tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: ARSITEKTUR DISTORSI
Fajar di Lake District muncul dengan warna kelabu yang dingin, seolah-olah matahari pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi hari ini. Di dalam pondok, suasana terasa seperti markas gerilya. Elara telah memindahkan meja makan kayu ke tengah ruangan, di atasnya berserakan buku catatan Arlo, beberapa kabel yang berhasil mereka selamatkan dari bagasi mobil, dan sebuah laptop tua milik Jamie yang baterainya sudah mulai melemah.
"Marcus tidak menginginkan lagu itu, dia menginginkan 'metode'-nya," Elara memulai pembicaraan, suaranya terdengar tegas meski lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. "Jika kita memberikan buku asli itu, dia akan memiliki segalanya. Jika kita tidak memberikannya, dia akan menghancurkan kita lewat media."
Arlo menatap buku catatan yang hangus itu. Jemarinya gemetar. "Aku bisa membuat salinan palsu. Tapi Marcus bukan orang bodoh. Dia tahu frekuensi dasar dari 'Resonansi Elara'. Jika aku memberinya data acak, dia akan menyadarinya dalam hitungan menit."
"Lalu, buatkan dia sesuatu yang terlihat nyata tapi tidak bisa digunakan," usul Jamie sambil menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Buat sesuatu yang berujung pada kebuntuan matematika."
Arlo menggeleng perlahan. "Tidak semudah itu, Jamie. Marcus punya tim teknis di London. Tapi... ada satu cara. Aku bisa memberinya frekuensi yang benar, tapi dengan 'kunci' yang salah. Sebuah algoritma yang jika dimainkan, bukannya memicu emosi yang dalam, malah akan menciptakan pembatalan suara (noise cancellation) secara total. Lagu itu akan terdengar hampa. Kosong. Seperti cangkang tanpa jiwa."
Elara memegang tangan Arlo. "Kau bisa melakukannya? Tanpa harus tenggelam kembali ke dalam kegilaan itu?"
Arlo menatap mata Elara cukup lama. "Aku harus melakukannya, El. Ini adalah satu-satunya cara agar suara kita tidak lagi menjadi milik siapa pun selain kita."
Selama lima jam berikutnya, pondok itu berubah menjadi laboratorium suara. Arlo mulai menggoreskan angka-angka baru di atas kertas putih bersih, mencoba merekonstruksi teorinya namun dengan sengaja menyisipkan kesalahan fatal yang disamarkan dengan sangat rumit. Elara membantu merapikan data-data tersebut, menggunakan kemampuannya sebagai akuntan untuk memastikan bahwa angka-angka tersebut terlihat logis dan konsisten secara sistematis.
Sesekali, Arlo akan berhenti dan memejamkan mata, napasnya memburu. Bayangan mercusuar yang terbakar seolah kembali menghantuinya setiap kali ia memikirkan tentang gelombang suara. Elara segera mendekat, membisikkan kata-kata penenang, mengingatkan Arlo bahwa ia tidak lagi sendirian di tengah badai.
"Selesai," bisik Arlo tepat pada pukul delapan pagi. Ia memegang sebuah buku catatan baru yang terlihat lusuh—mereka sengaja mengotorinya dengan debu perapian agar terlihat seperti buku asli yang selamat dari api. "Ini adalah 'kado' untuk Marcus. Sebuah formula yang akan membunuh musiknya sendiri jika dia mencoba mengomersialkannya."
Mereka berangkat menuju Windermere tepat pukul setengah sembilan. Elara yang mengemudi, sementara Arlo memeluk buku catatan palsu itu di sampingnya. Jamie tetap tinggal di dekat pondok dengan instruksi ketat: jika dalam dua jam mereka tidak kembali, Jamie harus menyebarkan file rekaman asli "About You" ke publik secara gratis sebagai bentuk sabotase terakhir terhadap nilai komersial yang diinginkan Marcus.
Hotel di Windermere adalah sebuah bangunan klasik yang megah, berdiri angkuh di tepi danau yang berkabut. Elara memarkir mobil di area yang agak jauh.
"Ingat," Elara memegang bahu Arlo. "Kita tidak meminta izin padanya. Kita sedang membuat kesepakatan dari posisi yang setara. Dia punya media, tapi kita punya kuncinya."
Arlo mengangguk, wajahnya tampak lebih tegar dari sebelumnya. Mereka melangkah masuk ke lobi hotel yang sunyi. Di sudut ruangan, duduk seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang mahal, sedang membaca koran dengan tenang. Marcus.
Saat melihat mereka mendekat, Marcus menurunkan korannya dan tersenyum—sebuah senyuman yang mengingatkan Elara pada pemangsa yang sedang menikmati permainannya. "Tepat waktu. Aku selalu menyukai kedisiplinan, Arlo. Dan Elara... kau tampak jauh lebih cantik daripada di foto sepuluh tahun lalu."
"Simpan basa-basimu, Marcus," Elara duduk dengan punggung tegak. "Kami bawa apa yang kau mau. Tapi ada syaratnya."
Marcus melirik buku di tangan Arlo. Matanya berkilat penuh nafsu. "Syarat? Di posisi ini, kalian tidak punya hak untuk memberi syarat."
"Kami punya," sela Arlo, suaranya tenang namun dalam. "Aku bisa membakar buku ini sekarang juga. Dan kau tahu, tanpa catatan ini, tim teknismu di London butuh waktu tiga puluh tahun untuk menemukan frekuensi yang sama. Kau ingin 'Senjata Emosi' ini, atau kau ingin melihat karier Elara hancur? Jika kau pilih yang kedua, kau tetap tidak mendapatkan apa-apa selain rasa puas yang tidak menghasilkan uang."
Marcus terdiam. Senyumnya sedikit memudar. Ia menyadari bahwa Arlo yang di hadapannya bukan lagi remaja labil yang mudah diintimidasi.
"Baiklah," kata Marcus sambil menyandarkan punggungnya. "Katakan apa syaratmu."
"Hapus semua foto dan data tentang Elara. Berikan dokumen tertulis bahwa kau tidak akan pernah mengusik kehidupan pribadinya lagi. Dan yang paling penting... kau akan merilis lagu 'About You' versi asli sebagai amal, tanpa royalti untuk labelmu," tegas Elara.
Marcus tertawa keras, sebuah tawa yang kering. "Amal? Kau bercanda?"
"Itu harganya, Marcus," Arlo menggeser buku itu sedikit ke tengah meja. "Pilih sekarang, atau gema ini akan hilang selamanya."
Marcus menatap Arlo, lalu menatap buku itu. Keserakahan di matanya akhirnya mengalahkan logikanya. Ia memanggil asistennya yang berdiri tidak jauh dari sana, memberikan instruksi singkat.
Bab ini ditutup dengan Marcus yang mengambil buku catatan palsu tersebut, sementara Elara dan Arlo berjalan keluar dari hotel tanpa menoleh sedikit pun. Mereka tahu, ini bukan akhir dari segalanya. Marcus akan menyadari penipuan ini suatu saat nanti. Tapi untuk sekarang, mereka telah memenangkan keheningan yang paling berharga dalam hidup mereka.
Saat mereka sampai di mobil, Arlo menatap danau Windermere yang luas. "Ini pertama kalinya aku merasa tidak perlu merekam apa pun, El."
"Itu karena nadanya sudah benar, Arlo," jawab Elara sambil menyalakan mesin. "Hanya untuk kita."
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