NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Bersekolah di Metropolia Internasional School

Matahari sore di Metropolia menyapu bangunan modern berlantai tiga itu dengan cahaya keemasan. Kediaman keluarga Moore berdiri kokoh dengan halaman luas yang tertata simetris. Sierra turun dari mobil, menatap struktur beton dan kaca di hadapannya tanpa sedikit pun rasa kagum.

Tempat ini tidak pernah menjadi rumahnya lagi sejak Charles pergi.

Carson melangkah masuk lebih dulu dan disambut oleh para pelayan.

Sierra mengikuti di belakangnya tanpa sambutan dari mereka.

Mereka justru berbisik-bisik tentang rumor bahwa Sierra yang semakin tidak terkontrol setelah tinggal di Cragstone.

"Pa, Ma, Nora. Aku pulang," seru Carson saat mereka memasuki ruang keluarga. "Sierra, ayo masuk dan beri salam pada semuanya."

Sierra melangkah masuk, membiarkan sepatu bot hitamnya beradu dengan lantai marmer yang mengilap. Dia berhenti di tengah ruangan, berdiri tegak dengan tangan terselip di saku celananya. Matanya yang sedingin es menyapu wajah-wajah di depannya satu per satu.

Brady Moore menatapnya dengan rahang mengeras, sementara Samantha, ibunya, membuang muka seolah-olah melihat Sierra adalah sebuah polusi. Nora, yang duduk manis di sofa kulit, memasang ekspresi khawatir yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kepuasan yang kejam melihat Sierra tidak diterima siapapun di rumah ini.

Sierra tidak peduli, dia juga tidak butuh sambutan mereka.

Sierra juga sudah tahu bahwa Nora adalah dalang di balik rumor buruknya selama ini. Nora-lah yang membisikkan cerita tentang seks bebas dan aborsi ke telinga teman-teman sekolah dan kerabat, bahkan sampai memalsukan foto-fotonya. Sierra tahu soal ini setelah meretas ponsel Nora tiga tahun lalu tapi tidak ada yang mau mendengarkan penjelasannya.

Selama ini, Sierra sedang menunggu waktu kapan dia akan membalaskan dendamnya pada semua orang yang pernah menyakitinya.

Saat itu, semua orang percaya begitu saja pada Nora, si "gadis baik", termasuk pacarnya saat itu, Felix Girard. Ia langsung memutuskan kontak dan pergi keluar negeri untuk melanjutkan studi tanpa mendengarkan penjelasan Sierra.

Sierra juga akhirnya tahu bahwa Nora juga menyukai Felix karena banyak foto candid Felix di ponsel Nora. Sierra juga melihat isi pesan Nora pada Felix. Nora juga mengirimkan foto-foto palsu dirinya dengan berbagai pria pada Felix. Dan Felix si "tolol" itu langsung percaya.

Sierra akan merebut semuanya lagi termasuk posisi pewaris yang diinginkan Carson, terkecuali Felix, Sierra sudah tidak menginginkannya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sierra membalikkan badan dan langsung menuju tangga, mengabaikan Brady yang membuka mulut untuk memarahi sikapnya.

"Hei, mana sikap sopan santunmu?! Kenapa tidak memberi salam pada orang tuamu?!", ucap Brady.

"Aku di sini untuk Kakek, bukan untuk kalian," desis Sierra pelan, namun cukup tajam untuk membuat suasana ruang tamu itu membeku.

Sierra mengetuk pintu kayu jati besar di lantai dua. Sebuah suara berat namun parau menyahut dari dalam.

"Masuk."

Saat Sierra mendorong pintu, aroma minyak cat dan kayu cendana menyambutnya. Di sudut ruangan dekat jendela besar, seorang pria tua duduk di atas kursi roda di depan sebuah kanvas. Itu adalah Charles Moore.

Melihat sosok ramping di ambang pintu, Charles menjatuhkan kuasnya. Matanya yang renta berkaca-kaca. "Sierra? Oh, cucuku..."

