Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Pesta
Ulang tahun pernikahan pertama seharusnya menjadi garis finis bagi segala penderitaan dan awal bagi perayaan kedamaian yang hakiki. Namun, bagi Aris dan Arini, tanggal ini justru terasa seperti lonceng kematian yang berdentang pelan di kejauhan, mengirimkan getaran dingin ke sepanjang tulang belakang mereka. Sejak paket misterius dengan kertas kado merah darah itu tiba, udara di apartemen kecil mereka seolah berubah menjadi timah—berat, menyesakkan, dan beracun untuk dihirup.
Aris bukan lagi pria yang tenang dan penuh perhitungan. Ia berubah menjadi sosok paranoid yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memeriksa setiap sudut pintu, memasang gerendel tambahan hingga jemarinya lecet, dan selalu terjaga dengan napas tertahan setiap kali mendengar suara langkah kaki sekecil apa pun di koridor luar.
"Kita tidak bisa terus hidup seperti tawanan di rumah kita sendiri, Mas. Ini bukan lagi hidup, ini hanya menunggu giliran untuk hancur," ucap Arini suatu sore. Suaranya parau, bukan karena sakit fisik, melainkan karena kelelahan batin yang sudah mencapai puncaknya. Ia menatap Aris yang sedang berlutut di dekat pintu, sibuk menyetel kamera pengawas murah yang baru dibelinya dari pasar barang bekas dengan sisa uang belanja mereka.
Aris menoleh, dan Arini nyaris terisak melihat kondisi suaminya. Mata Aris cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam, menunjukkan betapa pria itu sudah melupakan artinya tidur nyenyak. "Aku mengenal Clara melebihi siapa pun, Arini. Dia tidak pernah menggertak. Baginya, penolakan adalah hinaan yang tak termaafkan. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkannya untuk membalas setiap luka dengan kehancuran total. Dia punya sisa koneksi dan uang yang cukup untuk menyewa orang jahat, dan dia punya kegilaan yang tidak akan pernah bisa ditebak oleh akal sehat manusia normal."
Malam yang mereka khawatirkan itu pun tiba. Aris telah berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan suasana yang manis, sebuah upaya keras untuk melupakan sejenak teror yang mengintai. Di atas meja kayu kecil yang kakinya sedikit goyang dan harus diganjal lipatan kertas, tersedia dua piring pasta sederhana dengan saus tomat rumahan yang aromanya memenuhi ruangan sempit itu. Dua buah lilin kecil menyala di tengah meja, memberikan bias cahaya remang yang menyamarkan noda jamur di dinding apartemen. Aris ingin malam ini menjadi simbol bahwa cinta mereka telah berhasil tumbuh di celah hidup yang sempit, memenangkan pertempuran melawan kemiskinan. Namun, ia lupa bahwa musuh terbesarnya bukanlah perut yang lapar, melainkan dendam yang membara.
Tepat saat jam dinding berdetak di angka delapan, sebuah keheningan yang janggal mendahului bencana. Seluruh aliran listrik di lantai empat apartemen itu padam secara serentak. Kegelapan total menyergap, mencekam dan pekat. Arini tersentak, garpu di tangannya terlepas dan menimbulkan denting tajam saat menghantam lantai semen yang dingin.
"Jangan bergerak, Arini. Tetap di posisimu," bisik Aris. Suaranya rendah dan tajam. Ia segera menyambar senter kecil dan berdiri tegak di depan Arini, memposisikan dirinya sebagai perisai manusia yang kokoh.
Suasana menjadi sangat sunyi, hingga suara detak jantung mereka sendiri terdengar seperti genderang perang. Hanya ada suara napas yang memburu dan rintik hujan yang mulai memukul kaca jendela dengan ritme yang tidak teratur. Lalu, dari luar koridor, terdengar suara yang sangat asing bagi gedung apartemen kumuh itu: suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai keramik pecah-pecah. Tuk... tuk... tuk... Iramanya lambat, penuh percaya diri, dan terdengar begitu mematikan. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu unit 4B.
Pintu itu perlahan terbuka dengan derit yang menyayat telinga. Aris terkesiap; ia yakin telah mengunci semua gerendelnya, namun Clara berdiri di sana. Ia mengenakan gaun merah menyala yang tampak seperti noda darah segar di tengah kegelapan malam. Di bawah cahaya senter yang bergoyang tidak stabil di tangan Aris, wajah Clara tampak putih pucat dengan riasan yang terlalu tebal dan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Ia terlihat seperti malaikat maut yang tersesat di sebuah pesta dansa yang salah.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Aris... Arini," suara Clara mengalun manis, namun setiap nadanya mengandung racun yang mematikan. "Maaf aku datang terlambat. Apartemen ini benar-benar sulit ditemukan, tersembunyi di tempat yang baunya sangat... rendahan. Persis seperti pilihan hidupmu sekarang, Aris."
"Pergi dari sini, Clara! Pergi sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku dan melakukan sesuatu yang akan kita sesali selamanya!" geram Aris, tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan gemetar.
