NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Mimpi yang Tidak Biasa

#

Pisau itu menancap tepat di jantungnya.

Mahira tersentak bangun, napasnya tercekat di tenggorokan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya refleks meraba dada—mencari luka yang tidak ada. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak.

"Mimpi lagi," gumamnya parau.

Tapi ini bukan sekadar mimpi biasa. Terlalu nyata. Terlalu detail. Mahira masih bisa merasakan dinginnya bilah besi itu menembus kulitnya, merasakan darah hangat mengalir membasahi gaun sutra yang dikenakannya. Gaun sutra? Mahira mengerutkan kening. Ia tidak pernah punya gaun seperti itu.

Cahaya fajar mulai merembes masuk melalui celah tirai kamar. Mahira meraih ponselnya di meja nakas. 05:47. Terlalu pagi untuk bangun, tapi ia tahu ia tak akan bisa tidur lagi.

Wajah pria itu masih terbayang jelas di benaknya. Wajah yang asing namun entah kenapa terasa familiar. Mata kelam penuh dendam. Senyum licik yang membeku di sudut bibirnya saat pisau itu ia hujamkan.

"Kau akan mati di sini, Putri Aisyara," bisikan itu bergema di kepalanya. Suara yang serak, penuh kebencian.

Mahira menggeleng keras, berusaha mengusir bayangan itu. Putri Aisyara? Siapa itu? Kenapa nama itu terdengar begitu... menyakitkan?

Ia bangkit dari tempat tidur, kakinya terasa berat melangkah menuju kamar mandi. Air dingin dari shower menyapu wajahnya, tapi tidak cukup untuk menghapus jejak mimpi buruk itu. Mahira menutup mata, membiarkan air mengalir membasahi rambutnya.

Ini sudah kesekian kalinya. Mimpi yang sama. Selalu berakhir dengan pengkhianatan. Dengan darah. Dengan kematian.

"Mahira, kamu sudah bangun?"

Suara ibunya dari luar kamar memecah lamunannya. Mahira cepat-cepat mematikan shower.

"Sudah, Mama!" sahutnya sambil meraih handuk.

"Sarapan sudah siap. Papamu minta kita semua kumpul pagi ini. Ada yang penting mau dibicarakan."

Mahira terdiam sejenak. Rapat keluarga. Lagi. Pasti soal perusahaan. Atau lebih tepatnya, soal siapa yang akan menggantikan posisi ayahnya di Qalendra Group.

"Iya, Ma. Sebentar lagi turun."

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Mata sewarna madu itu terlihat lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawahnya. Kulit putih pucatnya membuat ia tampak rapuh. Mahira menghela napas panjang. Dua puluh empat tahun hidupnya, dan ia merasa seperti membawa beban yang bukan miliknya.

***

Aroma kopi dan roti panggang menyambut Mahira saat ia turun ke ruang makan. Ayahnya, Irfash Qalendra, sudah duduk di ujung meja dengan iPad di tangannya. Pria berusia lima puluh tiga tahun itu masih terlihat gagah dengan rambut beruban di pelipisnya. Ibunya, Syafira, tengah menuangkan jus jeruk ke gelas-gelas di meja.

"Pagi, sayang." Syafira tersenyum hangat melihat putri bungsunya.

"Pagi, Ma. Pagi, Pa." Mahira mengecup pipi ibunya sebelum duduk di kursi seberang ayahnya.

"Kakakmu belum turun?" tanya Irfash tanpa mengalihkan pandangan dari layar iPad-nya.

"Raesha pasti lagi video call sama klien dari Jepang," jawab Syafira. "Tadi dengar suaranya dari kamar."

Mahira menuangkan kopi ke cangkirnya. Hitam pekat. Tanpa gula. Ia butuh sesuatu yang kuat pagi ini untuk mengusir bayangan mimpi buruk itu.

"Mahira."

Suara ayahnya membuat ia mendongak.

"Papa tahu kamu belum tertarik dengan posisi di perusahaan," Irfash menatap putrinya dengan serius. "Tapi kamu bagian dari keluarga ini. Dan Qalendra Group adalah warisan yang harus dijaga oleh kita semua."

Mahira meletakkan cangkirnya perlahan. "Papa mau bahas soal suksesi lagi?"

"Bukan cuma soal suksesi." Irfash menutup iPad-nya. "Ada proposal merger dengan Al-Hakim Corporation. Ini kesempatan besar untuk memperluas jaringan kita ke Timur Tengah."

