NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 - Dua Pandangan, Dua Arah

Situasi di ruangan rapat itu semain canggung.

Tidak ada yang berbicara. Tidak ada pula yang bergerak. Beberapa perwira masih duduk dengan posisi sama sejak Antono Wijaya meninggalkan ruangan beberapa menit lalu. Kursi kosong di ujung meja—tempat Antono duduk sebelumnya—terasa seperti meninggalkan bayangan, seolah keberadaannya masih menekan udara di dalam ruangan.

Kalimat-kalimatnya singkat. Terlalu singkat untuk ukuran rapat penyelidikan.

Namun justru karena itu, kalimat-kalimat itu terasa berat.

Berhenti mencari apa yang ditinggalkan.

Cari apa yang tidak berubah.

Jangan berasumsi.

Dan terakhir, sebelum pintu tertutup:

“Selesaikan dengan cepat dan tepat. Tanpa kesalahan.”

Bukan perintah dengan nada tinggi.

Bukan ancaman.

Hanya pernyataan.

Namun semua orang tahu, itu bukan sekadar saran.

Beberapa anggota saling bertukar pandang. Ada yang menghela napas panjang, ada pula yang menunduk sambil memijat pelipis. Bagi sebagian dari mereka, pendekatan Antono terasa abstrak—bahkan menyebalkan. Polisi dibesarkan dengan bukti, dengan jejak, dengan kepastian. Dan pria itu justru meminta mereka menerima kekosongan.

Arga Suseno akhirnya memecah keheningan.

“Kar,” katanya sambil menoleh ke arah Karina, suaranya rendah namun jelas, “kamu yakin Pak Antono bisa bantu kita nyelesain kasus ini?”

Nada ragu itu tidak dibuat-buat. Arga bukan tipe orang yang asal berbicara. Ia cermat, sistematis, dan terbiasa mengandalkan data. Dan dalam kasus ini, yang paling mencolok justru ketiadaan data.

Karina menoleh. Tatapannya tegas, hampir refleks.

“Kamu ngeraguin Pak Antono?” balasnya. “Dia itu detektif keren. Kasus-kasus yang mentok bisa kelar di tangannya.”

Arga mengangkat bahu sedikit. “Bukan soal keren atau nggaknya.”

Karina menyela cepat, seolah tidak ingin celah keraguan itu berkembang.

“Beliau emang nggak banyak bicara, tapi dibuktiin dengan hasil. Kamu tahu kasus pembunuhan tahun 2012? Yang semua orang anggap mustahil?”

Arga terdiam sesaat.

“Dia nyelesain itu sendirian,” lanjut Karina. “Tanpa tim besar. Tanpa sorotan media.”

“Justru itu,” sahut Arga akhirnya. “Kamu lupa skandal setelahnya?”

Beberapa kepala di ruangan itu sedikit menoleh, meski berpura-pura tidak mendengar. Nama Antono selalu datang bersama bayangan masa lalu yang tidak pernah benar-benar dibahas secara terbuka.

“Itu yang bikin dia nggak pernah naik jabatan,” lanjut Arga pelan. “Sejak itu, dia jarang turun langsung. Kamu yakin dia masih orang yang tepat?”

Karina menatap Arga lurus-lurus.

“Skandal itu terbukti nggak?” tanyanya dingin.

“Dia dipecat nggak?”

Arga tidak langsung menjawab.

“Nggak kan?” lanjut Karina. “Selama dia masih pakai lencana, selama dia masih dipercaya turun ke kasus begini, berarti institusi juga tahu siapa dia.”

Arga menghela napas. Tidak membalas lagi. Bukan karena sepenuhnya setuju, melainkan karena tahu Karina tidak berbicara tanpa dasar.

Rapat pun berakhir tanpa kesimpulan final.

Tidak ada rencana besar yang diumumkan. Tidak ada pembagian tugas detail. Yang ada hanya perasaan menggantung—seperti berdiri di persimpangan tanpa papan petunjuk.

Karina keluar dari ruang rapat lebih dulu.

Koridor kantor polisi terasa lebih ramai dibanding pagi tadi. Beberapa petugas lalu-lalang, suara telepon berdering, mesin fotokopi berdengung. Dunia terus bergerak, sementara pikirannya justru melambat.

Ia berjalan menuju parkiran dan masuk ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening.

Karina menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

Yang dibilang Arga ada benarnya, pikirnya.

Pak Antono sudah cukup lama tidak menangani kasus seperti ini.

Bayangan pria itu muncul di kepalanya—cara duduknya yang tegak, tatapan matanya yang tajam, dan ketenangan yang hampir terasa asing di tengah kekacauan.

Tapi siapa lagi?

Siapa yang mau membantu kami menangani kasus ini?

Karina menghela napas panjang.

Hanya dia yang benar-benar paham medan seperti ini.

Mesin mobil dinyalakan. Karina keluar dari area kantor dan bergabung dengan arus lalu lintas kota.

