Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kesetiaan di Tengah Kesunyian
Suara jarum jam dinding di lorong rumah sakit itu terdengar seperti detak jantung yang melambat, beradu dengan sunyi yang mencekam di lantai khusus perawatan intensif ini. Malam sudah mencapai puncaknya, menyisakan keheningan yang terasa berat dan dingin. Cahaya lampu neon yang putih pucat memantul di atas lantai keramik yang mengkilap, menciptakan suasana klinis yang tidak bersahabat bagi siapa pun yang sedang berduka. Nala masih duduk di kursi malas yang disiapkan oleh Pak Hadi tepat di depan pintu kaca ruang ICU. Matanya tampak sembab dan merah, namun ada binar keteguhan yang tidak pernah padam di sana.
Tubuh Nala terasa sangat pegal, seolah setiap sendinya dipaksa untuk menahan beban yang luar biasa besar. Luka memar di punggung dan lengannya akibat benturan hebat malam itu masih terasa berdenyut nyeri setiap kali ia mencoba mengubah posisi duduknya. Namun, rasa sakit itu sama sekali tidak ia hiraukan. Pikirannya hanya tertuju pada pria yang terbaring kaku di balik pintu kaca itu. Raga Adhitama, pria yang selama ini ia anggap sebagai sosok penuh rahasia dan dinding es, kini benar-benar menyerahkan seluruh hidupnya demi menyelamatkan nyawa Nala.
Pak Hadi datang mendekat dengan langkah yang sangat pelan agar tidak mengejutkan Nala. Ia membawa sebuah selimut wol tebal dan segelas teh hangat yang aromanya sedikit menenangkan. Pria tua itu menatap Nala dengan rasa haru sekaligus prihatin. Selama puluhan tahun ia mengabdi pada keluarga Adhitama, ia belum pernah melihat seorang wanita yang memiliki ketegaran sebesar ini di hadapan maut yang mengancam suaminya.
"Nyonya, minumlah teh ini sedikit. Udara malam di sini sangat tidak baik untuk pemulihan Anda," ucap Pak Hadi dengan suara rendah yang sangat sopan.
Nala mendongak, memberikan senyum tipis yang tampak sangat lelah namun tulus. "Terima kasih, Pak Hadi. Apakah sudah ada kabar dari tim keamanan tentang situasi di luar sana?"
Pak Hadi mengangguk sambil menyelimuti bahu Nala dengan sangat hati-hati. "Semuanya sudah terkendali, Nyonya. Burhan Prasetya sudah berada di bawah pengawasan ketat kepolisian di rumah sakit penjara. Dia tidak akan bisa menyentuh Anda atau Tuan Muda lagi. Mengenai keluarga Aristha, Nyonya Siska sempat mencoba datang ke lantai ini tadi sore, namun Sera dan tim pengawal sudah memintanya untuk pergi. Saya tidak ingin mereka mengganggu ketenangan Anda saat ini."
Nala menghembuskan napas panjang, membiarkan uap hangat dari tehnya mengenai wajahnya. "Biarkan saja mereka, Pak Hadi. Saya sudah tidak punya tenaga lagi untuk memikirkan mereka. Fokus saya sekarang hanya satu, yaitu menunggu Mas Raga membuka matanya kembali."
Pak Hadi terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan ragu. "Apakah Nyonya tidak ingin beristirahat di kamar perawatan Anda sendiri? Dokter mengatakan bahwa Anda juga butuh tidur yang agar luka dalam Anda tidak bertambah parah."
"Saya akan tetap di sini, Pak Hadi. Saya merasa jauh lebih tenang saat berada sedekat mungkin dengan Mas Raga," jawab Nala dengan nada bicara yang tidak bisa didebat lagi.
Sekitar pukul tiga pagi, seorang perawat keluar dari ruangan Raga untuk mengambil peralatan medis tambahan. Nala segera berdiri dari kursinya, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk tajam di bagian pinggangnya.
"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Nala cepat dengan raut wajah penuh harap.
