NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akad dibawah ancaman

Suasana hangat di ruang tengah itu seketika berubah menjadi medan perang yang dingin. Kalimat Yoga yang jujur justru memicu reaksi yang tak terduga dari Kanaya Dewi. Bukannya merasa malu atas perbuatan putrinya, Kanaya justru berdiri dengan tatapan mata yang tajam dan penuh intimidasi.

"Tunggu, Yoga!" suara Kanaya meninggi, memecah isak tangis Dinda.

Yoga menghentikan langkahnya, berbalik perlahan. Ia melihat sosok wanita yang selama ini ia hormati sebagai ibu, kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan keangkuhan kasta.

***

"Kamu boleh pergi, Yoga. Kamu boleh batalkan pernikahan ini sesuka hati kamu!" Kanaya melangkah maju, berdiri di samping suaminya yang masih terduduk lemas memegang dada. "Tapi asal kamu ingat satu hal, Yoga Aditama..."

Kanaya menunjuk tepat ke arah wajah Yoga. "Suami saya yang membuat kamu menjadi 'orang' seperti sekarang. Tanpa Dokter Reza, kamu mungkin cuma jadi rakyat jelata yang luntang-lantung. Kamu disekolahkan dengan biaya yang tidak sedikit, apalagi saat kamu mengambil spesialis di Australia. Keluarga kamu itu berutang nyawa dan budi pada keluarga kami!"

Yoga terdiam, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat.

"Kalau kamu mau mempermalukan kami besok di hadapan undangan dan kolega, silakan!" ancam Kanaya dengan suara melengking. "Tapi saya mau kamu kembalikan setiap rupiah yang suami saya keluarkan buat kamu dan keluarga kamu. Dari biaya hidup, uang kuliah, sampai tiket pesawat kamu ke luar negeri. Saya mau semuanya lunas seketika kamu membatalkan pernikahan ini!"

Dinda menatap ibunya kaget. "Bunda... udah, Bun..."

"Diam kamu, Dinda!" bentak Kanaya. Matanya kembali tertuju pada Yoga. "Gimana, Yoga? Masih mau jadi pahlawan kesiangan yang sok suci? Pikirkan nasib ibu dan adik-adikmu kalau kamu harus bayar miliaran rupiah ke kami dalam semalam."

Yoga menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada amarah, ada luka, tapi yang paling dominan adalah rasa muak. Ia melihat sosok yang selama ini ia anggap keluarga ternyata hanya memandangnya sebagai aset yang bisa dibeli dengan uang.

Ia melirik ke arah Dokter Reza yang hanya bisa menunduk, tak mampu membela Yoga karena rasa sayangnya yang buta pada Dinda dan istrinya.

Yoga tersenyum tipis, senyum paling getir yang pernah ia tunjukkan.

"Ternyata benar kata orang, Tante," suara Yoga terdengar sangat tenang, namun mematikan.

"Uang bisa membeli pendidikan tinggi, tapi uang tidak bisa membeli kelas dan martabat. Saya memang berutang budi pada Dokter Reza, tapi saya tidak pernah menjual harga diri saya untuk menjadi budak di keluarga ini."

Yoga menatap lurus ke arah Kanaya, mengabaikan ancaman finansial itu seolah-olah hal tersebut adalah hal sepele dibandingkan pengkhianatan yang ia terima.

"Besok, saya akan kirimkan rincian aset saya yang bisa Tante ambil. Tapi jangan harap saya akan membiarkan martabat saya diinjak-injak oleh wanita yang bahkan tidak bisa mendidik putrinya sendiri untuk punya rasa malu."

Tanpa menunggu balasan lagi, Yoga berbalik. Langkah kakinya terdengar mantap saat melewati pintu besar itu. Ia melangkah keluar menuju mobilnya, meninggalkan kemewahan yang kini terasa seperti penjara berlapis emas.

