Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Penyesalan di Titik Terendah
Gerakan jari Mas Fikar semalam sempat memberi secercah harapan, namun pagi ini kegelapan kembali merayap, menyelimuti hati Ibu Sofia. Wanita yang biasanya selalu tampil dengan perhiasan mewah dan dagu terangkat itu kini tampak begitu ringkih di kursi tunggu koridor rumah sakit. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, tangan yang dulu dengan angkuh menampar pipiku dan menyodorkan surat cerai tanpa perasaan.
Aku keluar dari ruang ICU hanya untuk sekadar menghirup udara yang lebih lega, dan saat itulah mata kami bertemu. Tidak ada lagi kilat kebencian yang biasa kulihat di sana. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang dalam.
Kiki, suaranya serak, nyaris tak terdengar di antara bising koridor. Dokter bilang peluangnya tipis. Organ organ dalamnya mulai mengalami komplikasi akibat benturan itu.
Aku hanya diam, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin dan berbau obat. Rasanya aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya bahwa semua ini adalah buah dari benih kebencian yang ia tanam sendiri. Namun, melihatnya hancur seperti itu, aku hanya merasakan kelelahan yang luar biasa. Amarahku seolah terkuras habis.
Aku selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuk Fikar, lanjut Ibu Sofia. Air mata mulai mengalir, melewati kerutan di wajahnya yang kini tampak kusam. Aku pikir kamu hanya benalu. Aku pikir Clara adalah kunci untuk menjaga martabat keluarga Dirgantara. Aku begitu buta oleh silsilah dan harta hingga aku membiarkan ular masuk ke rumahku dan mematuk anakku sendiri.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, terisak dengan bahu yang berguncang hebat. Aku yang menyuruhnya mengirim surat cerai itu padamu, Kiki. Aku mengancam akan mencabut seluruh hak warisnya dan membiarkan perusahaan hancur jika dia tidak melepaskanmu. Dia melakukannya untuk melindungiku, melindungi warisan ayahnya. Tapi dia melakukannya sambil menangis. Aku melihatnya menghancurkan barang barang di ruang kerjanya setelah menandatangani surat itu.
Mendengar pengakuannya, dadaku terasa seperti dihantam ombak besar yang menyesakkan. Jadi, Mas Fikar tidak benar benar ingin membuangku. Dia terjepit di antara kewajiban sebagai anak dan cintanya padaku. Pria itu menanggung beban yang begitu berat sendirian, sementara aku justru terus menghakiminya dengan kata kata tajam yang melukai.
Ibu tahu? suaraku akhirnya keluar, dingin namun bergetar hebat. Saat Mas Fikar sadar nanti, jika Tuhan mengizinkan, harta dan martabat yang Ibu puja itu tidak akan ada artinya lagi. Dia sudah kehilangan kepercayaannya pada Ibu. Dan aku, aku tidak tahu apakah aku bisa melihat Ibu dengan cara yang sama lagi.
Ibu Sofia mengangguk lemah, menerima setiap kata kataku sebagai hukuman yang memang layak ia terima. Aku tahu. Aku telah kehilangan putraku bahkan sebelum maut menjemputnya. Aku adalah ibu yang membunuh kebahagiaan anaknya sendiri.
Tiba tiba, seorang perawat berlari keluar dari ruang ICU dengan wajah tegang. Keluarga Bapak Fikar? Pasien mengalami penurunan saturasi oksigen secara drastis! Dokter meminta keluarga segera masuk!
Duniaku runtuh seketika. Kami berdua berlari masuk ke dalam ruangan yang kini dipenuhi bunyi alarm dari mesin mesin penunjang hidup. Aku melihat Mas Fikar berjuang untuk bernapas, dadanya naik turun dengan tidak beraturan, tampak begitu tersiksa. Dokter sedang sibuk memeriksa monitor yang menunjukkan angka angka yang terus menurun dengan cepat.
Mas! Mas Fikar, jangan! aku menjerit, menggenggam tangannya yang kini terasa sedingin es. Kamu bilang kamu ingin menebus semuanya! Kamu belum melakukannya, Mas! Bangun!
Ibu Sofia jatuh berlutut di sisi lain tempat tidur, menjerit memanggil nama anaknya, memohon pengampunan pada Tuhan dan pada putranya yang sedang sekarat. Di titik terendah ini, semua kekayaan Dirgantara benar benar terasa seperti tumpukan kertas tak berharga. Tak ada satu pun berlian atau saham yang bisa membeli satu helai napas untuk Mas Fikar.
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, mengabaikan segala hiruk pikuk medis di sekitarku. Mas, aku memaafkanmu. Aku bersumpah aku memaafkanmu. Jadi tolong, kembalilah. Jangan biarkan bab terakhir kita berakhir di ruangan ini.
Di tengah kekacauan itu, Mas Fikar tiba tiba membuka matanya sedikit. Hanya celah kecil, namun ia menatapku. Sebuah tatapan yang penuh dengan rasa sakit, kerinduan, dan penyesalan yang mendalam. Bibirnya yang pucat bergerak sedikit tanpa suara, seolah sedang membisikkan namaku untuk terakhir kalinya sebelum matanya kembali terpejam rapat. Mesin jantung mengeluarkan bunyi panjang yang datar, beeeeeep, yang seketika menghentikan seluruh gerakan di ruangan itu.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.