Clara tertawa, sebuah tawa melengking yang bergema di ruangan sempit itu, terdengar mengerikan di tengah kegelapan. Ia mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan bening yang sejak tadi disembunyikannya di balik punggung. "Kamu pikir aku takut padamu? Kamu sekarang bukan siapa-siapa, Aris! Kamu hanya pria miskin yang tinggal di lubang tikus ini! Dan wanita ini..." Clara menunjuk Arini dengan telunjuk yang bergetar karena kebencian yang meluap. "Dia adalah alasan kenapa kamu menjadi pecundang! Dia mencuri masa depanku, Aris! Dia mencuri posisiku sebagai Nyonya Sofia!"
"Aku tidak mencuri apa pun darimu, Clara," Arini akhirnya bersuara. Ia melangkah keluar dari belakang punggung Aris, meskipun seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus menumpu pada meja. Ia menatap langsung ke arah Clara. "Kamu tidak pernah kehilangan Aris karena aku. Kamu kehilangan dia karena kamu tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai manusia. Kamu hanya mencintai pantulan kekuasaan dan harta yang melekat pada dirinya. Saat harta itu hilang, kamu pun sebenarnya tidak menginginkannya lagi, kan? Kamu hanya benci karena aku yang menang."
"Diam kamu!" teriak Clara hysteris. Tangannya yang memegang botol mulai bergetar hebat. "Aku akan memastikan wajah cantikmu ini hancur malam ini! Aku ingin melihat apakah Aris masih akan sudi mencintaimu saat kulitmu melepuh dan semua orang jijik melihatmu! Aku ingin kalian berdua menderita selamanya, membusuk di tempat sampah ini!"
Clara membuka tutup botol itu dengan gerakan nekat dan mata yang liar. Aris bersiap untuk menerjang, namun Arini melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia justru maju satu langkah, mendekati Clara, menatap langsung ke dalam mata wanita yang sedang dirasuki oleh iblis dendam itu.
"Lakukan saja, Clara. Siramkan itu sekarang jika menurutmu itu bisa mengembalikan harga dirimu," ucap Arini dengan ketenangan yang luar biasa, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah melewati titik terendah dan tidak lagi takut kehilangan apa pun. "Tapi ketahuilah satu hal. Bahkan jika wajahku hancur dan seluruh dunia berpaling dariku, hati Aris akan tetap milikku. Dia mencintaiku bukan karena apa yang tampak di luar, tapi karena kami telah berjuang bersama di dalam lumpur kemiskinan ini. Sementara kamu? Kamu akan tetap kesepian di dalam istanamu yang mewah, karena kamu tidak akan pernah bisa membeli satu detik pun kesetiaan dan ketulusan seperti yang kami miliki."
Tangan Clara membeku di udara. Ia menatap Arini, mencari celah ketakutan atau teriakan minta ampun, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan belas kasihan. Kegilaan Clara mendadak runtuh di hadapan kekuatan mental Arini yang tak tergoyahkan. Botol itu terjatuh dari tangannya, isinya tumpah ke lantai semen—ternyata hanya cairan alkohol pembersih yang baunya menyengat. Clara jatuh terduduk, menangkupkan wajahnya di telapak tangan, dan mulai menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang baru saja menyadari bahwa mainannya telah hancur.
Aris segera menarik Arini kembali ke dalam pelukannya, menghela napas yang begitu panjang seolah ia baru saja lolos dari lubang jarum kematian. Di bawah cahaya lilin yang hampir habis dan bergoyang ditiup angin, mereka berdiri bersama, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu itu baru saja kehilangan taringnya. Clara bukan lagi sebuah ancaman; ia hanyalah sisa-sisa kehancuran emosional yang tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dunia tidak lagi berputar untuknya.
Malam itu berakhir saat petugas keamanan gedung—yang ternyata telah disuap oleh Clara untuk mematikan listrik—datang dengan wajah penuh sesal dan membawa wanita itu pergi setelah Aris mengancam akan melaporkan kasus ini ke polisi. Aris dan Arini kembali ke dalam apartemen mereka yang kini sunyi. Mereka duduk bersandar di lantai, saling merangkul di tengah kegelapan yang kini tidak lagi terasa menakutkan, melainkan damai.
"Kita benar-benar sudah bebas, Mas," bisik Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aris yang kokoh.
"Iya, Arini. Kali ini, benar-benar bebas. Tidak akan ada lagi kontrak, tidak ada lagi Ibu, dan tidak ada lagi Clara yang bisa menyentuh kita," jawab Aris sambil mencium kening istrinya dengan penuh rasa syukur.
Di apartemen sempit yang dindingnya kusam itu, mereka merayakan kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan atas harta atau status sosial, melainkan kemenangan atas rasa takut yang selama ini membelenggu jiwa mereka. Mereka telah melewati titik terendah, menghadapi badai yang dikirim oleh orang-orang terdekat, dan tetap berdiri tegak dengan tangan yang saling bertautan erat. Perjalanan mereka untuk membangun hidup dari nol memang masih sangat panjang dan terjal, namun di balik dinding kusam itu, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan surga yang sesungguhnya: satu sama lain.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.