Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Presisi Pukul Empat
Jakarta jam empat sore itu kalau diibaratkan adalah sebuah kuali yang lagi mendidih. Di balik jendela kaca besar Litera & Latte, aspal seolah menguapkan keputusasaan sisa siang hari, sementara suara klakson kendaraan di trotoar depan sudah seperti konser musik yang berantakan dan menyakitkan telinga. Tapi, begitu melangkah masuk ke dalam toko, suasananya langsung kontras. Wangi biji kopi yang baru digiling bercampur aroma khas kertas lama bikin siapa pun bakal merasa aman, termasuk Alea.
Alea sudah setahun kerja di sini. Dia sudah hafal luar kepala di mana letak setiap kategori buku, bahkan tanpa perlu mengecek katalog komputer. Buat dia, toko ini sudah jadi pelarian yang sempurna, apalagi setelah kejadian tiga bulan lalu saat Hanif mutusin dia begitu saja melalui panggilan telepon singkat yang menghancurkan dunianya. Sejak saat itu, toko ini bukan cuma tempat cari uang, tapi benteng pertahanan supaya dia nggak perlu memikirkan luka yang sebenarnya masih sangat perih dan basah.
Tangannya bergerak otomatis, nyaris seperti mesin yang sudah diprogram. Di atas meja kayu yang sudah halus permukaannya, dia menyusun majalah bisnis terbaru dan sebuah buku arsitektur tebal pesanan orang. Alea menggeser buku itu beberapa milimeter dengan ujung jarinya, memastikan posisinya benar-benar lurus, simetris, dan sejajar dengan urat kayu meja. Seolah-olah, jika letak buku itu meleset sedikit saja, hidupnya yang sudah retak akan ikut hancur berantakan.
Lonceng pintu bunyi tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas. Aksa Pratama masuk. Tanpa jas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung asal sampai siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-tangannya yang tegas. Langkah kakinya yang berat namun teratur menyapu lantai kayu, menghasilkan bunyi berderit yang kini sudah menjadi bagian dari ritme harian Alea.
“Sudah siap, ya? Padahal aku baru saja mau pegang gagang pintu,” sapa Aksa. Suaranya rendah, langsung memecah keheningan toko yang tenang.
Alea sengaja nggak langsung melihat ke arahnya. Dia pura-pura sibuk menarik kertas cokelat dari bawah meja, mencoba mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat.
“Majalah mingguan sama buku pesananmu. Sudah aku pisahin dari jam makan siang tadi biar nggak ribet nyarinya.”
Aksa berhenti tepat di depan meja, terus menyandarkan sikunya di sana. Gayanya santai tapi tetap kerasa intimidasi yang dominan. Ia memperhatikan cara Alea bekerja, memperhatikan jemari Alea yang lincah tapi tampak sedikit
“Efisiensi yang bagus. Atau jangan-jangan kamu memang sudah bisa baca pikiranku, Alea?”
“Ini soal pola, Aksa,” sahut Alea sambil melipat kertas pembungkusnya pelan-pelan. Dia memastikan setiap lipatannya tajam dan rapi, tanpa ada cacat sedikit pun. “Setahun di sini bikin aku paham kalau pelanggan tetap itu punya ritme. Dan kamu? Kamu itu orang yang paling tepat waktu di toko ini. Jam tanganku kalah akurat dibanding kedatanganmu.”
“Pola itu bikin aman, Alea. Dunia luar terlalu berisik karena orang-orang hidup tanpa kendali. Mereka membiarkan emosi menyetir arah jalan mereka. Aku lebih suka semuanya bisa diukur,” kata Aksa sambil terus memperhatikan jemari Alea.
Alea berhenti melipat sejenak. Dia mendongak, menatap pria itu dengan tatapan bertanya. “Tapi hidup nggak bisa selalu diukur pakai penggaris, kan? Kadang yang bikin kita merasa hidup itu justru kejutan atau kesalahan. Hal-hal yang nggak terduga, yang bikin kita belajar untuk lebih kuat.”
