NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: NADA YANG PECAH

Suasana di dalam puncak Mercusuar St. Jude terasa seperti berada di dalam perut sebuah instrumen raksasa yang sedang sekarat. Dinding-dinding beton yang melingkar seolah bergetar mengikuti denyut listrik yang tidak stabil. Arlo berdiri di sana, hanya terpaut beberapa meter dari Elara, namun jarak sepuluh tahun di antara mereka terasa seperti jurang maut yang tak mungkin diseberangi. Cahaya biru dari monitor di sekelilingnya memantul di wajahnya yang tirus, memberikan kesan bahwa ia bukan lagi makhluk dari daging dan darah, melainkan proyeksi holografik yang gagal.

"Arlo, letakkan kabel itu," suara Elara bergetar, namun ia berusaha tetap tenang. Logika akuntannya mencoba memetakan situasi ini: Arlo mengalami gangguan kejiwaan akut, tempat ini berbahaya, dan ia harus membawa pria ini keluar. "Ini bukan cara yang benar untuk mengingat kita. Ini bukan musik, Arlo. Ini adalah penghancuran diri."

Arlo menatap kabel di tangannya, lalu menatap Elara dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat hantu. "Penhancuran? Tidak, El. Ini adalah penyempurnaan. Kau tahu apa yang salah dengan lagu-lagu di luar sana? Mereka punya akhir. Mereka berhenti. Mereka menjadi sunyi." Ia melangkah maju, gerakannya kaku. "Tapi lagu kita... lagu ini tidak boleh berakhir. Jika lagu ini berakhir, kau benar-benar pergi. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi."

"Aku sudah di sini, Arlo! Aku tidak di dalam kaset, aku tidak di dalam speaker. Aku berdiri di depanmu!" Elara berteriak, air mata kini mengalir bebas, terasa hangat dan kontras dengan dinginnya udara laut. Ia meraih tangan Arlo—tangan yang dulu sering mengelus rambutnya, kini terasa kasar dan sedingin es.

Arlo tersentak saat kulit mereka bersentuhan. Untuk sesaat, kabut di matanya seolah memudar. Ia menatap tangan Elara seolah-olah itu adalah benda asing yang jatuh dari langit. "Kau... terasa nyata," bisiknya. "Tapi frekuensimu salah. Kau terlalu berisik dengan masa kini, Elara. Kau membawa aroma London, aroma angka-angka, aroma kehidupan yang tidak mengenalku."

Ia melepaskan tangan Elara dengan kasar dan kembali ke meja kontrolnya yang penuh dengan kabel yang melilit. "Aku hampir menemukannya. Nada terakhir. Bagian di mana kau seharusnya menyanyi, 'I'm still right here'. Tapi setiap kali aku mencoba merekamnya sendiri, suaranya terdengar seperti kebohongan. Aku butuh kau menyanyikannya di mikrofon ini, di bawah resonansi mercusuar ini. Sekarang."

Elara menatap mikrofon perak tua yang berdiri di tengah ruangan. Mikrofon itu tampak seperti sebuah altar pemujaan yang haus akan pengorbanan. "Dan apa yang terjadi jika aku menyanyikannya, Arlo? Apakah kau akan ikut denganku pulang? Apakah kau akan meninggalkan kegilaan ini?"

Arlo berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan, sebuah senyuman tipis dan menyedihkan muncul di bibirnya. "Jika kau menyanyikannya dengan benar, tidak akan ada 'pulang' atau 'pergi'. Kita akan menjadi statis. Kita akan menjadi bagian dari udara di Manchester, bagian dari hujan di jalan tol, bagian dari setiap pemutar musik yang memainkan nada ini. Kita akan abadi, El. Bukankah itu yang kau inginkan saat kita menggambar bintang di atap itu?"

Elara menyadari sesuatu yang mengerikan. Arlo tidak ingin sembuh. Arlo tidak ingin kembali ke dunia nyata. Ia ingin menarik Elara masuk ke dalam dunianya yang terdistorsi, sebuah dunia di mana waktu tidak bergerak dan rasa sakit kehilangan adalah bensin bagi mesin keabadiannya.

