Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Luka yang Tak Terlihat
Makan malam itu berbeda dari biasanya.
Jika sarapan pagi tadi terasa seperti medan perang dingin, makan malam ini terasa seperti genjatan senjata yang canggung namun hangat. Lampu kristal di ruang makan diredupkan, digantikan oleh cahaya lilin yang bergoyang lembut di dalam wadah perak di atas meja.
Nala duduk di tempatnya, mengenakan gaun maroon berbahan beludru yang dipilihkan Elian. Gaun itu sederhana namun elegan, memberikan kesan hangat pada kulit pucatnya. Di seberangnya, Raga duduk dengan kemeja hitam yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Topeng peraknya memantulkan nyala api lilin, menciptakan kilatan misterius setiap kali ia bergerak.
Tidak ada suara denting garpu yang kasar. Hanya ada suara pisau memotong daging steak yang empuk dan suara hujan deras yang kembali mengguyur Adhitama Estate di luar sana.
"Bagaimana steak-nya?" tanya Raga tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya rendah, sedikit serak karena wine yang ia minum.
Nala mengangkat wajahnya, sedikit terkejut karena diajak bicara duluan. "Sangat enak, Tuan. Dagingnya lembut sekali. Saya... belum pernah makan daging seenak ini."
"Koki kita didatangkan dari Prancis," jawab Raga datar, namun ada nada kepuasan di sana. "Kalau kau suka, makanlah yang banyak. Kau terlalu kurus. Orang bisa mengira aku tidak memberi makan istriku."
Pipi Nala merona merah. Ia kembali memotong daging di piringnya, mencoba menyembunyikan senyum kecil. Raga Adhitama yang kejam ternyata peduli apakah istrinya makan cukup atau tidak.
"Pak Hadi bilang kau melukis di taman tadi siang," ucap Raga lagi. Kali ini ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu memutar gelas wine-nya pelan. "Apa yang kau lukis? Bunga layu?"
Nala menggeleng pelan. Ia memberanikan diri menatap mata kanan Raga. "Bukan, Tuan. Saya melukis rumah ini."
"Rumah ini?" Raga mendengus pelan. "Kenapa melukis tempat suram ini? Rumah ini seperti kuburan raksasa."
"Mungkin terlihat suram bagi orang lain," jawab Nala hati-hati, memilih kata-katanya dengan bijak. "Tapi bagi saya, rumah ini... kokoh. Dia berdiri sendirian di tengah hutan, diterpa badai, tapi tetap tegak. Ada keindahan dalam ketangguhan itu."
Raga terdiam. Jari-jarinya berhenti memutar gelas. Ia menatap Nala dengan sorot mata yang sulit diartikan, campuran antara rasa heran dan rasa sakit yang tersembunyi.
"Kau selalu punya jawaban yang aneh untuk semuanya, Nala," gumam Raga. Ia mengangkat gelasnya, meneguk sisa cairan merah itu hingga tandas.
Tiba-tiba, suara guntur menggelegar dahsyat di luar. Kilat menyambar, menerangi ruang makan dengan cahaya putih menyilaukan selama sepersekian detik. Kaca jendela bergetar hebat.
PRANG!
Gelas di tangan Raga jatuh, pecah berkeping-keping di lantai marmer. Cairan merah sisa wine menyebar seperti darah.
Nala terlonjak kaget. "Tuan!"
Nala melihat tangan Raga. Tangan kanan pria itu gemetar hebat. Bukan gemetar biasa, melainkan spasme otot yang terlihat menyakitkan. Jari-jarinya mencengkeram sandaran tangan kursi roda begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.
Wajah Raga berubah drastis. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya yang tertutup sebagian rambut. Napasnya memburu, pendek-pendek dan tersengal.
"Tuan? Tuan kenapa?" Nala bangkit dari kursinya, naluri paniknya mengambil alih. Ia berlari mendekati Raga.
"Ja... jangan mendekat!" geram Raga. Suaranya bukan lagi suara bariton yang tenang, melainkan suara orang yang sedang menahan jeritan kesakitan.
Raga mencoba memutar kursi rodanya mundur, menjauh dari meja, tapi tangannya terlalu gemetar untuk mengendalikan tuas kursi.
"Argh!" Raga mengerang, memegangi kaki kirinya.
