"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Permintaan Meningkat
Senin pagi, Suyin berangkat kerja dengan perasaan aneh—campuran antara excited dan nervous. Kantong totebag-nya penuh dengan tomat hasil panen, terbungkus rapi dalam plastik ziplock. Target hari ini: nawarin ke teman-teman kantor.
"Pagi, Suyin!" sapa Mira, rekan satu divisi yang mejanya bersebelahan. "Lho, kamu kok kelihatan seger banget? Baru dari salon?"
Suyin tersenyum. Efek minum air ajaib setiap hari memang bikin penampilannya berubah drastis—kulit glowing, mata lebih cerah, bahkan rambut yang biasanya kusam sekarang berkilau.
"Nggak kok, cuma rajin minum air putih aja," bohong Suyin sambil duduk di mejanya.
"Bohong deh. Pasti pakai skincare mahal," goda Mira. "Spill dong produknya apa!"
Sebelum Suyin sempat jawab, bos mereka—Pak Hendra, kepala divisi desain interior—lewat sambil membawa kopi.
"Suyin, jangan lupa presentasi proyek Villa Bogor siang nanti ya. Kliennya datang jam dua."
"Siap, Pak!" Suyin langsung buka laptop, fokus ke pekerjaan.
Tapi sepanjang pagi, pikirannya terus melayang ke ruang dimensi. Penasaran sayuran yang ditanam kemarin udah tumbuh seberapa besar. Penasaran tomat yang dijual Bibi Wang laku atau nggak.
Jam istirahat siang tiba. Suyin mengajak Mira dan dua teman kantor lainnya—Dina dan Rika—ke pantry untuk makan siang bareng.
"Eh, gue bawain oleh-oleh nih," ucap Suyin sambil mengeluarkan plastik ziplock berisi tomat. "Tomat hasil nanem sendiri. Coba deh."
"Lho, kamu nanem tomat? Di mana?" tanya Dina penasaran.
"Di balkon apartemen. Hobi baru," jawab Suyin santai—cover story yang udah dilatih.
Mira mengambil satu tomat, membaliknya. "Wah, bagus banget! Mulus gini. Beli bibit di mana?"
"Toko pertanian biasa kok."
Rika mencuci tomat di wastafel, lalu menggigitnya langsung. Matanya melebar.
"ENAK BANGET!" serunya kencang sampai beberapa orang di pantry menoleh. "Ini tomat apa sih? Manis banget! Kayak buah!"
Dina dan Mira langsung ikutan nyobain. Reaksi mereka sama—terkejut dan langsung ketagihan.
"Suyin, ini dijual nggak? Gue mau beli!" Mira sudah mengeluarkan dompet.
"Serius? Gue juga mau!" Dina ikutan.
Suyin pura-pura mikir. "Ya udah deh. Rp 12.000 per buah. Gue bawa sisa sepuluh buah."
"Oke, gue ambil lima!" Mira transfer uang langsung.
"Gue ambil lima juga!" Dina menyusul.
Dalam lima menit, sepuluh buah tomat ludes terjual. Suyin bahkan harus janji bawain lagi besok karena beberapa teman kantor lain yang lihat dan ikutan mau beli.
Sore hari, Suyin pulang kerja dengan senyum lebar. Kantong totebag-nya ringan—tomat habis terjual. Dompetnya bertambah Rp 120.000 dari penjualan di kantor.
Begitu sampai apartemen, ia langsung cek ponsel. Ada pesan dari Bibi Wang di WhatsApp.
Bibi Wang: "Suyin, tomat kemarin LUDES! Ibu-ibu pada pesen lagi. Kamu ada stok? Mereka mau pesan banyak!"
Suyin tersenyum. Bisnis berjalan lebih cepat dari yang ia kira.
Suyin: "Ada, Bi. Nanti sore aku antar ya. Berapa buah yang dipesan?"
Bibi Wang: "50 buah! Apa kamu sanggup?"
50 buah?! Suyin mengecek kardus di kamar—masih ada 15 buah dari panen sebelumnya. Berarti kurang 35 buah lagi.
Untungnya tanaman tomat di ruang dimensi pasti sudah berbuah lagi.
Tanpa buang waktu, Suyin masuk ke ruang dimensi.
WUSH!
Begitu mendarat, ia langsung berlari ke area tanaman tomat. Dan benar saja—puluhan buah tomat merah mengkilap menggantung di setiap batang.