Al-Hakim Corporation. Nama itu membuat sesuatu bergetar di dada Mahira. Kenapa nama itu terdengar familiar?

"Mereka keluarga konglomerat dari Dubai," Syafira menjelaskan sambil duduk di samping Mahira. "Sangat tertutup, jarang sekali muncul di publik. Tapi pengaruh mereka luar biasa."

"CEO mereka akan datang minggu depan untuk meeting awal," lanjut Irfash. "Papa ingin kamu dan Raesha yang handle project ini."

"Kenapa aku?" Mahira nyaris memprotes. "Aku cuma handle divisi CSR, Pa. Bukan bidangnya Raesha untuk urusan merger?"

"Karena Papa percaya kamu bisa." Tatapan Irfash melembut. "Dan karena... Papa ingin kamu lebih terlibat di perusahaan. Suatu hari nanti, kamu harus siap, Mahira."

Mahira menggigit bibir bawahnya. Ia tahu ayahnya benar. Sebagai anak keluarga Qalendra, ia punya tanggung jawab. Tapi setiap kali berada di kantor, setiap kali menghadiri rapat-rapat itu, ada perasaan sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada yang salah. Seperti ia seharusnya berada di tempat lain.

"Baiklah," ucapnya pelan. "Aku akan coba."

Senyum tipis terbentuk di wajah Irfash. "Bagus. Papa tahu kamu bisa diandalkan."

Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari tangga. Raesha muncul dengan blazer abu-abu dan rambut dikuncir rapi. Wanita dua puluh tujuh tahun itu langsung meraih sepotong roti dan secangkir kopi.

"Sorry, telat. Meeting sama klien Osaka molor." Raesha melirik jam tangannya. "Papa mau bahas soal Al-Hakim, kan?"

"Sudah. Kamu dan Mahira yang akan handle."

Raesha menoleh ke adiknya, alis terangkat. "Kamu? Serius?"

"Kenapa? Kamu ragu aku bisa?" Mahira balas menatap kakaknya.

"Bukan gitu." Raesha nyengir. "Cuma... biasanya kamu lebih suka ngurusi program sosial daripada urusan merger segala macem."

Mahira mengangkat bahu. "Orang bisa berubah."

"Oke, ladies." Irfash berdiri dari kursinya. "Papa ada meeting jam delapan. Kalian berdua ke kantor jam berapa?"

"Jam sembilan," jawab Raesha. "Ada laporan keuangan kuartal kemarin yang harus aku review dulu."

"Mahira?"

"Aku... mungkin agak siang, Pa. Ada urusan sebentar."

Irfash mengangguk. "Oke. Tapi jangan terlalu siang. Minggu depan jadwal padat."

Setelah ayahnya pergi, Mahira menghabiskan kopinya dalam diam. Raesha menatapnya dengan pandangan menyelidik.

"Kamu baik-baik aja?" tanya kakaknya. "Keliatan pucat."

"Cuma kurang tidur."

"Mimpi buruk lagi?"

Mahira terdiam. Raesha satu-satunya orang yang tahu tentang mimpi-mimpi aneh yang terus menghantuinya. Bukan karena Mahira bercerita—kakaknya itu yang memaksa setelah melihat adiknya terbangun teriak di tengah malam beberapa bulan lalu.

"Lebih parah dari biasanya," akunya pelan.

Raesha meraih tangan adiknya. "Mungkin kamu perlu konsultasi ke psikolog. Atau minimal cek ke dokter. Ini nggak sehat, Mahira."

"Nanti juga hilang sendiri."

"Sudah berbulan-bulan. Nggak hilang-hilang."

Mahira menarik tangannya. "Aku tahu kondisiku sendiri, Kak."

Raesha menghela napas, tahu tidak ada gunanya berdebat dengan adiknya yang keras kepala itu. "Fine. Tapi kalau makin parah, kamu janji akan cek ke dokter."

"Iya, iya."

***

Mahira tidak langsung ke kantor setelah sarapan. Ada satu tempat yang ingin ia kunjungi—tempat yang selalu membuatnya merasa tenang ketika pikirannya kacau.

Rumah almarhum neneknya.

Bangunan bergaya kolonial itu masih berdiri kokoh di kawasan Menteng. Setelah nenek meninggal dua tahun lalu, rumah ini dijaga oleh Bi Sumi, asisten rumah tangga setia yang sudah bekerja untuk keluarga mereka selama puluhan tahun.