Aksa menarik sudut bibirnya, jenis senyum tipis yang nggak sampai ke mata, senyum yang terasa sedikit meremehkan sekaligus penasaran. “Itu pikiran romantis yang naif. Dan kamu tahu aku paling nggak suka itu. Hal-hal nggak terduga biasanya cuma berujung jadi masalah yang nggak perlu dan membuang-buang waktu berharga.”
Alea kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya dengan lebih cepat. “Maksudmu kayak keadaanku yang berantakan tiga bulan lalu? Pas aku nangis di pojokan rak sastra gara-gara hal yang menurutmu nggak logis?”
Aksa tidak langsung menjawab. ia diam cukup lama, menatap Alea dengan intensitas yang bikin Alea mendadak merasa udara di sekitar meja kasirnya menjadi makin tipis. “Aku nggak bilang begitu. Tapi kamu sendiri yang terus-terusan membiarkan dirimu dikuasai kenangan yang sebenarnya sudah basi. Kamu membiarkan masa lalu memegang kemudi hidupmu hari ini.”
Alea menyerahkan bungkusan itu dengan gerakan kaku untuk memutus kontak mata mereka yang terlalu dalam. “Tiga ratus empat puluh ribu. Pakai kartu yang sama?” tanyanya.
“Tentu.” Aksa menyerahkan kartu hitamnya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Alea. Dia melirik papan jalan yang dijepit di tangan kiri Alea.
“Tadi lagi sibuk apa sebelum aku datang? Keningmu sampai berkerut begitu, hampir mirip ibu-ibu yang lagi pusing cari diskonan.”
Alea mendengus, merasa sedikit terhina sekaligus geli. “Lagi pendataan stok buat rak sastra di belakang,” jawab Alea pendek sambil memproses kartunya di mesin EDC.
“Ada selisih tiga buku sama data di komputer. Harus ketemu sebelum toko tutup, atau manajer bakal nanya yang macam-macam besok pagi.”
Aksa menaikkan alisnya, tampak benar-benar terganggu dengan fakta itu. “Cuma tiga buku dan kamu tegangnya seperti itu? Kamu memperlakukan buku-buku itu seolah mereka adalah emas batangan yang hilang.”
“Ya, itu tanggung jawabku, Aksa. Aku sudah setahun di sini, aku nggak mau kelihatan ceroboh cuma karena pikiranku lagi... nggak di tempatnya. Aku harus membuktikan kalau aku masih bisa diandalkan.”
“Tiga buku itu masalah besar kalau di perusahaan raksasa,” ucap Aksa datar, suaranya kembali seperti sedang memberi kuliah singkat yang dingin. “Tapi di toko buku kecil begini? Itu cuma alasan yang kamu buat-buat supaya tanganmu terus sibuk. Kamu sengaja menyibukkan diri supaya otakmu nggak punya ruang buat mikir hal lain. Kamu lari dari kenyataan dengan tumpukan daftar stok.”
Alea berhenti bergerak, menatap mesin EDC yang sedang memproses data. Dia menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.
“Kamu mau mengatur cara kerjaku juga? Kamu memang terobsesi sama keteraturan ya, sampai ke hal sepele yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama hidupmu.”
“Aku cuma nggak suka melihat sesuatu yang berantakan padahal punya potensi untuk jadi lebih baik,” sahut Aksa, jarinya mengetuk meja kayu itu secara ritmis, menciptakan suara yang bikin Alea makin gugup. “Sama seperti caramu menyiapkan buku-buku ini sebelum aku datang. Kenapa kamu lakukan itu, Alea? Aku bukan bosmu. Kamu nggak perlu melayani aku sampai se-setia itu.”
Alea mengembalikan kartu Aksa setelah transaksi selesai. Dia membenahi letak pulpen di meja, berusaha menyembunyikan tangannya yang mulai agak gemetar. “Kan sudah aku bilang, ini biar cepat. Kalau transaksimu cepat selesai, aku bisa balik lagi lanjut opname buku di belakang. Itu memudahkan aku, bukan kamu. Jadi jangan terlalu percaya diri.”
“Bohong,” potong Aksa cepat, suaranya merendah tapi penuh penekanan. “Kamu melakukan itu karena kamu butuh kendali. Kamu takut kalau aku datang dan kamu belum siap, bakal ada celah buat aku tanya-tanya hal yang nggak mau kamu jawab. Kamu pakai buku-buku ini buat jadi tameng untuk menahan dunia agar tidak masuk terlalu dalam.”
