Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Pesta
Ulang tahun pernikahan pertama seharusnya menjadi garis finis bagi segala penderitaan, sebuah gerbang menuju kedamaian yang mereka impikan. Namun, bagi Fikar dan Kiki, tanggal ini justru terasa seperti lonceng kematian yang berdentang lamat-lamat di kejauhan, mengirimkan getaran dingin yang merayapi tulang belakang mereka. Sejak paket misterius dengan kertas kado semerah darah itu mendarat di depan pintu, udara di apartemen kecil mereka seolah berubah menjadi timah. Berat, menyesakkan, dan beracun untuk dihirup.
Fikar bukan lagi pria yang tenang dan penuh perhitungan. Ia bermutasi menjadi sosok paranoid yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memeriksa setiap sudut pintu. Ia memasang gerendel tambahan hingga jemarinya lecet dan memerah. Setiap malam, ia terjaga dengan napas tertahan hanya karena mendengar suara langkah kaki sekecil apa pun di koridor luar.
"Kita tidak bisa terus hidup seperti tawanan di rumah sendiri, Mas. Ini bukan lagi hidup, ini cuma menunggu giliran untuk hancur," ucap Kiki pada suatu sore. Suaranya parau, bukan karena sakit fisik, melainkan kelelahan batin yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia menatap Fikar yang sedang berlutut di dekat pintu, sibuk menyetel kamera pengawas murah hasil berburu di pasar barang bekas dengan sisa uang belanja mereka.
Fikar menoleh. Kiki nyaris terisak melihat kondisi suaminya. Mata Fikar cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam seolah pria itu sudah lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak.
"Aku mengenal Clara lebih dari siapa pun, Kiki. Dia tidak pernah menggertak. Baginya, penolakan adalah hinaan yang haram dimaafkan. Dia tumbuh di lingkungan yang mengajarkannya untuk membalas setiap luka dengan kehancuran total. Dia masih punya koneksi dan uang untuk menyewa orang-orang gelap, dan dia punya kegilaan yang tidak akan pernah bisa dinalar akal sehat," bisik Fikar, suaranya bergetar halus.
Malam yang mereka cemaskan itu pun tiba. Fikar telah berusaha sekuat tenaga menciptakan suasana manis, sebuah upaya keras untuk melupakan sejenak teror yang mengintai di balik bayang-bayang. Di atas meja kayu kecil yang kakinya sedikit goyang dan harus diganjal lipatan kertas, tersedia dua piring pasta sederhana dengan saus tomat rumahan yang aromanya memenuhi ruangan sempit itu. Dua buah lilin kecil menyala di tengah meja, memberikan bias cahaya remang yang menyamarkan noda jamur di dinding apartemen. Fikar ingin malam ini menjadi simbol bahwa cinta mereka berhasil tumbuh di celah hidup yang sempit, memenangkan pertempuran melawan kemiskinan. Namun, ia lupa bahwa musuh terbesarnya bukanlah perut yang lapar, melainkan dendam yang membara.
Tepat saat jam dinding berdetak di angka delapan, keheningan yang janggal mendahului bencana. Seluruh aliran listrik di lantai empat apartemen itu padam serentak. Kegelapan total menyergap, mencekam dan begitu pekat. Kiki tersentak, garpu di tangannya terlepas dan menimbulkan denting tajam saat menghantam lantai semen yang dingin.
"Jangan bergerak, Ki. Tetap di posisimu," bisik Fikar. Suaranya rendah dan tajam. Ia segera menyambar senter kecil dan berdiri tegak di depan istrinya, memposisikan dirinya sebagai perisai manusia yang kokoh.
Suasana menjadi sangat sunyi, hingga suara detak jantung mereka sendiri terdengar seperti genderang perang. Hanya ada suara napas yang memburu dan rintik hujan yang mulai memukul kaca jendela dengan ritme yang berantakan. Lalu, dari koridor luar, terdengar suara yang sangat asing bagi gedung apartemen kumuh itu. Suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai keramik pecah-pecah. Tuk... tuk... tuk... Iramanya lambat, penuh percaya diri, dan terdengar begitu mematikan. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu unit 4B.
Pintu itu perlahan terbuka dengan derit yang menyayat telinga. Fikar terkesiap. Ia yakin telah mengunci semua gerendelnya, namun Clara berdiri di sana. Ia mengenakan gaun merah menyala yang tampak seperti noda darah segar di tengah kegelapan malam. Di bawah cahaya senter yang bergoyang tidak stabil di tangan Fikar, wajah Clara tampak putih pucat dengan riasan yang terlalu tebal dan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Ia terlihat seperti malaikat maut yang tersesat di pesta dansa yang salah.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Fikar... Kiki," suara Clara mengalun manis, namun setiap nadanya mengandung racun yang mematikan. "Maaf aku datang terlambat. Apartemen ini benar-benar sulit ditemukan, tersembunyi di tempat yang baunya sangat... rendahan. Persis seperti pilihan hidupmu sekarang, Fikar."
"Pergi dari sini, Clara! Pergi sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan melakukan sesuatu yang akan kita sesali selamanya!" geram Fikar. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan gemetar hebat.
