Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 DARAH YANG TAK PERNAH BERBOHONG
Rabu, 16 April 2025, Musim Semi
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar paviliun yang tenang. Suasana pagi itu terasa sangat berbeda bagi Liam Maximilian Valerius. Sang Monarch Besi yang biasanya terbangun di ranjang dingin mansion pribadinya, kini merasakan kehangatan yang asing namun sangat menenangkan. Saat ia membuka kelopak matanya perlahan, hal pertama yang ia rasakan adalah beban kecil yang menempel di lengannya.
Liam menoleh ke samping. Di sana, Leon Alexander masih terlelap dengan sangat pulas. Tangan kecil anak itu memeluk lengan berotot Liam seolah takut pria itu akan menghilang saat ia terbangun. Liam tertegun sejenak, menatap wajah polos Alex yang sangat mirip dengannya saat masih kecil. Ada getaran aneh di dada Liam, sebuah rasa memiliki yang melampaui logika bisnis atau ambisi pribadi.
Olive sudah tidak ada di ranjang. Liam teringat semalam mereka tidur bertiga dengan Alex di tengah. Saat Liam hendak bergerak turun dari ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur sang jagoan kecil, Alex tiba-tiba bergerak. Anak itu mengusap matanya dengan gerakan imut, menunjukkan wajah bantal yang sangat menggemaskan.
"Papa..." gumam Alex dengan suara serak khas bangun tidur.
Liam mengurungkan niatnya untuk turun. Ia kembali merebahkan diri sejenak dan mengusap lembut kepala Alex. "Selamat pagi, Jagoan. Apa tidurmu nyenyak?"
Alex mengangguk pelan sambil tersenyum lebar. Kehadiran Liam di sampingnya benar-benar menghapus sisa-sisa ketakutan dari mimpi buruk semalam. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Olivia Elenora Aurevyn muncul dengan nampan di tangannya. Ia mengenakan pakaian rajut santai yang membuatnya tampak sangat lembut pagi itu.
"Oh, kalian berdua sudah bangun?" tanya Olive sambil meletakkan nampan berisi dua gelas susu hangat dan sandwich isi daging serta sayuran segar ke atas meja kecil di sudut kamar.
"Mama! Papa menginap benaran!" seru Alex senang sambil melompat-lompat di atas ranjang.
Olive tersenyum tipis, meski rona merah masih tertinggal di pipinya saat menatap Liam. Bayangan kejadian di kamar mandi hotel semalam dan ciuman manis sebelum tidur terus berputar di kepalanya. "Iya, Sayang. Sekarang ayo bangun. Liam, kau sebaiknya mandi sekarang agar bisa segera bersiap ke kantor. Pakaianmu sudah disiapkan Marcus di depan!"
Liam mengangguk, namun sebelum ia beranjak, Alex menarik ujung kaos yang dipakai Liam. "Papa mandi? Alex mau mandi bareng Papa!"
Olive tersentak. "Eh? Alex, jangan ganggu Papa Liam. Papa mau kerja, mandi sendiri saja dengan Mama."
Namun, Liam justru terkekeh pelan. Ia menatap Alex dengan binar hangat. "Tidak apa-apa, Olive. Aku tidak keberatan mandi bersama putraku maksudku, bersama Alex."
Hati Olive menghangat mendengar tawaran Liam. Selama di London dulu, Alex tidak pernah merasakan figur seorang ayah yang mengajaknya bermain atau mandi bersama. Melihat pemandangan ini, Olive merasakan kedamaian yang tidak pernah ia temukan selama lima tahun pelariannya.
BAB 16: RAHASIA LAKI-LAKI DI BALIK UAP AIR
Di dalam kamar mandi yang luas dan mewah, uap air hangat mulai memenuhi ruangan. Liam melepaskan pakaiannya, memamerkan tubuh kekarnya yang dipenuhi otot-otot keras hasil latihan militer dan disiplin tinggi. Perutnya yang sixpack dan dada bidangnya membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona, termasuk Alex yang kini berdiri di samping bak mandi dengan mata membelalak kagum.
"Wah... Papa punya otot banyak sekali!" seru Alex sambil menyentuh lengan Liam dengan jari kecilnya yang polos. "Alex mau punya badan seperti Papa nanti kalau sudah besar."
Liam tertawa lepas, sebuah tawa tulus yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar. "Tentu saja kau akan punya, Jagoan. Kau harus rajin olahraga dan makan yang banyak."