Jantung Alea rasanya berdegup lebih kencang, menabrak dinding dadanya dengan keras. Dia benci banget gimana caranya Aksa bisa dengan gampang membongkar pertahanan yang dia bangun dengan susah payah selama tiga bulan ini.
“Mungkin benar. Tapi pola ini bikin aku tenang. Pola ini bikin aku nggak perlu menjelaskan ke orang-orang kenapa aku masih sedih. Daripada hidup berantakan yang cuma bikin orang lain kasihan.”
“Bertahan bukan berarti hidup, Alea. Kamu cuma sembunyi di balik rak-rak berdebu ini biar kenyataan nggak bisa menyentuhmu lagi,” kata Aksa, nadanya sedikit lebih rendah, hampir terdengar seperti bisikan yang menyakitkan. Dia mengambil bungkusannya yang sudah rapi. “Saran buatmu, jangan terlalu rajin melayani orang sebelum diminta. Itu kebiasaan buruk buat orang yang baru saja...ditinggal. Kamu cuma memberi izin buat orang kayak aku untuk benar-benar menguasai harimu. Dan kamu nggak bakal bisa lepas kalau terus memberi celah.
Alea menahan napas sejenak. Rasanya seperti rahasianya baru saja dibongkar paksa di depan umum. “Itu peringatan, Aksa? Atau kamu lagi bilang kalau kamu itu orang jahat yang bakal menyakiti aku juga?”
“Anggap saja peringatan. Dunia luar nggak seramah toko buku berdebu ini,” sahut Aksa sambil menegakkan badannya, kembali ke mode pengusaha dingin dan berjarak.
“Kopinya nggak usah hari ini. Aku ada rapat penting di SCBD tiga puluh menit lagi. Nggak ada waktu buat debat filosofi hidup sama pelayan toko yang keras kepala.”
Alea cuma bisa diam melihat Aksa berbalik jalan ke arah pintu dengan langkah mantap yang penuh percaya diri. Dia merasa seperti baru saja kalah dalam pertandingan yang bahkan dia nggak tahu kapan dimulainya. Tapi sebelum tangannya menyentuh gagang pintu kuningan itu, Aksa berhenti sebentar dan menoleh ke arahnya
“Oh, satu lagi," kata Aksa, matanya melirik bungkusan di tangannya. “Pita biru navy itu... jauh lebih bagus daripada warna cokelat kusam yang biasa kamu pakai. Setidaknya seleramu nggak ikut mati bareng hubunganmu yang gagal itu.”
Lonceng pintu bunyi pelan tepat saat Aksa keluar dan hilang di tengah keramaian sore yang mulai memadat di trotoar Jakarta.
Alea buang napas panjang banget, rasanya kayak baru saja lepas dari beban berat yang menghimpit dadanya sejak lonceng tadi berbunyi. Ia menatap mejanya yang kosong lagi, menyisakan keheningan yang tiba-tiba terasa hampa dan sunyi. Selama sepuluh menit barusan, dia benar-benar lupa sama Hanif. Pikirannya tersita sepenuhnya buat meladeni omongan Aksa yang tajam, jujur, dan perhatiannya yang aneh sampai ke detail sekecil warna pita.
Alea mengambil kembali papan jalan untuk pendataan stok-nya, berusaha fokus cari tiga buku yang hilang di antara ribuan judul buku lainnya. Tapi bayangan Aksa yang berdiri di depannya tadi, dengan segala kritikan dan perhatian anehnya, masih menempel jelas di kepalanya.
“Sembunyi, ya?” bisik Alea ke dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh suara dengung pendingin ruangan.
Ia melihat ke arah pintu kaca yang masih bergetar sedikit. Ternyata, kehadiran Aksa yang menyebalkan itu perlahan-lahan jadi satu-satunya hal yang terasa nyata dan hidup di tengah kehidupannya yang sedang membeku. Dan jujur, itu jauh lebih menakutkan buat Alea daripada kehilangan ribuan buku di rak mana pun, karena ia mulai sadar kalau dirinya diam-diam menunggu pukul empat sore berikutnya.