Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Lampu neon di langit-langit motel nomor 204 berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang menari di wajah Debo yang pucat. Saat Almira dan Risky masuk dengan pakaian yang kotor oleh lumpur pelabuhan dan bau asap yang menyengat, Debo hampir saja melempar kamera di tangannya karena terkejut.
"Kak! Kau terluka?" Debo menghampiri Almira, matanya membelalak melihat noda darah kering yang menempel di jaket kakaknya—darah Hermawan.
Almira hanya menggeleng lemah. Ia langsung merosot duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa adrenalin dari pengejaran di Sunda Kelapa masih berdenyut di pelipisnya. "Aku tidak apa-apa, Deb. Tapi Paman Hermawan... dia sudah tidak ada."
Ruangan itu mendadak sunyi. Debo terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu. Meskipun Hermawan adalah orang yang menjebak ayah mereka, bagi Debo, pria itu tetaplah sosok yang dulu sering membelikannya es krim di D.C. Kematian terasa begitu nyata dan dekat sekarang.
"Jangan melamun sekarang," suara Risky memecah keheningan. Ia menutup gorden rapat-rapat, lalu mengunci pintu dengan grendel ganda. "Kita tidak punya banyak waktu. Debo, mana laptopmu?"
Debo segera mengambil laptop dari balik tumpukan baju. Risky mengeluarkan flashdisk berlumuran darah yang ia ambil dari Hermawan. Ia membersihkannya dengan tisu basah sebelum menancapkannya ke port USB. Almira bangkit berdiri, ikut mengerumuni layar kecil yang menjadi satu-satunya harapan mereka malam ini.
Layar laptop menampilkan folder yang diproteksi kata sandi. Risky mengumpat pelan. "Orang ini benar-benar tidak ingin hidupnya berakhir mudah. Dia mengunci datanya."
"Coba tanggal lahir anaknya," saran Almira. "Dia sangat menyayangi putrinya di Bandung."
Risky mencoba beberapa kombinasi angka. Gagal. "Bukan itu."
"Coba nomor pegawai Ayah," celetuk Debo. "Dia sering bilang kalau keberhasilannya di kementerian adalah karena membuntuti nomor keberuntungan Ayah."
Risky mengetikkan sederet angka. Layar memproses sejenak, lalu... klik. Folder terbuka.
Isinya bukan hanya dokumen teks, tapi rekaman suara dan beberapa foto pindaian kuitansi transfer bank. Mereka membuka salah satu file rekaman suara. Suara desis statis terdengar sejenak, lalu suara yang sangat mereka kenal muncul.
"...Baskoro adalah orang yang kaku, Hermawan. Dia tidak akan mau bekerja sama. Jadi, kita gunakan dia sebagai kendaraan. Pastikan koper itu sampai ke tangannya sebelum boarding. Setelah dia ditangkap di Jakarta, perhatian polisi akan tertuju padanya selama berbulan-bulan. Itu waktu yang cukup untuk kita memindahkan pengiriman yang lebih besar lewat jalur laut."
Almira menutup mulutnya dengan tangan. Itu suara Pak Wirayuda. Dingin, penuh perhitungan, dan tanpa penyesalan.
"Tapi bagaimana jika dia bicara, Pak?" tanya suara Hermawan dalam rekaman itu, terdengar ketakutan.
"Dia tidak punya bukti. Dia hanya diplomat yang malang yang tertangkap basah. Lagi pula, siapa yang akan percaya pada seorang tersangka narkoba dibandingkan pada Direktur Jenderal?"
Rekaman itu berakhir. Debo mengepalkan tangannya hingga gemetar. "Binatang. Dia menghancurkan Ayah hanya untuk dijadikan pengalih perhatian!"
Risky tidak membalas, ia sibuk membedah file lainnya. Matanya terpaku pada sebuah pindaian dokumen logistik. "Lihat ini. Ini bukan cuma soal sabu 5 kilogram yang ada di koper ayahmu. Itu hanya umpan. Dokumen ini menunjukkan pengiriman kontainer berlabel 'Bantuan Alat Medis' yang tiba di Pelabuhan Merak dua hari yang lalu. Isinya diperkirakan ratusan kilogram."
"Ini alasannya mereka membunuh Hermawan," gumam Almira. "Dia memegang bukti konspirasi besar ini untuk memeras Wirayuda."
"Dan sekarang bukti ini ada di tangan kita," Risky menatap Almira dengan serius. "Masalahnya, bukti digital seperti ini sangat mudah disanggah di pengadilan kalau tidak ada saksi ahli yang kuat atau bukti fisik yang mendampinginya. Kita butuh lebih dari sekadar rekaman suara."
"Deb, bagaimana dengan foto-fotomu?" tanya Almira teringat tugas yang ia berikan pada adiknya.
Debo membuka folder fotonya. "Aku menemukan sesuatu, Kak. Aku memperbesar foto saat kita di parkiran bandara di Amerika. Lihat ini."
