Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
obsesi Angel
Angel menggenggam ponselnya erat, jemarinya bergetar saat menggulir layar Instagram milik Atlas. Matanya memerah melihat satu demi satu foto yang memenuhi feed pria itu.
"Apa-apaan ini?" desisnya tajam.
Bagi Angel, profil Instagram Atlas bukan seperti akun seorang pria dewasa yang ambisius, melainkan seperti monumen pemujaan untuk satu orang saja, Kaylee.
Foto Kaylee yang sedang tertawa dengan remah roti di sudut bibirnya. Foto tangan mereka yang bertautan di atas kemudi mobil balap. Foto siluet Kaylee yang sedang menatap salju dari balik jendela mansion. Di mata Angel, semua estetika yang dipuja-puja pengikut Atlas hanyalah sampah.
"Dia bahkan nggak punya foto dirinya sendiri yang sedang bekerja keras sebagai arsitek. Semuanya cuma Kaylee, Kaylee, dan Kaylee," gumam Angel dengan rasa obsesi yang mulai membakar logikanya.
"Dia bukan mencintai Kaylee, dia cuma terobsesi karena nggak ada wanita lain yang cukup berani buat narik dia keluar dari zona nyaman itu."
Angel merasa tertantang. Baginya, pesonanya adalah senjata yang belum pernah gagal. Ia yakin, jika ia bisa menyusup ke dalam hidup Atlas dan menawarkan dunia yang nyata dunia tanpa bayang-bayang saudara yang manja, Atlas akan sadar bahwa Kaylee hanyalah beban masa kecil.
Keesokan paginya di kampus, Angel tidak lagi menunggu di depan kelas. Ia datang lebih awal dan sengaja duduk di tempat favorit Atlas di perpustakaan. Saat Atlas datang dengan wajah mengantuk (karena semalam tidur di kamar Kaylee), Angel menyambutnya dengan senyum paling menawan.
"Pagi, At. Aku lihat Instagram kamu semalam," ujar Angel tanpa basa-basi.
Atlas mengerutkan kening, meletakkan tasnya dengan kasar. "Terus?"
"Foto-fotonya bagus. Tapi, sebagai calon arsitek besar, akun kamu terlalu... domestik. Terlalu banyak fokus ke satu objek yang sama," Angel merendahkan suaranya, sedikit condong ke arah Atlas. "Kenapa kamu nggak mulai posting karya kamu? Aku bisa bantu kelola akun kamu supaya lebih profesional. Kamu butuh personal branding yang lebih baik daripada sekadar foto sahabat yang terus-menerus."
Atlas menatap Angel datar. Ia teringat bagaimana Kaylee selalu menjadi orang pertama yang memuji setiap sketsanya, yang menemaninya begadang meski mata gadis itu sudah terpejam.
"Lo nganggap foto-foto itu sampah?" tanya Atlas dingin, seolah bisa membaca pikiran Angel.
Angel sedikit tersentak, namun ia tetap mencoba tenang. "Bukan sampah secara teknis, At. Tapi sampah secara citra. Kamu terlihat seperti pria yang nggak punya masa depan selain jadi pengasuh Kaylee."
Rahang Atlas mengeras. Ia baru saja akan membalas dengan kalimat tajam, namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Mommy (Ibu Kaylee) masuk ke grup keluarga mereka (yang isinya hanya Mommy, Ayah-Ibu Atlas, Kaylee, dan Atlas).
Mommy: "Atlas, Kaylee... malam ini pulang cepat ya. Ada berkas penting di ruang kerja Mommy yang harus kalian lihat bersama. Ini soal masa depan kalian."
Malam itu, Atlas dan Kaylee berdiri di depan meja jati besar milik Mommy. Di sana, sebuah amplop cokelat tua dengan segel lilin keluarga Theodore dan Lumiere tergeletak dengan angkuh.
"Mom, apa ini?" tanya Kaylee ragu.
Mommy menatap mereka berdua dengan senyum yang sulit diartikan. "Angel datang ke kantor Mommy sore tadi, menanyakan apakah kalian benar-benar saudara kandung karena dia ingin serius dengan Atlas."
Atlas mendengus sinis. "Cewek itu gila."
"Tapi kehadirannya membuat Mommy sadar, sudah saatnya sandiwara sahabat ini diakhiri," Mommy mendorong amplop itu. "Buka."
