NovelToon NovelToon
Dibuang Pak Jendral, Kunikahi Adiknya

Dibuang Pak Jendral, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Dokter Genius / Tamat
Popularitas:10.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kim99

"Nak!" panggil Pak Basuki. "Masih belum rela, ya. Calon suami kamu diambil kakak kamu sendiri?"

Sebuah senyum tersungging di bibir Sashi, saat ini mereka sudah ada di sebuah restoran untuk menunggu seseorang.

"Ya sudah, mending sama anak saya daripada sama cucu saya," kata sang kakek.

"Hah?" kaget Sashi. "Cucu? Maksudnya, Azka cucu eyang, jadi, anaknya eyang pamannya Mas Azka?"

"Hei! Jangan panggil Eyang, panggil ayah saja. Kamu kan mau jadi menantu saya."

Mat!lah Sashi, rasanya dia benar-benar tercekik dalam situasi ini. Bagaimana mungkin? Jadi maksudnya? Dia harus menjadi adik ipar Jendral yang sudah membuangnya? Juga, menjadi Bibi dari mantan calon suaminya?

Untuk info dan visual, follow Instagram: @anita_hisyam TT: ame_id FB: Anita Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Situasi Genting

Dua perahu karet tim SAR menyusuri area pinggiran kota yang dulunya hidup dan ramai, kini nyaris rata dengan tanah. Air kecoklatan cukup tinggi menenggelamkan aspal, menelan pagar dan rumah-rumah. Sisa-sisa puing mengambang, sebagian tergulung arus perlahan.

Sashi duduk di ujung perahu, tangan menggenggam erat pegangan. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke arah bangunan tiga lantai yang tampak miring, seperti hendak tumbang setiap saat.

"Takut?" suara berat Letkol Dirga memecah kesunyian, entah benar-benar bertanya atau mengejek.

Sashi menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan. "Enggak."

Dirga menyunggingkan senyum kecil. "Kalau takut, bisa kembali. Gak ada yang maksa kamu di sini."

"Saya bukan tipe yang mundur, Komandan." Sashi mendengus kecil.

Saat perahu mendekati bangunan tiga lantai yang separuhnya sudah tenggelam, Dirga berdiri dan memberi aba-aba. "Perahu dua, ke sisi kanan. Jangan terlalu dekat, pastikan arus tenang. Siapkan tambang."

Mesin dimatikan, air beriak pelan.

Sashi hendak berdiri, namun keseimbangannya goyah karena beban tas medis di tangannya. Dirga sigap menahan lengannya dari bawah, sementara anggota SAR dari atas balkon menariknya naik. Begitu berhasil menapak lantai balkon yang miring, lutut Sashi sedikit gemetar.

Kalau bangunan ini amblas, mereka mungkin tidak akan sempat menyelamatkan siapa pun.

"Ikuti saya," kata Dirga. Sashi mengangguk dan mengikuti. Berpencar dengan yang lain.

Mereka berdua mulai memanggil, berteriak.

"Halo! Ada orang di dalam?" teriak Sashi. Namun, ia hampir tergelincir dan Dirga menahan lengannya.

"Terima kasih." Sashi mengangguk.

"Jangan ceroboh!"

Pintu kusam di ujung terbuka sedikit, seorang anak laki-laki dengan rambut lepek dan baju kotor muncul dari baliknya.

Melihat hal itu, Sashi cepat berjongkok. "Sayang, ada siapa aja di dalam?"

Anak itu menunjuk ke ruangan besar di belakang. Dirga pun melangkah cepat dan membuka pintu lebar. Seketika keduanya terpaku.

Di dalam ruangan yang pengap dan gelap, ada lebih dari sepuluh orang. Nenek-nenek, kakek yang lumpuh, anak-anak, dua bayi yang terbaring dalam kardus, dan dua ibu hamil, salah satunya tergeletak lemas, pucat pasi. Seorang pria tampak kaku, separuh wajahnya melorot, gejala stroke.

"Inalillahi," bisik Sashi.

Dirga langsung mengangkat tangannya, memberi aba-aba. "Tim SAR! Prioritaskan evakuasi anak-anak lansia dan ibu hamil!"