Siang telah lewat. Matahari tidak lagi menyengat seperti beberapa jam sebelumnya. Cahaya mulai berubah, lebih hangat, lebih lembut. Langit perlahan berwarna oranye pucat—waktu di mana hari seolah menyiapkan diri untuk menyerah pada malam.

Namun jalanan justru padat.

Mobil-mobil berhenti hampir tanpa bergerak. Klakson terdengar bersahutan, namun tidak agresif—lebih seperti keluhan kolektif. Karina melirik jam di dashboard. Macet ini tidak biasa.

Pandangan matanya tertarik pada sesuatu di kejauhan.

Orang-orang.

Bukan sekadar berdiri, tapi berkerumun. Beberapa terlihat berlari kecil, beberapa lainnya justru menjauh sambil menutup hidung atau wajah. Ada yang menoleh cepat lalu mempercepat langkah seolah tidak ingin membawa pulang apa yang baru saja mereka lihat.

Karina merasakan firasat yang tidak menyenangkan.

Ia menepikan mobilnya di sisi jalan dan turun. Tanpa sadar, langkahnya berubah menjadi lari kecil ke arah kerumunan.

“Ada apa ini…?” gumamnya.

Begitu mendekat, aroma tidak sedap mulai tercium. Bukan bau sampah. Bukan pula bau got. Ini lebih pekat. Lebih berat.

Karina menghentikan seorang pria paruh baya yang tampak hendak pergi.

“Permisi, Pak,” katanya. “Ini ada apa ya? Kok ramai?”

Pria itu menggeleng cepat sambil menutup hidung dengan lengan bajunya.

“Mending pulang aja, Dek,” katanya. “Kamu nggak bakalan kuat lihatnya.”

Nada suaranya bukan bercanda. Ada ketakutan di sana. Juga jijik.

Karina semakin yakin.

“Saya dari kepolisian, Pak,” katanya sambil menunjukkan kartu identitas. “Bisa tolong jelaskan ada apa di dalam?”

Pria itu menelan ludah. Wajahnya pucat.

“Di dalam itu ada mayat yang—” ia terhenti, wajahnya berubah, lalu berbalik sedikit. “Huek… mengenaskan, Bu. Saya nggak kuat… saya nggak—”

“Mayat?” potong Karina.

Pria itu mengangguk cepat, lalu benar-benar pergi.

Karina tidak menunggu lagi.

Ia menyelinap masuk di antara kerumunan, memaksa diri melewati celah-celah tubuh orang yang berdiri setengah lingkaran. Beberapa orang memprotes, beberapa lainnya membiarkannya lewat begitu melihat identitasnya.

Begitu ia melangkah masuk ke area yang lebih tertutup, dunia seolah berhenti.

Karina mematung.

Matanya terbuka lebar. Napasnya tertahan.

Apa yang ia lihat tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah ruang kosong—bekas bangunan tua yang tidak lagi difungsikan. Lampu seadanya menyala redup. Dan di tengah ruangan itu… tubuh seorang manusia.

Atau lebih tepatnya, apa yang tersisa darinya.

Bagian-bagian tubuh terpisah, tergantung rapi, seperti hasil pekerjaan yang dingin dan terkontrol. Tidak ada kekacauan panik. Tidak ada tanda perlawanan yang berlebihan. Semuanya… teratur. Terlalu teratur.

Karina meneguk air liur.

Dada kirinya terasa sesak.

Bukan karena takut semata.

Melainkan karena satu kesadaran yang perlahan menyusup.

Ini berbeda.

Namun juga… terhubung.

Ia memaksa dirinya berpaling, melangkah keluar dengan cepat sebelum tubuhnya bereaksi lebih jauh. Begitu berada di luar, ia menarik napas dalam-dalam, berulang kali, mencoba menenangkan detak jantungnya.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel.

“Ini Karina Intan,” katanya begitu sambungan tersambung. “Saya butuh tim segera. Amankan lokasi. Netralisir kerumunan.”

Kasus satu.

Kasus dua.

Dan sekarang… kasus tiga.

Semuanya terjadi dalam waktu yang berdekatan. Bahkan belum genap tiga hari.

Beberapa menit kemudian, garis polisi mulai dipasang. Suara radio komunikasi bersahutan. Lampu kendaraan patroli menyala, memantulkan cahaya merah-biru ke wajah-wajah warga yang masih penasaran sekaligus ketakutan.

Karina kembali masuk ke lokasi, kali ini dengan lebih terkendali.

Ia berdiri di tengah ruangan itu, mengamati setiap sudut. Bau darah mengendap di udara. Lantai dingin. Dinding kosong. Tidak ada tulisan. Tidak ada simbol. Tidak ada benda asing.

Sekali lagi—tidak ada jejak.

“Bu Karina,” sapa seorang petugas forensik yang baru datang. “Kondisi korban… tidak biasa.”

Karina mengangguk. “Saya lihat.”

Ia berjongkok perlahan, menjaga jarak. Matanya menyapu detail dengan fokus penuh.

Tidak ada alat tertinggal.

Tali? Tidak.

Bekas sepatu? Tidak jelas.

Sidik jari? Nol.

Pelaku ingin dilihat, batinnya.