"Perfect timing!" serunya sambil mulai memetik satu per satu.
Kali ini ia lebih sistematis. Suyin sudah bawa keranjang plastik dari apartemen khusus untuk panen. Ia memetik hanya tomat yang benar-benar matang sempurna—merah merata, kulitnya kencang, tidak ada bercak.
Total panen: 68 buah!
"Lebih dari cukup," gumam Suyin puas.
Tapi matanya tertarik ke bedengan sayuran yang ditanam kemarin. Sawi, kangkung, bayam, dan selada sudah setinggi sepuluh sentimeter! Daun-daunnya hijau segar, tumbuh rapat dan sehat.
"Besok-besok kayaknya bisa panen sayuran juga," ucapnya sambil menyiram semua tanaman dengan gembor.
Sebelum keluar, Suyin duduk sebentar di kursi lipat dekat mata air. Ia meraup air dan minum—kesegaran langsung menyebar ke seluruh tubuh. Capek seharian kerja hilang dalam sekejap.
"Ini surga kecil pribadi," bisiknya sambil tersenyum. "Terima kasih, Nenek."
Suyin membawa keranjang berisi tomat keluar dari ruang dimensi. Ia sortir tomat-tomat itu—yang paling bagus untuk dijual, yang agak penyok sedikit untuk konsumsi sendiri.
Sore itu, ia antar 50 buah tomat ke apartemen Bibi Wang. Tetangganya itu menyambut dengan wajah berbinar.
"Wah, tepat waktu! Ibu-ibu udah pada nunggu nih!" Bibi Wang langsung foto tomat-tomat itu dan kirim ke grup WhatsApp arisan.
Tidak sampai sepuluh menit, tiga orang ibu-ibu sudah datang ke apartemen Bibi Wang untuk ambil tomat pesanan mereka. Suyin yang kebetulan masih di sana jadi ikut ketemu.
"Jadi ini yang nanem tomat enak itu?" tanya Ibu Rita, wanita gemuk berkacamata. "Mbak Suyin ya?"
"Iya, Bu. Saya Lin Suyin."
"Wah, muda banget! Rajin ya nanem-nanem gini." Ibu Rita tersenyum ramah. "Mbak nanem sayuran lain nggak? Kayak sawi, kangkung gitu?"
Suyin langsung ingat bedengan sayuran di ruang dimensinya yang sebentar lagi siap panen.
"Rencana mau nanem sih, Bu. Kenapa?"
"Kalau ada, saya mau beli! Saya lagi cari supplier sayuran organik yang terpercaya buat keluarga. Tomat Mbak enak banget, jadi pasti sayuran lain juga bagus."
Ibu Santi, yang ikut ambil tomat, nyambung. "Saya juga mau! Anak saya alergi pestisida, jadi harus makan sayuran organik beneran. Tapi yang di supermarket mahal banget dan kadang nggak yakin organiknya beneran atau nggak."
Suyin melihat peluang. "Baik, Bu. Nanti kalau saya panen sayuran lain, saya kabarin lewat Bibi Wang ya."
Setelah ibu-ibu itu pergi dengan tomat pesanan mereka, Bibi Wang menyerahkan amplop cokelat ke Suyin.
"Ini uangnya. Total Rp 600.000 untuk 50 buah. Udah aku itung."
Suyin menerima amplop itu dengan perasaan tak percaya. Enam ratus ribu! Dari tomat! Yang ia tanam sendiri dalam waktu cuma beberapa hari!
"Makasih banyak, Bi. Bibi udah bantu banget."
"Sama-sama, Nak. Lagian aku juga seneng bantu kamu. Kamu kan udah kayak ponakan sendiri." Bibi Wang tersenyum hangat. "Tapi Suyin, kalau demand-nya makin banyak, kamu sanggup nggak? Takutnya kewalahan."
Suyin menggenggam gelang giok di tangannya—sumber kekuatan rahasianya.
"Insya Allah sanggup, Bi. Saya usahain."
Malam itu, Suyin tidak bisa tidur. Bukan karena stress atau sedih—tapi karena terlalu excited.
Ia duduk di kasur dengan laptop, menghitung-hitung pemasukan.
PEMASUKAN MINGGU PERTAMA:
Penjualan ke Bibi Wang (5 buah): Rp 50.000
Penjualan tomat ke ibu-ibu arisan (50 buah): Rp 600.000
Penjualan ke teman kantor (10 buah): Rp 120.000
TOTAL: Rp 770.000
Dalam seminggu, ia sudah dapat hampir sejuta rupiah! Dan ini baru dari tomat. Belum sayuran lain yang sebentar lagi siap panen.
