Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Reynaldo!!! Apa yang kau lakukan?!" teriak Nabila yang baru saja datang dari bawah melihat kamar mereka berantakan dan cermin besar di dalamnya telah hancur berkeping-keping.
Nabila mencoba mendekat ke arah Reynaldo.
Reynaldo melihat kedatangan Nabila namun memilih mengabaikannya, berjalan cepat menghindar. Tanpa sengaja tubuh Reynaldo menyentuh Nabila hingga membuatnya terhuyung ke arah meja rias. Saat mencoba menjaga keseimbangan, dia memegang tepi meja yang ternyata ada pecahan kaca di atasnya – melukai telapak tangannya dengan sayatan cukup lebar.
"Auhhhkkkl!!" Nabila meringis kesakitan namun berusaha menahannya.
"Reynaldo!!! Mau kemana kauu!!" teriak Nabila namun Reynaldo tetap tidak menoleh dan terus berjalan keluar kamar.
Saat hendak turun dari lantai tiga, Reynaldo bertemu dengan Alisha dan Raden Wijaya yang hendak naik ke kamar mereka.
"Apa yang kalian lakukan!! Bukankah peraturan istana ini tidak ada orang lain yang boleh naik ke lantai atas selain mereka yang diizinkan! Dan mengapa kalian masih belum keluar dari sini!! " teriak Reynaldo marah.
"Sayang tanganmu terluka, biar ibu obatin ya!" ucap Alisha mencoba menyentuh tangan Reynaldo yang juga terluka.
"Shiitt!! Jauhkan tanganmu yang busuk itu brengsek!! Pengawaalll!! Mengapa mereka masih ada di istana ini!!" teriak Reynaldo kepada para pengawalnya.
"Vano!!"
CETTTTAAASSS!!! Raden Wijaya menampar pipi Reynaldo dengan sangat keras.
"Sialann!! Selagi aku masih bisa mengontrol emosiku, keluarlah dari istana ini sekarang juga – atau aku akan lupa bahwa kau adalah ayahku!!" pekik Reynaldo dengan tatapan tajam.
"Pengawal bawa benalu-benalu ini keluar dari istana!! Jika tidak, kubunuh kalian semua!!" teriak Reynaldo kepada seluruh pengawal yang ada di sana.
"Sayang mereka sedang bertengkar ya.." ucap Alisha kepada Raden Wijaya.
"Sepertinya begitu! Tapi Elvano – Reynaldo terluka! Apakah dia benar-benar mencintai wanita itu?"
"Jika itu benar, bagaimana dengan Sofia sayang? Semua usaha kita untuk menjalin hubungan dengan keluarga Lim akan sia-sia!"
"Kita harus menghilangkan wanita itu, baru kita bisa memaksa Reynaldo untuk menikah dengan Sofia.."
Reynaldo bergegas pergi meninggalkan Istana Mahkota Perak. Sementara itu, pelayan Nabila terkejut melihat tangannya yang mengeluarkan darah segar.
"Nyonya, tangan anda terluka parah.." ucap pelayan itu panik melihat kondisi Nabila.
Nabila hanya tersenyum manis seolah tidak ada apa-apa.
"Ini hanya luka biasa saja. Dimana si kadal air itu pergi?" ucap Nabila lembut meskipun suasana rumah sedang kacau balau.
"Kadal air?"
"Maksud saya Reynaldo kan?"
"Ohh tuan sudah pergi meninggalkan istana, Nyonya.."
"Ohh baiklah. Bersihkan ruangan ini, pastikan tidak ada sisa pecahan kaca yang tertinggal. Jangan mengganti apapun yang rusak – biarkan saja seperti itu, cukup bersihkan saja pecahannya. Satu lagi, tolong suruh pelayan menyiapkan satu kamar untukku, aku ingin mengobati luka ini sendiri" ucap Nabila kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya dari serpihan kaca.
Reynaldo mengemudi dengan kecepatan penuh. Amarah yang memuncak membuatnya kehilangan kendali akal sehat. Seperti biasa, ketika dalam keadaan marah dan tidak ingin melukai orang tersayang, Reynaldo akan mengalihkan emosinya dengan menangani musuh-musuhnya yang telah ditangkap.
"Drap..."
"Drap..."
Suara langkah kakinya terdengar jelas di ruangan gelap yang terletak di bawah gedung pusat Wijaya Group di Kota Perak. Disana sudah ada Bram yang selalu setia menemani tuannya.
Setelah mengetahui kejadian di istana, seorang pengawal menghubungi Bram. Bram tahu bahwa Reynaldo tidak akan pernah sengaja melukai Nabila.
