Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan randem bersama adik kandung
Terkadang, melepaskan kendali dan mencoba ikhlas adalah satu-satunya cara agar hati tetap tenang. Aku titipkan anakku pada ayahnya, dan aku memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja. Bukan karena tak sayang, tapi karena aku butuh ruang agar pikiranku tetap adem dan hatiku tetap waras demi masa depan kami.
Lebih baik lelah karena bekerja daripada lelah karena batin yang terus bergejolak. Mencoba ikhlas menyerahkan anak dalam penjagaan suamiku, sementara aku berjuang mencari ketenangan di luar rumah. Semoga kerja keras ini menjadi jalan keberkahan.
Dan fokus membangun masa depan untuk anakku. Biarlah lelahnya raga ini mencuci rasa sesak di dada, agar saat pulang nanti, aku bisa tersenyum lagi untuk buah hatiku.
Pagi ini aku mendapatkan kabar lowongan pekerja'an, untuk pekerja'an menjaga toko baju di kota.
Memang gají tak seberapa namun cukup untuk ku makan dan juga nabung, meskipun dekat, aku juga tak bisa pulang pergi lantaran biaya ongkos terlalu banyak, dan bisa merugikan ku yang bayarannya tak seberapa.
Sehingga aku memilih untuk tinggal dirumah pemilik toko, kata temenku aku bukan hanya menjaga toko melainkan, kerja menjadi irt kalau sudah dirumahnya. Jadi bayaran nantinya double.
"Mak, pak, besok lusa aku udah mulai kerja lagi, jadi kemungkinan aku balik kerumah seminggu sekali." Aku pun menceritakan semua ucapan yang ditawarkan temenku.
"Kalau itu udah jalanmu yaudah nggak apa-apa, yang penting ingat!? Kamu bisa jaga diri jangan kecewakan bapak sama mamak." Ujar bapak yang merestui ku untuk bekerja dan nggak pulang.
"Baik pak." Aku pun lalu tersenyum kepada ponakanku yang sedari tadi memperhatikanku. Ia minta aku untuk menggendongnya. Lalu aku ajak ponakanku keteras depan sambil bermain.
Tiba-tiba air mataku mengalir tanpa harus diundang. Kebetulan disa'at itu juga adikku keluar sambil membawa secangkir teh.
"Lah mbak, kenapa kok nangis? Pasti keingat melsha ya?." Ujarnya yang ikut merasakan kesedihanku.
"Hmmm, nggak apa-apa kok, udah nantinya juga aku bakal bekerja jadi biar nggak terlalu memikirkan nya."
"Iya mbak, aku saranin ya, sebaiknya mbak fokus ke masadepan aja dulu, nanti aku takutkan mbak malah jadi setres mikirin melsha." Jawab tiya
"Oh ya misal lusa mau pergi, biar aku aja yang anter mbak, sekalian aku mau beli pempres anak." Aku pun tersenyum lalu mengangguk.
"Yaudah ayo masuk, ini hari sudah mau petang anak kecil dilarang duduk diteras." Ujarku lalu pergi kedalam rumah, disusul juga oleh tiya.
Malam ini aku sempatkan berkumpul dengan keluarga, makan malam bersama sambil nonton televisi bersama, bercanda ria bersama tak ada satupun yang terlewatkan.
Mabar game bersama adek ipar dan kakak kandung bersama. Tertawa bersama pokoknya semua tak ada yang terlewat meskipun hanya didalam rumah, ini saja sudah cukup membuat kami bahagia.
Sehingga jam menujukan pukul 23:59 hampir jam 12 malam, kami pun masih bisa bermain main. Sampai nya aku merasa ngantuk lalu berpamitan dengan kakak dan adek ipar.
"Aku pergi masuk dulu ya, ngantuk sekali sudah besok baru pertama kerja." Aku pun berdiri setelah mendapatkan anggukan kakak.
"Ayo mabar lagi dek." Ajak kakak pertama ku pada adik iparnya. Aku yang masuk lalu kekamar untuk beristirahat.
***
Pagi nya aku paking baju, apa saja yang aku perlukan aku masukkan kedalam ransel.
Kali pertama aku tak membawa baju banyak, hanya membawa 3 setel baju dan sisir. Selesai ini aku pun ikut gabung sarapan bersama keluargaku.
"Yan kamu mau pergi sekarang ya, lalu dianter siapa?." Tanya bapak
"Aku sama tiya aja pak, nanti bapak kalau mau kesawah pergi aja gak apa-apa." Ujarku agar bapak pergi nggak kesiangan.
"Emang kamu pergi jam berapa?." Ucapnya
"Aku sekitar jam 9 paling pak."