Perawat itu tersenyum ramah, mencoba memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan Nala. "Kondisi Tuan Raga sudah jauh lebih stabil jika dibandingkan dengan beberapa jam yang lalu, Nyonya. Tekanan darahnya sudah mulai normal dan pernapasan yang dibantu mesin ventilator juga berjalan dengan sangat baik tanpa ada gangguan. Dokter akan melakukan pengecekan ulang pada saraf motoriknya besok pagi. Untuk sekarang, Anda boleh masuk sebentar jika ingin melihatnya. Hanya lima menit saja ya, Nyonya."
Nala mengangguk cepat. Ia segera mencuci tangannya hingga bersih dan memakai jubah steril yang disiapkan di depan pintu. Saat melangkah masuk ke dalam ruangan itu, aroma antiseptik yang tajam langsung menyerang penciumannya. Bunyi mesin pemantau jantung yang berbunyi secara teratur menjadi satu-satunya irama di dalam ruangan yang sangat sunyi itu.
Raga masih terbaring dalam posisi yang sama seperti terakhir kali Nala melihatnya. Perban putih yang sangat tebal menyelimuti hampir seluruh kepalanya, menyisakan sedikit celah untuk mulut dan matanya yang masih tertutup rapat. Tangannya yang besar kini terlihat sangat pucat di bawah cahaya lampu medis, dipenuhi dengan selang infus dan kabel-kabel pemantau.
Nala mendekat dengan langkah sangat hati-hati, seolah takut suaranya akan merusak proses pemulihan Raga. Ia menarik sebuah kursi kecil ke samping tempat tidur. Dengan jari yang bergetar, ia meraih ujung jari tangan Raga. Tangannya terasa sangat dingin, membuat hati Nala terasa seperti diiris sembilu.
"Mas Raga, ini Nala," bisik Nala pelan tepat di samping telinga Raga yang tertutup kain kasa. "Aku tahu kamu pasti lelah sekali. Kamu sudah berjuang sangat hebat. Tapi tolong, jangan tidur terlalu lama. Aku tidak terbiasa dengan rumah yang sepi tampamu."
Nala menatap perban yang menutupi wajah Raga dengan perasaan campur aduk. Ia teringat kata-kata dokter tentang rencana rekonstruksi wajah total. Di balik kain putih itu, ada proses pemulihan yang luar biasa sedang terjadi. Luka bakar yang selama bertahun-tahun merenggut rasa percaya diri Raga dan membuatnya merasa seperti monster, kini sedang dihapus oleh takdir melalui cara yang sangat menyakitkan namun ajaib.
"Kamu tahu, Mas? Dokter bilang wajahmu akan menjadi normal seperti dulu. Doktor bilang luka bakarmu sudah dibersihkan sepenuhnya saat operasi semalam. Aku tidak sabar ingin melihat wajah aslimu yang sebenarnya tanpa ada bayangan masa lalu yang menghantuimu. Aku ingin melihatmu tersenyum tanpa harus memakai topeng perak itu lagi," ucap Nala sambil mengusap lembut punggung tangan Raga.
Air mata Nala jatuh menetes ke atas kain seprai putih rumah sakit. Ia teringat betapa sombong dan dinginnya Raga di awal pernikahan kontrak mereka, namun di balik semua itu, ternyata ada hati yang sangat rela berkorban demi kebahagiaannya. Raga lebih memilih bertaruh pada nyawanya di bandingkan dengan keselamatan yang sendiri.
"Bangunlah, Mas. Aku sudah memaafkan semua perkataan ketusmu yang dulu sering menyakitiku. Aku sudah melupakan semua kontrak kaku yang kamu buat. Aku hanya ingin kita mulai lagi semuanya dari awal. Bukan sebagai tuan muda dan gadis kontrak, tapi sebagai suami dan istri yang sebenarnya, yang saling memiliki," lanjut Nala dengan suara yang serak karena tangis.