Clara tertawa, sebuah tawa melengking yang bergema di ruangan sempit itu, terdengar mengerikan di tengah kegelapan. Ia mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan bening yang sejak tadi disembunyikannya di balik punggung.
"Kamu pikir aku takut padamu? Kamu sekarang bukan siapa-siapa, Fikar! Kamu hanya pria miskin yang tinggal di lubang tikus ini! Dan wanita ini..." Clara menunjuk Kiki dengan telunjuk yang bergetar karena kebencian yang meluap. "Dia adalah alasan kenapa kamu menjadi pecundang! Dia mencuri masa depanku, Fikar! Dia mencuri posisiku sebagai Nyonya Sofia!"
"Aku tidak mencuri apa pun darimu, Clara," Kiki akhirnya bersuara. Ia melangkah keluar dari balik punggung Fikar, meskipun seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus bertumpu pada meja. Ia menatap langsung ke arah Clara. "Kamu tidak pernah kehilangan Fikar karena aku. Kamu kehilangan dia karena kamu tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai manusia. Kamu hanya mencintai pantulan kekuasaan dan harta yang melekat padanya. Saat harta itu hilang, kamu pun sebenarnya tidak menginginkannya lagi, kan? Kamu hanya benci karena aku yang menang."
"Diam kamu!" teriak Clara histeris. Tangannya yang memegang botol mulai bergetar hebat. "Aku akan memastikan wajah cantikmu ini hancur malam ini! Aku ingin melihat apakah Fikar masih akan sudi mencintaimu saat kulitmu melepuh dan semua orang jijik melihatmu! Aku ingin kalian berdua menderita selamanya, membusuk di tempat sampah ini!"
Clara membuka tutup botol itu dengan gerakan nekat dan mata yang liar. Fikar bersiap untuk menerjang, namun Kiki melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia justru maju satu langkah, mendekati Clara, menatap langsung ke dalam mata wanita yang sedang dirasuki oleh iblis dendam itu.
"Lakukan saja, Clara. Siramkan itu sekarang jika menurutmu itu bisa mengembalikan harga dirimu," ucap Kiki dengan ketenangan yang luar biasa. Sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah melewati titik terendah dan tidak lagi takut kehilangan apa pun. "Tapi ketahuilah satu hal. Bahkan jika wajahku hancur dan seluruh dunia berpaling dariku, hati Fikar akan tetap milikku. Dia mencintaiku bukan karena apa yang tampak di luar, tapi karena kami telah berjuang bersama di dalam lumpur kemiskinan ini. Sementara kamu? Kamu akan tetap kesepian di dalam istanamu yang mewah, karena kamu tidak akan pernah bisa membeli satu detik pun kesetiaan dan ketulusan seperti yang kami miliki."
Tangan Clara membeku di udara. Ia menatap Kiki, mencari celah ketakutan atau teriakan minta ampun, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan belas kasihan. Kegilaan Clara mendadak runtuh di hadapan kekuatan mental Kiki yang tak tergoyahkan. Botol itu terjatuh dari tangannya, isinya tumpah ke lantai semen. Ternyata hanya cairan alkohol pembersih yang baunya menyengat. Clara jatuh terduduk, menangkupkan wajahnya di telapak tangan, dan mulai menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang baru saja menyadari bahwa mainannya telah hancur.
Fikar segera menarik Kiki kembali ke dalam pelukannya, menghela napas yang begitu panjang seolah ia baru saja lolos dari lubang jarum kematian. Di bawah cahaya lilin yang hampir habis dan bergoyang ditiup angin, mereka berdiri bersama, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu itu baru saja kehilangan taringnya. Clara bukan lagi sebuah ancaman. Ia hanyalah sisa-sisa kehancuran emosional yang tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dunia tidak lagi berputar untuknya.
Malam itu berakhir saat petugas keamanan gedung, yang ternyata telah disuap oleh Clara untuk mematikan listrik, datang dengan wajah penuh sesal dan membawa wanita itu pergi setelah Fikar mengancam akan melaporkan kasus ini ke polisi. Fikar dan Kiki kembali ke dalam apartemen mereka yang kini sunyi. Mereka duduk bersandar di lantai, saling merangkul di tengah kegelapan yang kini tidak lagi terasa menakutkan, melainkan damai.
"Kita benar-benar sudah bebas, Mas," bisik Kiki sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fikar yang kokoh.
"Iya, Kiki. Kali ini, benar-benar bebas. Tidak akan ada lagi kontrak, tidak ada lagi Ibu, dan tidak ada lagi Clara yang bisa menyentuh kita," jawab Fikar sambil mencium kening istrinya dengan penuh rasa syukur.
Di apartemen sempit yang dindingnya kusam itu, mereka merayakan kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan atas harta atau status sosial, melainkan kemenangan atas rasa takut yang selama ini membelenggu jiwa mereka. Mereka telah melewati titik terendah, menghadapi badai yang dikirim oleh orang-orang terdekat, dan tetap berdiri tegak dengan tangan yang saling bertautan erat. Perjalanan mereka untuk membangun hidup dari nol memang masih sangat panjang dan terjal, namun di balik dinding kusam itu, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan surga yang sesungguhnya: satu sama lain.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.