"Kalau sebulan bisa dapat 3-4 juta dari sampingan..." Suyin menghitung dalam hati. Gajinya sebagai desainer interior cuma Rp 6 juta sebulan. Kalau bisnis sayuran ini jalan terus, bisa-bisa penghasilan sampingannya setara gaji!
Tapi Suyin sadar—ia harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan rahasia ruang dimensinya. Jangan sampai terlalu greedy sampai mencurigakan.
"Pelan-pelan tapi pasti," gumamnya sambil menutup laptop.
Ia berbaring di kasur, menatap langit-langit apartemen. Gelang giok di tangannya terasa hangat—seperti memeluk lembut.
Pikiran Suyin melayang ke nenek. Kenapa nenek memberikan ruang dimensi ini padanya? Apa nenek tahu Suyin akan menggunakannya untuk berbisnis? Atau ada maksud lain?
"Nenek pasti punya alasan," bisik Suyin. "Dan aku harus membuktikan bahwa aku worthy dapat hadiah ini."
Matanya mulai terasa berat. Tapi sebelum tidur, ia memutuskan masuk sebentar ke ruang dimensi—cek kondisi tanaman terakhir kali.
WUSH!
Begitu mendarat di rumput, Suyin langsung tahu ada yang berbeda.
Ruang dimensinya... lebih terang?
Ia mendongak. Langit di atas—yang biasanya biru cerah tapi agak redup—sekarang lebih bercahaya. Matahari (atau apapun itu) bersinar lebih hangat.
Dan yang lebih aneh lagi—mata air di tengah taman mengalir lebih deras. Suaranya lebih keras, airnya lebih jernih dan bercahaya.
"Apa yang terjadi...?"
Suyin berjalan mendekati mata air, berlutut di tepinya. Saat ia meraup air dan melihat pantulannya—ia terkejut.
Wajahnya di dalam air... bercahaya samar. Bukan kiasan—benar-benar ada cahaya lembut memancar dari kulitnya.
"Apa...?"
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara lembut bergema di seluruh ruang dimensi.
"Ruang tumbuh bersama tuannya. Semakin kau merawatnya, semakin ia berkembang."
Suara itu... suara nenek!
Suyin berdiri cepat, melihat sekeliling. "Nenek?! Nenek di mana?!"
Tidak ada jawaban. Hanya angin sepoi-sepoi yang membawa aroma bunga.
Tapi di tepi mata air, Suyin melihat sesuatu yang tidak ada sebelumnya—sebuah batu kecil berbentuk bulat, berwarna hijau seperti giok. Di permukaan batu itu, ada ukiran tulisan kuno yang tidak bisa ia baca.
Dengan tangan gemetar, Suyin mengambil batu itu. Hangat. Bergetar lembut di telapak tangannya.
Begitu ia menyentuhnya, pengetahuan tiba-tiba mengalir ke dalam pikirannya—seperti download informasi langsung ke otak.
Ruang Dimensi Giok - Level 1
Area: 2 hektar
Percepatan waktu: 10x
Kualitas tanah: Excellent
Kualitas air: Superior
Untuk upgrade ke Level 2: Tanam 100 jenis tanaman berbeda dan panen 1000 kg hasil tani.
Suyin terduduk di rumput, mencerna informasi itu.
Jadi... ruang dimensi ini bisa di-upgrade? Ada level-levelnya?
Dan kalau di-upgrade, apa yang akan terjadi? Area makin luas? Waktu makin cepat? Fungsi baru muncul?
"Ini makin gila," gumam Suyin, antara takjub dan sedikit overwhelmed.
Tapi di dalam hatinya, ada perasaan lain yang muncul—determination.
Ia punya tujuan baru sekarang. Bukan cuma jualan sayuran. Tapi mengembangkan ruang dimensi ini sampai level tertinggi—apapun itu.
"Oke, Nenek," ucap Suyin sambil tersenyum, menatap batu giok di tangannya. "Challenge accepted."
Ia meletakkan batu itu kembali di tepi mata air, lalu keluar dari ruang dimensi dengan tekad baru.
Hidupnya baru saja jadi jauh lebih menarik.
Dan Suyin siap menghadapi apapun yang akan datang.