PROLOG
-MENENTANG SEGALA DUNIA
-MENENTUKAN TAKDIR SENDIRI
-MERANGKAI TAKDIR YANG DIINGINKAN
-BILA LANGIT JADI PENGHALANGKU KU ROBEKAN LANGIT
-BILA BUMI MENAHAN KAKIKU KU HANCURKAN BUMI
-AKU ADALAH PEMILIK TAKDIR KU SENDIRI-
Di Kota Yinhu, di bawah langit kelabu Kerajaan Bela Diri Selatan, seorang pemuda bernama Shen Tianyang tumbuh dalam bayang-bayang kehinaan.
Terlahir dari keluarga bela diri, ia justru dianggap sebagai noda—tak berbakat, tak berguna, dan tak layak mewarisi darah leluhur.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shen Tianyang hidup lebih rendah dari orang biasa.
Tatapan meremehkan dan bisikan hinaan menjadi kesehariannya, perlahan mengikis martabat dan harapannya. Namun dari jurang keputusasaan itulah, takdir yang lebih kejam mulai bergerak.
Sebuah pertemuan terlarang mengubah segalanya. Akar Spiritual yang menentang hukum langit terbangun di dalam tubuhnya, menyeretnya ke jalan yang tak dapat ditinggalkan—jalan yang dipenuhi darah, penderitaan, dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beruang Terbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 – Panggung Sejati
Shen Tianyang mengangguk pelan.
“Aku mengerti, Kakak Yanhan. Lalu, kapan Kakak akan mengajarkanku Teknik Iblis?”
Bai Yanhan meliriknya dingin, seolah embun beku jatuh dari matanya.
“Kau bahkan belum sepenuhnya menguasai Seni Ilahi Empat Simbol milik adik seperguruanmu. Jalanmu masih panjang.”
Saat ini, Shen Tianyang hanya mampu mengerahkan Teknik Naga Hijau serta sebagian dari Teknik Burung Vermilion. Adapun Teknik Harimau Putih dan Teknik Kura-Kura Hitam jauh lebih sulit dilatih, menuntut kondisi lingkungan yang khusus dan keras.
Di dalam Teknik Naga Hijau, jurus Cakar Naga Hijau dan Raungan Naga Hijau tergolong lebih mudah dikuasai. Hal serupa berlaku pada Api Misterius Burung Vermilion serta Sayap Api Burung Vermilion.
Namun, meski Seni Ilahi Empat Simbol menyimpan banyak jurus bela diri yang luar biasa dahsyat, setiap jurus menuntut fondasi kekuatan tertentu. Bila dipaksakan sebelum waktunya, penyimpangan Qi niscaya akan terjadi.
Malam kian larut. Jauh di bawah tanah, di sebuah ruang rahasia yang tersembunyi dalam kedalaman, terdengar suara dentuman berulang—
"BAAAAAAAAAMMM..!!"
"BOOOOOOOOOMMMM..!!"
"BUUUUUUMMM..!!"
Shen Tianyang tengah melatih seni bela diri. Bertelanjang dada, otot-ototnya yang kokoh memerah dan mengepul uap panas.
Ia berdiri dalam kuda-kuda, melayangkan tinju ke arah dinding besi di hadapannya. Setiap pukulan meledakkan Qi panas membara; tenaga tinju tak kasatmata melesat menembus udara, menghantam dinding besi dan mengguncang tanah.
“Tidak buruk—menguasai Tinju Raja Api hanya dalam satu hari. Itu salah satu dasar tersulit dari Teknik Burung Vermilion. Kau bisa beristirahat sekarang.” Su Meiling terdengar lelah; seharian penuh ia menyaksikan latihan itu tanpa henti.
Pandangan Shen Tianyang sempat melirik ke arah dada Su Meiling yang ranum dan berlekuk, lalu ia tertawa kecil.
“Kakak Meiling, aku hendak mandi. Mau ikut?”
Suara Su Meiling lembut dan menggoda, sorot matanya memikat.