Saat mereka mulai membersihkan diri, Alex menatap Liam dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang sangat dalam. Matanya turun ke bawah, memperhatikan perbedaan fisik antara dirinya dan pria dewasa di depannya. Namanya juga anak-anak, rasa penasarannya sangat spontan.
"Papa... kenapa punya Papa besar sekali? Punya Alex kecil dan pendek," tanya Alex dengan wajah tanpa dosa, menunjuk ke arah kemaluan mereka.
Liam sempat mematung sesaat. Ia berdehem pelan, mencoba menyusun kalimat yang tepat untuk menjelaskan tanpa mengotori pemikiran murni anak itu. "Ehem... itu karena Papa sudah dewasa, Alex. Nanti kalau kau sudah besar dan tumbuh kuat, punyamu juga akan berubah."
Alex memiringkan kepalanya, masih belum puas. "Tapi Papa, selain untuk buang air kecil, untuk apa lagi benda sebesar itu? Apa tidak berat membawanya?"
Liam menahan tawa sekuat tenaga. Ia berjongkok agar sejajar dengan Alex, mengusap bahu kecil anak itu. "Itu adalah tanda bahwa kau adalah laki-laki yang kuat, Alex. Fungsinya adalah untuk melindungi dan menjaga wanita yang kau cintai nanti, seperti Mama. Tapi untuk sekarang, tugasmu hanya belajar menjadi anak yang hebat, mengerti?"
"Oh! Jadi itu untuk menjaga Mama?" Alex menyimpulkan dengan logikanya sendiri. "Kalau begitu Alex ingin cepat besar agar bisa membantu Papa menjaga Mama!"
Liam tersenyum bangga. "Anak pintar."
Selesai mandi, mereka keluar dengan handuk yang melilit pinggang masing-masing. Liam segera mengenakan kemeja putih kaku dan setelan jas bespoke tiga lapis yang baru saja diantarkan Marcus ke depan pintu paviliun. Sementara itu, Alex mengenakan kaos biru cerah bergambar mobil balap yang baru saja dibelikan Vera kemarin.
Mereka bertiga duduk di meja makan kecil di kamar Alex untuk sarapan. Suasana terasa sangat intim, seperti keluarga kecil yang utuh.
"Mama, hari ini Alex boleh ikut Papa Liam ke kantor?" rayu Alex sambil mengunyah sandwich-nya.
Olive langsung menggeleng tegas. "Tidak boleh, Sayang. Papa Liam itu bekerja di perusahaan keamanan besar, sangat sibuk. Kau nanti malah mengganggu."
"Aku tidak merasa terganggu sama sekali, Olive," potong Liam dengan tenang sambil menyesap kopinya. "Biarkan dia ikut. Sekalian aku ingin mengenalkannya pada Marcus secara resmi. Marcus pasti senang punya teman main di mobil."
Olive menatap Liam dengan tatapan tidak percaya. "Liam, kau serius? Kau pemimpin perusahaan global, membawa anak kecil ke rapat atau kantor pusat akan terlihat... aneh."
"Siapa yang berani bilang aneh tentang keputusanku?" suara Liam berubah dingin sejenak, namun kembali hangat saat melirik Alex. "Alex anak yang pintar, dia tidak akan mengganggu. Benar kan, Jagoan?"
"Benar, Pa! Alex akan diam seperti patung!" janji Alex sambil memperagakan gaya hormat tentara.
Olive menghela napas panjang, tahu bahwa ia sudah kalah suara. "Baiklah. Tapi Alex, dengarkan Mama. Ada tiga perintah yang harus kau patuhi."
Alex mendengarkan dengan serius.
"Satu, jangan lari-larian di kantor. Dua, jangan menyentuh barang sembarangan tanpa izin. Dan tiga, kau harus menjadi anak yang paling baik dan sopan selama di sana. Kalau melanggar, besok tidak ada es krim," tegas Olive.
"Siap, Mama! Laksanakan!" seru Alex dengan antusiasme yang meluap-luap.
Liam menatap Olive dengan pandangan penuh arti, seolah ingin mengatakan bahwa mulai sekarang, beban Olive bukan lagi miliknya sendiri untuk dipikul. Ada kebahagiaan yang membuncah di hati Olive melihat bagaimana Liam menerima Alex tanpa keraguan sedikit pun, seolah mereka memang sudah ditakdirkan untuk bersama sejak awal.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Olive melepas Alex pergi dengan perasaan tenang. Ia berdiri di depan paviliun, melambaikan tangan saat mobil Rolls-Royce Liam perlahan bergerak menjauh, membawa dua pria paling penting dalam hidupnya menuju dunia luar yang kini terasa jauh lebih aman.