"Kau memang selalu memahaminya!!" ucap Reynaldo menepuk pundak Bram.
Di depan mereka berdiri seorang pria berbadan sangat besar dengan otot yang jauh lebih banyak dari Reynaldo.
"Kau hanya besar di tubuh saja – otakmu tidak berfungsi sama sekali.." cetus Reynaldo mengambil sebuah pisau daging dari meja di sampingnya.
"Apa yang akan kau lakukan!!" teriak pria itu kepada Reynaldo.
"Menenangkan pikiranku saja.."
Pria itu menatap lekat ke arah pisau yang Reynaldo pegang. Wajah Reynaldo menunjukkan bahwa dia sedang menikmati "permainan" ini.
"Tuan, tanganmu juga terluka.." ucap Bram memperhatikan tangan Reynaldo yang berlumuran darah.
"Ini hanya luka ringan! Tapi mengapa gadis itu bisa membuatku marah seperti ini?" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Heii bangsatt!! Kau tau cara menghadapi wanita tidakk!!" ucap Reynaldo kepada tawanan itu.
"Ti-tiiidakk tauu tuann.. ak-akkuu tidak pernah dekat dengan wanita.." ucap pria itu terbata-bata.
"Whattt??! Kauu?!"
"Ji-jika tuan mau, aku bisaa coba jelaskan.."
BUGHHKKK!!! Tendangan keras melayang ke wajah tawanan itu dari Reynaldo.
"Sialann kau tahu aku masih menyukai yang normal saja bangsat!! Kalian bagaimana bisa ada manusia seperti ini – menjijikan sekali!!"
"Bram, masukkan dia hidup-hidup kedalam ruangan pemanas! Aku ingin melihat bagaimana dia akan terhancur perlahan!"
"Ja-jangannn tuaann..!!" ucap pria itu memohon keselamatan.
Beberapa pengawal membawa tawanan itu ke dalam sebuah ruangan yang mirip oven besar dengan teknologi canggih yang bisa mengatur suhu. Suhu maksimal ruangan itu bisa mencapai 1000°C – panas yang cukup untuk membuat seseorang hangus seketika.
"Turunkan suhunya menjadi 200°!! Aku ingin melihat tubuhnya matang perlahan hahahah!!" ucap Reynaldo dengan wajah dingin tanpa rasa belas kasihan.
Seluruh pengawal yang ada di sana tercengang – meskipun sudah bukan hal baru, mereka tetap merasa geli ketika melihat cara Reynaldo memberikan pelajaran kepada orang yang berani mengganggunya.
Kini pria bertubuh besar itu dimasukkan ke dalam ruangan tersebut. Reynaldo meminta agar ikatan pada tubuhnya dilepaskan agar bisa melihat bagaimana musuhnya berjuang untuk hidup. Dia menyaksikan seluruh proses melalui layar televisi seperti sedang menonton film – bagaimana pria itu berlari kesana kemari, rambutnya mulai mengesut, wajahnya berubah warna, dan akhirnya terkujur kaku setelah suhu di dalam ruangan dinaikkan perlahan.
Reynaldo berjalan menuju ruangan ganti pakaian. Meskipun tidak ada darah yang menodai pakaiannya, dia tetap akan membuangnya dan memerintahkan pengawal untuk membakarnya.
Di ruangan khusus miliknya, Reynaldo melihat cincin pernikahannya yang pernah dia lepas.
"Ini karena kamu juga kan, monyet kecil – sampai aku harus melepaskan cincin ini!!" ucap Reynaldo sambil mengambil cincin itu dan memasangnya kembali di jari manisnya.
Kemudian dia berbaring di atas kasur kingsize, menatap langit-langit kamar. Pikirannya sangat kalut – entah mengapa masalah dengan Nabila kini mampu membuatnya sangat frustrasi.
"Terbebani?? Mengapa aku marah begitu besar ketika dia melepaskan cincin itu!! Ada apa dengan diriku ini.. Seharusnya aku tidak melakukan hal seperti tadi.. apa yang aku lakukan sebenarnya?" ucap Reynaldo merasa bingung dengan dirinya sendiri.
"Ingatt Vanoo!! Kau dan dia hanya menikah kontrak dan hanya selama enam bulan saja! Jadi jika dia melepaskan cincin itu sekarang, itu bukan masalah besar!!" gumam Reynaldo dalam hati mencoba menenangkan diri.
Dia meminta pengawal untuk membawakan minuman beralkohol, berharap bisa menenangkan pikirannya.
Tangan Nabila kini telah dibalut dengan perban karena sayatan yang cukup dalam. "Permisii Nyonya, ini makanan yang Nyonya minta.." ucap pelayan membawa ember kecil berisi es krim tiga rasa dengan kapasitas lima liter.