Tapi tidak ingin dikenali.

Pelaku memanfaatkan tempat ini dengan sempurna.

Karina berdiri kembali. Tangannya mengepal tanpa sadar.

Di kepalanya, dua suara mulai beradu.

Suara pertama—naluri lapangan, yang berteriak bahwa ini eskalasi, bahwa pelaku semakin berani, semakin ekstrem.

Suara kedua—gema kalimat Antono.

Jangan cari apa yang ditinggalkan.

Cari apa yang tidak berubah.

Karina memejamkan mata sejenak.

Tiga lokasi berbeda.

Tiga jenis korban berbeda.

Namun satu kesamaan mutlak: ketiadaan jejak.

“Dua pandangan,” gumamnya pelan.

“Dua arah.”

Di satu sisi, penyelidikan konvensional menuntut bukti fisik.

Di sisi lain, pendekatan Antono memaksa mereka membaca kekosongan.

Karina membuka mata. Ia melihat Antono Wijaya berdiri di dekat pintu, jasnya rapi, wajahnya datar. Tidak ada reaksi berlebihan di matanya. Tidak ada keterkejutan yang terlihat. Ia hanya berdiri, mengamati, seperti seseorang yang sedang membaca ulang buku lama.

Di belakangnya, Arga masuk dengan langkah lebih hati-hati. Wajahnya langsung berubah begitu melihat kondisi TKP.

“Gila…” gumam Arga tanpa sadar.

Antono tidak menoleh.

“Jangan pakai kata itu,” katanya datar. “Kata itu menandakan kita tidak mengerti.”

Arga terdiam.

Antono melangkah masuk lebih jauh. Ia tidak mendekati korban. Tidak menyentuh apa pun. Ia hanya berdiri di tengah ruangan dan memutar badan perlahan, memperhatikan ruang, bukan isi.

“Pelaku tidak datang ke sini untuk membunuh,” ucapnya tiba-tiba.

Karina menoleh cepat.

“Maksud Bapak?”

“Pembunuhan sudah selesai sebelum tubuh digantung,” jawab Antono. “Tempat ini hanya panggung.”

Arga mengernyit.

“Kalau begitu kita harus cari lokasi pembunuhan awal. Cek CCTV radius—”

“Tidak,” potong Antono cepat.

Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup membuat Arga berhenti bicara.

“Kalau kamu mulai dari asumsi itu,” lanjut Antono, “kamu sudah terlambat dua langkah.”

Karina menatap mereka bergantian.

“Pak, Arga benar soal satu hal. Kita perlu bergerak cepat. Tekanan publik sudah naik.”

Antono menoleh ke arah Karina. Tatapannya tajam, tapi tidak keras.

“Cepat itu perlu. Panik itu pilihan.”

Arga menyilangkan tangan.

“Dengan segala hormat, Pak. Tanpa bukti fisik, kita butuh metode konvensional. Pola korban, waktu, rute—”

“Metode konvensional gagal dua kali,” potong Antono. “Ini yang ketiga.”

Ruangan kembali sunyi.

Antono melangkah ke sudut ruangan, menunjuk satu titik kosong di lantai.

“Lihat ini.”

Karina mendekat.

“Apa?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Antono. “Dan itu konsisten di semua TKP.”

Arga menghela napas.

“Kekosongan bukan bukti, Pak.”

Antono menoleh pelan.

“Justru kekosongan yang paling jujur.”

Ia berdiri tegak, lalu berkata dengan suara rendah namun tegas:

“Pelaku ini bukan ingin kabur. Dia ingin kita salah arah.”

Karina menelan ludah.

“Jadi menurut Bapak…?”

“Kita jangan mengejar dia,” jawab Antono. “Kita harus memotong langkah berikutnya.”

Arga mendongak.

“Itu terlalu berisiko.”

“Risiko terbesar,” sahut Antono, “adalah berpikir kita punya waktu.”

Antono menatap mereka berdua.

“Kasus ini tidak bisa ditangani dengan ego metode. Kalau kalian ingin cepat dan tepat tanpa kesalahan, kalian harus sepakat dulu—apakah mau melihat apa yang ada, atau berani melihat apa yang sengaja dihilangkan.”

Karina merasakan dadanya menghangat oleh campuran takut dan keyakinan.

Ia tahu, sejak detik ini, penyelidikan tidak lagi berjalan lurus.

Ini bukan soal siapa yang paling benar.

Melainkan siapa yang paling siap menghadapi arah yang tidak nyaman.

Dan di antara dua pandangan itu

satu hal menjadi jelas:

Kesalahan sekecil apa pun akan dibayar dengan satu nyawa lagi.

Selain itu, kasus ini tidak lagi sekadar soal menangkap pelaku.

Ini tentang memilih cara berpikir yang benar—sebelum kota ini kembali sunyi oleh satu kematian lagi.

Dan jauh di dalam dirinya, sebuah pertanyaan mulai terbentuk:

Apakah mereka masih memimpin penyelidikan… atau hanya mengikuti bayangan yang tidak pernah ingin dilihat?

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!