Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 PERANGKAP GELAP DAN SKANDAL YANG TERBONGKAR
Kamis, 15 Mei 2025, Musim Semi
Malam semakin larut di Monte Carlo, namun atmosfer di salah satu hotel mewah pinggiran kota terasa begitu pekat oleh aroma ambisi dan pengkhianatan. Thalia, dengan jantung yang berdegup kencang karena kemenangan yang sudah di depan mata, memandu pria yang wajahnya masih tertutup kain hitam itu masuk ke dalam kamar presidential suite yang sudah ia pesan. Pencahayaan di dalam ruangan sengaja ia buat remang-remang, hanya menyisakan pendar lampu tidur berwarna kuning hangat yang menciptakan bayangan panjang di dinding.
Thalia merasa sangat cerdik. Ia melihat jas yang dikenakan pria itu jas yang tadi sempat ia lihat sekilas saat Liam masuk ke restoran dan itu semakin meyakinkannya. Ia tidak tahu bahwa Liam telah menukar jasnya dengan jas milik pemuda sewaan itu dalam kegelapan parkiran demi menyempurnakan jebakan ini.
"Akhirnya, kau milikku, Liam..." bisik Thalia dengan suara yang bergetar karena nafsu.
Tanpa membuang waktu, Thalia mulai menanggalkan pakaiannya sendiri satu per satu hingga ia berdiri dengan penuh keangkuhan di depan pria yang masih membisu itu. Ia merasa telah menang telak dari Olivia. Dengan gerakan agresif, pria yang sudah kehilangan kesadaran logisnya akibat serbuk perangsang dosis tinggi itu segera bereaksi. Melihat lekuk tubuh Thalia di bawah cahaya minim, naluri primitifnya meledak.
Pria itu menarik Thalia ke atas ranjang sutra yang dingin. Tubuh mereka bertabrakan, menciptakan suara gesekan kulit yang intens. Thalia mendesah keras saat pria itu mulai menciuminya dengan kasar.
"Ahhh... Liam... kau sangat liar malam ini," rintih Thalia, jemarinya mencengkeram sprei dengan kuat. "Mmmhh, aku tahu kau merindukanku. Calon istrimu yang polos itu... dia tidak akan pernah bisa memberikan kenikmatan seperti ini padamu, ahhh!"
Pria itu hanya mengerang rendah, suaranya parau dan berat. “Nnngghh... Thalia...” erangnya. Meski pikirannya dipenuhi bayangan wajah Luna yang menggemaskan tadi, mulutnya tetap menyebut nama Thalia sebagai bentuk pelepasan dari rasa panas yang membakar sekujur tubuhnya.
Suara kulit yang saling beradu dan napas yang memburu memenuhi ruangan itu. Thalia merasa puas, bahkan ia merasa ukuran pria ini jauh lebih mengesankan daripada pria-pria yang pernah tidur dengannya dulu. Ia merasa seolah-olah surga sedang memihaknya malam ini.
Suara ciuman yang basah dan dalam terdengar di tengah kesunyian kamar. Thalia benar-benar tenggelam dalam ilusinya sendiri. Saat ia merasakan pria itu mencapai titik puncaknya dan berniat menarik diri untuk mengeluarkannya di luar, Thalia justru melingkarkan kakinya dengan kuat pada pinggang pria itu. Ia menekan tubuh pria itu agar tetap berada di dalam rahimnya.
"Jangan dikeluarkan di luar, Liam! Masukkan semuanya... biarkan rahimku menyimpan benihmu!" seru Thalia dengan napas yang terputus-putus. "Ahhh... yesss... mmmhhh!"
Tepat pada saat puncak gairah itu meledak, tiba-tiba pintu kamar hotel didobrak dengan keras. BRAKK!
Lampu utama kamar yang sangat terang seketika menyala, membutakan mata siapapun yang ada di dalamnya. Thalia terkejut, namun di dalam kepalanya yang licik, ia mengira ini adalah bagian dari rencana "akting" Olive yang datang terlambat. Thalia justru semakin mengerang keras, sengaja memperlihatkan tubuhnya yang menyatu dengan pria itu.