Atlas membukanya dengan tangan stabil, sementara Kaylee menahan napas. Saat kertas itu ditarik keluar, barisan kalimat formal dalam bahasa Finlandia dan Inggris terpampang jelas. Di bagian paling bawah, terdapat tanda tangan kedua orang tua mereka yang dibuat 20 tahun yang lalu.
"PERJANJIAN PENYATUAN KELUARGA: PERJODOHAN ATLAS THEODORE & KAYLEE LUMIERE."
Dunia seolah berhenti berputar. Kaylee merasa lututnya lemas, sementara Atlas terdiam mematung, matanya terpaku pada poin yang menyatakan bahwa mereka tidak boleh menjalin hubungan serius dengan orang lain selain satu sama lain.
"Jadi... selama ini..." suara Kaylee bergetar.
Atlas tiba-tiba tertawa rendah. Bukan tawa mengejek seperti saat di Rumah Kayu, tapi tawa lega yang meledak. Ia merobek sisa amplop itu, lalu menoleh ke arah Kaylee dengan binar mata yang lebih terang dari biasanya.
"Pantas saja gue nggak pernah bisa lepas dari lo, Ay," gumam Atlas. Ia menarik pinggang Kaylee di depan Mommy, lalu mengecup kening gadis itu dengan posesif.
"Ternyata semesta memang nggak kasih celah buat siapa pun, termasuk Angel."
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang tegas, mengunci dunia luar di balik kayu ek yang tebal. Atlas langsung menarik Kaylee ke dalam pelukannya, tak membiarkan ada satu inci pun jarak di antara mereka.
Atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah, tak ada lagi tawa jahil atau ejekan Mr. Jelek. Yang ada hanyalah intensitas yang meledak setelah bertahun-tahun terpendam di balik kata sahabat.
Atlas menangkup wajah Kaylee, ibu jarinya mengusap bibir gadis itu yang masih sedikit gemetar karena syok mengetahui kebenaran surat perjodohan tadi. Tanpa aba-aba, Atlas menunduk dan mencium Kaylee.
Kali ini bukan sekadar kecupan candu yang biasa mereka lakukan selama enam bulan terakhir. Ciuman ini terasa begitu posesif, dalam, dan penuh dengan rasa kepemilikan yang selama ini Atlas tahan mati-matian. Atlas menciumnya seolah ingin menegaskan bahwa surat di bawah tadi bukanlah sekadar kertas, melainkan takdir yang memang ia inginkan.
Kaylee terhanyut, tangannya meremas kaus Atlas, mencoba mencari pegangan karena dunianya seakan berputar hebat. Oksigen di paru-parunya menipis.
"Hah... hah... sudah, Atlas... aku... ndak bisa napas," bisik Kaylee terengah-engah saat Atlas akhirnya memberi sedikit ruang. Wajahnya merona hebat, matanya sayu menatap pria yang kini menatapnya dengan tatapan yang begitu gelap dan penuh damba.
Atlas tidak menjauh. Ia justru menyandarkan dahinya ke dahi Kaylee, membiarkan deru napas mereka saling beradu. Tangannya masih mengunci pinggang Kaylee dengan erat, seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, momen ini akan menguap.
"Ay..." suara Atlas pecah, terdengar begitu rendah dan tulus. "Selama ini gue selalu bilang kita saudara supaya gue nggak kehilangan lo. Gue selalu bilang ciuman kita hambar supaya gue nggak makin gila karena pengen Milikin lo seutuhnya."
Atlas menatap dalam ke netra Kaylee, mencari kejujuran di sana.
"Bisakah kamu mulai mencintaiku, Ay? Bukan sebagai kakak, bukan sebagai sahabat... tapi sebagai laki-laki kamu?" Atlas berbisik tepat di depan bibir Kaylee. "Gue janji, gue juga akan berusaha mencintai lo dengan cara yang seharusnya. Gue nggak mau ada orang lain, Gue cuma mau lo."
Kaylee terpaku. Kalimat yang ia tunggu selama bertahun-tahun itu akhirnya terucap. Segala pedih, cemburu, dan tangis diam-diamnya selama ini seolah terbayar lunas. Ia tidak sanggup berkata-kata, tenggorokannya terasa tersumbat oleh rasa bahagia yang membuncah.
Kaylee hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Atlas yang berdetak sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.
Atlas tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang paling tulus yang pernah ia miliki. Ia mendekap Kaylee semakin erat, menciumi puncak kepalanya berkali-kali. "Makasih, Ay. Mulai sekarang, nggak akan ada lagi kebohongan. Lo punya gue, dan gue... sepenuhnya punya lo."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