Nala tidak mendengarkan larangan itu. Ia berlutut di samping kursi roda Raga. Saat itulah ia melihatnya. Kaki Raga kejang. Otot-otot kakinya menegang kaku di balik celana bahan yang ia kenakan.
Ini bukan sekadar sakit biasa. Ini adalah Phantom Pain atau nyeri saraf akibat luka bakar lamanya yang kambuh karena cuaca dingin dan lembap.
"Sakit... panas..." desis Raga, matanya terpejam rapat. Giginya bergemeretak menahan sakit. "Seperti dibakar lagi..."
Hati Nala mencelos melihat pria yang biasanya begitu kuat dan arogan kini tampak rapuh tak berdaya. Ia ingat dulu ayahnya pernah menderita asam urat, tapi ini terlihat sepuluh kali lebih menyakitkan.
"Pak Hadi! Panggil Pak Hadi!" teriak Nala ke arah pintu dapur.
Tapi Raga mencengkeram pergelangan tangan Nala dengan kuat. Cengkeramannya menyakitkan.
"Jangan!" bentak Raga, matanya terbuka, merah dan berair. "Jangan panggil siapa pun... Aku tidak mau mereka melihatku begini... Bawa aku ke kamar. Cepat!"
Harga diri. Bahkan di tengah rasa sakit yang menyiksa, pria ini masih memikirkan harga dirinya. Dia tidak ingin pelayan melihat Tuan Mudanya lemah.
Nala mengangguk cepat. "Baik. Pegang tangan saya."
Nala bangkit, mengambil alih kendali kursi roda Raga. Ia mendorong kursi berat itu sekuat tenaga keluar dari ruang makan, menuju lift pribadi. Tangan Raga masih mencengkeram paha kirinya sendiri, tubuhnya melengkung menahan sakit.
Perjalanan menuju kamar utama di lantai dua terasa sangat lama. Di dalam lift, Nala bisa mendengar erangan tertahan Raga.
"Tahan sebentar, Tuan. Kita hampir sampai," bisik Nala, berusaha menenangkan meski tangannya sendiri gemetar.
Sesampainya di kamar, Nala langsung mendorong kursi roda ke sisi tempat tidur. Namun, masalah baru muncul. Bagaimana memindahkan tubuh Raga yang besar dan berat itu ke atas kasur?
Biasanya Raga melakukannya sendiri dengan kekuatan lengan, tapi sekarang tubuhnya terlalu lemas karena sakit.
"Tuan, saya harus membantu Tuan naik," ucap Nala.
"Aku bisa sendiri," Raga mencoba menumpu tubuhnya pada lengan kursi, tapi tangannya tergelincir. Ia hampir jatuh ke lantai jika Nala tidak sigap menahan tubuhnya.
Tubuh Raga berat, menimpa bahu kecil Nala. Aroma musk dan keringat dingin menguar dari tubuh pria itu.
"Tolong, jangan keras kepala dulu," pinta Nala, suaranya lembut namun tegas. "Izinkan saya menjadi tongkat Tuan malam ini."
Raga tidak membantah lagi. Tenaganya habis untuk melawan rasa sakit di kakinya.
Dengan susah payah, Nala memapah Raga. Ia melingkarkan lengan kekar pria itu ke bahunya, lalu menggunakan seluruh berat badannya untuk menopang Raga. Langkah demi langkah, mereka bergeser ke tepi ranjang.
Bruk.
Raga jatuh terduduk di tepi kasur, lalu membaringkan tubuhnya. Napasnya masih tersengal. Wajahnya pucat pasi, kontras dengan topeng peraknya.
"Obat..." bisik Raga. "Di laci meja..."
Nala berlari ke meja nakas. Ia membuka laci pertama. Ada banyak botol obat di sana. Penahan rasa sakit, obat tidur, vitamin.
"Yang mana, Tuan?"
"Botol biru... Morphine..."
Nala menemukan botol kecil itu. Ia mengambil satu butir pil, lalu menuangkan air dari teko yang selalu tersedia di meja. Ia kembali ke sisi ranjang, membantu Raga mengangkat kepalanya sedikit untuk minum obat itu.
Setelah menelan obat itu, Raga menjatuhkan kepalanya kembali ke bantal. Tapi rasa sakitnya belum hilang. Obat butuh waktu untuk bekerja.
Kakinya masih kejang.
"Panas..." rintih Raga lagi, tangannya meremas seprai hingga kusut.
Nala menatap kaki Raga. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Dulu saat ibunya sakit rematik, Nala sering memijatnya dengan minyak hangat.