"Ohhh! Siapa itu?! Ahhh, Liam... ada orang melihat kita!" teriak Thalia dramatis, namun ia tidak sedikitpun berniat menutupi dirinya.
Pria di atasnya, yang sudah kehilangan akal sehat karena obat, justru mempercepat gerakannya dengan tidak tahu malu. Ia tidak peduli pada siapa pun yang datang.
"Biarkan... biarkan semua melihat betapa nikmatnya kau, Thalia! Arghhh!" erang pria itu dengan suara serak yang memenuhi ruangan.
Thalia menoleh ke arah pintu dengan seringai kemenangan, menatap gerombolan wartawan yang membawa kamera dengan lampu kilat yang menyambar-nyambar seperti petir. "Foto kami! Foto keindahan ini! Biarkan dunia tahu kalau Liam Valerius memilihku!" teriak Thalia dengan desahan yang masih tersisa.
Namun, seringai Thalia membeku saat ia melihat sosok yang melangkah masuk di depan para wartawan. Itu adalah Olivia Elenora Aurevyn. Olive berdiri dengan anggun, mengenakan dress flower yang manis, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang murni namun tetap tenang. Di belakangnya, Liam Maximilian Valerius melangkah masuk dengan setelan jas yang sempurna bersih, rapi, dan sama sekali tidak berkeringat.
Liam segera mendekati Olive, melingkarkan lengannya di pinggang calon istrinya secara posesif seolah ingin melindungi pandangan Olive dari tontonan murahan di depan mereka.
Thalia mengerjap. Ia menatap Liam yang berdiri di dekat pintu, lalu perlahan menunduk menatap pria yang masih berada di atas tubuhnya. Saat wajah pria itu terlihat jelas di bawah lampu terang, Thalia menjerit histeris.
"TIDAK! SIAPA KAU?!" teriak Thalia sambil mendorong pria itu hingga terjatuh dari atas ranjang.
Pria sewaan itu jatuh ke lantai dalam keadaan telanjang bulat, wajahnya masih memerah karena pengaruh obat. Thalia dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, wajahnya yang tadinya penuh kemenangan kini pucat pasi seperti mayat.
Olive melangkah maju beberapa senti, menatap Thalia dengan tatapan setajam belati beracun. Suaranya terdengar begitu merdu namun mematikan.
"Kenapa berhenti, Thalia? Bukankah tadi kau bilang kalian saling mencintai? Bukankah desahanmu tadi terdengar sangat... meyakinkan?" tanya Olive dengan nada menyindir yang sangat kental.
Thalia gemetar, air mata kehinaan mulai mengalir. "Ini jebakan! Liam! Ini bukan kemauanku! Aku dijebak!"
"Dijebak?" Liam bersuara, suaranya dingin seperti es kutub. "Kau yang membeli serbuk itu di pasar gelap. Kau yang menyewa pria ini. Aku hanya membantunya menemukan jalan menuju kamarmu karena dia tampak sangat... 'bersemangat' setelah meminum gelasmu sendiri."
Olive tersenyum tipis, menatap kamera para wartawan yang masih terus memotret setiap inci kehancuran Thalia. "Besok pagi, seluruh Monako tidak akan membicarakan tentang pernikahan kami, tapi mereka akan membicarakan tentang skandal menjijikkan seorang model yang melakukan hubungan intim dengan pria sewaan di depan publik. Nikmatilah sisa kariermu yang hancur malam ini, Thalia."
Olive berbalik, diikuti oleh Liam yang menuntunnya keluar dari ruangan busuk itu. Di belakang mereka, Thalia terus berteriak histeris sementara para wartawan berebut mengambil foto pria telanjang di lantai dan Thalia yang hancur di atas ranjang. Skandal terbesar tahun 2025 di Monako baru saja dimulai, dan kali ini, sang Golden Butterfly benar-benar mematahkan sayap lawannya tanpa mengotori tangannya sedikit pun.
Kita pada pngen type cwo gini, Ade ❤️🤗😘
Mg Liam selamat & segera sehat kembali y ❤️🤗😘