"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBOSANKAN
Leo menarik kursi di samping ayahnya, duduk dengan punggung tegak sempurna, dan tidak menyentuh makanan di depannya sebelum diperintahkan.
"Jadi, Leo," ucap seorang pangeran dari keluarga bangsawan lain yang duduk tak jauh dari sana mencoba membuka suara,
"Kami mendengar cerita luar biasa tentang bagaimana kamu menembus dimensi cermin. Benarkah seorang dari ras campuran memiliki kekuatan sebesar itu?" tanya Pengeran itu, terdengar meremehkan.
"Kekuatan tidak berasal dari kemurnian darah, tapi dari apa yang Anda pertaruhkan di ujung pedangmu, jika Anda ingin tahu lebih banyak, lapangan latihan selalu terbuka," jawab Leo melirik pria itu dengan sudut matanya yang tajam.
Pangeran itu langsung terdiam, merasa terintimidasi oleh jawaban singkat dan tajam dari Leo.
Sementara Aurora, yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya meletakkan cangkir tehnya, dia tahu persis bahwa Leo sedang dalam mode Alistair.
"Ksatria Alistair benar," ucap Aurora tenang, suaranya mengalun dingin namun berwibawa.
"Tindakan semalam bukan untuk dijadikan bahan gosip pagi hari, kita punya masalah yang lebih besar, yaitu pengkhianatan Maxime," lanjut Aurora, membuat ruangan itu semakin terasa menegang kan.
Aurora melirik Leo sekilas, ada kilatan kecil di matanya yang seolah berkata, topeng yang bagus, Serigala.
Leo hanya membalasnya dengan satu kedipan mata yang sangat tipis, nyaris tak terlihat oleh orang lain, sebelum kembali ke ekspresi datarnya yang tak tertembus.
"Ehem! Mari kita lanjut pembahasan kita tadi, mengenai pemberontak yang di pimpin oleh Pangeran Maxime," ucap Raja Arion, kembali ke topik awal.
Pertemuan di aula utama itu berlangsung menegang kan dan juga kaku, para bangsawan vampir masih mencoba menggali informasi, namun Leo menjawab setiap pertanyaan dengan satu atau dua kata yang mematikan percakapan.
Leo duduk dengan raut wajah datar nya, tidak tersentuh oleh pujian maupun sindiran halus.
Jasmine dari kecil bukan hanya memanjakan anak-anak nya, tapi Jasmine menanam kan ketenangan dan prinsip yang tinggi untuk seluruh anak-anak nya.
Lucas Alistair, yang menyadari putranya sudah mulai kesal dan mulai kehabisan kesabaran dalam bersandiwara formal, akhirnya meletakkan cangkir teh nya ke meja.
Tak
Gerakan itu sederhana, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terdiam.
"Raja Arion, urusan di sini sudah stabil, wilayah Alistair membutuhkan kehadiran saya, dan yang paling penting..." ucap Lucas menjeda kalimatnya.
"Istri Saya sudah menunggu terlalu lama. Saya akan segera kembali ke Alistair hari ini," lanjut Lucas, menggema rendah, penuh wibawa
"Aku mengerti, Duke, Duches pasti akan menggantung kepalaku jika aku menahan mu lebih lama lagi," jawab Arion terkekeh pelan, memahami betul tabiat sahabatnya itu.
"Leo akan tetap di sini, sebagai pelindung Aurora dan untuk mengawasi sisa-sisa pemberontakan Maxime," ucap Lucas sambil melirik putranya.
"Tentu, Ayah," jawab Leo, mengangguk tegas.
Setelah pertemuan formal itu dibubarkan dengan cepat, Lucas dan Leo berjalan berdampingan menuju gerbang depan istana, diikuti oleh Aurora yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Begitu sampai di area kuda-kuda yang sudah disiapkan, Lucas menoleh ke arah putranya.
Hilang sudah wajah Duke yang kaku, digantikan oleh wajah seorang pria yang sudah tidak sabar ingin pulang.
"Jaga dirimu baik-baik, Leo, jangan sampai aku harus kembali ke sini hanya untuk menjemputmu dalam keadaan pingsan lagi," bisik Lucas sambil menepuk kuat pundak Leo.