Sashi berlutut di samping ibu hamil yang wajahnya pucat. Ia membuka peralatan medis, mengambil termometer dan memeriksa nadi.

"Demam tinggi. Nadi cepat," gumamnya. Saat tangannya menyentuh sisi perut, ia merasakan keanehan. "Izin dilihat ya, Bu." Perempuan itu hanya mengangguk.

Lalu dengan hati-hati membuka pakaian ibu itu dan seketika ia terkejut.

Ada memar besar, keunguan, di sisi kanan perut.

Sashi menoleh ke arah Dirga. "Komandan... ini trauma tumpul. Bisa jadi perdarahan dalam."

Pria itu langsung berbicara ke radio. "Posko utama, ini Komandan 37, koordinat saya dua delapan delapan utara. Kirim unit medis segera. Prioritas satu, ibu hamil trauma perut! Kami kekurangan orang."

Ibu hamil kedua mulai meringis kesakitan.

"Aduh... perutku... sakiiit...!"

"Kontraksi mulai!" Sashi membuka sarung tangan steril, bersiap memeriksa lebih lanjut, namun sebelum sempat menyentuh apa pun .... Bangunan berguncang.

"Astaghfirullah!"

Lantai berderit. Dinding retak di sisi kanan terlepas sebagian.

"Evakuasi! Sekarang juga!" Dirga berteriak sambil melindungi satu bayi yang masih ada di sana.

"Posko utama, saya ulang! Kirim tambahan perahu karet dan tandu basket! Banyak korban rentan dan satu ibu melahirkan! Informasi sebelumnya keliru."

Ketika guncangan sudah berhenti, Sashi menoleh panik. "Komandan! Kalau dia lahiran di sini, takut bangunannya keburu tenggelam, tapi ....!" Sashi Bingung harus melakukan apa. Dia yakin kalau ibu hamil satunya sudah kehilangan anak yang dia kandung.

Dirga menahan napas, lalu menatapnya tajam.

"Kamu tetap fokus! Ke balkon! Pindahkan mereka ke titik evakuasi!"

"Siap!"

** **

Mereka mulai dipindahkan satu per satu ke perahu karet. Prosesnya tidak mudah. Anak-anak dipeluk erat oleh petugas SAR, lansia digendong dengan hati-hati, beberapa ditandu oleh dua orang bersamaan karena tak bisa berdiri sendiri.

Bagian tersulit adalah evakuasi korban yang tak mampu bergerak sama sekali, seorang pria tua lumpuh, dan si ibu hamil dengan trauma di perut. Ketegangan menyelimuti situasi saat itu, seolah waktu menipis lebih cepat daripada napas mereka.

Lalu, suara berderum terdengar dari kejauhan.

"Helikopter!" seru salah satu anggota SAR dari bawah.

Dari langit yang semakin gelap, helikopter SAR mulai menurunkan tandu basket dengan tali baja. Angin dari baling-balingnya membuat air beriak dan barang ringan beterbangan, menciptakan badai kecil.

"Sashi!" Dirga berteriak di tengah bisingnya udara. "Prioritaskan yang trauma!"

Sashi mengangguk cepat, lalu memanggil seorang relawan medis yang ikut serta.

"Tolong, kamu sampaikan ke dokter nanti! Wanita ini trauma abdomen, Doppler gak deteksi detak jantung janin! Harus segera ditangani, mungkin perdarahan dalam!" katanya cepat.

Ibu hamil itu, pucat, diam, dan hampir tak sadar, diletakkan di tandu basket. Saat ia perlahan diangkat ke udara, Sashi menatapnya lama, seperti menggantungkan harapan terakhir di tali baja yang membawanya menjauh dari bencana.

"Hati-hati!" kata Dirga sebelum memegang tali yang turun dari helikopter. Sashi hanya mengangguk dan kembali fokus pada tugasnya.

Saat itu, langit yang muram akhirnya menyerah. Hujan turun deras, tanpa aba-aba. Petir menyambar jauh di barat, dan air mulai meninggi.

Ketika sudah ada di perahu, Sashi meminta yang lain untuk duduk di pinggir, sedang si ibu di tengah-tengah dengan posisi siap untuk melahirkan dalam kondisi hujan dengan segala keterbatasan.

"Bukaan sepuluh! Kepala bayi sudah turun!"

Sashi menoleh pada yang lain. "Ambil kain apa pun! Jaket atau terpal, Cepat!"

Perahu karet bergoyang di tengah air. Hujan makin menggila, dan suara petir menggelegar.

Wanita itu menggenggam tangan yang lain erat-erat. Wajahnya tegang, basah oleh hujan dan peluh. Napasnya tersengal.

"Ayo, Bu... lihat saya. Ikuti aba-aba saya, ya? Tarik napas... satu... dua... tiga... sekarang, dorong!"

Ibu itu mengejan, wajahnya menegang. Perahu berayun ringan, membuat semuanya terasa mustahil.

Di atas helikopter, Dirga memantau pergerakan dari udara. Radio di tangannya penuh suara statik dan laporan.

"Tim dua, Bidan Sashi membantu persalinan darurat di perahu. Kondisi hujan ekstrem."

Dirga menggenggam radio lebih erat. Harusnya dia yang di bawah, tapi ibu hamil yang bersamanya dan pria dengan trauma di dada membutuhkan operasi segera.

"Tarik napas lagi, Bu. Kita bisa. Sedikit lagi, iya betul seperti itu!" seru Sashi.

"Arghh, Bu Bidan, saya tidak kuat, saya lemes, Bu."

"No!" pekik Sashi ketika ibu itu malah memejamkan mata. "Bu, Ibuuuuuuu!" pekiknya.

1
Ninik Rochaini
kok bodoh Kabeh sing pny rmh...selidiki apa bener ibu ny skt, trs semua art ny gk diseleksi/dicari gmn gt sblm krj dirmh ny
Ninik Rochaini
kok makin jengkel kan sih😡
Ninik Rochaini
jd perempuan kok bodoh banget...kamu udh jd istri org ngapain plg kermh yg bikin kamu skt hati😡
Ninik Rochaini
jgn kyk gt Dirga...Sashi udh hancur dg masa lalu ny jgn bikin tmbh hancur lg...
Ninik Rochaini
gk bs ngebayangin...rasanya gk sanggup dlm situasi bgt
Sumarni Abdul Gani
bagus banget ceritanya 👍
Aleendra
luar biasa
Bella. pr1ncess
bosan aku bacanya selalu ngalah dan ngalah terus tidak ada perlawanan dari sashi
Bella. pr1ncess
ada lagi demit dirumah dirga kalau dirga lebih membela mb ika lebih baik sashi sendiri aja deh percuma punya suami kalau tidak bisa bela istri
Bella. pr1ncess
jengah aku ma sashi masa dirga yg hanya usil malah ditampar terus.disiksa ma keluarga sambung diam aja
Bella. pr1ncess
bodoh sashi sashi orang berpendidikan kok mau ditindas kalau peran utama yg tegas sedikit dong thor
Bella. pr1ncess
sashi itu ya bodoh udah tau diberlakukan gak adil masih aja disitu padahal ayahnya kan menempati ruang sempit dimasdjid dia juga punya penghasilan sendiri kenapa mau djadikan babu oleh keluarga sambungnya gak masuk akal
Bella. pr1ncess
dirga itu gila mentang mentang atasan seenaknya nyuruh bawah an push ap 1000 kali mau bunuh orang dia
sakura🇵🇸
tolong diralat mba...itu baju2 surgaaaa
baju haram klo g ditunjukin ke suami🤭🤭
Emilia
Bagus ka,
Maulidia Okta
berbulu kelinci ya😄
Maulidia Okta
ceritanya bikin tegang, suka banget thor..
Pena Asiah🖊🍒
mantap keren cerita nya, bantu support aku ya kak pemula aku udah rilis *Rindu Yang Menyakitkan*. tolong di bantu ya kak🙏
Wirly Pena
semangat thor💪

halo temen2, jangan lupa mampir di " aku istri mu, bukan babumu "

terimakasih 🙏
Wek 1705
ada ya klw di novel ibu yg TDK menyayangin anak di dunia nyata sih ga ada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!