"Oh, yasudah. Bapak jalan dulu ya mak." Jawabnya dan berlalu pergi setelah makan nya selesai.
"Iya pak, hati-hati." Teriak mamak dari dapur.
"Lah rendy mana?" Tanya ku pada tiya
"Lah, tadi ikut sama ayahnya." Jawab tiya
"Hmmm, emang suamimu nggak kerja? Kok anaknya masih sama bapakne."
"Ntah tu, katanya belum di telfon sama bosnya."
Akhirnya aku sama adik pun mengobrol bersama diatas meja makan, hanya obrolan randem yang kami bahas dan sambil tersenyum tertawa.
"Dek, kalau tiba-tiba aku berubah jadi kecoa, kamu bakal tetep sayang terus pelihara aku di toples, atau langsung kamu geprek pake sapu?"tanyaku tiba-tiba tiya pun langsung ngakak.
"Hahaha.....! Ya aku geprek lah, terus aku buang ke got. Lagian ngapain juga aku pelihara kecoa, mana mirip mbak lagi. Ih lagian pertanya'annya aneh." Ujarnya kemudan kami pun tertawa bersama.
"Dek, kamu inget nggak."
"Enggak!?." Potong tiya lebih dulu.
"Eh, dengar dulu?." Ujarku
"Hmm, apa'an?."
"Dulu Mamak pernah bilang."
"Bilang apa mamak." Jawabnya sambil mendengarkan
"Kalau kamu itu sebenarnya nemu di tumpukan baju kotor di pasar?" Ucapku sambil tersenyum senyum
"Halah, cerita lama itu, hahaha....! Bapak juga bilang kalau kamu itu sebenarnya, hadiah dari sabun cuci piring, makanya kelakuanmu licin kayak sabun. Wkwkwkwk." Adikku pun tertawa terbahak bahak.
"Wkwkwkw, kocak sekali lu itu dek." Aku pun juga ikut tertawa
"Dek, makasih ya udah jadi 'tong sampah' curhatanku akhir-akhir ini. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah berubah jadi reog karena stres. Hahaha..!!" Aku pun tertawa lalu memeluk adikku
"Santai aja mbak, tapi besok-besok curhatnya sambil jajanin aku ya, biar telingaku nggak panas-panas amat. Hehe..!." Ujarnya
"Gila ya, kemarin aku nangis bombay, sampai mata bengkak kayak disengat tawon, cuma gara-gara itu. Kalau diingat sekarang, kok aku agak malu ya?"
"Nah, itu sadar! Untung sekarang udah bisa ketawa. Kemarin muka Kakak udah mirip hantu di film horor tahu nggak. Jihahaha...!." Ledeknya
"Njiirr ngeledek." Ucapku sambil menonyor kepalanya
"Habis ini, kayaknya aku mau bikin syarat ketat deh. Siapa pun yang bikin aku sedih lagi, harus berhadapan sama kamu dulu sebagai 'anj*ng penjaga' aku. Hahaha..!."
"Siap! Pokoknya kalau ada yang macam-macam lagi, bilang aku. Biar aku yang maju paling depan?."
"Tapi Kakak yang pegangin aku dari belakang ya...!. Hahaha..." Lanjutnya
"Aiiss kurang ajar emang kamu? Hahaha..!." Sehingga kami pun tertawa bersama, di ruang makan sampai tak lihat jam.
"Eh ini udah jam berapa kok masih ketawa ketawa aja." Sahut mamak dari dapur
"Oh iya, lupa aku mak, ayo dek berangkat." Ajakku
"Bentar napa aku aja masih mau cuci muka." Jawabnya sehingga aku pun panik sendiri. Ntah apa aja yang di bawa adikku saking paniknya.
"Eh, njir itu kenapa kaca mata lu dibawa juga." Ujarku ketika adikku salah ambil.
"Alah, ma'af mbak, niat nya mau ambil tas kenapa juga ini aku bawak ya?." Tiya pun cengingisan ketika kacamata dalam nya kebawa.
"Duhh peot, ini juga model apa,an sih celana dalam lu di luar segala." Omelku, mamak yang melihat kelakuan anaknya yang terlalu absur, ia pun menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala.
"Lah, aku kira celana!? Bentar aku lepas aja terus jalan." Ucapnya dan tiya pun kembali memakai baju yang benar.
"Duh! Aku dulu nyidam apa sih anakku sampai pada kuman edan nya." Gumamnya lalu pergi kembali ke dapur lagi.
"Mak kami berangkat ya." Teriakku
"Iya hati-hati." Sahut mamak dari dapur.
Bersambung...