"Aku tahu, Ayah, dan sampaikan salamku pada Ibu," jawab Leo, lembut hanya untuk telinga ayahnya.
"Dan, jangan terlalu memamerkan kemesraan di depan adik-adik. Itu memalukan," lanjut Leo, mendengus kecil.
Lucas tertawa terbahak-bahak, lalu dia menoleh ke arah Aurora yang berdiri tak jauh dari sana, Lucas membungkuk hormat dengan elegan.
"Putri Aurora, saya titipkan putra saya yang keras kepala ini, jika dia berbuat ulah, hukum saja," ucap Lucas, tersenyum kecil.
"Akan saya pastikan dia bekerja keras, Duke," jawab Aurora dengan senyum tipis yang sopan.
"Baiklah Leo, Ayah pergi!"
Hap
Tanpa membuang waktu, Lucas segera melompat ke atas kudanya, sang Duke Alistair itu memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, membuat debu salju beterbangan di belakangnya.
Lucas tampak sangat bersemangat, seolah jarak tempuh ke Alistair bisa dia perpendek hanya dengan kekuatan rindu pada Jasmine.
Sementara Leo menatap punggung ayahnya yang menjauh hingga menghilang di balik bukit salju. Begitu bayangan Lucas hilang, suasana mendadak sunyi, Leo menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Aurora.
Wajah dinginnya kembali terpasang sempurna.
"Jadi, Tuan Putri, karena Ayahku sudah pergi, apa agenda selanjutnya yang harus kita lakukan? Atau kamu ingin kembali ke lapangan latihan untuk menyelesaikan urusan kemarin?" tanya Leo datar, namun ada nada menantang di matanya.
Aurora melipat tangannya di dada, menatap Leo dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Latihan? Dengan tubuhmu yang masih berbau ramuan pahit itu? Jangan konyol," jawab Aurora, mendengus kecil.
"Ikut aku ke perpustakaan, kita perlu melacak ke mana asap hitam Maxime mengarah," lanjut Aurora, melangkah pergi dari sana.
"Perpustakaan? Kamu benar-benar tahu cara menyiksa seorang ksatria dengan cara yang paling membosankan, ya?" ucap Leo mendengus pelan, namun dia tetap melangkah mengikuti di samping Aurora.
"Diam dan jalan lah, Alistair," jawab Aurora tanpa menoleh.
Leo menghela nafas nya kasar, membaca adalah salah satu yang sangat Leo benci, karena menurut nya sangat membosankan.
Seperti yang kalian tahu, dari kecil yang hobi membaca itu Lucian.
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor menuju perpustakaan yang sunyi.
Setelah keramaian aula utama yang menyesakkan, kesunyian ini terasa lebih tenang dan menyenangkan bagi mereka berdua.
Leo berjalan dengan tangan di dalam saku celana nya, posturnya tegak namun santai. Matanya terus waspada memantau setiap sudut, insting pelindungnya tidak pernah benar-benar mati meskipun suasana istana sudah mulai aman.
"Kamu tahu, Aurora," ucap Leo memecah kesunyian.
"Melihat Ayahku bergegas pulang seperti itu, aku mulai curiga kalau menjadi budak cinta adalah penyakit keturunan di keluarga Alistair," cerita Leo, dengan suara datarnya, namun cukup akrab bagi pendengaran sang Putri.
"Oh? Jadi kamu sedang mengaku bahwa kamu juga memiliki bakat untuk menjadi budak cinta yang menyedihkan seperti Duke Lucas?" tanya Aurora melirik Leo dari sudut matanya.
"Aku bilang itu penyakit keturunan, bukan berarti aku sudah tertular, aku jauh lebih waras daripada pria paruh baya yang rela berkuda menembus badai hanya demi pelukan istrinya," ucap Leo mendengus tipis, sebuah seringai kecil yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Lebih waras?" ulang Aurora berhenti tepat di depan pintu perpustakaan.
"Seseorang yang waras tidak akan melompat ke dalam Dimensi Cermin yang sedang runtuh tanpa memikirkan jiwanya sendiri, Leo," ucap Aurora, menggeleng kan kepala nya.