NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Andrew menyesap espresso dinginnya sambil menatap tiga monitor yang menyala di depannya. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi bagi Andrew, hari baru saja dimulai. Di lantai atas gedung perkantoran kawasan SCBD ini, suara bising Jakarta hanya terlihat seperti kerlip lampu tanpa suara.

​Pintu ruangannya terbuka dengan dentuman pelan. Andrew tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berani masuk tanpa mengetuk.

​"Gila, lo masih di sini? Workaholic lo udah di level butuh bantuan profesional, Kak."

​Ares masuk dengan gaya santainya yang khas, oversized hoodie dari brand ternama dan aroma parfum yang wanginya tercium sampai sudut ruangan. Ia menghempaskan diri di sofa kulit milik Andrew, kakinya yang memakai sneakers edisi terbatas itu seenaknya naik ke atas meja kopi.

​"Ada apa, Res? Gue lagi ngejar deadline audit," jawab Andrew tanpa mengalihkan pandangan dari deretan angka di layar.

​"Bosan banget hidup lo. Sekali-kali healing kenapa?" Ares terkekeh, jemarinya sibuk mengutak-atik ponsel. "Tapi gue ke sini bukan mau ceramah. Gue cuma mau kasih tahu... gue kayaknya udah nemu the one."

​Gerakan mouse di tangan Andrew terhenti. Ia melepaskan kacamata pelindung radiasinya dan memijat pangkal hidung. "Lagi? Minggu lalu bukannya lo bilang model yang baru debut itu 'orangnya'?"

​"Ini beda," nada suara Ares berubah. Lebih serius, lebih lembut. "Dia bukan dari kalangan artis. Dia... pure. Dia nggak peduli gue siapa atau seberapa banyak followers gue. Dia kerja di galeri seni kecil di pinggiran kota. Namanya Alana."

​Andrew memutar kursinya, mulai tertarik meskipun ia berusaha tetap terlihat cuek. "Alana?"

​"Iya. Orangnya cantik, simpel, tapi kalau dia udah ngomongin lukisan, matanya tuh... gila, lo harus lihat sendiri. Dia punya vibe yang bikin gue ngerasa hidup gue yang glamor ini tuh cuma sampah," Ares tersenyum lebar, tipe senyum yang biasanya ia simpan untuk kamera, tapi kali ini terasa sangat tulus. "Gue serius sama dia, Kak. Gue pengen bawa dia ke acara ulang tahun perusahaan bulan depan."

​Andrew terdiam. Sebagai "penjaga" nama baik keluarga, biasanya ia akan langsung menginterogasi latar belakang wanita mana pun yang didekati Ares. Tapi mendengar cara Ares menyebut nama itu ada sesuatu yang aneh berdesir di dada Andrew. Sebuah rasa penasaran yang tidak masuk akal.

​"Jangan gegabah, Res. Lo tahu Papi nggak suka kalau lo bawa orang sembarangan ke acara formal," nasehat Andrew, mencoba kembali ke mode 'kakak yang logis'.

​"Makanya, gue butuh bantuan lo buat yakinin Papi nanti. Lo kan anak emas kesayangan beliau," Ares bangkit, berjalan menghampiri meja Andrew dan meletakkan ponselnya yang menyala di atas meja. "Nih, lihat fotonya. Cantik, kan? Tapi aslinya jauh lebih cakep dari ini."

​Andrew menunduk. Di layar ponsel itu, ada sebuah foto candid. Seorang wanita sedang berdiri di depan kanvas putih, rambutnya diikat asal, dengan noda cat di pipinya. Ia sedang tertawa ke arah kamera.

​Detik itu, dunianya yang hitam-putih seolah disiram warna yang belum pernah ia lihat. Andrew merasa dadanya sesak, bukan karena marah, tapi karena sebuah pengakuan yang mengerikan di dalam kepalanya: Kenapa wajah itu terasa seperti sesuatu yang selama ini gue cari?

​"Cantik," jawab Andrew singkat. Suaranya sedikit serak.

​"Kan? Ya udah, gue balik dulu. Ada jadwal shooting besok pagi-pagi banget. Don't work too hard, Kak!" Ares menepuk bahu Andrew kuat-kuat sebelum melenggang pergi.

​Ruangan itu kembali sunyi. Andrew kembali menatap monitornya. Tapi grafik keuntungan perusahaan yang tadi ia banggakan sekarang terasa hambar. Ia meraih ponselnya sendiri, jemarinya ragu, sebelum akhirnya mengetik satu nama di kolom pencarian media sosial: Alana.

​Logika Andrew berkata ini salah. Tapi hatinya, untuk pertama kali, menolak untuk patuh.

-----

Jakarta sedang diguyur hujan tipis saat Andrew melangkah keluar dari mobilnya di depan sebuah coffee shop berkonsep industrial. Seharusnya, sore ini berjalan sesuai rencana, bertemu klien penting, tanda tangan kontrak, lalu kembali ke kantor untuk meeting internal.