Tanpa bertanya atau meminta izin, karena ia tahu Raga pasti akan menolak, Nala menaiki tempat tidur. Ia berlutut di dekat kaki Raga.
"Apa yang kau lakukan?" desis Raga lemah, mencoba menarik kakinya tapi tidak bisa.
"Diamlah, Tuan," ucap Nala.
Tangan Nala bergerak menggulung celana panjang Raga ke atas.
Nala menahan napas saat kain celana itu tersingkap.
Kaki kiri Raga... kondisinya jauh lebih buruk daripada wajahnya. Kulit di sana tidak mulus. Penuh dengan jaringan parut (keloid) yang tebal dan bergelombang, sisa dari luka bakar hebat yang pernah melahapnya. Kulit itu tampak kaku, kemerahan, dan di beberapa bagian terlihat tertarik menyakitkan. Otot betisnya berkedut-kedut liar di bawah kulit.
Pantas saja dia kesakitan. Jaringan parut itu pasti menekan saraf setiap kali udara dingin datang.
Raga memalingkan wajahnya ke arah lain, menutup matanya dengan lengan. Dia malu. Dia merasa hina. Dia merasa seperti monster yang sedang ditelanjangi.
"Jangan dilihat," ucap Raga, suaranya pecah. "Jijik."
Nala tidak menjawab. Ia menuangkan sedikit minyak aromaterapi yang ada di meja nakas ke telapak tangannya, menggosoknya agar hangat.
Lalu, dengan kelembutan yang luar biasa, Nala menempelkan kedua tangannya ke betis Raga yang penuh luka itu.
Raga tersentak. Tubuhnya menegang. Ia menunggu rasa jijik, ia menunggu tangan itu menarik diri.
Tapi tangan itu tetap di sana.
Nala mulai memijat pelan. Jari-jarinya menekan titik-titik otot yang tegang, mengurai simpul-simpul kram dengan sabar. Dia tidak memakai sarung tangan. Kulit halusnya bersentuhan langsung dengan kulit kasar dan rusak milik Raga.
"Tidak jijik, Tuan," bisik Nala di tengah keheningan kamar. "Ini hanya kulit yang pernah terluka. Itu saja."
Raga menurunkan lengan yang menutupi matanya. Ia menatap Nala dari balik bulu matanya yang basah oleh keringat.
Gadis itu menunduk, fokus memijat kakinya. Wajahnya tenang, tidak ada kerutan jijik sedikit pun. Justru ada ekspresi kesungguhan di sana, seolah-olah dia sedang merawat barang yang paling berharga di dunia.
Rasa hangat dari tangan Nala meresap ke dalam kulit Raga, perlahan-lahan mengalahkan rasa dingin dan nyeri yang menyiksanya.
"Kenapa?" tanya Raga parau. "Kenapa kau melakukan ini? Aku monster bagimu."
Nala terus memijat, gerakannya semakin ritmis dan menenangkan.
"Karena Tuan suami saya," jawab Nala sederhana. "Dan karena tadi malam, Tuan memberi saya gaun yang indah dan membela saya di depan bibi Tuan. Tuan melindungi saya, jadi sekarang giliran saya melindungi Tuan dari rasa sakit ini."
Hati Raga bergetar hebat. Dinding es yang ia bangun selama lima tahun di sekeliling hatinya terasa retak malam ini.
Perlahan, efek obat penahan rasa sakit mulai bekerja. Kejang di kakinya mereda. Rasa panas yang membakar mulai surut, digantikan oleh rasa kantuk yang berat.
Nala merasakan otot kaki Raga mulai rileks. Ia tidak berhenti memijat, ia hanya memperlambat temponya.
"Tidurlah, Tuan," bisik Nala seperti seorang ibu meninabobokan anaknya. "Badainya sudah lewat."
Mata Raga semakin berat. Pandangannya pada sosok Nala mulai kabur. Hal terakhir yang ia rasakan sebelum kesadaran merenggutnya adalah sentuhan tangan Nala yang hangat di pergelangan kakinya, sebuah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam mimpi buruk.
Nala terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan.
Ia mengerjap-ngerjap bingung. Tubuhnya terasa pegal dalam posisi yang aneh. Saat ia membuka mata sepenuhnya, ia sadar ia tidak tidur di sofa.
Ia tertidur dalam posisi duduk di karpet samping tempat tidur, dengan kepala dan kedua tangannya bertumpu di kasur, tepat di samping kaki Raga.
Nala buru-buru mengangkat kepalanya. Panik sesaat. Apakah dia menindih kaki Raga? Apakah dia menyakiti pria itu?
Ia melihat ke atas kasur. Raga masih tertidur pulas. Posisinya telentang, napasnya teratur dan tenang. Topeng peraknya masih terpasang, dia tidak melepasnya semalaman.
Namun, ada yang berbeda.
Sebuah selimut tebal menutupi tubuh Nala. Selimut yang seharusnya ada di atas kasur, kini tersampir di punggungnya.
Nala tertegun. Dia ingat semalam dia ketiduran tanpa selimut karena terlalu lelah memijat. Siapa yang menyelimutinya?
Tidak mungkin Pak Hadi masuk kamar ini tanpa izin.
Nala menatap Raga. Pria itu masih memejamkan mata, tapi sudut bibirnya tampak tidak setegang biasanya. Tangannya yang besar tergeletak di samping bantal.
Apakah Raga bangun tengah malam dan menyelimutinya? Pria yang kesulitan bergerak itu memaksakan diri menarik selimut demi Nala?
Pipi Nala memanas. Perasaan hangat yang aneh menjalari dadanya, lebih hangat dari sinar matahari pagi.
Perlahan, Nala mencoba bangkit tanpa membuat suara. Namun, saat ia bergerak, Raga bergerak sedikit dan membuka matanya.
Mata hitam itu langsung bertemu dengan mata Nala.
Hening sejenak. Suasana canggung pagi hari menyerang lagi.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Nala kaku, merapikan rambutnya yang berantakan. "Maaf saya ketiduran di sini. Kaki Tuan... bagaimana rasanya?"
Raga menatap Nala lama. Ia tidak langsung menjawab. Ia teringat kejadian semalam. Ia teringat rasa malu karena terlihat lemah, tapi ia juga teringat rasa nyaman yang diberikan gadis ini.
Raga bangun, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia menarik selimut menutupi kakinya. Sifat defensifnya kembali muncul, tapi kali ini tidak sedingin dulu.
"Sudah lebih baik," jawab Raga singkat, suaranya serak khas bangun tidur.
"Syukurlah," Nala tersenyum lega. Ia melipat selimut yang tadi menutupi punggungnya. "Terima kasih... selimutnya."
Raga memalingkan wajah ke arah jendela. Telinganya sedikit memerah, meski wajahnya tetap datar.
"Aku tidak mau kau sakit," gumam Raga tanpa melihat Nala. "Kalau kau sakit, siapa yang akan memijatku kalau kambuh lagi?"
Itu adalah cara Raga mengucapkan terima kasih. Canggung, berputar-putar, dan gengsi. Tapi Nala mengerti.
Nala tertawa kecil. "Baik, Tuan. Saya akan pastikan saya tetap sehat agar bisa jadi tukang pijat pribadi Tuan."
Raga menoleh cepat, matanya menyipit, tapi tidak ada kemarahan di sana.
"Siapkan air mandi," perintah Raga, kembali ke mode bos-nya. "Dan... Nala?"
"Ya, Tuan?"
"Malam ini, jangan tidur di sofa lagi."
Jantung Nala berhenti berdetak. "Maksud Tuan?"
"Sofa itu membuat lehermu sakit, dan kau mendengkur kalau tidur di sana," bohong Raga (Nala tidak pernah mendengkur). "Tidurlah di kasur. Kasur ini cukup luas untuk dua orang tanpa harus bersentuhan."
Nala menatap kasur besar itu, lalu menatap Raga. Ini adalah peningkatan status yang luar biasa. Dari lantai, ke sofa, dan sekarang ke ranjang yang sama.
Ini bukan tentang seks. Ini tentang kepercayaan. Raga mengizinkan Nala masuk ke dalam zona amannya.
"Baik, Tuan," jawab Nala lembut.
Saat Nala berjalan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air, Raga menyentuh kakinya sendiri di balik selimut. Rasa sakit itu masih ada sedikit, sisa-sisa semalam. Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, rasa sakit itu tidak membuatnya merasa sendirian.
Ada seseorang yang bersedia menyentuh lukanya tanpa rasa jijik. Dan bagi Raga, itu adalah obat yang lebih ampuh daripada Morphine mana pun.
ceritanya bagu😍