak yang mencoba kabur. Kita bisa dapat hadiah besar."

Si Wajah Luka memberi isyarat. Salah satu rekannya, pria gemuk pendek yang memegang gada berduri, maju menerjang.

"Makan gadaku, budak!"

Gada itu diayunkan dengan brutal ke arah kepala Ye Chen. Angin berdesing. Ini adalah serangan murni kekuatan fisik Tingkat 5. Bagi manusia biasa, kepala mereka akan meledak seperti semangka.

Ye Chen tidak bergerak sampai gada itu berjarak satu jengkal dari wajahnya.

Tiba-tiba, tangan kanannya bergerak. Bukan menangkis, tapi mencengkeram.

GREP!

Ye Chen menangkap leher gada besi itu dengan tangan kosong. Momentum serangan yang mengerikan itu berhenti seketika, seolah menabrak tembok baja.

"Apa?!" Mata si gemuk terbelalak. Dia mencoba menarik gadanya kembali, tapi tidak bergerak satu milimeter pun.

Ye Chen mengangkat kepalanya, memperlihatkan sepasang mata yang bersinar merah samar di kegelapan.

"Terlalu lambat."

KRAK!

Ye Chen memutar pergelangan tangannya. Gagang gada besi itu patah. Sebelum si gemuk sempat berteriak, Ye Chen menusukkan patahan gagang besi tajam itu langsung ke jantung lawannya.

JLEB!

Darah muncrat. Si gemuk ambruk tanpa suara.

Dua murid lainnya, si Wajah Luka dan temannya, terdiam kaku. Tawa mereka mati di kerongkongan.

"Tingkat... Tingkat 7?" suara si Wajah Luka bergetar. "Bagaimana mungkin? Kau hanya budak tanpa Dantian!"

"Serang dia bersamaan! Gunakan Formasi Pedang Ganda!" teriak rekannya panik.

Kedua murid itu menghunus pedang mereka, Qi merah menyelimuti bilahnya. Mereka menerjang dari kiri dan kanan secara bersamaan, mencoba memotong jalur lari Ye Chen. Teknik mereka lumayan rapi, hasil latihan bertahun-tahun di sekte.

Tapi di mata Ye Chen, yang memiliki ingatan tempur Dewa Asura dari Mutiara Penelan Surga, gerakan mereka penuh celah.

Ye Chen tidak mundur. Dia maju menyambut serangan itu.

Saat pedang kiri menebas ke arah pinggangnya, Ye Chen melompat, kakinya menendang pergelangan tangan si penyerang.

Tak!

Pedang itu terlepas. Di udara, Ye Chen menangkap pedang itu, mendarat dengan lutut menekuk, dan melakukan putaran menyapu.

SLASH!

Sebuah garis cahaya perak melengkung indah di tengah hujan.

Kepala murid kedua terpisah dari badannya, menggelinding ke dalam lumpur.

Hanya tersisa si Wajah Luka. Dia mengerem langkahnya, wajahnya pucat pasi seperti kertas. Kakinya gemetar hebat hingga pedangnya jatuh dari genggaman.

"Ampun... Ampun... Saya tidak melihat apa-apa! Saya akan pergi! Saya bersumpah!"

Dia berbalik dan mencoba lari kembali ke pos penjagaan untuk membunyikan lonceng peringatan.

"Kau pikir kau bisa lari?"

Ye Chen menghentakkan kakinya ke tanah. Sebuah batu kerikil terlontar ke udara. Ye Chen menendang batu itu dengan kekuatan penuh.

Wush!

Batu itu melesat seperti peluru, menembus belakang kepala si Wajah Luka. Pria itu jatuh tersungkur, mati seketika.

Tiga murid sekte luar. Tiga mayat dalam waktu kurang dari sepuluh napas.

Ye Chen berdiri di tengah mayat-mayat itu, napasnya sedikit memburu. Bukan karena lelah, tapi karena kegembiraan yang aneh.

Mutiara Penelan Surga di dalam perutnya bergetar gila-gilaan. Ia bisa merasakan darah segar dari ketiga kultivator muda itu memancarkan energi kehidupan yang manis.

"Tidak... tidak di sini," Ye Chen menekan keinginannya. Menyerap darah mayat di tempat terbuka terlalu berisiko. Jika ada tetua sekte yang lewat dan melihat teknik iblis ini, dia akan diburu oleh seluruh dunia kultivasi, baik aliran putih maupun hitam.

Ye Chen segera menggeledah mayat mereka secepat kilat, mengambil kantong uang dan senjata mereka, lalu menendang mayat-mayat itu ke dalam parit selokan yang deras agar terbawa arus air hujan.

Tepat pada saat itu, langit di daratan meledak dengan cahaya merah.

DUAR!

Sebuah sinyal kembang api meluncur dari arah pemukiman budak. menggambarkan kekacauan para budak tadi sudah memicu alarm otomatis.

Cahaya merah itu meneran

"Mereka datang," bisik Ye Chen.

Dia menatap ke arah hutan lebat di utara. Pohon-pohon raksasa setinggi puluhan meter tampak seperti tentara hantu yang menunggu.Hutan Kematianterkenal dengan bin

Tapi bagi Ye Chen yang memilikinyaMutiara Penelan Surga, hutan itu bukan kuburan. Itu adalah meja makan prasmanan.

"Tunggu aku, Sekte Pedang Darah.

Dengan satu loncatan kuat, Ye Chen melompati pagar pembatas setinggi tiga meter dan menghilang ke dalam kegelapan hutan rimba.

Sesaat kemudian, selusin sosok berpakaian hitam dengan aura membunuh yang pekat mendarat di tempat Ye Chen tadi berdiri. Pemimpin mereka, seorang pria paruh baya dengan aura Ranah Pemadatan Qi, menatap jejak kaki yang perlahan hilang disapu hujan.

"Ada yang masuk ke Hutan Kematian," katanya dingin. "Kejar. Tuan Muda Han menginginkan kepalanya, siapapun dia."

(Akhir Bab 3)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!