​"Oke, Pak Sanjaya. Saya rasa poin-poinnya sudah jelas. Tim legal kami akan mengirimkan draf revisinya besok pagi," ucap Andrew sambil menutup laptopnya.

​"Sempurna. Senang berbisnis dengan Anda, Pak Andrew. Anda memang persis seperti Sang Ayah, tidak pernah meleset," puji pria paruh baya itu sebelum pamit pergi.

​Andrew menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk tinggal sebentar, menyesap sisa kopi hitamnya yang sudah mendingin. Matanya menatap keluar jendela kaca yang berembun, dan saat itulah ia melihatnya.

​Di seberang jalan, tepat di samping sebuah bangunan kecil dengan papan nama kayu bertuliskan "LANA’S ATELIER", seorang wanita sedang bersusah payah menurunkan gulungan kanvas besar dari sebuah mobil pick-up.

​Andrew tertegun. Alana.

​Wanita di foto itu, wanita yang diceritakan Ares dengan begitu bersemangat semalam, kini ada di depan matanya. Dia memakai apron denim yang kotor terkena noda cat, kaus putih polos, dan rambut yang dicepol asal-asalan. Sangat jauh dari standar "calon menantu" keluarga Adrian Wijaksana yang biasanya harus serba formal.

​Tapi justru itu masalahnya. Andrew tidak bisa berhenti melihat.

​Salah satu gulungan kanvas Alana tergelincir dari pelukannya karena tetesan air hujan membuat permukaan kanvas itu licin. Tanpa sadar, kaki Andrew sudah bergerak lebih cepat dari otaknya. Ia meninggalkan jas mahalnya di kursi kafe dan berlari kecil menembus rintik hujan.

​"Perlu bantuan?"

​Alana tersentak. Ia mendongak, matanya yang besar dan jernih itu menatap Andrew dengan ekspresi terkejut. "Eh? Ah, iya... terima kasih."

​Andrew memungut gulungan kanvas yang jatuh. Tangan mereka sempat bersentuhan saat Andrew mencoba mengambil alih beban kanvas yang lain. Dingin air hujan beradu dengan suhu tubuh mereka, menciptakan sensasi yang membuat Andrew mendadak lupa cara bernapas dengan benar.

​"Bawa ke dalam saja?" tanya Andrew singkat, berusaha menjaga suaranya tetap sedatar mungkin agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja terkena serangan jantung ringan.

​"Iya, di sana, dekat meja kayu itu," Alana menunjuk ke dalam galeri kecilnya yang hangat dan beraroma campuran cat minyak serta kayu manis.

​Setelah semua kanvas aman di dalam, Alana mengambil handuk kecil dan menyodorkannya pada Andrew. "Maaf, baju kamu jadi basah. Padahal kayaknya itu kemeja mahal banget."

​Andrew melirik kemejanya yang kini bercak air hujan. "Nggak apa-apa. Ini cuma kemeja biasa."

​Alana tersenyum. Senyum yang sama dengan di foto itu, tapi versi definisi tinggi ini jauh lebih berbahaya bagi kesehatan mental Andrew. "Makasih ya... mmm, nama kamu siapa?"

​"Andrew," jawabnya singkat. Ia sengaja tidak menyebutkan nama belakangnya. Ia ingin tahu, apakah Alana akan menatapnya dengan cara yang sama jika ia hanya seorang "Andrew" biasa, bukan Andrew Putra Wijaksana.

​"Aku Alana. Kamu kerja di sekitar sini?Kayaknya aku lumayan sering lihat orang pakai setelan kayak kamu di kafe depan, tapi baru kali ini ada yang mau hujan-hujanan bantu angkat kanvas," Alana terkekeh pelan sambil merapikan rambutnya yang sedikit basah.

​"Saya hanya kebetulan lewat," kata Andrew berbohong. Padahal, ia merasa seluruh dunia sengaja berhenti berputar hanya agar ia bisa berdiri di sini, di ruangan sempit penuh warna ini, bersama wanita ini.

​"Mau kopi? Sebagai tanda terima kasih. Aku punya mesin kopi kecil di belakang, rasanya nggak kalah sama yang di depan," tawar Alana ramah.

​Logika Andrew berteriak: Pergi! Kamu punya meeting sepuluh menit lagi!

Tapi hatinya berbisik: Tetap di sini. Sebentar saja.

​"Boleh," jawab Andrew, mengabaikan getaran ponsel di saku celananya yang menandakan sekretarisnya sedang mencari keberadaannya.

​Saat Alana berjalan menuju dapur kecilnya sambil bersenandung kecil, Andrew berdiri di tengah galeri, dikelilingi lukisan-lukisan abstrak yang penuh emosi. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Adiknya benar. Alana seperti wanita bercahaya.

​Dan Andrew, yang selama ini hidup dalam kegelapan tanggung jawab, mendadak merasa sangat haus akan cahaya itu. Meskipun ia tahu, mendekati cahaya itu berarti ia harus siap untuk terbakar.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!