Debo menunjukkan sebuah foto yang diambil dari kejauhan. Di sana terlihat Pak Baskoro sedang bersalaman dengan Hermawan di samping mobil. Namun, di latar belakang, terlihat seorang pria berpakaian seragam bandara sedang memasukkan koper hitam ke bagasi mobil mereka. Pria itu bukan Hermawan, dan bukan juga Ayah.
"Zoom bagian wajahnya," perintah Risky.
Debo melakukan crop dan memperjelas resolusinya. Wajah pria itu terlihat samar, namun ada tanda lahir yang mencolok di lehernya.
"Aku kenal orang ini," Risky mengernyitkan dahi. "Dia bukan staf bandara. Dia salah satu orang kepercayaan Wirayuda yang sering menangani 'urusan kotor'. Kalau kita bisa membuktikan dia ada di Amerika pada tanggal itu, kita bisa mematahkan tuduhan bahwa Ayahmu yang memasukkan narkoba itu ke koper."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Pelan, namun berirama.
Tok... tok-tok... tok.
Risky langsung meraih senjata tajam kecil dari balik sepatunya, sementara Almira menarik Debo ke belakangnya. Mereka menahan napas.
"Siapa?" tanya Risky dengan suara rendah.
"Ini aku, Yoga," suara pria dari balik pintu terdengar akrab bagi Risky. "Polisi sudah mulai melacak lokasi kartu SIM Almira yang sempat menyala tadi di stasiun. Kalian harus pergi sekarang. Mobil sudah siap di belakang."
Risky menghela napas lega, namun ketegangannya tidak berkurang. "Yoga adalah temanku yang memantau tempat ini. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi."
Mereka bergegas mengemasi barang-barang seadanya. Almira memasukkan laptop Debo ke dalam tasnya, sementara Risky memastikan tidak ada jejak yang tertinggal di kamar motel itu. Saat mereka keluar melalui pintu belakang yang menuju ke lorong sempit, udara malam Jakarta terasa semakin mencekam.
Di dalam mobil yang dikemudikan Yoga, seorang pria berambut gondrong dengan jaket lusuh, suasana terasa sangat tegang.
"Wirayuda sudah mengerahkan timnya," ucap Yoga sambil memutar kemudi dengan lihai melewati gang-gang sempit. "Berita tentang penangkapan ayahmu mulai digeser. Sekarang narasinya adalah: anak-anak Baskoro melarikan diri karena diduga terlibat dalam jaringan yang sama. Kalian sekarang adalah buronan."
Almira bersandar di kursi belakang, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur oleh air mata yang mulai mengenang. Ia merasa dunia sedang menjepit mereka dari segala arah. Ayahnya di penjara, paman mereka mati, dan kini mereka menjadi buronan di negeri sendiri.
"Kemana kita pergi?" tanya Debo dengan suara kecil.
"Ke tempat yang paling tidak mereka duga," jawab Risky sambil menatap ke luar jendela. "Kita akan ke rumah ibuku di pinggiran Bogor. Itu rumah tua yang sudah lama ditinggalkan. Tidak ada catatan atas namaku di sana."
Perjalanan menuju Bogor memakan waktu dua jam melalui jalur tikus untuk menghindari razia polisi di jalan tol. Almira hanya bisa menatap punggung Risky. Ia menyadari bahwa pengacara muda ini telah mempertaruhkan seluruh karier dan nyawanya untuk mereka.
"Risky," panggil Almira pelan saat mereka mulai memasuki jalanan desa yang sepi.
"Ya?"
"Terima kasih."
Risky tidak menoleh, tapi Almira bisa melihat dari spion tengah bahwa sorot mata pria itu sedikit melunak. "Jangan berterima kasih dulu, Almira. Jawaban yang kita cari mungkin akan membawa kita ke lubang yang lebih dalam. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkan ayahmu mati sebagai pengkhianat."
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah tua bergaya kolonial yang dikelilingi oleh pepohonan besar yang rimbun. Suara jangkrik dan embusan angin malam membuat tempat itu terasa tenang, namun juga terisolasi.
Di sinilah, di bawah naungan atap tua yang bocor, mereka akan menyusun rencana terakhir. Bukan lagi hanya untuk membuktikan ketidaktahuan Pak Baskoro, tapi untuk meruntuhkan seluruh jaringan konspirasi yang telah merampas kebahagiaan mereka.
Almira turun dari mobil, menghirup udara pegunungan yang dingin. Ia memandang langit yang mulai menunjukkan semburat fajar di ufuk timur. Esok adalah hari di mana persidangan pertama Ayah akan dimulai secara tertutup. Waktunya semakin sempit.
"Kita hanya punya waktu dua puluh empat jam untuk memproses semua bukti ini," ucap Risky sambil membuka pintu rumah yang berderit. "Debo, kau kerjakan semua foto itu. Almira, kau bantu aku menyusun kronologi dari rekaman suara Hermawan. Kita akan membuat kejutan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Pak Wirayuda."
Almira mengangguk tegas. Rasa lelahnya seolah hilang, digantikan oleh kobaran api semangat yang baru. Ia tahu, jawaban yang mereka cari sudah ada di tangan, sekarang tinggal bagaimana cara mereka meneriakkan jawaban itu kepada dunia yang telah terlanjur menghakimi mereka.
...****************...