Sierra berlari kecil dan berlutut di samping kursi roda itu, memeluk kakeknya erat. Lima tahun. Lima tahun sejak Charles pergi ke luar negeri dan hampir kehilangan nyawanya karena serangan jantung. Banyak yang mengira Charles akan mati saat itu, terutama Brady yang sudah bernafsu mengambil alih seluruh aset perusahaan. Namun, Charles bertahan. Dia kembali dengan fisik yang lebih sehat dan pikiran yang tetap tajam.

"Kau sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang kuat dan pemberani, Sierra," bisik Charles, membelai rambut cucunya. "Maafkan kakek karena tidak ada di sini untuk melindungimu saat mereka membuangmu."

"Aku baik-baik saja, Kek," jawab Sierra dengan senyum tulus yang hanya dia tunjukkan pada pria ini.

Charles memperhatikan lukisan pemandangan yang baru setengah jadi di depannya. "Aku sudah lama tidak melihat karyamu. Tanganku sudah gemetar hanya memegang kuas sekecil ini, aku tidak bisa menyelesaikan lukisan ini. Cobalah, aku mau lihat, apakah kemampuanmu sudah tumpul selama di sana?"

Sierra mengambil sebuah kuas halus itu. Dengan gerakan tangan yang mantap dan elegan, dia juga menambahkan goresan tulisan di sisi kiri lukisan.

Setiap tarikan garisnya tegas dan indah. Dia menuliskan sebuah kata-kata mutiara,“Cahaya tidak akan pernah takut pada kegelapan, karena kegelapanlah yang mendefinisikan keberadaannya.”

Charles terpana melihatnya.

Melukis adalah salah satu keterampilan yang Charles ajarkan pada Sierra, Charles bisa melihat bakat itu dari Sierra sejak usianya masih 8 tahun.

Sierra sangat berbeda dengan anak-anak seumurannya, dia berkembang lebih cepat. Bahkan di umur dua tahun bicaranya sudah sangat jelas dan mulai menggunakan kata-kata yang sulit.

Saat Nora masih bermain boneka, Sierra sudah mengotak-atik komputer dan mulai belajar programming. Brady dan Samantha selalu menganggap Sierra sebagai anak aneh. Tapi Charles justru melihat potensi pada Sierra.

Charles mulai mengajarkan banyak hal lainnya dan mengetahui Sierra punya banyak bakat baik akademik maupun non akademik.

Meskipun Sierra sangat cerdas, Brady dan Samantha selalu menghalangi Sierra agar tidak lompat kelas dengan alasan tidak mau Nora nanti berkecil hati.

Charles sudah sejak lama memutuskan akan menjadikan Sierra calon pewarisnya. Charles mulai sering membawa Sierra ke Moore Company, memperkenalkannya pada dunia bisnis di saat anak seusianya masih sibuk bermain.

Sayangnya tidak sempat menunggu Sierra sampai bisa mulai bekerja di Moore Company, Charles justru sakit dan terpaksa menyerahkan posisi CEO pada Brady.

Charles tahu, jika Moore Company jatuh ke tangan Brady sepenuhnya, perusahaan itu akan hancur oleh keserakahan. Oleh karena itu, meski sudah tidak lagi ikut campur dalam urusan perusahaan selama lima tahun terakhir ini, Charles masih menaruh satu orang kepercayaannya di Moore Company. Dia adalah pemegang saham kedua yang akan membatasi ruang gerak Brady. Orang itu adalah Calvin Vanbourgh.

Charles yakin Calvin nantinya akan sangat membantu Sierra saat Sierra resmi bergabung di perusahaan.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Suara denting sendok dan garpu terasa seperti detak bom waktu. Setelah selesai, Charles meminta semua orang berkumpul di ruang keluarga. Tak lama kemudian, Simon, pengacara pribadi Charles, masuk membawa sebuah koper berisi dokumen penting.