"Terimakasih.." ucap Nabila langsung mengambil ember itu dan mulai menyendok es krimnya.
"Nyonya, saya kuatir jika makan terlalu banyak es krim akan membuat tenggorokan Nyonya sakit nantinya.."
"Nanti saja minum obat kalau sakit! Lagipula hanya ini yang bisa membuatku tenang! Dan yah, apakah si kadal air masih belum pulang?"
"Tuan belum pulang, Nyonya.."
"Yasudah kau bisa keluar saja, aku ingin sendiri. Terimakasih lagi untuk es krimnya.." ucap Nabila dengan ramah.
Kini Nabila duduk di meja rias kamar baru yang dia tempati – dia memutuskan untuk tidak tidur di kamar Reynaldo lagi.
"Kemana saja si kadal air itu pergi??" gumam Nabila sambil menikmati es krimnya.
"Mengapa dia bisa marah seperti itu ya?" ucap Nabila yang masih fokus dengan es krim di depannya.
"Nabila mengapa kamu marah begitu besar ketika melihat Sofia bersama dia..? Huffftttt!! Mengapa aku harus berpikir terlalu jauh.. Bukankah cinta itu hanya omong kosong belaka! Bagaimana mungkin aku bisa percaya padanya – bahkan dengan janji pernikahan hahaha" ucap Nabila tertawa namun air mata mulai menetes dari sudut matanya.
"Saya Reynaldo Wijaya Mahkota berjanji dihadapan Tuhan dan jemaat untuk mengambilmu sebagai istriku... hahaha istri! Dulu mommy dan daddy juga mengatakan hal yang sama di atas altar, tapi lihat saja – mommy pergi meninggalkanku, bahkan daddy menjualku demi uang hahaha!! Sebenarnya untuk apa aku marah!! Pada dasarnya banyak orang yang mempermainkan pernikahan – contohnya aku sendiri, menikah dengan pria selama enam bulan lalu akan berpisah. Aku seperti jalang saja yang berpura-pura jadi istri.."
Raina – Nabila berhenti bicara ketika melihat cincin pernikahannya tergeletak di atas meja rias.
"Heiii kau harus belajar untuk bisa terlepas dari ku, nanti kelak kita pasti akan berpisah.." ucap Nabila sambil terus makan es krimnya, mencoba menguatkan diri sendiri.
"Rainaaa – Nabila, menangislah saja! Tidak ada orang yang melihatmu kok!!" ucapnya kepada cermin di depannya.
"Huaaaaaaaaaaaaaaa .... Hisssskk.. hissskkk!" Suara tangisnya memenuhi ruangan kamar. Pelayan yang berjaga di luar mendengarnya dan merasa iba.
"Nyonya memiliki hati yang sangat kuat, bagaimana bisa dia menahan semua rasa sakitnya sendirian.." ucap salah satu pelayan kepada temannya.
"Kau benar sekali.. Aku berharap pernikahan mereka bisa bertahan selamanya. Sejak ada dia di istana ini, semuanya jadi lebih baik.."
"Aku harap dia baik-baik saja.." ucap salah satu pengawal yang juga mendengar tangisnya.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Reynaldo memutuskan untuk pulang ke istana. Kali ini dia meminta pengawalnya untuk mengemudikan mobil karena hatinya masih belum tenang.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di Istana Mahkota Perak. Hanya beberapa pengawal saja yang berjaga di malam hari.
Reynaldo berjalan menuju kamar lamanya. Saat sampai di sana, dia melihat ruangan sudah bersih namun meja rias dan barang-barang perawatan kulit Nabila telah tidak ada lagi.
"Pengawal..!" ucap Reynaldo memanggil pengawal yang berjaga.
"Angkut meja ini dan cari yang baru untuk digantikan! Segera!" ucap Reynaldo memberikan perintah dengan tegas.
"Baik tuan.." ucap pengawal itu segera menjalankan perintah.
"Dimana si monyet kecil itu?! Dia benar-benar tidak tidur di sini lagi!!" gumam Reynaldo dalam hati kemudian bertanya kepada pengawal, "Dimana Nabila??"
"Nyonya berada di kamar sebelah ujung koridor, tuan. Nyonya meminta pelayan untuk membersihkan kamar itu agar bisa ditempati.."
Reynaldo langsung melangkah menuju kamar tersebut. Di depan pintu, dua pelayan Nabila sedang berjaga.
"Dia didalam?"
"Iya tuan, sepertinya Nyonya baru saja tidur.."
"Baru tidur? Maksudmu bagaimana?"