Tiba-tiba, Nala merasakan sebuah kedutan yang sangat halus dari jari manis Raga. Kedutan itu sangat lemah, hampir tidak terasa oleh tangan biasa, namun bagi Nala yang sedang memegang tangannya, itu adalah sebuah ledakan harapan yang luar biasa. Ia menahan napas, matanya terkunci pada monitor jantung. Angka di sana sedikit berubah, menunjukkan adanya sedikit kenaikan aktivitas saraf di otak suaminya.
"Mas Raga? Kamu mendengarku, kan? Mas, tolong berikan tanda lagi," tanya Nala dengan suara bergetar karena rasa bahagia yang tiba-tiba meluap.
Namun, kedutan itu tidak terulang lagi dalam waktu dekat. Raga sepertinya kembali ke dalam tidurnya yang sangat dalam untuk memulihkan tenaga. Nala menyadari bahwa tubuh suaminya masih butuh waktu yang sangat lama untuk benar-benar pulih dari trauma fisik yang begitu hebat.
Waktu lima menit yang diberikan perawat pun habis. Petugas itu masuk dan meminta Nala dengan sopan untuk keluar dari ruangan steril. Nala mencium punggung tangan Raga dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya melangkah keluar. Ia kembali ke kursi malasnya di lorong dan kali ini ia bisa memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa, namun ada senyum kecil yang tersirat di bibirnya. Harapan itu nyata.
Pagi hari tiba dengan cahaya matahari yang menembus jendela kaca di lorong rumah sakit. Nala terbangun saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Ternyata itu adalah tim dokter ahli bedah dan spesialis saraf yang akan melakukan pemeriksaan rutin harian.
Dokter Gunawan, pria yang memimpin operasi rekonstruksi wajah Raga, keluar dari ruangan setelah satu jam melakukan pemeriksaan intensif di dalam. Ia melihat Nala dan segera mendekatinya dengan raut wajah yang cukup puas dan tenang.
"Bagaimana hasilnya, Dok? Apakah ada perkembangan baik?" tanya Nala penuh harap sambil berdiri dari kursinya.
"Kabar baik, Nyonya Adhitama. Peradangan pada sumsum tulang belakangnya mulai berkurang secara signifikan jika dibandingkan dengan hasil pemindaian semalam. Ini adalah pertanda yang sangat baik bagi saraf motoriknya. Meskipun kita belum bisa memastikan apakah dia akan bisa berjalan dalam waktu dekat, tapi setidaknya risiko kelumpuhan permanen sudah bisa kita hindari," jelas Dokter Gunawan.
Nala menghembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban berat baru saja diangkat dari dadanya. "Terima kasih banyak, Tuhan. Lalu bagaimana dengan luka di wajahnya, Dok? Apakah ada komplikasi?"
"Proses penyatuan jaringannya berjalan sangat mulus, melebihi ekspektasi kami. Tubuh Tuan Raga merespons plat titanium dan cangkok kulit baru dengan sangat baik tanpa ada penolakan. Kami tidak menemukan adanya tanda-tanda infeksi pada area bedah. Perban ini tidak akan dibuka dalam waktu dekat karena kami ingin memastikan bentuk tulang wajahnya terbentuk dengan sempurna tanpa adanya tekanan dari luar. Namun saya yakin, hasilnya akan sangat memuaskan bagi kalian berdua," tambah sang dokter dengan nada optimis.
Setelah dokter pergi untuk menangani pasien lain, Sera datang membawakan pakaian ganti untuk Nala dan beberapa keperluan pribadi lainnya dari kediaman Adhitama. Sera tampak sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, meskipun lengannya masih terbungkus gips dan digantung ke leher.
"Nyonya, ada sesuatu yang harus saya sampaikan mengenai situasi keluarga Anda," ucap Sera dengan nada bicara yang kembali serius dan formal.
"Apa itu, Sera? Apakah ada masalah lagi?" tanya Nala sambil menerima tas pakaian dari tangan Sera.
"Tuan Bramantyo, ayah Anda, sudah siuman sepenuhnya setelah operasi kakinya pagi tadi. Dia terus-menerus meminta perawat untuk menghubungi Anda. Nyonya Siska juga terus menelepon asisten rumah tangga di mansion untuk menanyakan kondisi Anda dan meminta izin untuk menjenguk. Apa yang harus saya sampaikan kepada mereka secara resmi?"