"Aku tidak bisa, Arlo," bisik Elara. "Aku tidak ingin menjadi abadi dalam sebuah lagu yang rusak. Aku ingin hidup. Aku ingin menua, dan ya, aku ingin mengingatmu, tapi bukan seperti ini."

Wajah Arlo berubah. Kesedihannya digantikan oleh keputusasaan yang tajam. Ia menekan sebuah tombol di meja kontrol, dan tiba-tiba, speaker di ruangan itu mengeluarkan suara *feedback* yang melengking tinggi, menusuk telinga seperti pisau panas. Elara terjatuh berlutut, menutupi telinganya, sementara Arlo berdiri tegak, seolah-olah suara yang menyakitkan itu adalah musik paling indah yang pernah ia dengar.

"NYANYIKAN, ELARA!" Arlo meraung di tengah kebisingan itu. "BERIKAN AKU NADA ITU ATAU KITA AKAN HANCUR DI SINI BERSAMA!"

Di tengah kebisingan yang memekakkan telinga itu, Elara melihat ke arah jendela mercusuar. Di luar, air laut mulai naik, menelan jalan setapak yang baru saja ia lewati. Mereka terjebak. Dan di dalam sini, pria yang paling ia cintai sedang memegang kendali atas kehancuran mereka berdua.

Elara memandang mikrofon itu sekali lagi. Ia tahu ia harus membuat keputusan. Jika ia menyanyi, ia mungkin akan menenangkan Arlo, namun ia akan terjebak dalam delusi pria itu selamanya. Jika ia menolak, Arlo mungkin akan meledakkan sistem listrik ini dan mengakhiri segalanya.

Lalu, sebuah pemikiran muncul di benak Elara. Sebuah melodi yang berbeda. Bukan melodi "About You" yang penuh duka, melainkan sebuah nada yang pernah ia bisikkan pada Arlo saat mereka pertama kali bertemu—sebuah nada yang tidak pernah direkam oleh Arlo. Sebuah nada yang hanya milik mereka, sebelum distorsi mengambil alih.

Elara bangkit berdiri, perlahan mendekati mikrofon. Tangannya gemetar, tapi matanya terpaku pada Arlo. Ia tidak akan menyanyikan lirik yang diinginkan Arlo. Ia akan menyanyikan kebenaran.

"Kau ingin nada yang asli, Arlo?" suara Elara terdengar tenang di tengah badai statis. "Akan kuberikan."

Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma laut mengisi paru-parunya. Ia menutup matanya, membayangkan bukan atap di Manchester, bukan pula kesedihan di London, melainkan hanya Arlo—pria yang dulu pernah tertawa karena hal-hal kecil.

Dan kemudian, Elara mulai mengeluarkan suara. Bukan kata-kata, hanya sebuah gumaman rendah yang murni, sebuah getaran yang datang dari bagian terdalam jiwanya. Nada itu sangat jernih, sangat manusiawi, dan sangat rapuh.

Seketika, suara *feedback* dari speaker mulai mereda. Jarum-jarum pada monitor frekuensi mulai melambat. Arlo terdiam, tangannya yang memegang kabel perlahan turun. Ia menatap Elara seolah-olah ia baru pertama kali benar-benar *melihatnya* dalam sepuluh tahun.

Namun, di saat harmoni itu mulai terbentuk, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari meja kontrol. Percikan api menyambar tumpukan kertas catatan di lantai. Kegilaan teknis Arlo akhirnya mencapai batasnya. Api mulai menjalar dengan cepat, memakan pita-pita kaset yang berisi memori-memori mereka.

"Arlo! Api! Kita harus keluar!" Elara berteriak, mencoba menarik Arlo menjauh dari meja kontrol yang mulai terbakar.

Tapi Arlo tidak bergerak. Ia menatap api itu dengan pandangan kosong, lalu kembali menatap Elara. "Kau mendengarnya, El? Nadanya... nadanya akhirnya sempurna."

Api mulai mengepung mereka, sementara di luar, ombak laut menghantam dasar mercusuar dengan kekuatan penuh. Bab ini belum berakhir, namun nada yang diciptakan Elara telah mengubah segalanya. Kini, pertanyaannya bukan lagi tentang musik, tapi tentang siapa yang akan selamat dari kebakaran di tengah lautan ini.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!