Brady dan Samantha saling lirik. Mereka menduga Charles akan membicarakan pembagian warisan, dan mereka sudah menyiapkan argumen agar Carson mendapatkan saham milik Charles.

"Samantha," Charles membuka suara, memecah kesunyian. "Urus transfer sekolah Sierra dari Cragstone ke Metropolia International School besok."

"Apa?!" Samantha tersentak. "Papa mau Sierra bersekolah di sekolah yang sama dengan Nora? Tidak bisa! Semua orang di Metropolia tahu siapa Sierra. Bagaimana kalau dia membuat malu keluarga lagi? Lagipula Nora bisa masuk karena kemampuannya sendiri bukan karena nama keluarga Moore."

"Aku tidak meminta pendapatmu, Samantha," potong Charles dingin.

"Lakukan saja, Ma," Carson mencoba menengahi, "bukankah lebih mudah mengawasi pergaulan Sierra jika dia satu sekolah dengan Nora?"

Nora mengangguk setuju dengan senyum manis, meski dalam hati dia sudah merencanakan bagaimana cara membuat hidup Sierra di sekolah menjadi neraka.

Charles kemudian memberi isyarat pada Simon. "Simon, bacakan dokumennya."

Simon berdehem, lalu membuka map tersebut. "Tuan Charles Moore secara resmi mengalihkan seluruh saham pribadinya di Moore Company sebesar 20% kepada Nona Sierra Moore, sedangkan mansion ini akan diberikan pada Brady."

Ruangan itu seketika meledak.

"Pa! Apa maksudnya ini?!" Brady berdiri dengan wajah merah padam. "20%? Bagaimana bisa papa memberikan seluruh saham papa pada Sierra?! Itu artinya Sierra akan menjadi pemegang saham terbesar! Tahu apa Sierra soal bisnis? Sierra bahkan belum lulus sekolah!"

"Kakek, ini gila! Sierra tahu apa soal perusahaan? Aku saja hanya punya 5%!" Carson ikut memprotes.

Nora tetap diam, namun kukunya mencengkeram sofa hingga memutih. Dia tidak punya saham sepeser pun, sementara Sierra tiba-tiba menjadi pemegang saham terbesar. Dia menatap Sierra dengan kebencian namun Sierra hanya membalasnya dengan senyum sinis yang seolah berkata, "Permainan baru saja dimulai".

"Aku tidak butuh izin kalian," kata Charles tenang namun berwibawa. Dia menoleh pada Sierra. "Tanda tangani ini, Sierra. Dengan ini, mereka tidak akan bisa mengusirmu lagi. Setelah ini kau menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan sekarang."

Tanpa ragu, Sierra mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya dengan tegas.

"Mulai bulan depan," lanjut Charles, "kau bisa mulai menghadiri rapat rutin pemegang saham jika kau mau."

"Papa! Sierra masih sekolah, lebih baik biar aku saja yang mewakilinya!" seru Brady frustrasi.

"Benar! Lagipula kenapa papa tidak diberikan saham papa pada Carson atau Brady saja?!" Samantha menimpali.

Charles menatap putra dan menantunya dengan jijik. "Kalian pikir kalian hebat? Jika iya, lalu kenapa sejak Brady menjadi CEO, keuntungan perusahaan terus menurun. Sekarang, bubar semuanya. Aku lelah. Seseorang, tunjukkan pada Sierra dimana kamarnya! Awas jika kalian bersikap tidak sopan pada Sierra!"

Kepala pelayan pun menunjukkan dimana kamar Sierra, kamar lama Sierra masih ada tapi tidak pernah dibersihkan jadi akhirnya malam itu Sierra menempati kamar tamu.

Charles sudah meminta kepala pelayan menyiapkan beberapa set pakaian untuk Sierra.

Charles juga memberikan kartu ATM pada Sierra untuk belanja kebutuhan lainnya.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!