Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Besar Sekte
Bukan perebutan harta.
Bukan kebangkitan demon.
Masalahnya adalah… seorang anak kecil.
Di aula utama Sekte Langit Biru, para tetua duduk melingkar. Wajah mereka tegang. Aura serius. Teh dingin tak tersentuh.
“Laporan ulang,” kata Tetua Pertama.
Seorang murid maju, suaranya kaku.
“Di zona hitam Lembah Barat… terdapat seorang bocah sekitar sepuluh tahun.”
Semua diam.
“Bocah itu tidak menunjukkan aura kultivasi aktif, namun keberadaannya menstabilkan qi di sekitarnya.”
“Tidak masuk akal,” dengus Tetua Kedua. “Anak umur segitu paling mentok pondasi tubuh, itu pun pakai elixir.”
“Dia tidak memakai apa pun,” lanjut murid itu. “Dan… dia sopan.”
Salah satu tetua tersedak teh.
“Sopan?”
“Iya. Melambai. Mengucapkan ‘hati-hati’.”
Rapat hening cukup lama.
Akhirnya Tetua Ketiga bicara pelan, “Jadi… lembah itu bukan cuma berbahaya. Tapi mendidik.”
Semua langsung merinding.
“Bagaimana dengan Penunggu Lembah?” tanya seseorang.
Murid itu menunduk. “Tidak terlihat. Tapi bocah itu menyebut… ada ‘orang’ yang sedang mancing.”
Kata orang diulang pelan di benak mereka.
Bukan tetua.
Bukan leluhur.
Bukan master.
Orang.
Itu justru yang paling mengerikan.
Keputusan diambil.
Tidak menyerang.
Tidak menyelidiki.
Tidak mendekat.
Mengamati dari jauh.
Dan yang paling penting:
“Jangan ganggu bocah itu.”
Sementara itu, di lembah—
Ci Lung lagi ribut sama Yan Yu.
“Kamu itu kalau jalan jangan nyeret kaki,” kata Ci Lung.
“Kenapa?”
“Bikin suara.”
“Biar ada yang tahu aku datang?”
“…justru jangan.”
Yan Yu mikir keras. “Kalau gitu aku melayang?”
Ci Lung menatap lama. “Kamu belum sampai situ.”
“Ohhhhh.”
Yan Yu nurut. Jalan lebih pelan. Terlalu pelan.
“Keburu malam nanti,” kata Ci Lung. “Normal aja napa.”
“Normal itu yang mana?”
Ci Lung terdiam.
“…yaudah jalan terserah kamu.”
Sistem: [Interaksi Murid — Sinkronisasi Alami +3%]
Ci Lung tidak tahu. Ia lagi pusing.
Sore itu, seorang pengintai sekte besar mengamati dari kejauhan.
Ia melihat pemandangan yang… salah.
Seorang pria berjubah lusuh sedang memperbaiki bangku.
Seorang bocah memegangi kayu—salah arah.
“Bukan gitu,” kata pria itu. “Dibalik.”
Yan Yu membalik. Bangku jadi makin miring.
Ci Lung menghela napas panjang. “Oh Dewaa Surgawi Kultivator Dao…”
Pengintai itu hampir jatuh dari pohon.
“Bangku…?” bisiknya. “Di zona absolut…?”
Qi di tubuhnya goyah hanya karena menyaksikan.
Malamnya, laporan lain masuk ke sekte-sekte besar.
Zona hitam tetap stabil
Tidak ada agresi
Tidak ada fluktuasi berbahaya
Kesimpulan sementara dunia murim:
“Selama mereka sibuk hidup…
kita jangan ikut campur.”
Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun,
sekte-sekte sepakat untuk menahan diri.
Bukan karena takut perang.
Tapi karena… tidak paham apa yang sedang mereka hadapi.
Di lembah, Ci Lung duduk sambil mancing.
Yan Yu di sampingnya, serius.
“Guru,” katanya, “kenapa ikan mau datang?”
Ci Lung mikir. “Karena kita diem.”
Yan Yu mengangguk mantap. “Berarti kalau aku diem, aku kuat?”
“…bukan gitu konsepnya.”
“Ohhhhh.”
Yan Yu diem. Lama.
Qi di sekitarnya kembali tenang. Terlalu tenang.
Ci Lung menoleh cepat. “Jangan langsung dipraktekin!”
Yan Yu kaget. “Eh—maaf!”
Ci Lung menghela napas, lalu tertawa kecil.
“kamu ini… bikin masalah tanpa niat.”
Yan Yu nyengir bangga. “Hebat dong?”
Ci Lung terdiam… lalu mengangguk pelan.
“Iya,” katanya. “Lumayan.”
Dan jauh di luar lembah—
Para tetua dunia murim membuat satu catatan baru:
Zona Hitam Lembah Barat
Status: Tidak Bermusuhan
Rekomendasi: Jangan Cari Masalah
Padahal…
masalah itu sedang tumbuh dengan santai.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