“Lebih baik kupanggil Kakak Yanhan juga. Aku khawatir kau akan bertingkah.”
Begitu nama Bai Yanhan disebut, senyum Shen Tianyang langsung membeku.
“Kalau begitu, lupakan saja.”
Su Meiling terkekeh ringan, lalu melangkah masuk ke dalam cincin tak kasatmata di jari Shen Tianyang. Di dalam cincin itu berdiri sebuah rumah kecil lengkap dengan kebutuhan sehari-hari.... kedua wanita itu hidup di sana dengan cukup nyaman.
Keesokan paginya, Shen Tianyang terbangun dan meludahkan “liur naga” yang terkumpul di mulutnya ke dalam sebuah botol kecil. Ia tak lagi menggunakannya untuk menyirami tanaman obat, melainkan menyimpannya untuk keperluan lain di kemudian hari.
Ia berniat mencari Shen Luzong untuk berdiskusi mengenai alkimia pil. Namun, ia mendapati kakek buyutnya telah pergi membeli Herbal Spiritual, meninggalkan sejumlah besar Pil Spiritual dan bahan obat.
Dengan persediaan obat yang siap pakai, Shen Tianyang merasa gembira. Ia memanfaatkannya untuk meramu pil, menambah pengalaman dalam jalur alkimia.
Tiga hari kemudian, seluruh tanaman obat yang ditinggalkan Shen Luzong telah diolahnya. Karena sebagian besar berperingkat Fana Tingkat Rendah, pil yang dihasilkan pun berada pada tingkat yang sama.
Meski demikian, Keluarga Shen kini memiliki cadangan pil yang cukup melimpah, memadai untuk jangka waktu yang panjang.
Dalam hari-hari itu, banyak murid muda Keluarga Shen berkerumun di sekeliling Shen Tianyang. Ia kerap mengunjungi arena latihan, bertarung tanding dan memberi arahan.
Manfaat yang mereka peroleh sungguh besar.
“Tianyang, apakah kau akan mengikuti Pertemuan Bela Diri Kota Kerajaan? Hadiah pertama adalah pil esensi sejati peringkat Roh tingkat tinggi,” ujar Shen Tianwu tiba-tiba ketika tiba di arena latihan.
Setelah merenung sejenak, Shen Tianyang menjawab,...
“Aku berniat berkeliling ke kota-kota lain untuk membeli Herbal Spiritual. Jika rutenya searah, aku akan ikut.”
Seorang murid Shen berkomentar,
“Kalau Shen Tianyang ikut, kami jelas tak punya peluang. Tapi kudengar tahun ini banyak jenius muncul—bahkan ada yang telah mencapai Ranah Bela Diri Fana tingkat ketujuh.”
Seorang gadis mengangguk setuju.
“Aku juga mendengar beberapa peserta baru kembali dari sekolah-sekolah bela diri.”
Shen Tianyang telah mendengar kabar itu. Pertemuan Bela Diri Kota Kerajaan diadakan setiap sepuluh tahun sekali, dan pesertanya harus berusia di bawah dua puluh tahun.
Ajang itu diselenggarakan di kota terbesar Kerajaan Bela Diri Selatan—Kota Kerajaan. Dahulu, kota ini merupakan gabungan dari empat kota besar yang seiring waktu menyatu karena perkembangan dan pertumbuhan penduduk.
Kota Kerajaan juga merupakan ibu kota negeri. Di sanalah Keluarga Yao dan istana kekaisaran bersemayam. Klan-klan terkuat Kerajaan Bela Diri Selatan pun menetap di dalamnya, menjadikan kota itu pusat berkumpulnya para ahli—sebuah panggung sejati tempat naga dan harimau beradu takdir.
Shen Tianwu mengangguk perlahan.
“Tujuan lain dari pertemuan itu adalah menyeleksi pemuda-pemuda luar biasa untuk Sekolah Bela Diri. Kau tahu, bukan? Seluruh Kerajaan Bela Diri Selatan berada di bawah naungan mereka.”
