Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Wanita cantik yang tengah hamil itu mendorong troli belanjaannya menyusuri setiap lorong yang berisi berbagai kebutuhan rumah tangga. Bintik-bintik keringat sebesar biji bunga matahari tampak memenuhi sudut keningnya. Sesekali ia mengurut pinggang bagian belakangnya yang terasa pegal. Namun, tak ada sedikit pun keluhan yang keluar dari bibir ranumnya.
Hari ini, seperti hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi, kemanapun Ayra pergi hanya akan membawa perutnya yang mulai membuncit. Termasuk pada saat ia memeriksakan kehamilannya.
Seperti itulah kehidupan yang harus dijalani oleh Kinayra Calista. Seorang wanita berusia dua puluh satu tahun, yang harus menjalani pernikahan karena perjodohan. Sang ibu, Mirah, telah lama sakit-sakitan. Jika nanti Tuhan memanggil ia ke haribaannya, Mirah tak ingin meninggalkan putri semata wayangnya sendirian di dunia ini tanpa ada yang menjaga,
Apalagi suami Mirah, ayah Ayra, telah lebih dulu meninggalkan mereka untuk selamanya.
Karena itulah, Mirah menjodohkan Ayra dengan putra kerabat jauhnya, Rayyan Gibran.
Awalnya pernikahan itu berjalan normal. Namun, setelah dua bulan kepergian Mirah, Ayra justru lebih sering tinggal sendirian di rumah dan kini menjalani kehamilannya tanpa ada yang menjaga.
Rayyan lebih banyak menghabiskan waktu di luar kota dengan alasan pekerjaan.
Hari ini pun, Ayra yang sedang hamil lima bulan terpaksa berbelanja seorang diri. Saat ia sedang berusaha menjangkau kotak susu hamil di rak, tiba-tiba seorang bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari kencang dari arah tikungan lorong dan hampir saja menabrak perut Ayra.
"Eh!" Ayra terpekik kecil, refleks mundur sambil melindungi perutnya dengan kedua tangan.
"KENZIE! STOP!" Sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa menggema di keheningan lorong tersebut.
Seorang pria dengan perawakan tegap dan tinggi menjulang, segera menghampiri dengan langkah sigap. Ia memiliki rahang tegas dengan tatapan mata yang tajam namun dan memancarkan aura dingin. Ia mengenakan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku, pria itu tampak sangat maskulin dan berkharisma.
Dia segera memegang bahu bocah kecil tadi, lalu menatap Ayra datar tanpa ekspresi.
"Saya minta maaf. Anda tidak apa-apa? Saya lalai menjaga anak saya yang terlalu aktif."
Ayra menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena kaget.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya sedikit kaget saja."
Pria itu kemudian berjongkok di depan anaknya, sikapnya melembut, lalu menunjuk perlahan ke arah perut Ayra.
"Kenzie, lihat Tante ini. Di dalam perutnya ada adik bayi yang sedang tidur. Kalau Kenzie tabrak, nanti adik bayinya bangun dan kesakitan. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
Bocah itu mengerjapkan mata, menatap perut Ayra dengan wajah polos dan rasa bersalah. "Nanti adik bayinya nangis ya, Pa?"
"Iya, makanya Kenzie harus minta maaf sekarang," ujar pria itu lembut namun tegas.
"Maaf ya, Tante cantik... Kenzie nggak sengaja," ucap bocah itu dengan suara mencicit.
Ayra tidak bisa menahan senyum tipisnya melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Iya sayang, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya, Kenzie."
Pria itu kembali berdiri, menatap Ayra dengan tatapan yang sangat tenang.
"Saya Zavian Zovano." Katanya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Saya Kinayra Calista, panggil saja Aira." Wanita cantik itu tersenyum dan membalas jabat tangan Zavian.
"Sekali lagi maaf sudah mengejutkan Anda. Sepertinya belanjaan Anda cukup banyak, apa tidak menunggu suami saja untuk membantu?"
Ayra tertegun sejenak.
"Ah... suami saya sedang tugas di luar kota, Pak Zavian. Jadi saya sudah terbiasa sendiri."
Zavian terdiam sejenak, memperhatikan gurat lelah di wajah Ayra.
"Sendirian? Saya tahu rasanya, karena saya juga mengurus Kenzie sendirian sejak ibunya meninggal dunia. Tapi untuk wanita hamil, belanja sebanyak ini sendirian itu cukup berisiko."
