Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Tanya
Seminggu telah berlalu sejak Asha mendengar percakapan Arsa dan Raya di taman sekolah.
Seminggu di mana ia berusaha keras untuk tidak terlalu memikirkan kedekatan mereka berdua.
Tapi itu mustahil. Setiap hari ia harus melihat Arsa dan Raya tertawa bersama, mengobrol dengan akrab, dan menghabiskan waktu bersama.
Dan setiap hari pula, hati Asha semakin teriris.
🌷🌷🌷🌷
Pagi ini, Asha datang ke sekolah dengan langkah yang lesu. Ia hampir tidak tidur semalam karena terus memikirkan Arsa.
Saat ia berjalan di koridor, ia melihat Arsa sedang berdiri sendirian di depan kelas sembari membaca buku.
Raya belum datang. Ini kesempatan yang jarang.
Asha ragu sejenak, tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk menghampiri Arsa.
"Arsa..." panggil Asha dengan suara yang pelan.
Arsa mendongak dari bukunya dan melihat Asha berdiri di depannya. Wajahnya terlihat terkejut.
"Asha... Ada apa?" tanya Arsa dengan nada yang hati-hati.
Asha menarik nafas panjang. "Gw... Gw mau ngomong sesuatu sama lo."
Arsa menutup bukunya dan menatap Asha dengan serius. "Oke. Ngomong aja."
Asha menunduk, tangannya mengepal di samping tubuhnya.
"Lo... Lo sama Raya... Kalian deket banget ya sekarang?"
Arsa terdiam mendengar pertanyaan Asha. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Kami... Kami cuma teman. Teman masa kecil yang ketemu lagi" jawab Arsa akhirnya dengan suara yang pelan.
Asha tertawa pahit. "Cuma teman? Lo yakin?"
"Maksud lo apa, Asha?" tanya Arsa dengan nada yang mulai defensif.
Asha mengangkat kepalanya dan menatap mata Arsa dengan tatapan yang tajam.
"Lo sama dia tertawa bareng, makan bareng, pulang bareng... Bahkan jalan ke cafe bareng. Itu namanya cuma teman?"
Arsa tersentak mendengar ucapan Asha. "Kamu... Kamu tau dari mana?"
"Dari Instagram. Temen sekelas kita posting foto lo berdua" jawab Asha dengan nada yang dingin.
Arsa menghela nafas panjang. "Asha, dengerin aku dulu—"
"Gw udah denger cukup banyak, Arsa" potong Asha dengan suara yang bergetar.
"Lo bilang lo butuh waktu buat mikir. Lo bilang lo gak bisa maksa diri lo buat jatuh cinta lagi sama gw. Gw ngerti itu."
Asha menarik nafas yang tercekat.
"Tapi kenapa... Kenapa lo bisa senatural itu sama Raya? Kenapa lo bisa tertawa sebebas itu sama dia? Padahal sama gw, lo selalu canggung..."
Air mata Asha mulai jatuh. Tapi ia cepat-cepat menghapusnya.
"Apa... Apa gw sebegitu gak berarti buat lo?"
Arsa merasakan dadanya sesak mendengar pertanyaan Asha. Ia ingin menjawab, tapi kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Asha... Bukan begitu. Aku sama Raya itu... Kami punya kenangan masa kecil. Jadi aku merasa nyaman sama dia" jelas Arsa dengan nada yang berusaha menenangkan.
"Nyaman?" ulang Asha dengan nada yang tidak percaya.
"Lo nyaman sama dia, tapi lo gak pernah nyaman sama gw?"
"Bukan gitu maksud aku—"
"Terus apa?" potong Asha dengan suara yang mulai nyaring.
"Lo tau gak Arsa, gw udah berusaha keras banget buat bikin lo nyaman. Gw ceritain kenangan kita, gw bantuin lo belajar, gw bahkan rela denger lo bilang lo gak bisa ingat gw."
Asha memegang dadanya yang terasa sesak.
"Tapi lo sama sekali gak pernah berusaha buat ingat gw. Lo malah asik sama Raya. Lo malah lebih milih ngabisin waktu sama dia daripada ngasih gw kesempatan."
Arsa terdiam. Ia tidak tau harus membela diri atau tidak. Karena sebagian dari apa yang Asha katakan memang benar.
"Asha... Maafin aku. Aku gak bermaksud buat nyakitin kamu" ucap Arsa dengan suara yang penuh penyesalan.
Asha menggeleng pelan. Air matanya semakin deras.
"Lo tau yang paling nyakitin apa, Arsa? Bukan karena lo lupa sama gw. Bukan juga karena lo putus sama gw."
Asha menatap mata Arsa dengan tatapan yang begitu menyakitkan.
"Yang paling nyakitin itu... Lo bisa ingat Raya dengan sempurna. Lo bisa tertawa sama dia, bisa nyaman sama dia. Sementara gw... Gw cuma jadi orang asing buat lo."