Setiap klan bela diri, tahun demi tahun, membayar pajak dan upeti kepada istana kekaisaran, yang kemudian diteruskan kepada Sekolah Bela Diri. Fakta ini menjadi bukti betapa perkasa dan menjulangnya kekuatan mereka—berdiri di atas seluruh klan dalam kerajaan.
“Jangan pernah mengira pajak itu dibayarkan sia-sia,” ujar Shen Tianwu, menatap ke langit dengan nada berat dan penuh kewaspadaan.
“Sekolah-sekolah itulah yang melindungi kita. Tanpa mereka, tempat seperti ini sudah lama dilenyapkan oleh kawanan Binatang Iblis atau gerombolan iblis.”
Para murid Keluarga Shen pun gempar. Sekolah Bela Diri besar yang selama ini hanya mereka dengar sebagai legenda, kini terasa begitu dekat, terikat langsung dengan Dunia Fana tempat mereka berpijak.
Kerajaan Bela Diri Selatan membentang amat luas, dengan jumlah penduduk melampaui satu miliar jiwa.
Namun, Praktisi Bela Diri tetap tergolong langka, dan Alkemis lebih jarang lagi. Meski demikian, dari lautan manusia itu, para jenius pasti akan muncul.
Karena itulah, Sekolah Bela Diri secara berkala merekrut murid. Cara tercepat dan paling efektif adalah mempertemukan para pemuda kuat dalam sebuah ajang—yang terkuatlah yang berhak melangkah masuk.
Shen Tianyang mengikuti Shen Tianwu menuju ruang belajar. Sepanjang jalan, ia merasakan firasat berat menggantung di udara. Wajah Shen Tianwu tampak tegang, seakan menyimpan keputusan besar.
Benar saja, begitu mereka masuk, Shen Tianwu berkata,..
“Tianyang, kakek buyutmu, Shen Luzong, telah pergi ke Kota Kerajaan! Meski Keluarga Shen dipandang sebagai klan bela diri yang kuat, kita tak akan benar-benar bangkit bila tidak berakar di sana. Tujuan berikutnya adalah menancapkan pijakan di Kota Kerajaan.”
Shen Tianyang juga telah mendengar bahwa Keluarga Yao memiliki hubungan langsung dengan Sekolah Bela Diri tertentu dan membayar upeti langsung kepada mereka, tanpa melalui istana.
“Keluarga Xue sudah mulai pindah ke Kota Kerajaan,” lanjut Shen Tianwu. “Berkat Xue Lingxiao, mereka berhasil menjalin hubungan dengan Sekolah Bela Diri yang kuat...!!"
"Kita harus membuka jalan kita sendiri, dan itu bergantung padamu serta kakek buyutmu.” Ia menggenggam bahu Shen Tianyang, suaranya sarat harapan.
Kening Shen Tianyang berkerut.
“Apa yang harus kulakukan? Bergabung dengan Sekolah Bela Diri?”
Shen Tianwu menggeleng.
“Bahkan jika kau bergabung, Keluarga Shen belum tentu memperoleh perlindungan. Hanya satu cara yang benar-benar berhasil: membuat Sekolah-sekolah besar itu tertarik pada kita, hingga mereka sendiri yang mendekat. Dan jalannya adalah menunjukkan potensi besarmu dalam alkimia.”
Mata Shen Tianyang menyala. Cahaya tajam berkilat di pupilnya, dan senyum penuh keyakinan terukir di wajahnya.
“Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan segera berkemas dan berangkat ke Kota Kerajaan untuk menemui kakek buyut.”
Shen Tianwu menepuk bahunya dengan mantap.
“Tianyang, panggungmu bukanlah Dunia Fana yang sempit ini, melainkan Sekolah Bela Diri tempat para ahli berkumpul. Di sanalah Rimba Bela Diri yang sejati berada—dan di sanalah takdirmu akan diuji.”
Bersambung Ke Bab 27