"Nona Mahira!" Bi Sumi tersenyum lebar melihatnya. "Lama nggak ke sini. Masuk, masuk."

"Makasih, Bi." Mahira memeluk wanita paruh baya itu. "Aku boleh ke kamar Nenek sebentar?"

"Tentu. Semua masih sama seperti dulu. Nona mau minum apa?"

"Nggak usah repot-repot, Bi. Aku sebentar aja."

Mahira menaiki tangga menuju lantai dua. Kamar nenek berada di ujung koridor. Ia membuka pintu pelan—aroma melati kering menyambut. Nenek selalu suka bunga melati.

Ruangan itu masih tertata rapi. Tempat tidur dengan seprai putih bersih. Lemari kayu jati besar di sudut ruangan. Meja rias dengan cermin oval. Dan di atas meja itu, sebuah kotak perhiasan antik.

Mahira duduk di tepi tempat tidur, pandangannya tertuju pada kotak itu. Nenek pernah bilang, semua perhiasan di dalam kotak itu adalah warisan turun-temurun keluarga mereka. Beberapa sudah berusia ratusan tahun.

Tangannya bergerak sendiri, membuka kotak itu. Di dalamnya, ada beberapa cincin, gelang, dan sebuah kalung dengan liontin batu permata berwarna hijau zamrud. Kalung itu selalu menarik perhatiannya sejak kecil.

"Kalung ini istimewa, Mahira," suara nenek bergema di ingatannya. "Suatu hari nanti, kamu akan mengerti."

Mahira mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh liontin dingin itu—

—dan dunia di sekitarnya menghilang.

Ia berdiri di sebuah istana. Pilar-pilar marmer menjulang tinggi. Kain sutra berwarna emas menggantung di dinding. Aroma kemenyan memenuhi udara. Suara gemericik air mancur terdengar dari kejauhan.

"Putri Aisyara, Sultan memanggil Anda."

Mahira—atau Aisyara?—menoleh. Seorang pelayan wanita menundukkan kepala hormat.

"Baik. Aku akan segera ke sana."

Suaranya. Itu suaranya, tapi bukan suaranya. Mahira bisa merasakan tubuh ini bergerak, tapi ia tidak mengendalikannya. Ia seperti penonton di dalam tubuhnya sendiri.

Aisyara berjalan melewati koridor panjang. Setiap pelayan yang dilewatinya membungkuk hormat. Ia sampai di sebuah ruangan besar dengan singgasana di tengahnya. Seorang pria paruh baya dengan mahkota emas duduk di sana.

"Ayahanda," Aisyara berlutut.

"Aisyara, anakku." Sultan tersenyum hangat. "Ada yang ingin Ayahanda sampaikan. Ini soal pernikahanmu."

Pernikahan? Jantung Mahira—atau Aisyara—berdegup kencang.

"Pangeran Darish dari Kerajaan Utara telah meminta tanganmu. Ini akan memperkuat aliansi kedua kerajaan kita."

Aisyara menundukkan kepala. "Aku akan menuruti kehendak Ayahanda."

Tapi ada yang salah. Mahira bisa merasakannya. Ada bayangan gelap mengintai di balik tembok istana ini. Ada pengkhianatan yang mendekat.

Dan wajah itu—wajah pria yang membunuhnya di mimpi—muncul dari balik pilar.

"TIDAK!"

Mahira tersentak, kalung terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Ia terduduk di tepi tempat tidur, napasnya memburu. Keringat dingin kembali membasahi dahinya.

Apa yang baru saja terjadi?

Pintu kamar terbuka. Bi Sumi muncul dengan wajah khawatir. "Nona Mahira? Nona kenapa? Tadi teriak—"

"Aku... aku baik-baik aja, Bi." Mahira berusaha tersenyum. "Cuma... kaget."

Bi Sumi menatapnya tidak yakin. "Nona yakin? Mau Bi buatin air hangat?"

"Nggak usah, Bi. Aku mau pulang sekarang."

Mahira berdiri dengan kaki gemetar. Pandangannya tertuju pada kalung yang tergeletak di lantai. Batu zamrud itu berkilauan, menangkap cahaya matahari yang masuk dari jendela.

Dan untuk sesaat—sangat singkat—Mahira melihat bayangan seorang wanita berjubah di pantulan cahaya itu. Wanita yang tersenyum sedih padanya.

Wanita dengan wajah yang sama persis dengannya.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 2**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!