"Itu... Itu yang paling nyakitin..."
Arsa merasakan dadanya seperti ditusuk mendengar ucapan Asha. Ia ingin memeluk Asha, ingin menghiburnya.
Tapi ia tidak bisa. Karena ia tau, ia tidak punya hak untuk melakukan itu lagi.
"Asha... Aku bener-bener gak tau harus gimana. Aku juga bingung sama perasaan aku sendiri" ucap Arsa dengan jujur.
"Terus gw harus gimana? Gw harus terus ngeliat lo sama Raya bahagia sementara gw menderita sendirian?" tanya Asha dengan suara yang penuh frustrasi.
Arsa terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Keheningan merajai mereka untuk beberapa saat. Hanya suara siswa-siswa lain yang mulai berdatangan yang terdengar dari kejauhan.
"Arsa..." panggil Asha dengan suara yang pelan.
"Ya?"
"Gw cuma mau lo jujur sama gw. Lo... Lo masih punya perasaan sama gw gak? Atau lo udah bener-bener move on?"
Arsa menatap mata Asha yang penuh harap. Ia mencoba merasakan apa yang ada di dalam hatinya.
Tapi yang ia rasakan hanya... Kebingungan.
"Aku... Aku gak tau, Asha. Aku bener-bener gak tau" jawab Arsa dengan jujur.
Asha tersenyum pahit. "Gak tau... Atau emang udah gak ada?"
Arsa tidak menjawab. Dan diam itu adalah jawaban yang cukup untuk Asha.
"Oke. Gw ngerti" ucap Asha dengan suara yang sangat pelan.
Ia lalu berbalik, akan berjalan meninggalkan Arsa. Tapi tiba-tiba ia berhenti dan menoleh lagi.
"Arsa... Kalau lo sama Raya jadian, kasih tau gw ya. Biar gw bisa bener-bener move on."
Setelah itu, Asha berjalan masuk ke kelas dengan langkah yang terhuyung.
Arsa terdiam di tempatnya. Ada perasaan aneh yang ia rasakan di dadanya. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
'Kenapa... Kenapa rasanya sakit banget ya...' batin Arsa sembari memegang dadanya.
🌷🌷🌷🌷
Tidak lama kemudian, Raya datang dengan senyuman lebar.
"Hmm, pagi Arsa! Maaf aku telat. Tadi bannya kempes" sapa Raya dengan ceria.
Arsa memaksakan senyum. "Pagi, Lea. Gapapa kok."
Raya menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Arsa. "Hmm, kamu kenapa? Kok wajahnya kusut gitu?"
"Enggak kok. Aku baik-baik aja" jawab Arsa sembari mengalihkan pandangan.
Tapi Raya tidak percaya. Ia menatap Arsa dengan tatapan yang penuh perhatian.
"Hmm, Arsa... Kamu habis ngomong sama Asha ya?" tanya Raya dengan hati-hati.
Arsa terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Raya menghela nafas. "Hmm, dia... Dia ngomongin aku ya?"
Arsa tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Raya.
Raya tersenyum sedih. "Hmm, aku ngerti kok kenapa Asha kayak gitu. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga bakal sedih."
"Lea..." panggil Arsa dengan nada yang penuh rasa bersalah.
Raya menggeleng pelan. "Hmm, gak apa-apa kok. Aku paham posisiku. Aku tau kalau kehadiran aku di sini bikin Asha sakit hati."
"Tapi Arsa... Aku gak bisa ngehindarin kamu. Karena kamu... Kamu teman masa kecil aku yang paling berharga."
Raya menatap mata Arsa dengan tatapan yang tulus.
"Hmm, jadi kalau kamu merasa bersalah sama Asha gara-gara kedekatan kita, aku... Aku bisa ngejauh kok. Aku gak mau jadi alasan kalian bertengkar."
Arsa cepat-cepat menggeleng. "Enggak, Lea. Kamu gak perlu ngejauh. Ini bukan salah kamu."
"Hmm, tapi Asha—"
"Aku sama Asha udah putus. Kami udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi kamu gak perlu merasa bersalah" potong Arsa dengan nada yang tegas.
Raya terdiam mendengar ucapan Arsa. Di dalam hatinya, ada perasaan senang tapi juga kasihan kepada Asha.
"Hmm, oke kalau gitu. Tapi kalau kamu butuh waktu sendiri, bilang aja ya. Aku ngerti kok" ucap Raya dengan senyuman lembut.
Arsa tersenyum tipis. "Makasih ya, Lea. Kamu bener-bener pengertian."
Mereka lalu masuk ke kelas bersama. Yang tidak mereka sadari adalah...
Asha berdiri di dalam kelas, melihat mereka berdua dari balik jendela dengan air mata yang terus mengalir.