****

Di bawah rintik hujan Jakarta yang kian deras, Yoga memacu mobilnya menjauh dari kediaman Menteng. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut akan ancaman Kanaya, tapi karena ia baru saja menyadari bahwa selama belasan tahun ini, ia hidup di tengah orang-orang yang menganggap budi sebagai tali kekang.

Mobil SUV hitam itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta. Rumah yang rapi, namun terlihat sangat kontras dengan kemegahan mansion di Menteng yang baru saja ia tinggalkan. Yoga terdiam sejenak di balik kemudi, menatap pilar rumahnya yang mulai kusam.

Di dalam, lampu ruang tamu masih menyala terang. Ibu Sekar dan Diandra sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan suvenir pernikahan dan seragam kebaya yang baru saja selesai dipasangkan payet.

"Nah, ini dia pengantinnya datang!" seru Diandra, adik Yoga, dengan wajah berseri-seri saat melihat kakaknya masuk. "Mas, lihat deh, kebaya Ibu bagus banget kan? Akhirnya ya, Mas, besok keluarga kita bakal jadi bagian dari keluarga terpandang."

Ibu Sekar berdiri, mendekati putra sulungnya itu dengan mata berkaca-kaca karena bangga. "Yoga, Ibu nggak pernah menyangka anak Ibu akan menikah dengan putri Dokter Reza. Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah mengangkat derajat keluarga kita."

Hati Yoga serasa disayat sembilu melihat binar bahagia di mata ibunya. Ia menelan ludah yang terasa pahit. "Ibu... Diandra... ada yang harus Yoga bicarakan."

Suara Yoga yang berat dan bergetar membuat suasana ceria itu seketika lenyap. "Yoga nggak bisa melanjutkan pernikahan ini. Besok... tidak akan ada pernikahan dengan Dinda."

***

"Apa? Mas, jangan bercanda! Undangan sudah disebar, gedung sudah siap!" Diandra berdiri dengan wajah pucat.

Ibu Sekar memegang lengan Yoga dengan tangan yang gemetar. "Nak, kamu bicara apa? Apa terjadi sesuatu sama Dinda? Dia sakit?"

Belum sempat Yoga menjelaskan, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama "Bunda Kanaya" tertera di layar. Yoga mengaktifkan loudspeaker agar ibunya bisa mendengar kebenaran itu sendiri.

"Yoga! Saya tidak main-main dengan ucapan saya tadi!" suara melengking Kanaya memenuhi ruangan. "Saya baru saja mengirimkan rincian total biaya sekolah kamu ke Australia, uang bulanan ibu kamu selama sepuluh tahun terakhir, dan renovasi rumah yang kamu tempati itu. Totalnya hampir lima belas miliar rupiah! Kalau kamu tidak muncul di gedung besok, saya pastikan besok pagi pengacara saya akan menyita rumah itu dan menyeret ibu kamu ke jalur hukum atas tuduhan penipuan!"

Klik. Sambungan diputus sepihak.

Kehancuran di Kamar Sederhana

Ibu Sekar jatuh terduduk di sofa, tangannya menutup mulut. "Lima belas miliar? Yoga... apa maksudnya ini?"

Yoga menceritakan semuanya dengan suara serak, tentang pengkhianatan Dinda di klub malam dan harga diri yang ia pertahankan. Namun, bagi seorang ibu yang ketakutan, moralitas terasa sangat jauh dibandingkan ancaman kemiskinan dan penjara.

Yoga masuk ke kamarnya, duduk di tepi ranjang yang sudah disiapkan dengan sprei baru untuk malam pengantin. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.

Ibu Sekar menyusul masuk, ia bersimpuh di kaki Yoga, memegang lutut putranya sambil terisak. "Yoga... Ibu mohon, Nak. Ibu tahu ini berat, Ibu tahu Dinda salah. Tapi tolong, jangan batalkan besok. Ibu nggak mau kita kehilangan rumah ini, Ibu nggak mau kamu hancur karena utang itu."

"Bu, Dinda mengkhianati Yoga. Dia tidur di pangkuan laki-laki lain..." bisik Yoga pedih.

"Ibu tahu, Nak. Tapi anggap saja ini demi Ibu, demi masa depan adikmu," isak Ibu Sekar makin kencang. "Tutup mata kamu buat kali ini saja. Setelah menikah, kamu bisa didik dia pelan-pelan. Tolong, Yoga... kalau kamu batalkan, keluarga kita mau tinggal di mana? Ibu sudah tua, Ibu nggak sanggup kalau harus menanggung malu dan utang sebanyak itu."

Yoga hanya bisa terdiam, duduk kaku di tepi ranjang. Di satu sisi, ada harga dirinya sebagai laki-laki yang sudah diinjak-injak. Di sisi lain, ada air mata ibunya dan ancaman kemiskinan yang nyata. Kamar itu terasa semakin sempit, seolah dinding-dindingnya perlahan menghimpit napas sang dokter internis ternama itu.

Pagi itu, atmosfer di ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat terasa begitu megah. Wangi bunga lili putih dan melati yang mahal memenuhi ruangan, namun bagi Prayoga Aditama, aroma itu tak ubahnya bau bangkai yang menyesakkan.

Yoga berdiri di depan meja akad, mengenakan beskap putih gading yang sangat pas di tubuh atletisnya. Wajahnya datar, seolah-olah dia sedang bersiap melakukan operasi bedah yang paling melelahkan, bukan menyambut hari paling bahagia dalam hidupnya.

***

Di hadapan penghulu dan Dokter Reza yang tampak masih pucat namun berusaha tersenyum, Yoga menjabat tangan pria yang telah membesarkannya itu.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Dinda Dewi binti Reza Raharjo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Yoga dengan satu tarikan napas. Suaranya berat, tegas, namun dingin tanpa getaran emosi sedikit pun.

"Sah?"

"Sah!"

Suara sorak syukur dari para tamu undangan menggema di seluruh ballroom. Namun, bagi Yoga, kata "Sah" itu terdengar seperti vonis penjara seumur hidup yang baru saja ia tanda tangani demi menyelamatkan rumah dan harga diri ibunya.

Di sampingnya, Dinda Dewi duduk dengan anggun dalam balutan kebaya pengantin yang sangat mewah. Di balik kerudung tipisnya, ia tersenyum lebar, senyum penuh kemenangan. Ia tahu, meskipun ia tertangkap basah berkhianat, posisinya sebagai putri tunggal pemilik rumah sakit tetap menjadi kartu as yang tak bisa dikalahkan Yoga.

Di barisan kursi depan, Kanaya Dewi juga tidak bisa menyembunyikan binar kepuasan di matanya. Ia menatap Yoga dengan pandangan meremehkan, seolah ingin berkata, "Lihat kan? Pada akhirnya kamu hanyalah bidak catur yang bisa saya atur dengan uang."

Saat sesi bersalaman, para kolega dokter ternama memberikan selamat. Mereka melihat pasangan ini sebagai power couple di dunia medis: si dokter internis jenius dan putri sang pemilik rumah sakit.

"Selamat ya, Yoga. Akhirnya resmi juga," bisik salah satu dokter senior.

Yoga hanya mengangguk formal, bibirnya dipaksakan untuk melengkung tipis, sebuah akting yang sangat sempurna. Namun, saat Dinda mencoba menggandeng lengannya dengan mesra untuk sesi foto, Yoga mempererat otot lengannya, menciptakan jarak yang tak terlihat namun terasa nyata bagi Dinda.

"Puas, Din?" bisik Yoga sangat pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh musik gamelan, namun cukup untuk membuat senyum Dinda sedikit membeku.

"Mas, kita sudah sah. Lupakan yang kemarin, ya?" balas Dinda dengan suara manja yang biasanya membuat Yoga luluh.

Yoga tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, ke arah kamera yang terus menyalakan flash. Di dalam kepalanya, ia sudah merancang strategi. Ia memang kalah dalam pertempuran ini demi ibunya, tapi ia belum kalah dalam perang besar untuk merebut kembali harga dirinya.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!