Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: DALAM DUNIA YANG PADAM
Hitam.
Bukan hitam seperti malam di Mayfair yang masih menyisakan cahaya lampu jalanan, tapi hitam yang murni, padat, dan menekan.
Elara mencoba membuka kelopak matanya. Ia merasakannya bergerak, namun tidak ada perubahan. Tidak ada siluet, tidak ada bayangan, bahkan tidak ada cahaya yang menembus celah. Hanya kegelapan total yang seolah-olah menelan keberadaannya.
“Jika aku harus buta untuk bebas… maka aku tidak takut gelap.”
Kalimat itu terngiang di kepalanya. Ia sudah melakukannya. Lonjakan bio-elektrik dari pemantik suar itu memang membakar enkripsi data, namun ia tidak menyangka harganya akan semahal ini.
"Ayah?" suara Elara keluar sebagai bisikan yang pecah.
Tangannya meraba-raba ke depan. Ia merasakan permukaan yang dingin dan lembap—lantai semen. Ia mencium bau kayu busuk, garam laut, dan... bau tembakau murah.
"Ayah, kau di sana?"
"Dia tidak akan menjawabmu sekarang, Elara."
Suara itu. Dingin dan tajam seperti silet. Silas.
Elara tersentak mundur, punggungnya menabrak dinding kayu yang kasar. Ia mendengar langkah sepatu bot Silas yang mendekat secara ritmis. Tap. Tap. Tap.
"Kau benar-benar melakukannya," Silas tertawa, suara yang terdengar seperti kepingan es yang beradu. "Kau membakar saraf optikmu sendiri demi harga diri. Kau tahu? Dewan sangat marah. Tapi aku? Aku terkesan. Kau mengubah dirimu dari aset berharga menjadi sampah tak berguna dalam satu detik."
"Di mana... Ayahku?" desis Elara. Ia mencoba memfokuskan pendengarannya. Ia mendengar deru angin kencang di luar dan suara ombak yang menghantam karang.
Mereka ada di mercusuar tua itu.
"Dia di ruangan bawah. Masih hidup, jika itu yang kau cemaskan," Silas berjongkok di depan Elara. Elara bisa merasakan hawa dingin dari pria itu. "Tapi tanpa matamu, 'Silk' tidak bisa diakses secara visual. Kita butuh cara lain untuk mengeluarkan sisa data di kepalamu. Dan cara itu... jauh lebih menyakitkan."
Tiba-tiba, suara pintu dibanting keras di kejauhan.
"Julian sudah datang?" tanya Elara, setitik harapan muncul di tengah keputusasaannya.
"Julian?" Silas mendengus. "Julian sedang sibuk menjelaskan pada Dewan kenapa dia membiarkan investasinya terbakar. Dia sudah tamat, Elara. Kau sendirian sekarang."
POV Julian
Julian Moretti belum pernah merasa sehancur ini. Bahkan saat ayahnya tewas di tangannya sendiri bertahun-tahun lalu, ia tidak merasa sekalah ini.
Ia berdiri di tengah aula Dewan, mengabaikan teriakan kemarahan Baron Vane dan moncong senjata para penjaga yang mengarah padanya. Ia baru saja melakukan hal yang tak terpikirkan: ia telah menghapus semua protokol cadangan Moretti untuk melacak Silas.
"Kau mengkhianati kami, Julian!" teriak Baron Vane. "Gadis itu sudah buta! Dia tidak berguna lagi!."
"Dia bukan gadis bagi kalian," suara Julian rendah, namun mengandung ancaman yang membuat ruangan itu membeku. "Dia adalah Elara. Dan jika kalian menyentuhnya lagi, aku akan memastikan seluruh kerajaan Moretti runtuh bersama rahasia yang kalian simpan."
Julian berbalik, berjalan keluar menuju hujan badai. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pelacak frekuensi lama yang ia sembunyikan dari Dewan. Sinyal itu sangat lemah, berdenyut dari arah lepas pantai timur.
Tunggu aku, Elara. Meskipun kau tidak bisa melihatku lagi, aku akan menjadi matamu.
POV Elara
Elara berhenti meratap. Kegelapan ini memang menakutkan, tapi kegelapan juga adalah pelindung. Silas tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun menjadi pelukis, Elara telah melatih tangannya untuk mengingat setiap tekstur, setiap jarak, tanpa harus melihat.
Ia meraba saku pakaian donasinya. Gunting kecil itu sudah tidak ada, namun jarinya menyentuh sesuatu yang lain—sebuah serpihan kaca dari pemantik suar yang meledak di tangannya tadi.
"Silas," panggil Elara pelan.
"Apa?"
"Kau bilang aku sampah," Elara merangkak maju sedikit, berpura-pura lemah dan tersesat. "Kalau aku memang tidak berguna, kenapa kau masih di sini? Kenapa kau tidak meninggalkanku saja?"
Silas mendekat, rasa penasaran mengalahkan kewaspadaannya. Ia ingin melihat penderitaan di wajah Elara lebih dekat. "Karena aku ingin melihat wajah Julian saat aku menyerahkan mayatmu padanya."
Saat Silas membungkuk, Elara bergerak secepat kilat. Ia tidak butuh mata untuk tahu di mana posisi napas pria itu. Ia menghantamkan serpihan kaca itu bukan ke jantung Silas, melainkan ke arah tangannya yang memegang kunci sel.
"AAAGH!"
Silas berteriak kesakitan. Kunci itu terjatuh ke lantai semen dengan bunyi klenting yang nyaring.
Elara langsung menerjang ke arah suara itu, meraba lantai dengan liar. Ia menemukannya. Logam dingin di jemarinya.
"Kau jalang buta!" Silas menerjangnya, namun Elara sudah lebih dulu berguling ke samping, menabrak meja kayu yang ia gunakan sebagai patokan arah.
Ia tidak lari ke pintu. Ia tahu Silas akan mengejarnya di sana. Ia justru merangkak menuju jendela yang terbuka, tempat angin laut masuk dengan kencang.
"Jika aku tidak bisa melihat dunia," bisik Elara pada dirinya sendiri sambil berdiri di ambang jendela mercusuar, "maka dunia juga tidak akan pernah bisa memilikiku lagi."
Tepat saat Silas hendak mencengkeram kakinya, Elara menjatuhkan dirinya ke luar.
Ia tidak jatuh ke bawah. Ia jatuh ke dalam jaring pengaman nelayan yang ia dengar berderit tertiup angin sejak tadi. Elara mulai merangkak di atas jaring itu, bergerak dalam kegelapan yang kini menjadi satu-satunya sekutunya.
Di kejauhan, ia mendengar suara helikopter. Suara yang sangat ia kenal.
Julian.