'Jadi lo bener-bener gak mau ngejauh dari Raya ya, Arsa...' batin Asha dengan perasaan yang hancur.
'Gw... Gw udah gak ada harapan lagi...'
🌷🌷🌷🌷
Saat jam pelajaran dimulai, Asha tidak bisa fokus sama sekali. Pikirannya terus saja dipenuhi oleh percakapannya dengan Arsa tadi pagi.
"Aku gak tau, Asha. Aku bener-bener gak tau."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Membuat dadanya semakin sesak.
'Gak tau... Berarti udah gak ada perasaan lagi...' batin Asha dengan kepahitan yang luar biasa.
Saat istirahat pertama, Cinta langsung menghampiri Asha dengan wajah khawatir.
"Sha, gw liat lo ngomong sama Arsa tadi pagi. Kalian ngomong apa?" tanya Cinta dengan nada penasaran.
Asha menunduk, tidak menjawab.
"Sha..." panggil Cinta dengan nada yang lebih lembut.
Asha mengangkat kepalanya. Mata Cinta langsung terbelalak melihat wajah Asha yang penuh air mata.
"Cin... Gw udah gak ada harapan lagi..." ucap Asha dengan suara yang tercekat.
"Arsa bilang dia gak tau dia masih punya perasaan sama gw atau enggak. Dan dia... Dia gak mau ngejauh dari Raya."
Air mata Asha jatuh begitu saja.
"Gw kalah, Cin... Gw bener-bener kalah..."
Cinta langsung memeluk Asha dengan erat. "Sha... Lu gak kalah. Jangan bilang kayak gitu."
"Tapi itu kenyataannya, Cin. Arsa lebih milih Raya daripada gw. Dia lebih nyaman sama Raya daripada gw" isak Asha di pelukan Cinta.
Cinta mengelus punggung Asha dengan lembut. Hatinya ikut teriris melihat sahabatnya menderita seperti ini.
"Sha... Dengerin gw. Lu harus kuat. Jangan sampe lu jatuh gara-gara cowok" ucap Cinta dengan nada yang berusaha menguatkan.
Asha menggeleng di pelukan Cinta. "Gw gak bisa, Cin. Gw bener-bener gak bisa..."
"Gw udah nyerah... Gw udah gak sanggup lagi..."
Cinta merasakan dadanya sesak mendengar ucapan Asha. Ia tidak tau harus berkata apa lagi untuk menghibur sahabatnya.
Yang bisa ia lakukan hanya memeluk Asha dengan erat, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu, di sudut lain kelas, Arsa duduk sendirian di kursinya sembari menatap kosong ke depan.
Percakapannya dengan Asha tadi pagi terus berputar di kepalanya.
"Lo bisa ingat Raya dengan sempurna. Lo bisa tertawa sama dia, bisa nyaman sama dia. Sementara gw... Gw cuma jadi orang asing buat lo."
Ucapan Asha itu menusuk hatinya. Membuatnya merasa bersalah yang luar biasa.
'Kenapa... Kenapa aku bisa nyakitin Asha sebegitunya...' batin Arsa dengan perasaan yang kalut.
Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam kepalanya.
Dalam bayang-bayang penglihatannya, ia melihat wajah Asha yang tersenyum.
"Aku sayang banget sama kamu, Arsa."
Lalu bayangan itu hilang, meninggalkan Arsa dengan rasa sakit yang hebat.
"Argh..." erang Arsa pelan sembari memegang kepalanya.
Raya yang duduk tidak jauh darinya langsung menyadari.
"Hmm, Arsa! Kamu kenapa? Kepala kamu sakit lagi?" tanya Raya dengan nada khawatir sembari mendekat.
Arsa menggeleng pelan. "Gapapa kok. Cuma pusing dikit aja."
Tapi Raya tidak percaya. Ia melihat wajah Arsa yang terlihat begitu kesakitan.
"Hmm, ayo ke UKS. Kamu harus istirahat" ajak Raya sembari membantu Arsa berdiri.
Arsa tidak menolak. Ia membiarkan Raya membantunya berjalan menuju UKS.
Asha yang melihat itu semua dari pelukan Cinta merasakan dadanya semakin sesak.
'Bahkan saat lo sakit pun, yang lo butuhin itu Raya, bukan gw...' batin Asha dengan air mata yang terus mengalir.
'Gw... Gw bener-bener udah gak ada artinya lagi buat lo ya, Arsa...'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Huhuhu sedih banget 😭 Asha akhirnya nanya langsung ke Arsa, tapi jawaban Arsa malah bikin dia makin sakit hati...
Arsa bilang dia gak tau masih punya perasaan ke Asha atau enggak, dan dia gak mau ngejauh dari Raya. Kasian banget Asha 💔
Kira-kira Asha beneran bakal nyerah? Atau masih ada harapan buat mereka?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku