Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Paling Aman
Kegagalan Sekte Langit Merah tidak memicu keberanian.
Hal itu justru memicu kehati-hatian berlebihan.
Dalam dunia kultivasi, itu jauh lebih berbahaya.
Para tetua dari berbagai sekte mulai sepakat pada satu hal yang tidak pernah mereka ucapkan secara terbuka: zona hitam itu tidak boleh disentuh, tapi juga tidak boleh diabaikan. Maka lahirlah kebijakan paling pengecut namun paling aman, mengamati tanpa mendekat.
Menara pengamatan dibangun jauh dari lembah. Formasi pemantau dipasang di batas aman. Bahkan burung roh dilepaskan, hanya untuk berbalik arah sebelum mendekat.
Setiap reaksi kecil dicatat, setiap perubahan udara dibesar-besarkan.
Dan semakin sedikit yang benar-benar terjadi… semakin besar ketakutan mereka.
Di Sekte Sungai Giok, seorang tetua mengetuk meja batu pelan.
“Penunggu Lembah itu tidak menyerang.”
“Tidak mengusir secara langsung juga. Tapi wilayahnya bereaksi tanpa perintah.”
“Itu bahkan lebih buruk,” sahut tetua lain.
“Berarti kehendaknya sudah menyatu dengan tempat itu.”
Tidak ada yang membantah.
Di lembah, pagi datang seperti biasa.
Ci Lung terbangun dengan punggung pegal. Bangku kayu yang ia perbaiki semalam ternyata tetap tidak ergonomis(secara harfiah berarti aturan atau ilmu kerja.). Ia mengusap leher, lalu berdiri sambil menguap panjang.
“Hoaaam, Kayaknya perlu bikin bangku baru,” gumamnya.
Ia mengambil kapak kecil, yang sebenarnya lebih mirip alat dapur. Dan kemudian ia berjalan ke arah pohon tua yang sudah tumbang sejak lama. Ia menatapnya sebentar.
“…ini boleh ditebang gak yah? nanti aku kena karma lagi.”
Tidak ada suara, tidak ada tekanan.
Ia mengangguk sendiri. “Ya udah, anggep aja boleh, lagian pohon nganggur mwhehehe.”
Kapak itu diayunkan. Tok.
Tidak dalam, Ia mendesah.
“Berat banget hidup ini.”
Jauh di luar lembah, sebuah laporan kecil membuat kegaduhan besar.
“Aktivitas iblis penjaga menurun.”
“Tidak ada patroli agresif.”
“Wilayah tampak… stabil.”
Sebagian menafsirkan itu sebagai kesempatan.
Sebagian lain membaca ini sebagai peringatan paling jelas.
“Kalau penjaga tidak aktif,” kata seorang leluhur tua pelan, “itu berarti penguasanya tidak merasa terancam.”
Kalimat itu membuat ruangan membeku.
Di sisi lain Ci Lung akhirnya menyerah dengan kapak.
Lantas ia duduk di tanah, mengeluarkan roti keras dari kantong kain, dan menggigitnya dengan ekspresi menyesal.
“Harusnya bikin sup saja daripada kayak gini.”
Di kejauhan, Ular Penjaga Sisa Sumpah melingkar diam di bawah bayangan pohon, tidak bergerak. Janda Lembah Berdoa bertengger tinggi, matanya setengah terpejam.
Mereka tidak mendapat perintah.
Dan tidak membutuhkannya.
Sistem berkedip pelan.
[Poin Pengakuan Dunia +0,05]
Ci Lung berhenti mengunyah.
“…lah, apa apaan?”
“aku kan lagi makan, tiba tiba dapet poin, lumayanlah.”
Ia menelan makanan sambil menatap udara kosong.
“Kalau gini caranya, aku tinggal tidur aja juga naik, ya?”
Sistem tetap diam.
Karena pada saat yang sama, di benua Tianlong, peta dunia kembali diperbarui.
Zona hitam itu kini diberi catatan tambahan:
KATEGORI: EKSISTENSI PASIF
ANCAMAN: TINGGI JIKA DIPROVOKASI
REKOMENDASI: JANGAN MEMICU PERHATIAN
Ironisnya, catatan itu justru membuat semua mata tertuju ke satu tempat.
Sore hari, Ci Lung mencoba lagi memancing.
Kail dilempar.
Ia menunggu dengan damai.
Angin yang sejuk. Air juga sangat tenang.
“…hidupku tuh sebenarnya damai banget ya,” katanya sambil menopang dagu.
Seekor ikan kecil menggigit kail.
Ia menariknya perlahan, senyum tipis muncul.
“wuiss makan pun sedap nih.”
Di kejauhan, seorang pengamat sekte menulis dengan tangan gemetar:
“Aktivitas internal zona hitam meningkat.”
“Kemungkinan ritual sederhana.”
Malam turun lagi.
Ci Lung membersihkan ikan itu dengan hati-hati, lalu memanggangnya seadanya. Rasanya biasa saja, tapi hangat.
Ia duduk di depan bangunan tua, menatap api kecil.
“Kalau dunia ribut, ribut aja,” gumamnya.
“aku lagi capek banget.”
Sistem muncul sekali lagi.
[Poin Pengakuan Dunia +0,05]
Ci Lung mendesah.
“…ini pasti gara gara aku terlalu populer mungkin?.”
Dan untuk pertama kalinya, ia benar.
Karena seluruh dunia kultivasi sedang membangun mitos
dari seorang pria
yang cuma ingin punya bangku layak duduk dan alat pancing yang nggak putus.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