Nala terdiam cukup lama. Ia menatap ke arah pintu ruang ICU tempat Raga berada. Pikirannya kembali pada masa-masa di mana ia diabaikan dan dibuang oleh mereka.
"Katakan pada mereka bahwa saya sedang sangat sibuk mendampingi suami saya yang sedang bertaruh nyawa. Katakan pada Ayah untuk fokus pada pemulihan kakinya sendiri tanpa perlu memikirkan saya. Saya belum bisa menemui mereka sekarang, dan jujur saja, saya belum ingin bertemu dengan siapa pun dari keluarga Aristha untuk waktu yang lama," tegas Nala.
Sera mengangguk paham, seolah ia sudah menduga jawaban itu. "Saya mengerti, Nyonya. Saya akan memastikan tim keamanan menjaga lantai ini agar tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mendekat tanpa izin tertulis dari saya."
Nala merasa keputusannya sudah sangat tepat. Ia tidak ingin lagi terseret ke dalam drama keluarga Aristha yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Selama dua puluh satu tahun hidupnya, ia sudah cukup banyak mengalah dan menderita. Sekarang, ia ingin memprioritaskan pria yang telah membuktikan bahwa nyawa Nala jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Sepanjang hari itu, Nala menghabiskan waktunya dengan membantu Pak Hadi mengurus beberapa urusan administrasi rumah sakit yang rumit dan memastikan sistem keamanan di sekitar kamar Raga tetap berjalan dengan ketat. Ia mulai belajar bagaimana menjadi seorang Nyonya Adhitama yang sesungguhnya di hadapan publik. Ia tidak lagi menunduk saat berpapasan dengan staf rumah sakit atau kolega bisnis Raga yang datang mengirim bunga. Ia berdiri tegak, berbicara dengan intonasi yang tegas, dan menunjukkan bahwa meskipun suaminya sedang terluka, kewibawaan keluarga Adhitama tidak akan pernah goyah sedikit pun.
Sore harinya, saat Nala sedang duduk di samping tempat tidur Raga karena kali ini ia diizinkan masuk lebih lama oleh dokter, ia memperhatikan detail wajah suaminya yang terbalut perban putih bersih itu. Ia menyentuh bagian pipi Raga yang tidak tertutup kain dengan ujung jarinya dengan sangat perlahan.
"Aku akan terus menunggumu di sini, Mas. Seberapa lama pun waktu yang dibutuhkan, aku tidak akan beranjak. Kamu tidak perlu takut lagi untuk melihat ke arah cermin saat kamu bangun nanti. Kamu tidak perlu takut lagi pada apa yang akan dikatakan orang-orang picik tentang wajahmu yang dulu. Karena bagiku, kamu adalah pria paling sempurna yang pernah ada, karena kamu memiliki hati yang bersedia mati untuk melindungiku," bisik Nala penuh perasaan yang mendalam.
Di balik perban putih yang kaku itu, di dalam kegelapan komanya yang dalam, Raga seolah-olah bisa merasakan kehangatan yang diberikan oleh sentuhan tangan Nala. Meskipun matanya belum bisa terbuka untuk menatap wajah istrinya, jiwanya mulai merespons suara lembut yang selalu setia menemaninya setiap hari tanpa lelah. Penantian panjang ini memang baru saja dimulai, namun Nala tahu di dalam hatinya bahwa pada akhirnya, cahaya akan mengalahkan kegelapan yang pekat ini.
Nala kemudian menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur Raga, masih menggenggam erat tangan suaminya, dan perlahan-lahan ia ikut terlelap dalam posisi duduk di samping pria yang telah mencuri seluruh hatinya. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tragedi jatuh dari gedung tersebut, Nala tidur tanpa ada bayangan mimpi buruk yang menghantuinya. Ia tahu, selama ia menggenggam tangan Raga, semuanya akan baik-baik saja.
ceritanya bagu😍