Ayra tersenyum lagi. Tapi kali ini sekaligus menyembunyikan kegetirannya. Hingga tanpa sengaja ia melihat orang yang sedang dibicarakannya.
Rayyan! Tapi ia tidak sendirian. Di sisinya ada seorang wanita berbusana formal seperti Rayyan. Tapi yang membuat Ayra terhenyak, wanita itu merangkul mesra lengan suaminya.
"Mas Rayyan..." Gumamnya dengan suara yang sangat pelan menyerupai bisikan. Tapi Zavian di sampingnya bisa mendengar jelas. Lalu pria itu mengikuti arah tatapan Ayra.
"Ada apa?" Tanyanya pura-pura tak mengerti.
"Oh... ng-gak..." Jawab Ayra gugup, gemetar dan terluka. Refleks tangannya membelai perut buncitnya.
"Maaf pak Zavian... saya harus pergi."
Segera Ayra mendorong trolinya. Tapi saat sedikit menjauh, ia meninggalkan trolinya begitu saja dan setengah berlari menuju pintu keluar.
Semua itu tak luput dari perhatian Zavian. Lelaki itu ingin mengejar Ayra karena takut terjadi apa-apa pada wanita hamil itu. Tapi ia tak bisa mencampuri urusan orang, apalagi orang yang baru dikenalnya.
***
Begitu sampai di luar gedung, udara panas siang itu langsung menyergap, tapi tidak lebih panas dari dadanya yang terasa sesak. Ayra berdiri mematung di trotoar, berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh juga, membasahi pipinya yang pucat.
Ia memegangi perutnya yang mendadak terasa kram. Sakit hati dan rasa terkejut itu seolah menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.
"Mas Rayyan berbohong? Jadi selama ini dia tidak ke luar kota?" isaknya lirih sambil menatap kosong ke arah jalanan yang ramai.
Sementara itu, di dalam supermarket, Zavian masih berdiri di tempat yang sama. Matanya menatap troli penuh belanjaan yang ditinggalkan Ayra begitu saja. Kenzie mendongak, menarik-narik ujung kaus papanya.
"Papa, kenapa Tante cantik lari? Dia nggak mau beli susunya?" tanya Kenzie polos.
Zavian tidak menjawab. Pikirannya tertuju pada tatapan terluka wanita bernama Ayra tadi saat melihat pria di kejauhan. Sebagai laki-laki yang sudah dewasa, ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ada pengkhianatan yang tertangkap basah.
Zavian menghela napas berat. Ia tahu ia tidak seharusnya ikut campur, tapi bayangan Ayra yang berlari dalam kondisi hamil terus mengusik batinnya.
"Kenzie, ayo ikut Papa sebentar. Kita cari Tante tadi," ujar Zavian dan mendorong troli belanjaan Ayra. Lalu dibawanya ke kasir. Untung saja ada kasir yang kosong, jadi prosesnya bisa cepat.
Setelah itu ia segera keluar sambil menuntun Kenzie, setengah menariknya.
Dalam pikirannya, Zavian tak bisa membiarkan wanita hamil yang sedang terguncang hebat itu berada di jalanan sendirian.
Setelah berada di luar gedung, matanya menyapu area depan gedung dengan jeli, hingga akhirnya ia menemukan sosok wanita itu sedang terduduk lemas di sebuah kursi tunggu halte dekat area parkir. Bahunya berguncang hebat.
Zavian mendekat perlahan, berusaha tidak mengejutkan Ayra lebih jauh. Ia berhenti dalam jarak dua meter, membiarkan suaranya yang tenang terdengar lebih dulu.
"Mbak Ayra? Kamu tidak apa-apa?"
Ayra tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan kasar dan menoleh. Ia malu karena orang asing seperti Zavian harus melihat kerapuhannya.
"Pak Zavian... saya... saya tidak apa-apa. Maaf, saya tadi tiba-tiba merasa tidak enak badan."
Zavian tidak lantas percaya. Ia melihat jemari Ayra yang masih bergetar hebat.
"Wajah kamu sangat pucat. Biarkan saya antar kamu pulang. Tidak aman bagi kamu naik angkutan umum atau mencari taksi dalam kondisi seperti ini."
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri..."
"Saya tidak sedang menawarkan pilihan, Mbak Ayra. Saya sedang memastikan keselamatan bayi kamu," potong Zavian dengan nada tegas namun penuh kharisma.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"