"Sedari tadi kami mendengar Nyonya menangis dan bahkan berteriak beberapa kali. Mungkin Nyonya baru selesai menangis tadi.." ucap pelayan itu menunduk.
"Pergilah kalian berdua!" ucap Reynaldo kepada mereka.
Dia langsung memasuki kamar dan melihat kondisi yang sesuai dengan apa yang dikatakan pelayan – banyak tisu yang berserakan di sekitar meja rias, dan Nabila tertidur pulas di atasnya. Tangan kirinya masih memeluk ember es krim dan tangan kanannya memegang sendok. Hampir satu ember penuh es krim sudah habis dimakannya. Pipi dan matanya memerah serta sedikit bengkak akibat menangis, namun cincin pernikahannya telah terpasang kembali di jari manisnya.
Namun mata Reynaldo tercengang ketika melihat telapak tangannya yang dibalut rapi dengan perban.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu..?" ucap Reynaldo panik kemudian keluar kamar untuk menanyakan kepada pengawal yang berjaga.
"Kenapa tangannya terluka?" ucap Reynaldo dengan suara khawatir.
"Tangan Nyonya terluka akibat pecahan kaca dari kamar tuan, tuan..!"
"Bagaimana bisa??"
"Kami tidak tahu pasti tuan, tapi ketika kami masuk ke kamar, tangan Nyonya sudah terluka.."
"Shitttt!! Dia sampai ceroboh seperti itu!" cetus Reynaldo kemudian kembali masuk ke kamar dan mendekat ke arah Nabila.
"Sebenarnya dia monyet atau anjing laut Antartika ya – bisa makan es krim sebanyak itu.." gumam Reynaldo sambil menatap istrinya yang tertidur lelap akibat lelah menangis.
Dia dengan lembut mengangkat tubuh Nabila dan meletakkannya di atas kasur kingsize agar bisa tidur dengan nyaman. Membersihkan bibirnya yang terkena es krim. Saat hendak meninggalkan kamar, tiba-tiba Nabila mengigau:
"Aku hanya ingin memiliki keluarga yang utuh saja, tidak seperti kedua orang tuaku.. apakah itu salah besar ya.." ucap Nabila dengan suara pelan.
Reynaldo mendekat lagi, menatap wajahnya yang sedang tertidur.
"Jangan membuatku menjadi orang yang paling jahat dalam hidupmu ya monyet kecill..!" ucap Reynaldo dengan nada lembut yang jarang sekali keluar dari mulutnya.
"Jika aku tidur disini juga tidak akan jadi masalah kan – kau adalah istriku. Hanya saja aku harus siap mental untuk besok.." gumamnya dalam hati kemudian berbaring di sisi lain kasur, dekat dengan Nabila.
Malam berganti pagi. Sinar mentari menyinari Istana Mahkota Perak. Nabila mencoba bangun dari tidurnya namun tubuhnya terasa sangat berat. Dia terkejut ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Ahhhhhhhkkkkkk....!!!" teriak Nabila dengan keras, namun Reynaldo masih menikmati tidurnya bahkan semakin mengeratkan pelukannya.
"Heiiii kadall airrrr kamu mesumm sekali!! Apa yang kau lakukan di kamarku!!" teriak Nabila kemudian membalik tubuhnya sehingga menghadap Reynaldo.
"Tidurlah lagi, masih sangat pagi.." ucap Reynaldo dengan suara khas saat baru bangun tidur dan masih memejamkan mata.
"Pagi pagiii matamu buka dong! Ini sudah jam 10 dan sebentar lagi sudah siang!!"
"Tenanglah, kita bisa tidur sampai siang saja – uangku tetap akan mengalir kok.."
"Yaudah kalau mau tidur saja lepasin aku dong! Aku mau mandi!!"
"Tidurlah sebentar lagi, aku masih mengantuk banget.." ucap Reynaldo semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Nabila.
"Awass kamu minggir dong! Kau benar-benar mesum sekali..!" ucap Nabila sambil mendorong tubuhnya.
"Biarkan saja aku tidur sebentar lagi. Aku baru bisa merasakan tidur yang nyenyak seperti ini sejak ibuku pergi.." ucap Reynaldo dengan suara semakin pelan.
"Heiii kauu!! Jangan mengambil kesempatan ya! Hati-hati gakk.." teriak Nabila namun terdiam ketika merasakan deru napas Reynaldo yang sudah tenang – dia kembali tertidur mendengar semua ocehan Nabila.
"Berhentilah seolah-olah kau akan membuat hubungan ini bertahan lama Reynaldo.. kau tahu kan akan semakin sulit untuk